Striping baru Honda Tiger Revo – AHM hendak mempertahankan Konsep Legendary Ride pada salah satu Produknya

Di tengah hingar bingar wacana dan harapan akan revolusi mesin Honda Tiger (GL 200) dan dikaitkan dengan produk anyar AHM yang akan digelontorkan dengan sasis tralisnya. Alih-alih hal tersebut AHM justru malah lagi-lagi memfacelift produknya yang mulai muncuk sejak 1993 tersebut.

Mungkin sebagian pencinta Honda Tiger akan ada yang kecewa lagi, dan bagi sebagian yang sudah membenci produk tersebut akan memaklumi dan makin antipati terhadap produk tersebut yang sering distigmai dengan teknologi jadul, lemot dan sebagainya.

Tapi, terlepas dari itu semua, saya melihat kebijakan AHM mempertahankan produk ini dengan mesin apa adanya semenjak brojol 1993 lalu sebagai usaha untuk menjadikan motor ini sebagai icon bagi salah satu konsep legendary ride yang diusung oleh AHM dan disematkan secara ‘abadi’ pada produk tersebut. Yang demikian maka para biker enthusiast terhadap model motor cruiser seperti honda Tiger tidak merasa kehilangan karna produknya diskontinyu. Toh kalaupun ingin berbicara teknologi anyar dan performa mesin mumpuni, AHM sudah menggelontorkan produk-produk anyar mereka terutama CBR 250 dan 150 serta New Mega Pro. Belum lagi bila si tralis misterius benar-benar brojol tentu akan mengambil konsep tersendiri tuk menarik minat segmen tertentu.

By the way, menurut saya Honda Tiger sebagai motor berergonomi terbaik di kelasnya, dengan power peak 16,7 hp dari mesin 200 cc- bandingkan dengan pesaing-pesaingnya seperti Scorpio 225 cc(18 hp-an), Pulsar 220 cc (21 hp-an), bahkan V-ixion 150 cc 4 klep (cuma 15 hp-an), ditambah top speed yang bisa mencapa 125-130 kpj, berpenampilan sangar dan ganteng, maka Honda Tiger masih layak untuk dipasarkan.

Dengan ini tentunya menjadi kabar gembira para pencinta motor legenda ini dengan derungan suaranya yang khas dan torsi antar gear-nya yang saaaaangat istimewa tuk dinikmati ketika berkendara smooth maupun kencang. Karna keberadaan sparepartnya pun akan lebih lama lagi terjamin keberadaannya.

Salam legendary ride,

Iklan

Impresi 3 tahun bersama Honda Tiger Revo

that is my revo

that is my revo

Honda Tiger digadang-gadangkan sudah memasuki masa uzur dan akan segera pensiun dari produksi masal industri motor Indonesia digantikan oleh gelotoran produk-produk baru yang fresh. Namun tak bisa dipungkiri motor ini menjadi legenda di mindset konsumen Indonesia maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti harga motor bekas ini akan melonjak.

Sebagai pengguna Honda Tiger Revo sejak tahun 2008 tentu saya memiliki kesan-kesan tersendiri berupa suka-dukanya. Dikatakan puas tidak juga karna banyak hal yang membuat saya kecewa dari motor ini, dikatakan tidak puas pun sulit karna impresi riding bersama motor ini sangat membuat sayang untuk digantikan, khususnya ketika jarak jauh.

Saat ini, motor Tiger Revo lansiran tahun 2008 ini sudah memasuki km 90.000 lebih sudah sekali turun mesin. Selain saya gunakan sebagai motor komuter (harian), tak terhitung jumlahnya bulak-balik Jakarta-Bogor-Puncak-Bandung apalagi Jakarta-Tangerang dengan motor rersebut. Sejumlah kota/tempat yang pernah disinggahi menggunakan motor ini adalah Pandeglang, Sumedang, Ujung Genteng, Tasik, Banjar, Dieng (Wonosobo).

melibas jalur Ujung Genteng

melibas jalur Ujung Genteng

Motor bermesin SOHC 200 cc ini memiliki power puncak mesin sebesar 16,7 hp pada 8.000 rpm. Penampilan secara umum gagah dan sangat relevan dengan konsep sport touring yang diusung motor ini. Dari depan anda akan terlihat gagah dengan tongkrongan motor ini, namun dari samping bila anda memiliki tubuh yang kurus akan kurang mendukung dengan penampilan motor ini yang cukup besar, adapun dari belakang rasanya Tiger lama lebih sedap dipandang daripada Tiger Revo, dan akan lebih sempurna bila ban belakang diganti dengan ban bertapak lebar minimal 120 supaya tidak terlihat cungkring.

Yang paling istimewa dari Tiger adalah sisi ergonomisnya yang membuat anda begitu menikmati perjalanan touring jarak jauh. Akseleresi motor ini bercirikan cruiser, lemot di bawah namun cukup berisi di tengah dan atas. Top speed yang pernah saya raih adalah 125 km/jam di speedometer dengan deviasi kira-kira sebesar 8-10% ketika saya uji dengan software Runtastic Blackberry yang menggunakan GPS. Sepertinya kecepatan tersebut sudah sulit untuk naik lagi kecuali bila dalam kondisi turunan. Kalau berbicara akselerasi dan top speed, menurut saya pribadi motor ini ga kalah dibanding Scorpio atau V-Ixion bila sudah bermain di putaran mesin menengah ke atas. Karna memang pengalaman melibas trek lurus nan panjang seperti jalan raya Cianjur-Padalarang atau Nagrek berulang kali motor ini tak terkejar oleh Scorpio, V-Ixion apalagi Satria FU. Dengan pembawaannya yang gambot membuat anda merasa cukup nyaman berkecepatan tinggi.

Lalu apa saja sisi buruk yang membuat saya kecewa terhadap motor ini, bukan tidak sedikit namun berikut saya jabarkan hal-hal yang menurut saya kurang normal untuk dimaklumi. Pertama, 3 bulan setelah menggunakan motor ini saya dibuat kaget dengan gejala gas ngempos di putaran atas. Setelah dicek kalaupun kanvas koplingnya habis saja sudah tidak normal karna baru 3 bulan, lah ini ternyata rumah kopling pun harus diganti. Sepertinya saya perlu mengatakan ada cacat produksi pada rumah kopling Tiger Revo keluaran tahun 2008, alhamdulillah setelah diganti hingga sekarang rumah kopling tersebut tidak pernah bermasalah.

Kedua, sepertinya material body dari motor ini memiliki kualitas yang kurang bagus. Contohnya; tangki bensin mudah sekali bocor dan rembes, awalnya masih bisa disiasati dengan lem besi namun ternyata makin lama rembesan makin luas sehingga terpaksa besi tangki bagian bawah saya ganti dengan besi plat yang baru dikerjakan di tukang las. Dan sekedar note, kejadian demikian terjadi meskipun saya selalu menggunakan Pertamax atau sekelasnya di SPBU resmi.

cover samping disiasati dengan tambahan ring lebar berbahan plastik

cover samping disiasati dengan tambahan ring lebar berbahan plastik

Kemudian cover samping baik kanan-maupun kiri mudah rapuh dan patah pada bagian yang menjadi tempat baut atau penghubung dengan tangki. Hal ini saya siasati dengan menggunakan lem power glue (meski tidak terlalu banyak membantu) dan saya buatkan tambahan ring berbahan plastik agar baut bisa bekerja sempurna menempel cover ini ke body.

refektor tidak rigid dipegang oleh rumah kabel lampu depan

refektor tidak rigid dipegang oleh rumah kabel lampu depan

Contoh lainnya adalah refektor yang cukup mudah patah pegangan bautnya. Hal ini saya rasa karna desain pegangan baut refektor sangat tidak rigid dihubungkan dengan rumah kabel lampu depan. Hal ini menyebabkan refektor mudah copot terlebih bila motor sering digunakan dijalan yang konturnya kurang halus.

leher knalpot mudah berkarat

leher knalpot mudah berkarat

Terakhir yang membuat saya khawatir adalah leher knalpot yang mudah sekali berkarat. Untuk mensiasatinya saya oleskan oli bekas ke leher knalpot yang dalam kondisi panas untuk menghilangkan karat-karat tersebut.

tour de Dieng

tour de Dieng

Well, begitulah impresi bersama Honda Tiger Revo 2008 berada antara puas dan tidak puas.

Akurasi Speedometer Honda Tiger Revo dan Honda Scoopy

Sebagian para biker mungkin sudah mengetahui bahwa kecepatan yang ditampilkan speedometer baik yang digital maupun analog pada setiap sepeda motor harian pasti tidak mempresentasikan kecepatan yang sebenarnya. Sepertinya hal ini dilakukan oleh pabrikan untuk efek kehati-hatian yang ekstra kepada setiap biker. Namun seberapa jauh sih tingkat penyimpangan kecepatan yang tampil di speedometer sebuah kendaraan dibandingkan kecepatan sebenarnya.

Nah pada tulisan singkat ini, saya membuat tes sederhana mengkomparasikan kecepatan motor yang tampil di speedometer dengan kecepatan di GPS yang dijalankan oleh program Runtastic Blackberry App. Motor yang saya gunakan untuk ditest adalah Honda Tiger Revo keluaran tahun 2008 dan Honda Scoopy tahun 2011. Pengetesan untuk Honda Tiger saya lakukan sebanyak 4 sesi yaitu pada kecepatan yang tertera pada speedometer sebesar 40 kph, 60 kph, 80 kph dan 100 kph. Ingin dilanjutkan sesi ke-5 Honda Tiger untuk kecepatan 120 kph namun tak ada jalan yang cukup kosong untuk mendukung sesi tersebut, maka dicukupi saja hingga 100 kph. Kemudian untuk Honda Spacy, karna motor masih berstatus inreyen maka tes hanya dilakukan 2 sesi pada kecepatan yang tertera di speedometer 40 kph dan 60 kph.

Berikut hasilnya saya tampilkan dalam bentuk tabel:

Test Result
Honda Tiger Revo 2008
Session Speedometer GPS (Runtastic) Deviasi %
1 40 kph 37,2 kph 2,8 7,53
2 60 kph 56,6 kph 3,4 6,01
3 80 kph 72,8 kph 7,2 9,89
4 100 kph 90,5 kph 9,5 10,50
Average 8,48
Test Result
Honda Scoopy 2011
Session Speedometer GPS (Runtastic) Deviasi %
1 40 kph 28,3 kph 11,7 41,34
2 60 kph 52,8 kph 7,2 13,64
Average 27,49

Perbandingan dengan Kawasaki Ninja 150L dan Yamaha Byson

Lalu bagaimana dengan jenis motor lainnya? Berhubung motor yang bisa saya gunakan hanya dua di atas, maka tes motor jenis lain untuk Kawasaki Ninja 150L dan Yamaha Byson saya contek hasilnya dari Bro IWB dimana tesnya dilakukan dengan aplikasi yang sama dan sudah direport di blognya sendiri terlebih dahulu.

Test Result
Kawasaki Ninja 150L 2011
Session Speedometer GPS (Runtastic) Deviasi %
1 80 kph 62 kph 18 29,03
2 120 kph 91,8 kph 28,2 30,99
Average 30,01
Test Result
Yamaha Byson
Session Speedometer GPS (Runtastic) Deviasi %
1 80 kph 75,6 kph 4,4 5,82
2 108 kph 102,5 kph 5,5 5,37
Average 5,59

Nah berdasarkan data-data diatas kita bisa melihat bahwa Yamaha Byson adalah motor yang paling memiliki keakuratan speedometer dibanding kecepatan di GPS (ya mungkin benar kata mas IWB karna faktor impor dari India yang dikenal memiliki akurasi speedometer lebih baik), sedangkan Kawasaki Ninja 150L adalah motor yang paling menyeleweng jauh speedometernya. Dan khusus untuk Honda Scoopy terdapat keanehan pada kecepatan 40 kph di speedometer yang menyimpang teramat jauh dari kecepatan GPS (41,34 %) namun terkoreksi cukup signifikan pada sesi 2 hingga menjadi 13,64%.

Jadi kira-kira menurut saya bila 3 motor (Tiger, Ninja 150L dan Byson) dijejerkan pada kecepatan 90 kph menurut GPS, maka speedometer Tiger akan menampilkan kecepatan 100 kph, Ninja akan menampilkan 117 kph dan Byson akan menampilkan 95 kph.

Saya sebagai pengguna Honda Tiger Revo tersebut pernah mencapai top speed 125 kph di speedometer yang artinya kira-kira kecepatan real menurut GPS adalah 113 kph. Nah untuk menyamai kecepatan ini maka Ninja 150L perlu mencapai speed 147 kph di speedometernya (wooow… gimana ga gede kepala tuh rider ninja kalo mo mentokin motornya ke speed tersebut), sedangkan Byson untuk menyamainya perlu mencapai speed 119 kph di speedometer (denger-denger sih ada yang bisa mencapai speed mengendarai Byson hingga 120 kph di speedometer).

Jadi menurut saya, top speed tidaklah menjadi sesuatu yang dibanggakan bagi pengguna motor-motor sport harian, karena sepertinya ‘hampir sama’, namun yang membedakan adalah akselerasinya.

*)Note: Semua motor tersebut dalam keadaan orisinil (standard pabrikan).

Mungkinkah Siti (Si Tiger) Berganti Duki (KTM 125 Duke)

Hmmmmm…. akhir-akhir ini sedang beredar kabar di dunia maya dan blogsphere tentang akan brojolnya motor Eropa (Austria) di Indonesia yaitu KTM 125 Duke. Bahkan rencana sebelumnya motor ini akan dilaunching di arena PRJ (Pekan Raya Jakarta) Kemayoran (Juni-Juli ini), namun kabar yang terakhir terdengar rencana itu dibatalkan dan kemungkinan besar tahun 2012 barulah motor ini akan dirilis, yang rencananya akan di impor oleh pihak BAI (Bajaj Auto Indonesia). Hal ini dikarenakan perusahaan Bajaj memang memiliki saham di perusahaan motor Eropa tersebut (KTM, red:).

Melihat bentuk dan modelnya sangat menggiurkan sekali. Desain yang asing untuk orang Indonesia, namun sudah mulai diminati. Ditambah lagi model motor ini yang dual purpose, bisa dipake off road maupun on road sepertinya.

Dan yang lebih menggoda lagi adalah spesifikasi mesinnya. Mesin berkubikasi 125 cc namun DOHC ini mampu memuntahkan tenaga sebesar 20,6 HP (15 KW) pada kitiran 10.500 rpm menurut versi www.bikez.com, dan torsinya 12 nm pada 8.000 rpm. Sistem pendingin menggunakan cairan dan sudah mengadops teknologi injeksi. Motor yang beratnya 128 kg ini patut menjadi alternatif untuk mengganti Siti (Si Tiger) yang spesifikasinya terbilang sudah jadul.

Mungkinkah….???

Insya Allah… Aamiiiiin…..