Touring Jakarta – Lombok, Km 0 (Sabang) dan Mekkah, Proyeksi Touring terbesar dalam Hidup

Sebagai rider pencinta touring sepeda motor tentu sangat menginginkan memiliki agenda-agenda rutin mengadakan perjalanan dengan sepeda motor ke tempat-tempat yang jauh, menarik dan belum pernah dikunjungi. Namun biasanya kendala yang sering dihadapi adalah; tidak memiliki teman yang sehobi dalam petualangan ini atau kalaupun ada seringkali sulit menemukan waktu yang tepat untuk touring bareng. Karna touring jarak jauh sendirian tentu bukanlah hal yang mengasyikkan untuk sekedar merasakan petualangan yang berkesan, kecuali bila memang ada tujuan tertentu yang lebih spesifik dan urgen dari hal tersebut.

Namun, secara pribadi tentu saya memiliki cita-cita dan keinginan dalam hidup saya paling tidak sekali seumur hidup untuk mengagendakan 3 trip touring sepeda motor jarak jauh. Dua diantaranya cukup realistis, namun satu yang terakhir mungkin banyak orang akan mengatakan hampir mustahil. Berikut tiga trip tersebut:

1. Jakarta – Lombok
Yaitu touring menuju timur Indonesia dari Jakarta. Trip ini masih sangat realistis untuk dilakukan, karena memang sudah banyak rider yang melakoninya. Dalam trip ini mungkin bukan hanya sekedar untuk mendapatkan kesan perjalanan bersepeda motor semata, namun bila waktu yang disediakan mencukupi bisa digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara seperti; Solo, Yogyakarta, gunung Bromo, Bali dan tentu saja yang terakhir Lombok. Atau melewati 3 kota besar yang menjadi ibukota provinsi di pulau Jawa yaitu Bandung, Semarang dan Surabaya.

2. Jakarta – Km 0 (Sabang)
Bila trip yang pertama adalah menuju timur Indonesia, maka yang kedua adalah menuju Barat Indonesia dari Jakarta bahkan paling Barat Indonesia atau biasa disebut Km 0 di kota Sabang. Trip ini masih sangat realistis karna tidak sedikit rider yang sudah melakoni trip ini namun dibanding trip yang pertama tentu yang trip yang kedua lebih sedikit. Rute trip ini tentunya akan lebih ekstrim dan kental nuansa petualangan ridingnya dibanding rute trip yang pertama karena merupakan jalur lintas Sumatera yang notabene kontur jalannya jauh lebih baik di pulau Jawa dan Bali tentunya dan akan lebih sedikit melewati jalur-jalur wisata daripada trip yang pertama.

3. Jakarta – Mekkah (Umrah)sambil cengar-cengir
Trip yang terakhir ini mungkin kebanyakan orang akan mengatakan tidak realistis atau mustahil. Namun, bila pak Indra Azwan saja kini sedang berjalan kaki dari Malang melewati Jakarta menuju Mekkah untuk ‘mencari’ keadilan di hadapan Allah. Atau dua warga negara Cape Town, Afrika Selatan, yang bernama Nathim Cairncross dan Ahmad Haron bersepeda melintasi 12 negara, memakawan waktu sembilan bulan untuk mewujudkan mimpinya pergi Haji ke Mekkah sudah terlaksana. Tentu akan lebih memungkinkan lagi bila menggunakan sepeda motor yang nota bene tidak lebih melelahkan daripada jalan kaki dan bersepeda. Selain lebih ekstrim dan penuh petualangan, tentu trip ini memadukan nuansa dan tujuan relijius yaitu umrah atau haji yang merupakan kewajiban dalam agama Islam sekali seumur hidup. Meski demikian, cita-cita dan keinginan melakoni trip ini bukan berarti mengesampingkan kesempatan bila sudah mampu pergi haji atau umrah menggunakan pesawat, tentu hal ini akan diutamakan.

Well…. Bagi pembaca artikel ini yang memang memiliki hobi dan minat yang sama untuk melakoni baik satu atau ketiga trip di atas monggolah kita diskusi, sharing mulai dari comment box, email atau japri (jaringan pribadi) lainnya. Insya Allah mungkin saja bisa menemukan kesepakatan untuk menggelar touring dengan salah satu atau ketiga trip di atas suatu waktu nanti – entah kapan, hehehehe….

Salaaam….

gambar nyomot di:
http://www.viewtourism.com/2011/04/the-beauty-of-lombok-island-in-indonesia/sunset-beauty-view-in-lombok-island/
http://myaceh.blogspot.com/2011/10/tugu-kilometer-nol-aceh.html

Mengenang Touring Ujung Genteng (2)

Setiba di lokasi pertama pantai Ujung Genteng atau yang disebut pantai nelayan seolah kita dipertemukan dengan lokasi wisata yang aneh. Tempat yang tidak beraturan dan sedikit kotor, lokasi yang seakan sempit dan banyak perahu nelayan, seolah tak layak daerah ini disebut sebagai pantai yang layak dikunjungi meski jauh. Bahkan ketika tiba pertama kali saya sempat bingung harus kemana setelah bertemu dengan jalan buntu yang tidak mungkin lagi dilalui oleh motor, namun setelah beramah-tamah dengan salah satu penjual ikan barulah saya mengetahui arah yang harus dituju. Sebelumnya, ketika saya mengakhiri jalan ujung genteng saya berbelok kekiri karna jalan ke kiri masih beraspal akan tetapi malah menemukan jalan buntu, ternyata kita harus berbelok ke kanan memasuki jalan berpasir putih pantai untuk menuju pantai cibuaya, pantai penangkaran penyu dan pantai ombak tujuh.

jalan buntu

nah… ketika berbelok ke kanan dari jalan ujung genteng memasuki jalan berpasir, disini mulai terlihat kekhasan pantai ujung genteng, pantai berkarang dengan kedalaman air hanya setengah meter sepanjang kurang lebih 500 meter dari bibir pantai hingga ketengah sangat menggoda pengunjung untuk melepaskan sepatu dan menginjakkan kakinya di pantai ini mencari binatang-binatang laut. Karena terlalu letih saya hanya beristirahat saja di atas pasir sambil memandangin alam yang menenangkan ini, namun ketika saya melihat bulu babi yang diambil oleh salah seorang pengunjung, membuat saya tertarik untuk menghampiri.

bulu babi

Karena benar-benar awam dengan tempat wisata ujung genteng, saya memutuskan untuk menyewa tukan ojek agar mengantar saya ke pantai cibuaya dan penangkaran penyu. Tetapi ternyata jalur dari pantai nelayan ke pantai cibuaya tidaklah rumit, hanya memilik satu belokan saja ke arah kiri namun terkadang motor perlu turun ke pantai untuk mendapat jalur yang lebih mudah. Andai tau seperti ini tentu saya ga akan menyewa tukang ojek.

Siti harus turun ke laut

Pantai cibuaya pantai dengan ombak laut selatannya yang khas, tepi pantainya cenderung tidak berpasir tapi dipenuhi dengan sampah-sampah rumah kerang dan pecahan-pecahan karang kecil, airnya begitu jernih dan menggoda untuk dinikmati seperti halnya pantai nelayan, karna terdapat karang yang datar pula yang bisa dimanfaatkan untuk snorkling. Akan tetapi bedanya bila dipantai nelayan ombaknya hanya sampai di tengah dan tidak ke tepi, namun di pantai cibuaya ini ombaknya cukup besar mencapai tepian. Di titik tertentu dari pantai cibuaya ini dipakai untuk berenang oleh pengunjung. Bila anda ingin menginap, di pantai cibuaya ini terdapat beberapa penginapan yang langsung menghadap ke pantai.


Dari pantai Cibuaya menuju pantai penangkaran penyu, menyusuri jalan berpasir kembali dan becek dibeberapa titik. Setiba saya disana hari masih siang, pantai ini sangat sepi sekali. Hamparan pasir putih yang luas, ombak yang menderu dan besar yang sudah terdengar dari kejauhan sehingga pantai ini tidak digunakan untuk berenang kecuali oleh orang-orang yang profesional. Tujuan saya ke pantai ini adalah ingin ikut melepas tukik-tukik penyu ke samudera dan melihat penyu dewasa naik ke pantai untuk bertelur.

Karena hari masih siang sedangkan pelepasan tukik-tukik penyu baru dilakukan sore hari sekitar jam 5, maka saya mencoba menikmati ketenangan alam disana dengan irama deru ombak. Ketika tiba saatnya pelepasan tukik-tukik penyu ternyata banyak pengunjung yang berdatangan ke pantai ini untuk ikut melepas tukik penyu pula, bahkan terdapat beberapa turis asing.

Setelah melepas tukik penyu dan memasuki waktu maghrib sebenarnya saya ingin menunggu sunset, namun karna udara sedikit mendung maka sunset urung tampak, akhirnya kami disuruh menjauh dari pantai, karna pada malam hari penyu-penyu dewasa akan naik ke pantai untuk bertelur. Bila penyu baru naik tapi mendengar suara berisik atau melihat cahaya di pantai maka penyu tersebut akan kembali ke laut. Barulah setelah penyu tersebut membuat lubang yang waktunya kurang lebih satu setengah jam, kita diperbolehkan mendekat, karna ia tak akan lari.

penyu hijau yang sedang bertelur

Sayangnya saya tidak sanggup melanjutkan perjalanan menuju pantai ombak tujuh, pantai yang dikenal dengan ombaknya yang berlapis-lapis, dikarenakan waktu yang terbatas, dan dari informasi yang saya terima oleh petugas setempat bahwa pantai ombak tujuh sangat jauh jaraknya,  kurang lebih 2-4 jam perjalanan tergantung kondisi, ditambah lagi medannya yang berbatu dan licin, sungguh beresiko bila saya pergi sendirian kesana. Dan ketika bertanya ke tukang ojek pun dia mau mengantar bila bayarannya dua ratus ribu rupiah. Wah sudah kebayang benar deh penderitaannya di jalan berarti. Jadi cukup sampai disini saja.

Dan begitulah kenangan wisata dan touring ke Ujung Genteng

Mengenang Touring Ujung Genteng (1)

Pada beberapa hari setelah idul fitri yang lalu, antusiasme dan rasa penasaran saya untuk mengunjungi pantai Ujung Genteng akhirnya terwujudkan. Pantai Ujung Genteng sebagai pantai yang masih terpelihara keasliannya ini dan masih jarang dikunjungi mengingat letaknya yang cukup jauh sangat menantang untuk dikunjungi.

Terletak di sebelah selatan Sukabumi, nama pantai yang diambil dari nama desa ini benar-benar mencerminkan letaknya yang di ujung. Memakai motor membutuhkan 7-8 jam perjalanan dari Jakarta dengan jalan yang berliku menembus hutan dan perkebunan teh dengan jalur yang lebih kecil dari jalan raya Puncak namun lebih panjang jaraknya, sehingga riding jauh menembus Ujung Genteng cukup menghibur.

 

perkebunan teh Surangga, Desa Kertajaya, Kec. Simpenan, Sukabumi

Arah ke Ujung Genteng dari Sukabumi kota mengambil jalur menuju Pantai Pelabuhan Ratu. Sekitar 3-4 km sebelum Pelabuhan Ratu kita akan bertemu pertigaan yang mana bila lurus akan menuju Pelabuhan Ratu dan belok kiri mengarah ke Ujung Genteng. Dari sini perjalanan masih membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam, dan dari sini pulalah jalan yang berliku membelah hutan dan perkebunan teh yang luas di mulai.

Jembatan besar yang akan kita temui setelah keluar dari jalur Pelabuhan Ratu menuju Ujung Genteng

Ketika memasuki desa Ujung Genteng maka kita akan melewati Jalan Ujung Genteng yang cukup panjang, mungkin sepanjang Jl  S. Parman ditambah Jl Gatot Subroto (Grogol-Cawang) bila di Jakarta. Namun bila di Jakarta jalanan begitu sangat macet dan dengan polusi yang menggangu serta dikelilingi gedung-gedung tinggi, namun di jalan Ujung Genteng ini begitu sepi, disebelah kanan terdapat beberapa perumahan warga desa dengan konsentrasi di titik-titik tertentu, dan disebelah kirinya terdapat hamparan padang rumput dan jejeran pohon kelapa, dikejauhan terlihat garis pantai Ujung Genteng di mulai.

Jl. Ujung Genteng

 

Jl Ujung Genteng berakhir dan diputus oleh bibir pantai, artinya ketika kita sudah mengakhiri melintasi Jl Ujung Genteng ini maka telah tibalah kita ditujuan wisata pantai Ujung Genteng, yang dimulai dari pantai nelayan (banyak yang menyebutnya demikian, karna disinilah para nelayan berkumpul dan terdapat TPI/Tempat Pelelangan Ikan).

bibir pantai yang mengakhiri Jl Ujung Genteng

bersama salah seorang penjual ikan di pantai nelayan

to be continued