Penyakit Psikosomatik (Somatisasi), harus Disembuhkan Sendiri

Gejalanya ada dan cukup mengganggu, seperti sakit kepala, sesak napas, nyeri dada, nyeri punggung, insomnia, tapi biasanya dokter tak menemukan penyakitnya. Kalau demikian Anda menderita apa yang disebut somatisasi, dan hanya diri sendiri yang bisa menyembuhkannya

Dalam beberapa bulan ini hampir setiap bulan Sally (29) menemui dokter. Ia khawatir hal terburuk terjadi pada dirinya, kanker. Betapa tidak? Konsultan komputer yang tinggal di Atlanta, AS, ini sudah lebih dari tiga tahun menderita sakit perut kronis dan sakit kepala. Anehnya, dokter belum juga menemukan penyakit yang dideritanya. Karena itu ia setuju dilakukan serangkaian pemeriksaan sekali lagi.

Dengan gugup Sally meremas-remas tisu di tangannya sambil menantikan vonis dokter. Tapi ternyata pemeriksaan menunjukkan hasil negatif. Hal yang semestinya menggembirakan itu justru mengesalkan karena berarti penderitaannya masih akan berlanjut. “Kami tak menemukan penyakit Anda. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Anda benar-benar sehat,” kata dokter itu sambil menaruh berkas laporan itu di meja kerjanya.

Setengah putus asa seminggu kemudian, Sally menemui dokter lain. Kali ini masih tentang penyakit “aneh”nya yang tak kunjung sembuh itu. Oleh dokter yang terakhir ini ia dinyatakan menderita somatisasi, yaitu manifestasi penderitaan emosional dalam bentuk gejala fisik yang tidak jelas. Kondisi aneh yang membikin frustrasi dokter dan pasien. Tak terhitung berapa juta biaya dihabiskan untuk ke dokter, pelbagai pemeriksaan dan pengobatan yang akhirnya tidak manjur itu. Syukur, telah ditemukan cara efektif untuk menanggulangi dan meringankan derita akibat somatisasi.

Tak berbahaya tapi mencemaskan
“Somatisasi sebenarnya merupakan proses normal lantaran derita emosional terwujud menjadi gejala-gejala fisik,” jelas Steven Locke, MD, kepala bagian medis Harvard Pilgrim Health Care, lembaga perawatan kesehatan terbesar di New England, AS. Gejalanya berkisar dari yang wajar-wajar saja, seperti muka memerah, sampai yang menakutkan, seperti nyeri dada yang hebat.

Tingkatan manifestasi somatisasi ini pun ada bermacam-macam. Beberapa orang hanya mengalami sedikit gejala, sementara yang lainnya banyak.

“Bila gejalanya ringan-ringan saja, somatisasi sebenarnya tidak berbahaya,” lanjut Locke. “Bukankah kita semua pernah mengalami derita emosional dengan gejala fisik, seperti sakit kepala? Bedanya, pada penderita somatisasi ekstrim, gejala fisik itu dapat sampai berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupannya.”

Untuk memahami somatisasi secara benar, harus dimengerti hubungan antara perasaan (emosi), tingkah laku, dan gejala fisik awal. Pikiran dan tubuh, merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Tidak ada emosi yang dialami tanpa ditemani manifestasi fisik dari emosi itu. Demikian juga tidak akan ada sensasi fisik tanpa adanya manifestasi emosional dari pengalaman fisik itu. Jadi, mereka saling berhubungan dan tidak mungkin dipisahkan. Akibatnya, pada saat seseorang mengalami penderitaan secara emosional, semisal pertengkaran atau permusuhan, tidak puas terhadap diri sendiri, kekecewaan atau kehilangan seseorang tanpa dukungan dari lingkaran terdekatnya, maka semua itu akan termanifestasi di badan dengan berbagai macam gejala.

Menurut Kurt Kroenke, MD, guru besar ilmu kedokteran di Indiana University School of Medicine, sekaligus peneliti somatisasi, gejala tak jelas yang dialami oleh penderita penyakit ini meliputi banyak hal. Misal, nyeri dada, pening, sakit kepala, sakit punggung, sesak napas, insomnia, sakit pada bagian perut, mati rasa dan perih, sembelit, serta letih.

Ada banyak faktor yang berkaitan dengan gangguan somatisasi. Yang menarik, sekitar separuh dari pasien mengalami kecemasan atau depresi, meskipun umumnya dapat ditanggulangi sehingga gejala-gejalanya dapat dikurangi. Uniknya, gejala somatisasi cenderung dialami para wanita daripada kaum pria. Bahkan hasil penelitian menunjukkan, pasien wanita pada umumnya pernah mengalami pelecehan fisik atau seksual. Faktor umum lain, kondisi keluarga yang berantakan.

Somatisasi juga cenderung dialami sejak usia muda. Gejalanya mulai muncul ketika pasien berusia kurang dari 30 tahun. “Kalau gejala fisik yang tidak jelas itu baru muncul di usia 50 atau 60 tahun, kecil sekali kemungkinan itu kasus somatisasi. Dalam kasus seperti itu, dokter mesti mencari kemungkinan adanya gangguan depresi atau kecemasan,” jelas Kroenke.

Metode pertolongan diri
Ada beberapa metode untuk membantu penderita somatisasi. Salah satunya yang berhasil adalah yang diselenggarakan Personal Health Improvement Program, yang diadakan Harvard Pilgrim Health Care selama enam minggu.

Kursus itu mengajarkan beberapa kecakapan, terutama bagaimana mengamati sensasi dalam tubuh dan pikiran, serta perasaan yang muncul, tanpa terburu-buru menduga penyebabnya.

“Dengan sikap netral, mereka bisa lebih menghayati pengalaman itu. Selesai berlatih selama periode itu, orang jadi meningkat kesadarannya terhadap somatisasi dan dapat menanggulanginya sebelum gejala itu menyebabkan penyakit betulan,” kata Locke.

Dalam program itu pasien juga belajar menangani permintaan dan janji, termasuk tega menolak permintaan bila memang tak dapat memenuhinya. Ini untuk menghindari beban janji itu kelak yang bisa menimbulkan juga rasa kesal. “Hidup itu penuh dengan permintaan, janji, dan penolakan. Kita perlu belajar bagaimana mengkomunikasikan permintaan, apakah kita sebagai pihak penerima atau pemberi, supaya relasi kita dengan orang lain terpelihara baik. Yang penting, jangan sampai kita ‘tertimbun’ oleh beban janji yang tidak dapat dipenuhi atau kekesalan yang menumpuk,” jelas Locke.

Personal Health Improvement Program memiliki tingkat keberhasilan yang sangat baik. Hasil pengamatan terhadap penderita selama setahun, menunjukkan penurunan angka kunjungan dokter 50% bagi penderita yang melaksanakan program itu. Malah pada kasus-kasus yang berat, kunjungan ke dokter berkurang sampai dua pertiganya saja. Selain menurunkan kadar somatisasi, depresi, dan kecemasan, fungsi kemasyarakatan para penderita juga meningkat.

Kalau program pertolongan diri sendiri, semacam Personal Health Improvement Program tidak tersedia di sekitar kita, berikut ini tip yang barangkali bisa membantu.

  • Cari dokter yang serius menangani Anda dan gejala-gejala yang Anda alami. Artinya dokter yang mau mendengarkan keluhan pasien, tanpa cepat-cepat merekomendasikan pelbagai pemeriksaan. “Saya anjurkan dokter umum atau dokter keluarga saja, bukan spesialis,” kata Kroenke.
  • Jangan mengharapkan kesembuhan secara cepat. Mungkin dokter perlu waktu 6 – 12 bulan untuk sungguh-sungguh memahami riwayat dan gejalanya. Periksakan diri terhadap gangguan depresi atau kecemasan. Obat depresi banyak mengurangi gejala somatisasi.
  • Jangan biarkan gejala gangguan somatisasi sampai melumpuhkan aktivitas karena malah akan semakin memperburuk kondisi kita. Usahakan sedapat mungkin untuk mempertahankan gaya hidup normal, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan keluarga. Jika penderita mencoba melakukan aktivitas seperti biasa, lama-kelamaan gejala itu akan cenderung berkurang.
  • Buatlah buku harian untuk mencatat gejala-gejala yang timbul. Catat apa yang sedang Anda lakukan dan rasakan saat gejala-gejala tersebut menyerang. Catatan ini akan memberikan wawasan mendalam tentang penyebab somatisasi dan berguna untuk mengambil langkah yang lebih baik, saat gejala itu muncul lagi.
  • Tiap hari sisihkan waktu untuk menenangkan pikiran dan bermeditasi. “Ini akan membantu mengenali dan memunculkan perasaan yang terpendam,” jelas Locke. Perasaan yang selama ini ditekan sehingga tidak disadari dapat muncul ke permukaan. Sesungguhnya, mengakrabi suasana jiwa, perasaan dan pikiran sendiri yang biasanya tidak disadari adalah proses yang alami. Dengan cara ini, pemecahan persoalan dapat diperoleh tanpa harus mengakibatkan gangguan somatik.
  • Olahraga secara teratur mampu mengurangi stres dan juga menyehatkan. Semisal jalan-jalan sekitar tempat tinggal kita atau olahraga seperti tenis. Tentu saja olah raga perlu diatur sesuai usia dan kondisi fisik.
  • Perhatikan menu makanan sehari-hari. Kafein, misalnya, dapat menyebabkan serangan panik, yang kemudian dapat menimbulkan sesak napas, berdebar-debar, dan sakit dada. “Penderita somatisasi mesti mempertimbangkan kembali menu mereka, kalau perlu membicarakannya dengan ahli gizi, siapa tahu ada bahan makanan yang bisa memicu timbulnya gejala,” saran Locke.
  • Jika banyak mengalami masalah dalam pergaulan, cari kursus yang mengajarkan cara-cara efektif untuk mengenali diri dan ketrampilan berkomunikasi. Kurang bisa berkomunikasi dengan baik mengakibatkan stres, yang dapat termanifestasi pada berbagai macam gejala.
  • Sadarilah bahwa selalu ada yang tidak dapat diubah dalam hidup. “Ini kebijaksanaan yang kami ajarkan,” ujar Marcia Orlowski, manager pelatihan dan pengembangan klien dengan Harvard Pilgrim Health Care’s Personal Health Improvement Program. Karena itu apa gunanya memikirkan hal tersebut? Ironisnya, “Banyak orang stres berat karena memikirkan hal-hal di luar kekuasaan mereka,” tambah Orlowski.

Bersedia memaafkan, baik diri sendiri maupun orang lain. Ini memungkinkan kita bergerak ke hal lain dalam hidup dan tidak terpaku merenungi, menyesali, kesal tentang suatu kejadian. (Don Vaughan/Rye)

Sumber: Tempo Interaktif, 8 Agustus 2001

Iklan

Menikmati Penyakit dan Ikhlas di atasnya

Ingatlah saat Anda sakit

1. Jangan mengeluh. Yakinlah bahwa apa saja yg menimpa diri anda baik yang menyenangkan atau sebaliknya sudah ditakdirkan Allah.

”Sesungguhnya apa yg Allah takdirkan menimpa anda tidak akan meleset dari diri anda. Dan apa yang Allah takdirkan meleset dari diri anda, tidak akan menimpa anda” (HR.abu Daud)

2. Menyadari bhw semua ketentuan Allah adalah baik, tidak ada yg jelek. Seringkali kita mengucapkan
“subhanallah” yg berarti maha suci Allah. Apa maksudnya? Maksudnya adalah Allah maha sempurna sehingga semua yg berasal dari Allah itu sempurna, tdk ada cacat, buruk, aib, terdapat kekurangan,dll..

“Boleh jadi kamu tdk menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu, Allah mengetahui sementara kalian tidak mengetahui” (QS. Albaqarah 216)

3. Sakit adalah tanda seseorang dicintai Allah.

“Barang siapa yg Allah kehendaki kebaikan ada pd dirinya, DIA akan memberinya musibah” (HR.bukhari)

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-NYA niscaya Allah akan menyegerakan musibah baginya di dunia, dan jika Allah menghendaki keburukan bagi hambaNYA niscaya Allah membiarkannya dengan dosanya sehingga Allah membalasnya pada hari kiamat” (HR.At-Tirmidzi)

4. Sakit adalah sarana seseorang mengetahui betapa bernilainya nikmat kesehatan.

“Sehat itu mahkota diatas kepala org yg sehat, tdk ada yg bisa melihatnya kecuali org yg sakit”

5. Jika anda merasakan sangat menderita dengan sakit yang anda alami, ketahuilah bahwa anda bukanlah orang yg paling menderita, banyak orang lain yang lebih menderita karena sakitnya.

“Lihatlah org yg lebih rendah dari kalian, janganlah melihat yang lebih tinggi, dengan demikian kalian tidak akan memandang rendah nikmat Allah” (HR.muslim)

6. Jika sakit yg anda derita terasa paling berat dibandingkan dengan orang-orang sakit di sekitar anda, berharaplah semoga hal itu adalah tanda bahwa anda lebih dicintai Allah.

Nabi ditanya ttg siapakah yg paling berat cobaannya? Beliau menjawab; “Para nabi kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya. Seseorang itu diberi cobaan sesuai tingkatan keimananya. Jika imannya kuat maka cobaannya besar dan jika imannya lemah maka dia diuji sesuai kadar imannya. Seorang hamba senantiasa diberi cobaan sehingga dia berjalan di muka bumi tanpa dosa” (HR.Tirmidzi)

7. Bersabarlah ketika anda sakit.

“Tidaklah sakit, keletihan, dan kesedihan menimpa seorang mukmin hingga kecemasan yg meliputinya melainkan dihapuskan kesalahan-kesalahannya” (HR.Muslim)

“Mengagumkan urusan org mukmin itu, sesungguhnya seluruh urusannya baik, tidak ada orang yg bisa demikian kecuali orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka itu baik baginya dan jika mendapatkan perkara yg tdk menyenangkan dia bersabar maka itu juga baik baginya” (HR.Muslim)

Doa memohon Kesembuhan dari Penyakit

taqarrub.jpg

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ
أَذهِبِ البَأسَ
اشفِ…..!!!! أَنتَ الشَّافِيء
لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاوءُكَ
شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Teks latin:

Allahumma rabban naas

Adzhibil ba’sa

Isyfi…!! Antasy syaafi’

Laa syifaa’a illaa syifaa-uk

syifaa-an laa yughaadiru saqaman

Arti:

Wahai Allah Tuhan manusia
Hilangkanlah rasa sakit ini
Sembuhkanlah…..!!!!! Engkaulah Yang Maha Penyembuh
Tidak ada kesembuhan yang sejati kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu
Yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan komplikasi rasa sakit dan penyakit lain

امِينَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

Sumber Penyakit menurut Sains dan Al Qur’an

Oleh: Fatmah Afrianty Gobel

Dalam Al Quran, Allah Swt menciptakan penyakit sekaligus metode penyembuhan penyakit itu. Suatu penyakit dapat dinyatakan sembuh atas izin dari Allah dengan dua macam treatment sebagai proses penyembuhan yakni treatmen secara fisik dan non fisil (spiritual). Hal ini berdasarkan Al Quran bahwa penyakit bukan hanya berupa penyakit fisik namun juga penyakit non fisik yang tersembunyi seperti kotor iman, kemunafikan, keragu-raguan, dusta dan tidak beriman.

Menurut Marios Loukas, Yousuf Saad, dkk dalam papernya berjudul “The Heart and cardiovascular system in the Quran and Hadeeth”, Al Quran dan Hadits membagi beberapa penyakit fisik seperti sakit perut (abdominal pain), mencret (diarrhea), demam (fever), penyakit kusta (leprosy), dan penyakit mental. Obat yang manjur menurut Al Quran adalah madu yang mengandung gula, vitamin dan anti mikroba. Untuk mencegah berbagai penyakit, Al Quran melarang keras mengkonsumsi daging babi, bangkai dan darah serta binatang yang disembelih tidak atas nama Allah Swt.

Abd Al-Aziz Al-Khalidi membagi dua obat (syifa) penyembuh penyakit yakni obat hissi untuk menyembuhkan penyakit fisik dan obat ma’nawi untuk penyakit non fisik (ruh dan kalbu manusia). Obat hissi seperti berobat dengan air, madu, buah-buahan yang disebutkan dalam Al Quran sedangkan obat ma’nawi seperti doa-doa dan isi kandungan dalam Al Quran. Pembagian atas dua kategori obat didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua substansi yang bergabung menjadi satu yakni jasmani dan ruhani.

Penyakit yang terjadi pada jasmani harus ditempuh melalui sunnah pengobatan hissin, bukan dengan sunnah pengobatan ma’nawi seperti berdoa. Tanpa menempuh sunnahnya, maka penyakit itu tidak akan sembuh. Sementara penyakit ruhani yang berhubungan dengan tingkah laku manusia adalah produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani) dimana aspek ruhani menjadi esensi kepribadian manusia sedang aspek jasmani menjadi alat aktualisasi. Penyakit jasmani yang disebabkan oleh penyakit ruhani cara pengobatannya dengan sunnah pengobatan ma’nawi.

Penyakit Menurut Sains

Bila merujuk pada teori ilmu kesehatan kontemporer, sumber penyakit berasal dari empat macam yakni: toksid (racun) yang tertimbun dalam tubuh, ketidakseimbangan suhu badan, ketidakseimbangan angin, dan ketidakseimbangan pikiran. Asal mula adanya racun dalam tubuh manusia bersumber dari bahan-bahan kimia yang berlebihan yang pernah dikonsumsi yang tercampur dalam makanan-minuman seperti bahan pewarna, bahan pengawet, dan lainnya yang tidak diperlukan tubuh; Sedang ketidakseimbangan suhu badan disebabkan system pengeluaran urin yang bermasalah; demikian halnya ketidakseimbangan angin menyebabkan masalah didalam usus besar dan matinya bakteri positif serta kekurangan enzim tubuh; sementara ketidakseimbangan pikiran (stress) menyebabkan tubuh mengeluarkan hormon steroid yang melemahkan sistem imunitas.
Pendapat pakar lainnya menyebutkan penyakit bukan bersumber dari kuman, virus atau lain, tetapi lebih disebabkan dari kelemahan sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imunitas). Apabila sistem imunitas lemah atau terganggu, maka kuman (bakteri), atau virus mulai menyerang tubuh. Sebagai illustrasi tentang sistem imunitas, orang-orang yang bekerja sebagai pengumpul barang-barang bekas/sampah (pemulung) tampak selalu kelihatan segar dan bugar sementara banyak orang yang sehari-hari bekerja didalam kantor yang dilengkapi fasilitas nyaman seperti AC ataupun orang-orang yang banyak menghabiskan waktu didalam rumah banyak terjangkit penyakit-penyakit kronis.
Berdasarkan tempatnya, rumah sakit pun dapat menjadi sumber penyakit yang disebut nosokomial. Kualitas bakteri di rumah sakit bisa lebih ganas dibanding tempat-tempat fasilitas umum lainnya karena sebelumnya telah berkompetisi secara alami dengan bakteri lainnya, sehingga memiliki keunggulan dan berhasil hidup mengalahkan bakteri lain. Proses pengobatan atau penyembuhan penderita penyakit nosokomial tidak bisa dilakukan seperti pasien biasa, melainkan memerlukan proses perawatan khusus. Para dokter, perawat, bidan dan paramedis yang bertugas di rumah sakit tergolong komunitas profesi yang sangat rawan tertular penyakit. Anggota masyarakatpun berpotensi terkena penyakit nosokomial bila membesuk pasien yang tengah dirawat inap di rumah sakit (kompas.com).

Lemari pendingin (kulkas) yang terletak didalam rumah pun dapat menjadi sumber penyakit. Makanan yang tersimpan didalam kulkas bisa ditumbuhi jamur baik sebagian maupun seluruh permukaan makanan dan bahan makanan. Jamur dapat menyebabkan reaksi alergi dan masalah pada pernapasan. Beberapa jenis jamur menghasilkan mikotoksin yaitu zat beracun yang dapat membuat orang sakit.

Makanan protein pun dapat menjadi sumber penyakit. Padahal selama ini protein diperlukan tubuh untuk membangun otot, jaringan kulit, rambut, kuku dan bagian tubuh lainnya. Idealnya seseorang butuh 0,72 gram protein untuk setiap kilogram berat badan. Jika berat badan seseorang sebesar 80 kg, maka protein yang dibutuhkan adalah sekitar 57 gram. Menurut Gail Butterfield, PhD, RD, pakar nutrisi dari Stanford University, dalam Journal of the American Geriatrics Society, jumlah protein yang lebih dari 30 persen kebutuhan kalori tubuh bisa membahayakan kesehatan. Tidak seperti sel-sel lemak yang bisa disimpan dalam jaringan lemak jika kelebihan, tubuh tidak punya tempat untuk menyimpan kelebihan protein. Oleh karena itu, kebanyakan protein akan diubah oleh tubuh menjadi lemak terlebih dahulu untuk bisa disimpan. Disinilah kunci dari bahaya kelebihan protein.

Gail Butterfield yang juga menjabat Direktur Nutrition Studies at the Palo Alto Veterans Administration Medical Center, mengatakan bahwa kelebihan protein bisa menghasilkan senyawa keton yang bersifat racun. Senyawa tersebut akan menyebabkan ginjal bekerja lebih berat untuk mengeluarkannya dari tubuh. Alhasil, ginjal akan membutuhkan lebih banyak air dan dari situlah dehidrasi muncul. Jika tubuh sudah dehidrasi, berat badan bisa berkurang karena massa otot dan tulang berkurang. Akibatnya, timbul risiko osteoporosis. Dehidrasi juga menyebabkan ginjal menjadi stres dan efeknya akan berdampak pada jantung. Senyawa keton dan dehidrasi juga menyebabkan tubuh menjadi lemas, pusing, bau mulut dan lainnya. Protein juga bisa menyebabkan reaksi alergi, seperti dermatitis topic, kaligata, penyakit kolagen, colitis ulserativa dan penyakit crohn. Protein hewani yang berlebihan dapat merusak DNA dan mengubah sel-sel menjadi sel kanker.

Penyakit Menurut Al-Quran

Ustad Danu yang aktif melakukan pengobatan penyakit melalui doa-doa menyatakan bahwa pada dasarnya sumber penyakit itu datangnya dari diri sendiri bukan berasal dari virus, kuman bakteri, nyamuk, mutasi sel dan sebagainya. Menurut ustad acara Bengkel Hati di TPI ini, virus, kuman, bakteri yang merajalela didalam tubuh ketika sakit bukanlah sebab melainkan hanya akibat.

Alumnus UII Yogya tersebut menganggap sumber penyakit akibat dari perbuatan manusia itu sendiri melalui tingkah laku kita sehari-hari yang kurang terpuji dihadapan Allah SWT. Perilaku yang kurang terpuji tersebut berupa akhlak yang kurang baik menjadikan malaikat Atid terus mencatat dan mencatat serta melaporkannya di hadapan Allah SWT, dimana sudah berjalan bertahun-tahun bahkan mungkin juga sudah berbelas bahkan berpuluh tahun sehingga akhirnya Allah menurunkan suatu musibah berupa penyakit sebagai pengingat bagi umat-Nya agar segera kembali ke jalan-Nya.
Pendapat tersebut diatas mengacu pada QS: As-Syuura 42 :30-31, “ Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah”.

Penekanan pada kata “pelindung dan penolong’ selain Allah. Jadi kalau seseorang mau sembuh dari penyakit maka harus kembali kepada pelindung dan penolong manusia yaitu Allah SWT. Pada ayat lain dalam Al Quran berbunyi, “ Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS: An-Nissa 4 :111).

Dalam penafsiran Ustad Danu, dari ayat diatas menerangkan bahwa bahwa dosa dan kesalahan seseorang banyak sekali diampuni oleh-Nya, karena banyak manusia sendiripun tidak akan sadar bahkan mungkin tidak bisa menghitung dosanya setiap harinya. Dosa dan kesalahan itu dikerjakan terus menerus dari hari kehari, bulan ke bulan bahkan hingga berpuluh tahun barulah Allah akan menurunkan suatu musibah dalam hal ini penyakit semata-mata hanya sebagai hukuman, sebagai peringatan, sebagai sentilan, sebagai jeweran bagi manusia agar segera sadar bahwa manusia memang banyak salah dan dosa agar segera mau kembali ke jalan Allah. Akhirul kalam, sumber penyakit menurut sains dan Al Quran bisa saja berbeda pada tataran konsep, namun dalam tataran aksi memiliki kesamaan. Tataran aksi yang dimaksud adalah langkah-langkah terapi/pengobatan yang berfokus pada dua kategori: pengobatan fisik dan non fisik (spiritual/doa).

Dikutip dari link di sini