Mengkritisi Hak Veto di PBB – Palestina Merdeka

PBB adalah lembaga yang menaungi perwakilan negara-negara di dunia, bekerja untuk kepentingan global dan menyentuh seluruh bidang. Dalam setiap pengambilan keputusannya tentu demokrasi dan musyawarah mufakat menjadi jalan yang digunakan oleh organisasi tersebut.

Namun semua itu menjadi cacat, tak berarti dan hanya formalitas belaka bila hak veto masih berlaku dalam organisasi tersebut, karena secara gamblang bertentangan dengan prinsip demokrasi yang mereka junjung. Bagaimana tidak, sebuah keputusan yang mungkin sudah disepakati oleh 99% anggota PBB bisa dibatalkan begitu saja bila ada satu negara saja yg memegang hak veto tidak sepakat dengan keputusan tersebut kemudian memveto keputusan tersebut.

Kalau tidak salah saat ini hak veto di pegang oleh 5 negara, diantaranya, AS, Rusia dan Cina. Nah di saat sudah begitu banyak negara di Eropa dan Amerika Selatan (kalau Asia dan Afrika jangan ditanya) yang mengakui kemerdekaan Palestina, dan Rusia menganjurkan Palestina masuk dalam keanggotaan PBB, sehingga wacana pengakuan kemerdekaan Palestina mulai masuk ke meja Dewan Keamanan PBB. Tiba-tiba saja negeri uncle Sam yang ngaku-ngaku bapaknya demokrasi mengancam keputusan dewan keamanan PBB tersebut dengan hak veto-nya.

Tentu ancaman ini mengindikasikan beberapa hal. Diantaranya, tak dapat dipungkiri lagi bahwa AS adalah sekutu utama Israel yang menjajah tanah Palestina. Kedua, kampanye perang teroris dalam rangka membebaskan rakyat timur tengah adalah omong kosong selama disisi yang lain AS tidak membantu membebaskan Palestina dari bombardir Israel bahkan dengan bom fosfor putihnya yang dilarang digunakan. Ketiga, PBB bukanlah tempat yang representatif menjadi sebuah perwakilan global selama hak veto tersebut masih berlaku.

Palestina merdeka, Allahu akbar

Merdeka Sejati

Hari ini 17 Agustus 2011, 66 tahun sudah rakyat Indonesia mengklaim kemerdekaan bangsanya dari penjajahan bangsa lain. Namun sejauh mana klaim itu memberi manfaat yang signifikan bagi rakyat Indonesia itu sendiri untuk menjalankan kehidupannya sebagai manusia sejati. Tentu jawabannya sama-sama kita bisa jawab sendiri sambil melihat perkembangan bangsa ini dari berbagai media yang mengabarkan kepada kita corat-marut negeri ini. Mulai dari dekadensi moral, keputus asaan, korupsi sistemik merajalela dan separatisme di berbagai tempat. Apakah lantas signifikansi itu jelas terlihat dari sebuah bangsa yang mengaku merdeka.

Kemerdekaan bukanlah semata kebebasan menaikkan bendera kebangsaan kita dengan seremoni upacara yag khidmat dan penghormatan kepadanya. Bukan pula pekik eforia “merdeka” dan aneka perlombaan di mana-mana. Saya yakin para pendiri bangsa ini yang telah menumpahkan darah dan keringat berkorban harta dan jiwa untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah tidak pernah sepicik itu mengharapkan bentuk kemerdekaan. Saya yakin mereka memiliki harapan yang besar bahwa bangsa ini bisa hidup di atas kesejatiannya sebagai manusia sebagaimana saya yakin mereka akan menangis bila mata mereka masih bisa melihat bangsa ini sekarang.

Manusia adalah sesosok makhluk yang tidak mungkin tidak tunduk pada sesuatu, dan sesuatu itulah yang akan menjadi haluan dan petunjuk hidupnya. Sampai-sampai seorang manusia yang mengaku atheis sekalipun bukan berarti mereka tidak memiliki haluan dan petunjuk bagi hidupnya, haluan dan petunjuk hidup mereka adalah persepsi buruk pikiran kotor mereka yang diargumentasikan dalam berbagai bentuk sistem, entah itu sistem ekonomi, sistem budaya dan sebagainya, mereka berhaluan kesitu. Maka manusia yang merdeka bukan berarti manusia yang terbebas dari haluan dan petunjuk. Nah pertanyaannya adalah haluan dan petunjuk apa yang secara tegas kita bisa benarkan bahwa dengan tunduk padanya maka kita bisa menjadi manusia yang merdeka.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka marilah kita bertanya kembali mengenai kesejatian manusia, apa dan siapa manusia itu. Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah ta’aalaa, Ia lah yang paling tahu mengenai manusiam dan Ia pulalah yang paling tahu bagaimana mengatur kehidupan manusia, kenapa? Karna Ia-lah yang menciptakan manusia. Tanpa pretensi menyamakan, hanya sebagai logika sederhana saja; seorang profesor yang mampu membuat robot, maka profesor tersebutlah yang paling tahu mengenai robot tersebut, ketika robot itu menunjukkan indikasi kerusakan maka profesor tersebutlah yang paling tahu cara memperbaikinya.

Sebuah motor Honda Tiger dikeluarkan oleh pabrikan Honda. Ketika motor tersebut rusak tentu selayaknya dibawa ke bengkel Honda bukan bengkel Yamaha, untuk kemudian di perbaiki oleh mekanik yang dididik oleh Honda berdasarkan buku panduan yang dikeluarkan oleh Honda.

Nah, ketika kita sudah mengetahui kesejatian manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah. Maka kita bisa menjawab bahwa haluan dan petunjuk yang patut manusia tunduk padanya sehingga ia bisa dikatakan manusia merdeka adalah haluan dan petunjuk yang datang dari Allah, semuanya termuat dalam kitab suci yang diturunkannya yaitu Al Qur’an dan disampaikan oleh utusannya yaitu Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, manusia bisa disebut merdeka ketika ia secara totalitas telah menjadi hamba Allah, bukan hamba manusia, hamba harta apalagi hamba nafsu.

Implikasinya apa ketika seorang manusia menjadi hamba Allah? Seorang hamba Allah akan berimplikasi pada dua hal:

  1. Khalifah di muka bumi. Seorang hamba Allah diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi, yaitu makhluk yang mengemban amanah menjalankan aturan-aturan di muka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah: 2 yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.”
  2. Ibadah kepada Allah. Implikasi kedua sebagai seorang manusia yang merdeka adalah menjadikan totalitas hidupnya sebagai bentuk peribadatan kepada Allah. Yaitu senantiasa menjalankan hidupnya dengan jalan dan tujuan yang diridhai oleh Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS Adz Dzaaririyaat : 56 yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Dua implikasi di atas agar tidak salah jalan memasuki kesesatan tentu membutuhkan sebuah aplikasi yang benar. Nah aplikasi itu adalah berupa penghayatan dan pendalaman ilmu dan pemahaman manusia terhadap kandungan Al Qur’an seutuhnya.

Implikasi dan aplikasi yang tepat, terealisir dan berkesinambungan lah yang akan menjadikan manusia sebagai insan sejati yang merdeka dan dengan sendirinya terealisir signifikansi kemerdekaan hidup mereka berupa kemakmuran dan kesejahteraan di dunia ini, persis dengan yang difirmankan Allah dalam ayat berikut ini:

و لو أن أهل القرى ءامنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركت من السماء و الأرض و لكن كذبوا فأخذنهم بما كانو يكسبوم

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf : 96)

Lantas dimana keberkahan kekayaan bangsa ini yang nota bene menyimpan kekayaan alam di laut dan tanahnya, serta mendapat curahan hujan dari langit yang seimbang sebagai sebuah negara tropis di garis khatulistiwa. Dimana lagi kalau bukan sejatinya kita belum merdeka sebagai bangsa.

Wallahu a’lam

Kemerdekaan Hati

Sudah sekian lama saya tak membuat tulisan untuk di posting dalam blog saya maupun catatan akun FB. Yang lebih sering dilakukan hanyalah mengisi-ngisi status FB, terlihat praktis namun sesungguhnya mengajarkan kita malas dan jauh tuk bisa berpikir sistematis dalam suatu kerangka tematis.

Banyak hal yang menyebabkan hal itu terjadi. kesibukan saya mencari pembeli ikan-ikan saya dikarenakan pasar ikan sedang lesu, kesibukan membangun tempat pembenihan ikan baru di Tangerang, kesibukan mengelola BMT yang masih dalam tahap perintisan, kesibukan membina interaksi dengan orang-orang yang dekat di hati saya dan kesibukan-kesibukan lainnya yang begitu menguras tenaga, pikiran dan waktu.

Dikarenakan itu semua, banyak hal yang terbengkalai. Membaca al Qur’an yang berkurang frekuensinya, shalat malam semakin jarang, dzikr al ma’tsurat tidak ada lagi. Shalat-shalat yang saya laksanakan hampir seolah seperti penggugur kewajiban saja karena kekhusyu’an berkurang. Di tengah ketertatihan inilah saya tetap berjalan di atas sebuah cita-cita dan angan-angan akan rencana besar yang memang selalu saya hubungkan dengan bagian dari bangunan peradaban Islam.

Untuk apa saya lakukan itu semua? Jawaban yang paling tepat saya ambil dari kedalaman hati saya adalah; “untuk kebahagiaan diri ini”. Yah memang kebahagiaan adalah hal fitri yang di cari semua orang, karena itu Al Qur’an sendiri ketika turun menegaskan bahwa ia turun tidak hendak melawan fitrah ini, karena itu terdapat sebuah ayat yang berbunyi :

ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى

“tidaklah Aku turunkan Al Qur’an ini agar engkau menjadi celaka” (Thaahaa : 2)

Namun pertanyaan selanjutnya adalah, apakah saya dapatkan kebahagiaan itu? Jawabannya adalah “tidak”. Kebahagiaan itu tidak didapatkan dari berbagai macam aktivitas sekalipun kita hubungkan dengan tujuan luhur namun kering dari nilai-nilai spiritual dalam penghayatannya.

Adalah hari ini atau dua hari ini, ketika ikan-ikan saya sudah laku terjual, proyek pembangunan pembenihan ikan di tangerang sudah hampir selesai dan beberapa amanah organisasi telah saya tunaikan maka saya memiliki waktu yang senggang. Hampir seharian bahkan hingga malam tiba saya berada di depan laptop saya, membuat status, mencek status, menanggapi. Aktivitas itu hanya diselingi oleh shalat ketika waktunya tiba.

Hati pun terasa makin kering dengan waktu senggang yang terpakai seperti itu. Sampai pada saat sore menjelang maghrib saya mulai merenungi semua.  Betapa lelahnya hati ini menjalani ini semua. Hati saya merasa bergantung pada hal yang ia sendiri sejatinya bergantung pada saya, lalu mengapa saya terjerembab dalam model lingkaran syaithan yang seperti ini. Astaghfirullahal’azhiim…… Teringatlah saya akan sebuah teori tentang kemerdekaan hati, dimana hati kita ini hanya bergantung kepada Sang Pemilik Hati dan hanya mengikatkan hati ini pada-Nya, Dia-lah Allah ta’alaa.

Azan Maghrib pun berkumandang seolah menunda tetesan air mata yang hendak jatuh, bersegeralah saya berwudhu. Ternyata …. kebahagiaan itu saya temukan pada gemericik air wudhu yang membasuh tubuh saya seolah melepas segala dosa yang telah saya perbuat, kebahagiaan itu semakin bertambah ketika takbiratul ihram digemakan, sejenak saya larut dalam kekhusyu’an bermunajat kepada-Nya, seolah masih ada kebahagiaan yang belum saya rengkuh, lahap saya rasakan ia dalam lantunan wirid dzikr setelah shalat dan juga tilawah Al Qur’an. Dan pada akhirnya saya kembali mengingatkan diri saya bahwa segala sesuatunya sudah diatur oleh-Nya.

Maka kebahagiaan itu didapat ketika hati kita begitu luas dan lapang menghadapi dunia ini, bagaimana keluasan dan kelapangan hati itu terbentuk adalah dari penghayatan nilai-nilai spiritual dan transedental kita terhadap Zat yang kita yakini sebagai Ilah kita.

قد أفلح المؤمنون. الذين هم في صلاتهم خشعون

“Sungguh telah menang orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya”

Saya bukanlah seorang yang baru memahami hal ini, sebagai seorang yang begitu menyelami tarbiyyah dan getol dalam edukasi keislaman tentu hal seperti ini adalah pemahaman dasar dan fundamental yang harus dimiliki. Akan tetapi saya hanyalah satu dari orang yang lalai beberapa saat dari penghayatan nilai-nilai spiritual dalam aktivitas kita.

Artinya hal seperti ini sebagai seorang manusia bisa terjadi pada SAYA, ANDA atau ORANG LAIN yang lebih besar dari kita entah SAAT INI atau NANTI akan terulang lagi. Selamat bermuhasabah.