Sepakbola Seagames 2011, Indonesia vs Kamboja (6-0), Timnas U-23 Lebih Kreatif dari Timnas Senior

Kemenangan Timnas U-23 atas Kamboja memang bukan suatu hal yang mengagetkan. Namun ada secercah harapan bagi Indonesia untuk mengakhiri puasa gelarnya di Seagames sejak 20 tahun silam.

Harapan itu muncul dengan terlihatnya permainan cemerlang yang ditampilkan Timnas U-23. Bahkan bila dibandingkan dengan timnas senior terlihat timnas u-23 lebih kreatif dalam membangun serangan dalam membongkar pertahanan lawan. Hal itulah yang sulit terlihat dari timnas senior yang selalu tampil monoton ketika bertemu dengan tim-tim yang membangun pertahanan kuat.

Kreatifitas timnas u-23 begitu terlihat dalam pertandingan tersebut dimana pada babak pertama timnas u-23 mampu dengan sangat mudah membanjiri Kamboja dengan 4 gol. Namun pada babak kedua terlihat Kamboja merubah strategi permainannya dan cukup menyulitkan timnas u-23 untuk menambah pundi-pundi golnya hingga 20 menit babak kedua. Namun seiring kesulitan tersebut timnas u-23 tampil lebih kreatif dengan meningkatkan akselerasi dan spekulasi di jantung pertahanan Kamboja. Hasilnya; 2 gol tambahan tercipta dan momen-momen indah yang hampir menghasilkan gol-gol lainnya.

Tentu hal ini nampaknya ditunjang oleh kekuatan fisik yang tidak mudah kendor khususnya di babak kedua, semangat pembuktian yang lebih kentara dan kerjasama tim. Ketiga hal itulah yang menjadikan kreatifitas serangan menjadi sinergis dan efektif dan hal itu yang sulit terlihat di timnas senior.

Meski demikian, ujian sesungguhnya bagi timnas u-23 akan terlihat pada 3 pertandingan selanjutnya melawat tim kuat di grup maut ini, yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand. Dan bila timnas u-23 mampu konsisten dengan permainan cemerlang dan kreatif tersebut mungkin para pemain timnas u-23 ini perlu lebih banyak dipertimbangkan untuk masuk dalam skuad timnas senior.

Qualification Result MotoGP Ceko – Duel Sengit Honda vs Yamaha

pole pertama buat Pedrosa di musim 2011

Melihat urutan hasil kualifikasi GP Ceko khusunya urutan 1-4 terlihat sekali akan terjadi pertarungan sengit antara motor-motor dari tim Repsol Honda yang dikawal oleh Pedrosa dan Stoner dengan tim Yamaha yang diperkuat oleh Lorenzo dan Spies. Kedua tim ini selang-seling mengisi pembalapnya di urutan terdepan start untuk race besok. Bila memperhatikan result dan top speed yang dicapai masing-masing pembalap, mungkin kita dapat menyimpulkan pembalap-pembalap honda mengandalkan performa motor yang unggul sehingga top speed mereka terlihat cukup signifikan dibanding pembalap Yamaha, sedangkan pembalap Yamaha dengan top speed yang masih dibawah Honda namun masih bisa bersaing hingga menempatkan pembalapnya di posisi kedua dan empat merupakan bukti pengoptimalan handling dan braking khususnya ketika melibas tikungan.

Pedrosa memiliki sugesti yang besar untuk membuktikan bahwa dirinya sebenarnya layak untuk menjadi juara dunia meskipun kemungkinan itu kecil untuk tahun ini terkait cedernya yang lalu. Lorenzo tidak punya pilihan harus menang dan menang demi mempertahankan gelar juara dunianya terlebih dia terpaut 20 poin dari pimpinan klasemen sementara Casey Stoner. Stoner sendiri pun tak ingin lengah sedikitpun di tiap race-nya sebelum posisinya benar-benar aman untuk meraih gelar juara dunia motogp untuk kedua kalinya. Sedangkan Spies mulai semakin matang dan klop bersama tim pabrikan sehingga mau tidak mau dia harus menunjukkan hasil yang senantiasa maksimal, terlebih ia sendiri punya target pribadi menyalip Rossi di posisi klasemen.

Rossi Konsisten

Pada seri kali ini Rossi terlihat konsisten semenjak sesi latihan bila dibandingkan seri-seri sebelumnya sehingga dia berhasil meraih posisi kelima. Tentu hasil ini memberi kepercayaan yang besar buatnya untuk kembali bertarung di papan atas bermodal nama besar dan skill mumpuni yang dimilikinya. Maklumlah bila pada seri-seri sebelumnya ia selalu start pada urutan yang buruk namun mampu melewati beberapa pembalap di depannya, maka kali ini ia berharap bisa melakukan hal serupa meski tantangan kali ini lebih berat, paling tidak Simoncelli dan Spies lah yang akan menjadi lawannya kali ini.

Hal yang nampak sebaliknya dari konsistensi Rossi adalah Dovizioso dan Karel Abraham. Dovizioso harus puas start di posisi ketujuh yang tidak seperti biasanya paling tidak ia selalu berada di grid kedua. Sedangkan pembalap tuan rumah (Karel Abraham) tampak ironis di kandangnya sendiri harus start dari posisi buncit.

Sementara itu, Suzuki gagal menampilkan dua pembalapnya di race kali ini setelah John Hopkins cedera pada sesi latihan dan dipastikan tidak bisa mengikuti race kali ini.

Berikut Hasil Lengkapnya:

CARDION AB GRAND PRIX CESKÉ REPUBLIKY

MotoGP Qualifying Practice Classification 2011 

Brno, Saturday, August 13, 2011

Pos. Num. Rider Nation Team Bike Km/h Time Gap 1st/Prev.
1 26 Dani PEDROSA SPA Repsol Honda Team Honda 298.0 1’56.591
2 1 Jorge LORENZO SPA Yamaha Factory Racing Yamaha 291.4 1’56.704 0.113 / 0.113
3 27 Casey STONER AUS Repsol Honda Team Honda 295.5 1’56.860 0.269 / 0.156
4 11 Ben SPIES USA Yamaha Factory Racing Yamaha 289.3 1’57.178 0.587 / 0.318
5 58 Marco SIMONCELLI ITA San Carlo Honda Gresini Honda 291.5 1’57.351 0.760 / 0.173
6 46 Valentino ROSSI ITA Ducati Team Ducati 289.9 1’57.367 0.776 / 0.016
7 4 Andrea DOVIZIOSO ITA Repsol Honda Team Honda 295.6 1’57.442 0.851 / 0.075
8 5 Colin EDWARDS USA Monster Yamaha Tech 3 Yamaha 291.7 1’57.676 1.085 / 0.234
9 69 Nicky HAYDEN USA Ducati Team Ducati 289.4 1’57.721 1.130 / 0.045
10 7 Hiroshi AOYAMA JPN San Carlo Honda Gresini Honda 294.8 1’57.784 1.193 / 0.063
11 35 Cal CRUTCHLOW GBR Monster Yamaha Tech 3 Yamaha 290.9 1’57.797 1.206 / 0.013
12 24 Toni ELIAS SPA LCR Honda MotoGP Honda 294.3 1’58.245 1.654 / 0.448
13 8 Hector BARBERA SPA Mapfre Aspar Team MotoGP Ducati 295.6 1’58.273 1.682 / 0.028
14 19 Alvaro BAUTISTA SPA Rizla Suzuki MotoGP Suzuki 295.6 1’58.274 1.683 / 0.001
15 14 Randy DE PUNIET FRA Pramac Racing Team Ducati 289.2 1’58.889 2.298 / 0.615
16 65 Loris CAPIROSSI ITA Pramac Racing Team Ducati 290.0 1’58.938 2.347 / 0.049
17 17 Karel ABRAHAM CZE Cardion AB Motoracing Ducati 292.5 1’58.946 2.355 / 0.008
21 John HOPKINS USA Rizla Suzuki MotoGP Suzuki

Indonesia vs Turkmenistan (4-3); Mental atau Fisik yang Salah

Bagi penggemar sepakbola di tanah air dan/atau pendukung tim nasional (timnas) Indonesia tentu sangat dibuat khawatir ketika menonton pertandingan pra kualifikasi Piala Dunia hari ini antara Indonesia menjamu Turkmenistan. Bagaimana tidak, di babak pertama timnas telah unggul 3-0 namun di babak kedua skor menjadi 4-3. Menang memang, tapi yang menengangkan adalah kalau saja 5 menit tersisa plus 4 menit injury time turkmenistan mampu menambah 1 gol lagi saja. Pupus sudah harapan timnas tuk masuk ke babak selanjutnya. Karena pada pertandingan tandang sebelumnya skor imbang 1-1, sehingga bila di Senayan tadi hasil menjadi imbang 4-4 maka Turkmenistan yang lolos karena menciptakan gol lebih banyak di kandang lawan.

Dimana kesalahannya? Kelemahan fisik kah karena menyerang menggebu-gebu? Bukankah Turkmenistan juga bermain ngotot untuk menang lalu mengapa mereka bisa menjaga stamina mereka sehingga mampu memperkecil ketinggalan menjadi tipis.

Atau mental para pemain timnas yang buruk karena meremehkan lawan ketika sudah di atas angin? Seingat saya hal ini sering terjadi pada timnas. Dulu ketika pra kualifikasi Piala Dunia juga melawan Qatar di senayan, timnas telah unggul 2-0 di babak pertama. Bahkan satu gol yang diciptakan Widodo C Putra dinobatkan menjadi gol terbaik dunia saat itu. Namun yang terjadi pada babak kedua kedudukan menjadi 2-2. Dan timnas tidak bisa masuk ke babak selanjutnya karna kalah pada pertandingan tandang di Qatar.

Yang masih hangat kenangan kita akan timnas adalah di AFC Cup (Piala Tiger). Setelah menjadi the dream team di penyisihan, sehingga timnas begitu dipuja-puja. Kalangan pesantren pun mengundang timnas untuk ritual istighaasyah, dan kalangan pengusaha mengundang jamuan dalam rangka memasuki final melawan Malaysia. Fenomena timnas benar-benar menjadi eforia saat itu di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Namun pada titik penentuannya timnas harus takluk pada Malaysia dengan agregat 2-4, padahal pada babak penyisihan Malaysia ditekuk 5-1. Apakah ini semua karena mental pemain timnas yang sering meremehkan lawan ketika sudah berada di atas angin sehingga mereka lelah. Apapun itu tentu harus menjadi evaluasi bagi pelatih timnas saat ini dan selanjutnya.

Jika memang benar permasalahan mental seperti di atas, semoga saja hal itu tidak mencerminkan sifat bangsa Indonesia pada umumnya.

Duel Maut: PSSI Vs Trisula (Koni – Menegpora – KOI)

Andi Malaranggeng Vs Nurdin Halid

Senin 28 Maret 2011 seolah sudah atau hampir menjadi puncak perseteruan antara PSSI di bawah komando Nurdin Halid dengan Menegpora yang di pimpin Andi Malaranggeng. Serunya perserteruan ini seakan lebih seru dari Final Indonesia-Malaysia pada gelaran AFF Cup yang lalu.

Apa pasal? Yup karna pada hari itu Andi Malaranggeng selaku Menegpora mengeluarkan sikap resmi terkait kisruh PSSI yang mulai ramai semenjak timnas gagal di final AFF Cup lalu hingga terakhir Nurdin Halid gagal menyelengarakan Kongres PSSI untuk memilih ketuanya yang baru.

Dengan sikap resmi itu seolah Menegpora mengkudeta kepengurusan PSSI Pusat. Beberapa inti dari sikap Menegpora tersebut adalah; Menegpora tidak mengakui kepengurusan PSSI Pusat di bawah pimpinan Nurdin Halid dan Noegraha Besoes, dikarenakan dianggap tidak becus dan kompeten memajukan persepakbolaan di Indonesia, terlebih dengan gagalnya Nurdin Halid menyelengarakan Kongres PSSI di Pekan Baru beberapa hari yang lalu. Menegpora juga menghentikan kucuran dana dari pemerintah yang diambil dari APBN kepada PSSI hingga kepengurusan yang baru untuk periode 2011-2015 terbentuk. Namun untuk kepentingan nasional, Menegpora bersama KONI/KOI akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut: Menegpora bersama KONI/KOI akan menyelenggarakan Kongres PSSI dan men-supervisi penyelenggaraan Liga Super Indonesia (LSI) dan persiapan timnas menuju Seagames.

Seketika di tempat berbeda, Nurdin Halid menanggapi keputusan atau sikap resmi tersebut dengan berang. Ia mengklaim PSSI tidak mengakui keputusan tersebut karna dilandasi sikap arogan dan otoriter Menegpora, bahkan lebih jauh lagi ia menuduh dalang dibalik kerusuhan dan intimidasi yang diarahkan kepada para peserta kongres PSSI di Pekan Baru adalah Menegpora sendiri, sehingga menyebabkan gagalnya kongres tersebut dan sebelumnya tidak ada sinyalemen positif dari Menegpora sehubungan dengan sulitnya pihak PSSI bertemu menegpora untuk berdiskusi. Seolah semuanya sudah menjadi satu rencana yang dibuat Menegpora. Dengan demikian Nudin Halid atas nama PSSI meminta kepada Presiden SBY dengan hormat untuk mencopot Andi Malaranggeng dari jabatannya dikarenakan arogansi dan otoriternya. Kemudian Nurdin Halid menjanjikan akan menyelenggarakan kongres PSSI paling cepat 4 bulan kedepan.

Well, lalu masalahnya sebenarnya apa, kalau masing-masing pihak ingin memajukan persepakbolaan Indonesia diawali dengan kongres PSSI. Apakah ini perseteruan pribadi, atau perebutan lahan basah?

Bila tidak demikian kenapa Nurdin Halid tidak bekerja sama saja dengan Menegpora dan KONI/KOI untuk kesuksesan Kongres PSSI toh Nurdin Halid cs yang disinyalir tidak kompeten sudah tidak diperbolehkan mencalonkan kembali. Jadi kenapa tidak Menegpora berlapang dada sedikit untuk sejenak bekerjasama dengan Nurdin cs hingga Kongres selesai, setelah itu Menegpora dan KONI/KOI bisa berbulan madu dengan kepengurusan PSSI yang baru.

kalau begini kan enak