(bila Cinta,) Temu(i) Jiwa(,) Sentuh Fisik(!)

Shalatnya panjang dan khusuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai shalat perempuan itu akhirnya rebah di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang. Tapi cinta tetaplah cinta. Walaupun jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia pun rebah dengan doa-doa; “Ya Allah, yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku memohon pada-Mu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu Engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah, tetapkanlah hukum-Mu di antara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami”.

Untungnya malam itu Khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya, itu tadi; mencari tahu opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khususnya istri-istri mereka. Dan suara perempuanlah itulah yang ia dengar.

Ini tabiat yang membedakan cinta jiwa dari cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Disini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.

Cinta jiwa bukan sekedar kecenderungan spritiual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar sahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya passionate love. Tanpa membawa semua penyakit. Sebagaimana hanya akan berujung kegilaan. Seperti yang dialami Qais dan Laila.

Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pecinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi, lantas berubah jadi sumber penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat paling mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini juga penjelasan mengapa hubungan badan antara suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan dan jiwa raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi,

Makna itu dapat dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia pun bertanya, “Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” “Enam bulan” jawab mereka. Kisah itu sebenarnya mengikuti pada temuan yang sama dimasa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu dan hasrat, dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini;

air mata mengalir bersama larut malam
sedih mengiris hati dan merampas tidur
bergulat aku lawan malam
terawangi bintang hasrat rindu mendera-dera
melukai jiwa

Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau dilepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak akan pernah sanggup menyelesaikannya. Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa mengobati hasrat jiwa.

Oleh: Anis Matta

Pesona Jiwa Raga (Satu Kesatuan pembentuk Cinta)

Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.

Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.

Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.

Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang
menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.

Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.

Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya, “kata Rasulullah saw.

Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.

Anis Matta

(Lupakan) Cinta (Jiwa yang tak) Bersemi di Pelaminan (!)

Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.

Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.

Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.

Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.

Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin
halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.

Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah
untuk tumbuh bersemi: di singgasana
pelaminan.

Oleh: Anis Matta.

Kaidah Jiwa

Kaum muslimin tidak akan bangkit kecuali dengan apa yang telah membuatnya bangkit dahulu. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga ia merubah apa yang ada di jiwa mereka. Maka jiwa tak akan kembali kecuali dengan apa yang telah membuatnya kembali.

Ketika jiwa ini lahir ke bumi, ia datang dalam keadaan suci. Lalu lingkungan mengotorinya, atas petunjuk Tuhan-nya ia kembali kepada kesucian dan menghangatkan persemaiannya dengan munajat ibadah dan kekhusyu’an hati dan pikirian hanya kepada Tuhan-nya.

Lantas ketika jiwa itu kembali diguncang karena memang guncangan adalah sebuah keniscayaan bagi akuisisi keimanan jiwa. Tak pelak jiwa kembali tersasar pada jalan yang jauh dari hakikat kebahagiaan dan ketenangan.

Dunia, harta, perniagaan, wanita, anak-anak dan keindahan alam semesta hanyalah tasliah (hiburan) bagi jiwa dan washiilah (perantara) yang mengantarkan jiwa pada keagungan Tuhan-nya untuk kembali merengkuh kesucian. Lalu bila mereka hanyalah menjadi perongrong tentu Tuhan menjadi hal yang lebih utama. Mereka semua bisa terganti namun Tuhan tak kan pernah terganti.

Tak akan ada yang mengembalikan jiwa kepada ketenangannya kecuali apa yang telah membuatnya tenang dan bahagia dahulu, ketika syahdu dan haru biru bermunajat menjadi kebiasaan dan khusyu’ menjadi identitas jiwa tersebut.

Kembalilah wahai jiwa meniti kaidahmu.

Kebesaran Jiwa

Sering kali kita mengetahui atau bahkan mungkin pada setiap diri kita terdapat keinginan atau cita-cita yang kuat untuk menjadi seorang yang ‘besar’ atau memiliki kebesaran. Namun sering pula atau mungkin terjadi pada diri kita bahwa kita seolah tidak menjadi apa-apa dalam konteks kebesaran itu sendiri. Sehingga yang tersisa adalah kesedihan seolan umur telah terbuang percuma.

Ooh sayang sekali bila umur atau kehidupan sebagai anugerah yang mulia dari Tuhan disikapi dengan kekerdilan. Kesalahan mungkin bukan pada usaha kita tapi pada persepsi kita tentang kebesaran itu. Agama (Islam) sebagai acuan dasar kehidupan, selain mengajarkan visi kebesaran itu adalah kehidupan di akhirat nanti, namun ia juga menjelaskan segala hakikat segala sesuatu di dunia ini terletak pada unsur-unsurnya.

Maka ketika ia berbicara tentang kebesaran maka yang diperintahkan adalah “bekerjalah kalian!” Karna sesungguhnya Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman melihat kerja kalian, bukan hasil kerja kalian. Maka ketika seseorang memiliki cita-cita akan kebesaran lalu seraya menguatkan jiwa dengan niatnya dan berjuang bersungguh-sungguh mencapai kebesaran itu dengan kerja, ibadah dan doa maka stop; itulah kebesaran yg telah ia dapatkan. KEBESARAN DIRI KALIAN BUKANLAH HASIL USAHA KALIAN. Karna ia -yang kau sedihkan itu – hanyalah takdir Allah yang kita tak tahu kepada siapa akan diberikan.

Ku Panggil Kau “Jiwa”

Kau memang manusia

Dengan kewajaran kau alpa

Namun kau jiwa

Tempat iman datang mendera

Untuk kesekian kali kau menyapa

Karma kau sadar Ia tak pernah berpaling

Dan yang selalu kau tanya

Apakah pada akhirnya kau bersama ridha-Nya

Baiklah, dan tak ada salahnya

Kau gores lagi titik-titik bahasa

Gambar azzam dan taubat

Rupa niat dan tawakkal

Dengan harap ia akan menjadi jejak

Bilamana kau salah melangkah lagi

Kini ku panggil kau Jiwa

Wahai garis-garis hidup dalam pena

Karna kau adalah semburat iman

Hari demi hari hingga akhirnya kau mati

Semoga tetes tinta terakhirmu

Tak ada nama lain yang kau toreh

Kecuali ALLAH

Dukuh, 16 November 2010