Curug Malela, Niagara Mini Indonesia

Pada tahun 2013 lalu, saat weekend terakhir menjelang puasa atau tepatnya pada hari Sabtu rasa bosan menyelimuti saya di pagi itu. Sekitar setahun lebih kosong dari aktivitas touring semenjak saya dirawat di RS karena penyakit maag kronis. Otomatis perasaan menggebu-gebu untuk kembali touring mengendarai motor kesayangan ke luar kota terlebih lagi beberapa hari kedepan akan masuk Ramadhan. Kontan saja tanpa pikir panjang lagi saya bulatkan tekad untuk pergi touring hari itu juga. Dan tempat yang saya putuskan untuk saya tuju adalah Curug Malela.

Curug Malela sering diistilahkan oleh para netizen sebaga Niagara Mini Indonesia, karena memang bentuknya yang mirip air terjun Niagara dalam skala yang kecil. Posisi Curug Malela berada di perbatasan Cianjur dan Kab. Bandung Barat. Bila mendengar posisinya yang berada di antara Cianjur dan Bandung Barat terkesan dekat dari Jakarta namun ternyata akses menuju kesana tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk menuju Curug Malela bisa diakses melalui Cianjur atau melalui Cimahi, Bandung. Saya memutuskan mengaksesnya melalui Cimahi, Bandung.

Setelah memantapkan tekad untuk touring hari itu juga, maka sekitar jam 10 pagi saya bertolak dari Jakarta memacu Honda Tiger Revo saya melewati Bogor, Puncak, Cianjur, Padalarang dan Cimahi. Sesampai di Cimahi, petunjuk jalan menuju Curug Malela sudah kelihatan yang mengharuskan saya belok ke kanan. Dalam benak saya, suatu tempat wisata bila dituliskan di petunjuk jalan di atas jalan raya berarti tempat tersebut mudah diakses dan banyak dikunjungi. Maka ketika melihat petunjuk jalan tersebut saya berpikir lokasi sudah dekat.

Namun setelah 2 jam berkendara dari Cimahi (termasuk satu jam macet-macetan karena berbarengan dengan pendukung Persib yang hendak ke stadion Jalak Harupat) lokasi yang dituju tidak kesampaian juga. Rasa lelah menghantui tubuh saya maklum karena kondisi belum 100% fit semenjak sakit dan akhirnya penyakit maag saya kambuh saat itu. Kepala pusing dan keleyengan dicampur rasa paranoid memaksa saya untuk menepi disebuah pom bensin mencari mushalla dan tidur sejenak. Selepas tidur kondisi sedikit membaik namun tidak cukup untuk membulatkan keberanian saya untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Cimahi, kebetulan disana ada rumah saudara saya yang kosong sehingga saya bisa beristirahat total menghabiskan malam, leyeh-leyeh serta mencari kuliner yang enak di Cimahi malam itu.

Pagi harinya badan terasa cukup fit untuk melanjutkan perjalanan, maka tekad mencapai Curug Malela pun kembali dilanjutkan pagi itu. Jalanan pagi itu di Cimahi cukup lengang sehingga riding begitu enak untuk dinikmati ditengah udara Bandung yang ada dingin-dinginnya. Istirahat sebentar di Cililin untuk nyabu (nyarap bubur) kemudian perjalanan dilanjutkan kembali terus melintasi terusan waduk Saguling, menelusuri jalan yang semakin lama semakin kecil menaiki gunung dan berkelok-kelok serta sudah tidak bisa dikatakan mulus lagi aspalnya.

945917_4964750965310_1619851478_n

Perkebunan teh Rongga

Sekitar 2,5 jam berlalu perjalanan tanpa kemacetan namun masih belum ada tanda-tanda berarti yang menunjukkan Curug Malela tinggal sepandangan mata, saya pun tiba di perkebunan teh Rongga. Dan akhirnya setengah jam lagi berkendara dari perkebunan teh tersebut tibalah saya di gerbang/gapura selamat datang Curug Malela. Akhirnya sampai juga pikir saya, namun ternyata alih-alih senang karena sudah tiba di tujuan justru dari gerbang selamat datang tersebutlah tantangan yang sesungguhnya dimulai untuk mengakses Curug Malela. Di gerbang selamat datang tersebut saya tidak dipungut bayararan sepeser pun untuk memasuki kawasan Curug Malela sekalipun disitu terlihat ada pos penjagaan namun tidak ada orang yang menjaganya, dari situ saja saya sudah melihat kejanggalan dari tempat wisata ini.

 

IMG00398-20130616-0944

Welcome gate Curug Malela

Sebagaimana disebutkan di atas, tantangan justru dimulai dari gerbang selamat datang. Yup setelah melewati gerbang ini jalur sangat tidak karu-karuan. Tanjakan, turunan disertai jalan yang hancur seperti habis di bom karena penuh kerikil dan batu-batu tajam. Kadangkala harus melewati jalanan tanah yang becek dan berlumpur, belum lagi harus berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut kayu. Sungguh ini bukanlah medannya motor Tiger sekalipun Tiger adalah motor penjelajah. Medan ini benar-benar off road dan cuma layak dilewati oleh motor-motor semisal Kawasaki KLX.

Setelah satu jam berkutat dengan perjalanan yang menantang tersebut, tibalah saya di penghujung jalan yang tidak bisa dilalui motor lagi, selanjutnya motor harus diparkir ditempat tersebut. Suasana disitu sangat sepi, hanya ada dua buah warung dan selain saya ada 3 motor Bajaj Pulsar 200 yang merupakan milik pengunjung lainnya. Motor pun saya parkir di depan warung sambil beristirahat dan bertanya-bertanya kepada pemilik warung tersebut.

1013676_4967493353868_1031284799_n

Dari tempat parkiran motor, untuk mencapai lokasi Curug Malela dibutuhkan berjalan kaki kurang lebih sejauh 1,5 km melewati persawahan dan sedikit semak. Setelah itu barulah kita tiba di Curug Malela, Niagara Mini Indonesia. Sayangnya ketika saya kesana saat itu sedang musim penghujan sehingga air cenderung keruh kecoklatan mengurangi keindahan Curug Malela sendiri.

malela

Tidak terlalu berlama-lama di Curug Malela, selanjutnya saya putuskan untuk kembali ke parkiran motor dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Setelah mengisi perut, saya pun bertolak menuju Jakarta namun kali ini saya memutuskan untuk tidak mengambil jalur Cimahi, tapi saya mengambil jalur yang langsung menuju ke Cianjur dengan harapan bisa memangkas jarak. Yup jarak memang terpangkas tapi waktu tempuh sama saja, hal ini dikarenakan jalan rusak yang harus ditempuh untuk bisa keluar ke jalan raya terusan Cianjur lebih panjang dan lebih hancur daripada jalan yang keluar menuju Cimahi.

Jalan keluar menuju Cianjur membelah hutan dan sangat hancur sekali, sangat berbahaya dikala hujan yang kebetulan saat itu pun sedang hujan, sehingga dua kali saya terjatuh dari motor sampai menyebabkan luka karena kaki saya menghantam bongkahan batu jalanan.

Butuh 2 jam melalui jalan hancur tersebut hingga akhirnya tiba di jalan raya dengan aspal mulus yang mengarahkan kita ke kota Cianjur untuk 1 jam perjalanan kemudian.

IMG_20160306_090941[1]

‘Potret’ Hakim Bijak Indonesia

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia sepertii ini.

dishare dari akun facebook Polres Sidoarjo

Sepakbola Seagames 2011, Indonesia vs Kamboja (6-0), Timnas U-23 Lebih Kreatif dari Timnas Senior

Kemenangan Timnas U-23 atas Kamboja memang bukan suatu hal yang mengagetkan. Namun ada secercah harapan bagi Indonesia untuk mengakhiri puasa gelarnya di Seagames sejak 20 tahun silam.

Harapan itu muncul dengan terlihatnya permainan cemerlang yang ditampilkan Timnas U-23. Bahkan bila dibandingkan dengan timnas senior terlihat timnas u-23 lebih kreatif dalam membangun serangan dalam membongkar pertahanan lawan. Hal itulah yang sulit terlihat dari timnas senior yang selalu tampil monoton ketika bertemu dengan tim-tim yang membangun pertahanan kuat.

Kreatifitas timnas u-23 begitu terlihat dalam pertandingan tersebut dimana pada babak pertama timnas u-23 mampu dengan sangat mudah membanjiri Kamboja dengan 4 gol. Namun pada babak kedua terlihat Kamboja merubah strategi permainannya dan cukup menyulitkan timnas u-23 untuk menambah pundi-pundi golnya hingga 20 menit babak kedua. Namun seiring kesulitan tersebut timnas u-23 tampil lebih kreatif dengan meningkatkan akselerasi dan spekulasi di jantung pertahanan Kamboja. Hasilnya; 2 gol tambahan tercipta dan momen-momen indah yang hampir menghasilkan gol-gol lainnya.

Tentu hal ini nampaknya ditunjang oleh kekuatan fisik yang tidak mudah kendor khususnya di babak kedua, semangat pembuktian yang lebih kentara dan kerjasama tim. Ketiga hal itulah yang menjadikan kreatifitas serangan menjadi sinergis dan efektif dan hal itu yang sulit terlihat di timnas senior.

Meski demikian, ujian sesungguhnya bagi timnas u-23 akan terlihat pada 3 pertandingan selanjutnya melawat tim kuat di grup maut ini, yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand. Dan bila timnas u-23 mampu konsisten dengan permainan cemerlang dan kreatif tersebut mungkin para pemain timnas u-23 ini perlu lebih banyak dipertimbangkan untuk masuk dalam skuad timnas senior.

Lorenzo kembali datangi Indonesia – Meet and Greet Jorge Lorenzo

Kampiuan juara dunia MotoGP 2010, Jorge Lorenzo yang merasa bahwa Indonesia adalah negara keduanya akan mendatangi Indonesia kembali esok 8 Oktober 2011 di Bali.

Kehadirannya dalam rangka acara Meet and Greet Jorge Lorenzo yang diselenggarakan oleh Yamaha Flagship Shop Bali, di Garuda Wisnu Kencana, Bali Cultural Park, Jalan Raya Uluwatu Jimbaran, Badung 80364. Acara akan diselenggarakan sejak pukul 19:00-22:00.

Dalam acara ini, 50 orang pembeli motor Yamaha Jupiter series (Z dan MX) mendapat kesempatan mendaftar tuk menhadiri acara tersebut.

Secara khusus di fan page-nya di FB, Lorenzo menulis:
“Hi to all my fans from Indonesia! tomorrow at 17.00 i will be in the ‘Garuda Wisnu Kencana’ (bali)! I WAIT FOR YOU!”

Bagi penggemar Lorenzo di Bali khususnya, ini merupakan kesempatan emas untuk bertemu dengan favoritnya di motoGP.

Nazaruddin dan Masa Depan Politik Bersih Indonesia

Entah apa sebenarnya yang membedakan kasus buronnya Edy Tansil, Nunung dan Nazaruddin. Yang jelas Edy Tansil sudah sekian tahun bebas berkeliaran di luar negeri seolah tak ada usaha pengangkapanyang sistemik dari aparat penegak hukum Indonesia. Kasus Nunun yg buron ke luar negeri pun seolah terlupakan. Namun untuk kasus Nazaruddin terlihat usaha penangkapan begitu sistematis dan penuh kesungguhan. Mulai dari red notice ke interpol, pelacakan skype, sampai menggelontorkan dana miliaran rupiah (yg saya dengar dari media sekitar 4 miliar kalau tidak salah) untuk menyewa pesawat carteran demi memboyong nazaruddin yang sudah tertangkap di Cartagena Kolombia ke Jakarta.

Apakah karena Nazar melakukan korupsi lebih besar dari dua orang lainnya tersebut. Atau kasus Nazar ini menjadi kasus yang sangat sensitif terkait dirinya sebaga bendahara partai penguasa (Demokrat) dan nyanyian-nyanyiannya selama buron yang mengangkat nama-nama barisan elit partai tersebut seperti Anas Urbaningrum (Ketua Partai Demokrat), Andi Malaranggeng (Menegpora), Angelina Sondakh (Aleg DPR Pusat dari Partai Demokrat) dan beberapa jajaran pejabat KPK.

Lepas dari perbandingan itu yang jelas patut disyukuri bahwa kini Nazar telah tertangkap dan telah berada di Indonesia. Namun kini timbul kecemasan baru, Nazar kini begitu kontras dibanding saat buron. Kini ia bungkam tidak mau memberikan kesaksian di atas prosedur hukum yang sedang dijalaninya. Sehingga menimbulkan kecemasan di berbagai kalangan yang peduli, bahwa indikasi korupsi kolaboratif yang melibatkan elit-elit partai penguasa tersebut akan mati suri alias di peti eskan. Padahal indikasi sudah ada, dan bukti dari para supir mobil-mobil pembawa uang money politics telah disiarkan di media beberapa hari yang lalu.

Meski demikian, pencgacara Nazar sudah mempersilahkan KPK memeriksa dan membongkar kasus korupsi kolaboratif tersebut kepada orang-orang yang telah disebutkan Nazar tanpa menjadikan Nazar sebagai kunci kasus ini.

Yang jelas informasi dan indikasi juga sebagian bukti telah ada. Maka, jika KPK enggan membongkar kasus korupsi kolaboratif tersebut hanya karna kini Nazar bungkam maka hal ini akan menjadi preseden buruk bagi jaminan masa depan politik Indonesia yang bersih. Sehingga miliaran rupiah yang digelontorkan untuk memboyong Nazar dari Kolombia tidak memiliki manfaat signifikan, karena banyak kalangan mengatakan biaya miliaran rupiah tuk carteran pesawat pembawa nazar terlalu mahal tapi mereka tetap legowo demi penegakan hukum yang seadil-adilnya.

Jangan sampai justru usaha sungguh-sungguh membawa nazar ke Jakarta dicurigai menjadi konspirasi agar kasus partai penguasa tersebut mati suri. Semoga saja tidak dan semoga saja KPK masih menjadi lembaga yang bisa dipercaya, karena banyak yang masih membela kesinambungan lembaga tersebut setelah Ketua DPR Marzuki Ali yg noto bene anggota partai Demokrat juga mengeluarkan statement pembubaran KPK.

Indonesia vs Turkmenistan (4-3); Mental atau Fisik yang Salah

Bagi penggemar sepakbola di tanah air dan/atau pendukung tim nasional (timnas) Indonesia tentu sangat dibuat khawatir ketika menonton pertandingan pra kualifikasi Piala Dunia hari ini antara Indonesia menjamu Turkmenistan. Bagaimana tidak, di babak pertama timnas telah unggul 3-0 namun di babak kedua skor menjadi 4-3. Menang memang, tapi yang menengangkan adalah kalau saja 5 menit tersisa plus 4 menit injury time turkmenistan mampu menambah 1 gol lagi saja. Pupus sudah harapan timnas tuk masuk ke babak selanjutnya. Karena pada pertandingan tandang sebelumnya skor imbang 1-1, sehingga bila di Senayan tadi hasil menjadi imbang 4-4 maka Turkmenistan yang lolos karena menciptakan gol lebih banyak di kandang lawan.

Dimana kesalahannya? Kelemahan fisik kah karena menyerang menggebu-gebu? Bukankah Turkmenistan juga bermain ngotot untuk menang lalu mengapa mereka bisa menjaga stamina mereka sehingga mampu memperkecil ketinggalan menjadi tipis.

Atau mental para pemain timnas yang buruk karena meremehkan lawan ketika sudah di atas angin? Seingat saya hal ini sering terjadi pada timnas. Dulu ketika pra kualifikasi Piala Dunia juga melawan Qatar di senayan, timnas telah unggul 2-0 di babak pertama. Bahkan satu gol yang diciptakan Widodo C Putra dinobatkan menjadi gol terbaik dunia saat itu. Namun yang terjadi pada babak kedua kedudukan menjadi 2-2. Dan timnas tidak bisa masuk ke babak selanjutnya karna kalah pada pertandingan tandang di Qatar.

Yang masih hangat kenangan kita akan timnas adalah di AFC Cup (Piala Tiger). Setelah menjadi the dream team di penyisihan, sehingga timnas begitu dipuja-puja. Kalangan pesantren pun mengundang timnas untuk ritual istighaasyah, dan kalangan pengusaha mengundang jamuan dalam rangka memasuki final melawan Malaysia. Fenomena timnas benar-benar menjadi eforia saat itu di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Namun pada titik penentuannya timnas harus takluk pada Malaysia dengan agregat 2-4, padahal pada babak penyisihan Malaysia ditekuk 5-1. Apakah ini semua karena mental pemain timnas yang sering meremehkan lawan ketika sudah berada di atas angin sehingga mereka lelah. Apapun itu tentu harus menjadi evaluasi bagi pelatih timnas saat ini dan selanjutnya.

Jika memang benar permasalahan mental seperti di atas, semoga saja hal itu tidak mencerminkan sifat bangsa Indonesia pada umumnya.

Temu Sains, Kebijakan dan Pasar

Peran Riset Sosial Ekonomi dalam Mendorong Peningkatan Produksi dan Pemasaran Catfish di Indonesia

Itulah tema dari acara seminar Temu Sains, Kebijakan dan Pasar, yang di adakan pada tanggal 23 Juni 2011 di Ballroom  Kementrian Kelautan dan Perikanan, Gedung Mina Bahari Lt. 1, Jl. Medan Merdeka Timur.16, Jakarta. Acara tersebut adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBRSEKP).

Acara seminar tersebut mempertemukan antara para pemerhati hal-hal yang terkait dengan sains bagi produksi catfish (patin dan lele) di Indonesia, pemangku kebijakan (pemerintah) dan para pelaku pasar/bisnis. Dalam hal ini saya hadir sebagai pelaku pasar (petani pembenih ikan patin).

Tujuan Temu Sains Kebijakan dan Pasar adalah :

“Melakukan penyerasian bersama serta membentuk rekomendasi ilmiah dan kebijakan terkait daya saing pasar ikan dan produk perikanan catfish (patin dan lele) sebagai pendukung keberhasilan visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)”

Keluaran:

Keluaran dari kegiatan Temu Sains, Kebijakan dan Pasar adalah rekomendasi ilmiah dan kebijakan terkait daya saing pasar ikan dan produk perikanan catfish (patin dan lele).

Beberapa topik yang diangkat adalah:

  1. Peluang pasar catfish dalam negeri, oleh Direktur Pemasaran Dalam Negeri, P2HP-KKP.
  2. Perkembangan impor fillet patin di Indonesia serta analisa kebutuhan dalam negeri, oleh Direktur Pemasaran Luar Negeri, P2HP-KKP.
  3. Peluang pasar retail dan pasar ikan patin serta catfish lainnya di Indonesia, oleh Sekjen Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO).
  4. Peluang usaha dan pasar catfish (patin dan lele) bagi pengusaha, oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I).
  5. Kebijakan dalam pengurangan biaya produksi dalam usaha budidaya produksi catfish di Indonesia, oleh Direktur Produksi DJPB-KKP.
  6. Daya saing produk perikanan catfish, oleh peneliti senior BBRSEKP Dr. Sonny K.

Teknologi yang Sederhana

Pada dasarnya produksi catfish membutuhkan teknologi yang sangat sederhana. Namun memang telah ditemukan bibit unggul bagi 2 produk catfish (patin dan lele), yaitu patin pasupati dan lele sangkuriang yang diharapkan bisa menjadi pilihan bagi para petani untuk meningkatkan produksi mereka. Teknologi lebih diarahkan kepada riset sosial dalam rangka membangun mainset yang semakin baik di masyarakan untuk mengkonsumsi catfish.

Kebijakan

Vietnam adalah negara pengekspor ikan patin terbesar di dunia, tercata 96% pasar ekspor dunia dikuasai oleh vietnam, bahkan Indonesia sendiri mengimpor lebih dari 900 ton ikan patin dari negara tersebut, ironisnya Vietnam mendapatkan benih ikan patin dari Sumatera 12-15 tahun yang lalu. Untuk mendorong petani memenuhi target produksi yang tahun lalu hanya tercapai sebesar 64% dari proyeksi, pemerintah tidak mungkin serta merta melarang impor patin dari Vietnam yang akan menimbulkan pertanyaan mampukah petani lokal mengisi pasar yang kosong yang ditinggalkan oleh Vietnam.

Diantara hal-hal yang dilakukan pemerintah adalah menghilangkan PPN bagi pakan ikan patin, penggodokan untuk penghilangan atau pengurangan PPH bagi produksi pakan ikan patin, mengkampanyekan GEMAR IKAN kepada masyarakat sebagaimana diketahui harga protein yang dapat diperoleh dari membeli daging ikan patin ternyata jauh lebih murah dari daging sapi, bahkan dari tempe dan tahu sekalipun. Dan beberapa hari lagi akan diadakan Catfish Day di Jambi.

Realitas Pasar

Ternyata bagi kalangan petani, realitas pasar tidaklah seperti yang digembar-gemborkan pemerintah. Ada di beberapa tempat yang sampai-sampai ikan patin itu harus merayakan ulang tahun karena sulit terjual, karena pasar begitu sepi begitu banyak petani pembesar yang gulung tikar, dan menurut catatan dari seorang petani pembenih senior ada sekitar 90% petani pembenih yang menutup usahanya dari tahun 2009-2010, dan pada tahun 2011 baru sekitar 20% yang bangkit kembali. Lalu pertanyaannya mengapa harus ada impor 900 ton ikan patin dari Vietnam?

Ternyata pasar lokal dan pasar impor yang digarap oleh Vietnam berada pada segment yang berbeda. Pasar impor menggarap pasar ekonomi menengah ke atas seperti perhotelan dan restoran, sedangkan pasar lokal hanya menggarap pasar ekonomi menengah ke bawah. Hal ini di antaranya menurut Bapak Thomas (Ketua AP51) karena daging patin Indonesia memiliki guratan merah darah pada tengahnya yang akan menghitam ketika digoreng, sedangkan itu tidak terjadi pada daging patin yang dimiliki Vietnam.

Nah berdasarkan fakta pasar inilah, para pelaku pasar lokal mengharapkan pemerintah dengan sarana penelitiannya bisa membuka jalan bagi para petani lokal untuk menggarap pasar ekonomi menengah ke atas, sambil pula mengedukasi pasar ekonomi menengah ke bawah. Bahkan menurut seorang petani lagi, kami mampu mebuat HPP menjadi 5.400/kg, lebih murah dibandingkan HPP Vietnam yang 6.00/kg bila memang pasar terbuka lebar.

Kemudian petani pun mengharapkan pemerintah bisa menekan harga pakan ikan sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan yang signifikan untuk mensejahterakan hidupnya. Tentunya tidak akan ada masyarakan yang ingin menggarap segmen bisnis tersebut bila kesejahteraan mereka tidak terjamin dari bisnis tersebut.