Memulai Bisnis Rumahan Pembenihan Ikan Patin

Salah satu bisnis rumahan yang cukup menarik untuk digeluti adalah pembenihan ikan patin. Yaitu proses pemeliharaan larva patin hingga menjadi benih ikan patin berukuran 3/4 hingga 1 inchi. Siklus panen yang berlangsung 30-40 hari menjadi daya tarik tersendiri selain tidak membutuhkan tempat yang terlalu luas khususnya bila menggunakan bak-bak pendederan berbentuk persegi.

Untuk memulainya sebagai bisnis rumahan (bisnis rumah tangga) yang bisa dikelola sendiri, maka cukup dengan menggunakan 5-8 bak pendederan atau sekitar 150.000-240.000 ekor larva yang ditebar. Dengan volume sebesar itu bisnis bila dijalankan dengan baik mampu memperoleh keuntungan bersih 3-7 juta rupiah dalam sekali panen.

Untuk meraih keuntungan yang signifikan tersebut dengan volume yang cukup kecil ini maka dibutuhkan keahlian bagi pelaku bisnis ini dalam memelihara larva patin. Karna keuntungan yang signifikan tersebut hanya bisa diraih bila hasil bibit yang mampu dipanen sebanyak 60-80% dari larva yang ditebar. Angka tersebut bukanlah angka yang mudah diraih, bahkan acuan SNI (Sertifikat Nasional Indonesia) sendiri sekedar menstandardkan besaran panen sebesar 50%. Sedangkan untuk skala bisnis rumah tangga, hasil panen yang hanya 50% akan sulit mencapai angka keuntungan 3-7 juta bahkan mungkin sudah cukup membuat rugi.

Berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman menyatakan bahwa pembenihan ikan patin memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi khususnya untuk meraih nilai panen yang signifikan tersebut. Tingkat kesulitan yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan pembenihan ikan lainnya. Kehancuran bisnis ini justru bukan karena sepinya pasar atau sudah terlalu banyak yang bermain di pasar ikan patin karna Indonesia sendiri masih mengimpor 900 ton dari Vietnam karna kurangnya produksi lokal, justru hancurnya bisnis ini karna pelakunya yang tidak memiliki skill yang mumpuni tuk memelihara larva patin.

Maka, hal yang paling mendasar selain ketersediaan modal bagi anda yang ingin memulai bisnis ini adalah memiliki skill yang mumpuni dalam memelihara larva patin, ingat larva patin bukan larva ikan secara umum. Jadi sebelum memulai bisnis ini langkah yang paling harus diseriusi adalah belajar. Belajarlah kepada pelaku bisnis segmen rumahan ini yang memang sudah cukup memiliki pengalaman dan skill yang baik.

Yang harus anda pelajari adalah perkembangan larva patin setiap harinya dan tindakan-tindakan apa yang dibutuhkan untuk menopang perkembangannya itu, karna bila kebutuhan untuk perkembangan larva tersebut tidak dipenuhi sesuai kebutuhannya maka larva akan mati. Nyatanya nyaris setiap hari dalam proses pemeliharaan membutuhkan teknik penanganan yang berbeda, disinilah letak rumitnya. Belum lagi bila terjadi masalah yang nyaris pasti terjadi dalam setiap siklus kita harus mengerti bagaimana cara penanganannya. Untuk mempelajari ini semua sepertinya anda membutuhkan waktu 3-4 bulan untuk mempelajari teknik-teknik tersebut secara mandiri.

Atau bila ingin singkat, anda bisa mengikuti pelatihan intensif selama 1 bulan tuk menguasai kemampuan tersebut. Tentu hal ini membutuhkan biaya yang cukup besar, untuk seorang peserta bisa dikenakan biaya sebesar 2,5 juta rupiah untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Jadi lebih baik mengeluarkan sedikit modal untuk belajar baik secara mandiri namun lama dan lebih murah atau intensif namun agak mahal daripada anda harus mengeluarkan modal yang besar untuk menutupi kegagalan demi kegagalan bila anda belajar sekedar melihat-lihat saja orang lain yang sudah menjalankan bisnis ini. Kegagalan demi kegagalan yang saya maksud tersebut dapat berlangsung paling cepat selama 1 tahun yang notabene memakan waktu sekitar 10 siklus panen.

Bayangkan bila dalam satu siklus anda mengalami kerugian sekitar 2-3 juta rupiah, selama setahun anda bisa mengalami kerugian sekitar 20 juta rupiah tentu akan membuat ekspektasi anda berubah terhadap bisnis ini kalaulah tidak mengutuk bisnis ini alih-alih ingin segara mendapatkan BEP (Break Event Point).

So… Tidak ada bisnis yang tanpa resiko, namun kita perlu belajar dari pengalaman orang lain dan memulai dari apa yang sudah mereka raih daripada mengulangi kesalahan yang sudah mereka lakukan.

Patin Omega 3 Bakar Bambu

Patin Omega 3 Bakar Bambu

Di Bekasi terdapat sebuah rumah makan yang menyediakan menu masakan patin yang cukup bervariatif untuk ukuran pulau Jawa / Jakarta dimana ikan patin masih terasa kurang digemari dibandingkan di pulau Sumatera. RM Sangkuriang yang terdapat di daerah Jati Asih, Bekasi. Tepatnya dari Jati Asih (Komsen) menuju jalan akses yang melintasi Villa Nusa Indah dan dapat tembus ke Bantar Gebang. Rumah makan ini letaknya sebelum Villa Nusa Indah tersebut di sebelah kanan jalan, jadi kalau kita hendak menuju kesana dari arah Jati Asih (Komsen) namun sudah sampai Villa Nusa Indah berarti sudah terlewat.

Terdapat menu patin bakar, patin goreng, patin renyah pedas dan sup patin. Namun yang cukup unik adalah menu yang diberi nama oleh rumah makan ini dengan “Patin Omega 3 Bakar Bambu”, mungkin karena ikan patin adalah ikan yang paling banyak mengandung minyak ikan dibanding ikan tawar lainnya, di sisi lain juga ikan patin merupakan makanan yang memiliki banyak kandungan kadar protein dengan nilai ekonomis lebih tinggi (lebih murah) dari pada tahu/tempe bahkan daging sekalipun.

Di restoran lain menu ini ada yang dinamakan Bronkos Patin. Sajian olahan ikan patin yang dibungkus daun pisang beserta bumbu-bumbunya kemudian dimasukkan ke dalam bambu, lalu bambu tersebut dibakar hingga patin di dalam bambu tersebut matang. Bila sudah matang bambu dibelah setengah sehingga tampillah bungkusan daun pisangnya kemudian disajikan di atas piring beserta bambunya (tapi bambunya jangan dimakan ya).

Saya bukanlah orang yang pandai menilai rasa dari sebuah masakan secara detail, tapi yang jelas menu ini cukup lezat karena bumbu terasa begitu meresap ke daging. Sehingga saya yang kurang suka dengan karakter daging ikan yang terlalu lembut dapat tertutupi oleh resapan bumbu tersebut. Terlebih lagi menikmatinya dibarengi dengan lalapan dan sambal terasi yang menggugah selera saya, maknyossss…….

Selamat menikmati

Atas Izin Allah Patin-patin itu pun Sehat Kembali

Benih-benih ikan patin yang saya pelihara pada umur hari ke-11 mengalami masalah. Menurut saya dan teman, benih-benih tersebut terserang bakteri, karena terlihat dari gejalanya berenang di permukaan air secara vertikal. Hal itu bisa disebabkan sebagai berikut:

  1. Tempat yang tidak higienis atau kotor yang memungkinkan menjadi sumber pertumbuhan bakteri.
  2. Tertular bakteri dari tempat lain, yang bisa jadi perantaranya adalah udara/angin, atau tubuh manusia yang menjadi perantara antara daerah terinfeksi dengan yang belum terinfeksi.
  3. Kualitas air yang sudah rusak atau kurang bagus namun belum diganti, sehingga membuat kondisi ikan lemah sehingga memudahkan diserang bakteri.

Hal demikian menyebabkan peradangan pada insang ikan, kemudian dapat menyerang peradangan di dubur sehingga duburnya terlihat merah darah, kalau sudah parah ikan bisa terserang herpes, atau rontoknya buntut ikan tersebut.

Well saya bukanlah pakar dalam ilmu perikanan, apa yang saya dapatkan adalah bekal pengalaman berternak ikan patin selama 3 tahun terakhir ini dan dari ilmu yang saya dapatkan dari teman-teman yang tentunya lebih ahli dan berpengalaman. Maka langkah-langkah yang saya lakukan untuk pengobatan adalah sebagai berikut:

  1. Kenali sedini mungkin gejala ikan terjangkit penyakit sehingga proses pengobatan tidak akan terlalu berat.
  2. Kurangi intensitas dan kuantitas ikan makan, intensitasnya bisa 2 kali sehari dengan kuantitas makanan sekedar agar ikan tidak mati kelaparan. Karena ketika ikan mulai terjangkit penyakit dan tetap diberi makan sampai kenyang maka peradangan di insang akan bertambah parah, begitu juga di duburnya.
  3. Untuk menyembuhkan peradangan insang maka 1 ton air larutkan dengan 2 gram OTC, dan jaga kualitas air agar tetap jernih terus agar proses penyembuhan semakin cepat.
  4. Untuk menyembuhkan peradangan di dubur maka 1 ton air larutkan dengan 1 gram Enro Floxacine.
  5. Masa pengobatan jangan kurang dari 4 atau 5 hari.
  6. Ketika gejala mulai hilang mulailah naikkan intensitas pemberian makan dengan kuantitas normal menurut kadar kenyangnya ikan, misalnya yang tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Agar ikan tidak terlalu terus-terusan kekurangan makan yang bisa menyebabkan ikan mudah terserang penyakit lagi. Dan ketika ikan benar-benar sembuh barulah intensitas makanan kembali seperti normalnya.

Wallahu a’lam

Salam sukses selalu

Pembenihan Ikan Patin

3 tahun telah berjalan saya menjalani usaha pembenihan ikan patin. Bagi sebagian orang memang terlihat aneh karna latar belakang pendidikan yang pernah saya geluti tidak sejalan dengan pekerjaan yang saya lakoni. Tapi itulah hidup, dan saya cenderung mengalir mengikuti arah dalam hal pencarian rizki Allah.

Tepatnya beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kuliah jurusan Bahasa Arab di Ma’had Utsman bin ‘Affan (UBA), saya mendengar teman saya mengajak teman-teman yang lain untuk mengikuti pelatihan pembenihan ikan patin yang diselenggarakan oleh Hypop Farm, usaha pembenihan ikan patin yang dimiliki Pak Irwan Dani. Seorang yang dikenal luas di kalangan peternak benih ikan patin baik di Jawa, Sumatera bahkan Kalimantan. Beliau juga salah satu yang menyusun persyaratan Sertifikasi Nasional Indonesia (SNI) untuk benih ikan patin. Selain beliau juga dikenal beberapa kalangan mahasiswa khususnya IPB (Bogor) karena beberapa kali menghadiri seminar perikanan.

Saat itu saya tidak terlalu tertarik dengan ajakan teman. Jangankan melihara ikan, mancing saja saya ga betah gumam saya. Dan saya pun fokus kuliah. Namun selepas kuliah ketika saya mulai terdesak oleh kebutuhan ekonomi, karena sudah berhenti kerja, teringat kembali ajakan teman dahulu. Segera saya hubungi beliau dan intens melakukan survey dan pengamatan sendiri ketempat usaha yang sudah dijalankan teman saya tersebut melalui hasil pelatihan yang ia dapatkan dari pak Irwan Dani.

Bersama seorang teman, modal pun terkumpul dan usaha dijalankan. Pertama kali usaha berjalan kami mendapat prestasi yang cukup bagus untuk ukuran seorang pemula yang tidak mengikuti pelatihan pembenihan, apalagi patin dikenal sulit pemeliharaannya khususnya di masa-masa benih. Kami bisa memanen 35.000 ekor benih dari 150.000 larva yg ditebar (20-25 %). Namun jumlah segitu ternyata dilirik oleh pak Irwan sendiri dan beliau berminat untuk membeli hasil benih saya bahkan diberi harga yg cukup mahal dari harga pasar saat itu, dikarenakan beliau melihat bagusnya kualitas benih yang saya hasilkan.

Selama 2 tahun usaha tersebut terus berjalan, namun tidak pernah mendapatkan hasil yang signifikan, sulit sekali bisa panen di atas 30%, bahkan beberapa kali hasilnya 0 (nol). Berbagai permasalahan teknis dan non teknis kita temui. Namun kami banyak bertanya dan berusaha menemukan teknik pembenihan yang tepat dan efektif. Hingga pada akhir tahun ke-2 kami bisa mencapai target normal yaitu bisa memanen 90.000 ekor benih patin dari 150.000 larva yang ditebar (60 %).

Namun hasil itu masih belum memuaskan saya, karna saya ingin bisa seperti pak Irwan sendiri yang bisa panen 110.000 – 130.000 benih dari 150.000 larva yg di tebar (70-90 %). Dan alhamdulillah kini kami bisa memenuhi keinginan itu, berhasil meningkatkan hasil produksi menjadi 110.000 ekor benih dari 150.000 larva yg ditebar (73 %). Semoga hasil ini terus stabil dan bisa ditingkatkan kembali. Namun satu hal yang bisa kami banggakan pula adalah kami bisa mempekerjakan seorang pengangguran tamatan SD, yang tadinya bukan siapa-siapa di mata masyarakat, kini menjadi dihargai dan memiliki keahlian. Sampai-sampai pak Irwan sendiri yang seorang pakar memberikan pujian kepada beliau. Semoga keberkahan buat kami dan mereka, aamiiin