Blog yang Mati Suri mencoba Hidup kembali

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Setelah hampir setahun lamanya, blog tuanlee yang telah mati suri ini, tulizan-tulisannya terprivatisasi seiring semangat yang hampir mati, kini ia coba dihidupkan kembali dan tulisan-tulisannya pun sudah bisa dinikmati kembali.

Menulis bukan sekedar hobi, tapi ia juga jiwa dan teman. Jiwa karena ia adalah curahan, teman sejati karna ia begitu lapang menerima semua curahan hati dan pikiran kita, hingga ketika suatu masa kita telah melupakan curahab-curahan itu, ia tetap menyimpannya dan kembali mengingatkan kita pada curahan itu sehingga timbullah romansa dan juga sebuah nasihat.

Kini, semoga semangat yang datang kembali takkan pernah pergi, inspirasi tiada pernah henti dan eksplorasi tetap berkreasi dalam olah pikir dan olah hati.

Menulis memang indah teman.

Atur Prioritas Hidup dengan Bijaksana

Kisah Kaisar dan Penunggang Kuda

Ada seorang Kaisar yang mengatakan kepada penunggang kudanya yang setia mengabdi, apabila ia bisa mengendarai kudanya dan menjangkau wilayah sebanyak yang ia mampu, maka sang Kaisar akan memberikan wilayah sebanyak yang ia jangkau.

Tentu saja, sang penunggang kuda segera melompat naik ke atas kudanya dan secepat mungkin pergi melakukannya.

Dia terus memacu dan memacu,
Mencambuk kudanya.

Ketika ia merasa lapar atau lelah, dia tidak berhenti karena dia sangat ingin memperoleh wilayah sebanyak mungkin.

Pada akhirnya, saat ia telah menjangkau wilayah yang cukup besar, ia kelelahan dan sekarat.

Sang penunggang kuda lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diriku begitu keras untuk menjangkau begitu banyak? Sekarang aku sekarat dan aku hanya memerlukan sebidang tanah yang sangat kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”

PESAN MORAL,

Kisah di atas sama dengan perjalanan hidup kita.

Tiap hari kita memaksa diri dengan keras untuk mengumpulkan uang, kekuasaan atau menjadi tenar (money, power or fame).

Kita mengabaikan kesehatan, waktu bersama keluarga, sahabat, lingkungan sekitar dan hobi yang kita sukai.

Saat kita melihat ke belakang, kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tak membutuhkan sebanyak itu, namun kita tak bisa mengembalikan waktu yang terlewatkan.

Hidup ini bukan hanya bekerja menghasilkan uang, mendapatkan kekuasaan atau ketenaran.

Bekerja diperlukan untuk bertahan hidup dan agar dapat menikmati keindahan dan kebahagiaan dalam kehidupan, juga agar kita bisa menjadi dan membagi berkat dengan orang lain.

Hidup adalah keseimbangan antara bekerja dan bermain, untuk keluarga, sahabat dan waktu pribadi. Dan yang terpenting adalah memiliki hubungan pribadi dengan Allah SWT.

Kita harus memutuskan bagaimana caranya menyeimbangkan hidup!!!

“Tentukan dan Atur Prioritas Hidup Kita dengan Bijaksana.”

shared from blackbery broadcasting

Hidup adalah Pilihan

Tulisan di bawah ini adalah saya copy dari salah satu teman facebook saya dengan seizinnya. Bagi saya menarik dan membacanya cukup menggelitik namun hikmah dari tulisan ini sungguh amik. Jalanilah hidup anda dengan barometer keridhaan Allah. Jangan diatur oleh persepsi manusia an sich, karena persepsi manusia meskipun terkesan aksiomatis di tengah masyarakan tetapi belum tentu benar secara hakikat menurut ajaran Tuhan yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah-masalah baru selanjutnya bahkan mungkin tak henti-hentinya. Enjoy it…!!!

Sebelum saya membahas inti masalah yang ingin saya kemukakan maka ada baiknya kita membaca anekdot berikut, ini sudah populer dari dulu namun masih sangat relevan dengan
siatuasi dan kondisi sekarang. Judulnya “Abunawas Membeli Keledai”

Suatu hari Abunawas bersama anaknya pergi ke pasar hewan di pinggiran kota Baghdad. sesudah tawar menawar dan transaksi, mereka pulang membawa keledai yang baru dibeli tersebut. Dalam perjalanan pulang, Abunawas dan anaknya berjalan sambil menuntun keledai tersebut. saat melewati sekelompok orang, Abunawas mendengar seseorang berkata: “Lihat bapak anak itu, punya keledai cuman dituntun doang, buat
apa beli?” Akhirnya, Abunawas menyuruh anaknya naik keledai dan dia berjalan sambil menuntun keledai.

Lewatlah mereka didepan sekelompok orang lagi, dan mendengar perkataan: “Lihat anak durhaka itu, dia enak-enak naik keledai, sementara bapaknya disuruh berjalan kaki, dasar anak sekarang…” Abunawas pun tukar posisi dengan anaknya, dia naik keledai sementara anaknya berjalan menuntun binatang itu.

Didepan sekerumunan orang yang ketiga, ada juga yang berkomentar: “Dasar orang tua tak tahu diri, anaknya disuruh nuntun keledai, dianya nongkrong diatas pelana…”
Akhirnya Abunawas dan anaknya naik berdua ke atas keledai…

Komentar keempat: “Bapak ama anak sama-sama enggak tahu peri-kehewanan, masak keledai kecil begitu dinaiki berdua, astaghfirulloh….” Abunawas pun bicara kepada anaknya: “Nak, beginilah kalo kita hidup hanya mendengarkan dan menuruti
omongan orang, …”

Hidup adalah pilihan kawan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya, agar siap dengan segala konsekuensinya dan tidak menyesal kemudian maka perlu diperdalam sedalam-dalamnya konsekuensi pilihan yang akan kita ambil.

Berkaitan dengan itu ada masalah yang mengganjal dalam fikiran, yaitu tentang pilihan hidup menikah atau tidak.

Pilihan : Hidup menyendiri padahal umur sudah lumayan, maka ada saja celetukan orang.
Komentar :Kok gak laku-laku ya? Bujang lapuk, Pertu (perawan tua), Duda/janda pemilih, mau yang perfect ya?

Pilihan : Jika pilih menikah sekenanya asal ada yang melamar.
Komentar: Terkesan sudah kebelet ya, kok tidak pikir-pikir dulu, kan baru kenal.

Pilihan :Jika kita pilih menjadi istri pertama yang artinya suami nikah lagi.
Komentar:Maka orang akan bilang wedew istrinya sudah tidak mampu memberi yang terbaika buat suaminya sampai harus
mencari yang lain. Kamu kalah saingan dong sama yang lain. dsb.

Pilihan :Jika kita pilih menjadi istri kedua dan seterusnya.
Komentar : Dassar perebut suami orang. matrealsitik, kena guna-guna ya? sudah takut tidak laku ya? menjadi istri kedua memang lebih mudah diterima daripada istri pertama. apakah sudah tidak
ada laki-laki lain lagi? sudah kehabisan stock ya? sudah tidak kaut menyendiri ya? iddi kalau saya ogah ah..dan banyak lagi cibiran lainnya.

Pilihan :Jika memilih yang jauh lebih tua umurnya tapi kaya.
Komentar: Matrealistik, demi uang rela melakukan apa saja, numpang hidup ya?

Pilihan :Jika memilih suami yang jauh lebih tua namun miskin
Komentar: Jodoh apa bodoh? kena pelet ya?

Pilihan :Jika menikah dengan “berondong” baik terpaut umur beberapa tahun apalagi belasan tahun.
Komentar: Kegenitan amat ya? beli cinta ya?suaminya matre ya? minimal cibiran uhhuyyyy..dsb.

Ya Allah, tuooolooong deh!

Saudaraku, kita hidup untuk ibadah, apapun yang kita pilih porosnya adalah ibadah (dakwah+tholabul ‘ilmi dsb.). Selama itu yang jadi patokan atau standar dalam memilih maka kita tidak sepatutnya memberikan penilaian negatif yang bisa saja menghambat atau bahkan membuat orang stagnan di tempat dan putus asa karena selain harus menghadapi konsekuensi logis di balik putusan itu , diperparah dengan komentar dari kita.

Bukankah selama itu syar’i dan sama-sama ridho menjalani, kita sebagai orang luar tidak seharusnya memberikan suggesti buruk? yang dibutuhkan saudara kita adalah support dan solusi bagi dirinya, bukan stigma atau judgement kita.

Wallahu a’lam

Touring Jakarta – Lombok, Km 0 (Sabang) dan Mekkah, Proyeksi Touring terbesar dalam Hidup

Sebagai rider pencinta touring sepeda motor tentu sangat menginginkan memiliki agenda-agenda rutin mengadakan perjalanan dengan sepeda motor ke tempat-tempat yang jauh, menarik dan belum pernah dikunjungi. Namun biasanya kendala yang sering dihadapi adalah; tidak memiliki teman yang sehobi dalam petualangan ini atau kalaupun ada seringkali sulit menemukan waktu yang tepat untuk touring bareng. Karna touring jarak jauh sendirian tentu bukanlah hal yang mengasyikkan untuk sekedar merasakan petualangan yang berkesan, kecuali bila memang ada tujuan tertentu yang lebih spesifik dan urgen dari hal tersebut.

Namun, secara pribadi tentu saya memiliki cita-cita dan keinginan dalam hidup saya paling tidak sekali seumur hidup untuk mengagendakan 3 trip touring sepeda motor jarak jauh. Dua diantaranya cukup realistis, namun satu yang terakhir mungkin banyak orang akan mengatakan hampir mustahil. Berikut tiga trip tersebut:

1. Jakarta – Lombok
Yaitu touring menuju timur Indonesia dari Jakarta. Trip ini masih sangat realistis untuk dilakukan, karena memang sudah banyak rider yang melakoninya. Dalam trip ini mungkin bukan hanya sekedar untuk mendapatkan kesan perjalanan bersepeda motor semata, namun bila waktu yang disediakan mencukupi bisa digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara seperti; Solo, Yogyakarta, gunung Bromo, Bali dan tentu saja yang terakhir Lombok. Atau melewati 3 kota besar yang menjadi ibukota provinsi di pulau Jawa yaitu Bandung, Semarang dan Surabaya.

2. Jakarta – Km 0 (Sabang)
Bila trip yang pertama adalah menuju timur Indonesia, maka yang kedua adalah menuju Barat Indonesia dari Jakarta bahkan paling Barat Indonesia atau biasa disebut Km 0 di kota Sabang. Trip ini masih sangat realistis karna tidak sedikit rider yang sudah melakoni trip ini namun dibanding trip yang pertama tentu yang trip yang kedua lebih sedikit. Rute trip ini tentunya akan lebih ekstrim dan kental nuansa petualangan ridingnya dibanding rute trip yang pertama karena merupakan jalur lintas Sumatera yang notabene kontur jalannya jauh lebih baik di pulau Jawa dan Bali tentunya dan akan lebih sedikit melewati jalur-jalur wisata daripada trip yang pertama.

3. Jakarta – Mekkah (Umrah)sambil cengar-cengir
Trip yang terakhir ini mungkin kebanyakan orang akan mengatakan tidak realistis atau mustahil. Namun, bila pak Indra Azwan saja kini sedang berjalan kaki dari Malang melewati Jakarta menuju Mekkah untuk ‘mencari’ keadilan di hadapan Allah. Atau dua warga negara Cape Town, Afrika Selatan, yang bernama Nathim Cairncross dan Ahmad Haron bersepeda melintasi 12 negara, memakawan waktu sembilan bulan untuk mewujudkan mimpinya pergi Haji ke Mekkah sudah terlaksana. Tentu akan lebih memungkinkan lagi bila menggunakan sepeda motor yang nota bene tidak lebih melelahkan daripada jalan kaki dan bersepeda. Selain lebih ekstrim dan penuh petualangan, tentu trip ini memadukan nuansa dan tujuan relijius yaitu umrah atau haji yang merupakan kewajiban dalam agama Islam sekali seumur hidup. Meski demikian, cita-cita dan keinginan melakoni trip ini bukan berarti mengesampingkan kesempatan bila sudah mampu pergi haji atau umrah menggunakan pesawat, tentu hal ini akan diutamakan.

Well…. Bagi pembaca artikel ini yang memang memiliki hobi dan minat yang sama untuk melakoni baik satu atau ketiga trip di atas monggolah kita diskusi, sharing mulai dari comment box, email atau japri (jaringan pribadi) lainnya. Insya Allah mungkin saja bisa menemukan kesepakatan untuk menggelar touring dengan salah satu atau ketiga trip di atas suatu waktu nanti – entah kapan, hehehehe….

Salaaam….

gambar nyomot di:
http://www.viewtourism.com/2011/04/the-beauty-of-lombok-island-in-indonesia/sunset-beauty-view-in-lombok-island/
http://myaceh.blogspot.com/2011/10/tugu-kilometer-nol-aceh.html

Menyemangati Hidup

Hidup tak pernah seutuhnya berjalan sesuai yang kita rencanakan. Justru ketika semuanya dimudahkan oleh Allah bisa jadi ada dua kemungkinan; pertama, Allah tidak lagi sayang kepada kita karna kita dibiarkan terlena dan Ia tak merasa perlu mendengar rintihan kita memohon kepada-Nya karna sikap kita yang sudah terlalu berlebihan di muka bumi, kedua, bisa jadi itu adalah ujian buat kita apakah kita akan menysukuri semua itu atau justru menjadi kufur atas semua nikmat yang telah Allah berikan.

Catatan ini hanya sekedar mengungkap semangat dasar untuk terus membangkitkan gairah dalam kehidupan. Sepahit apapun dia hidup akan terus berjalan kecuali kita yang menghentikannya dengan keputus asaan dalam bentuknya yang macam-macam hingga pada puncaknya bunuh diri. Maka seseorang yang sudah tidak memiliki sekecil apapun semangat untuk membuat hidupnya menjadi bergairah kembali, ia tak lebih sebuah mayat berjalan yang hanya akan merepotkan orang di sekitarya.

Mungkin kita semua sudah tau dan coretan ini hanya sekedar kembali mengingatkan karna memang manusia (insaan) seperti kata pepatah “makaanul khatha’u wan nisyaan” yaitu tempat kesalahan dan lupa. Semangat dasar apakah itu, ia adalah keimanan kepada takdir dan memahami semua kejadian di muka bumi ini pasti ada hikmah yang bermanfaat buat kita. Hal ini bisa kita dapati dalam al Qur’an surah Ali Imran yang artinya:

“yaitu mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, seraya memikirkan penciptaan langit dan bumi dan berkara “wahai Rabb kami, tiadalah yang Kau ciptakan ini sia-sia”

Jadi dalam segenap situasi janganlah kita kehilangan diri dari mengingat Allah yang akan menyebabkan tabir hikmah sulit terbuka oleh mata hati dan nurani kita. Jangan malah terjebak oleh irama syaithan dalam bentuk emosi dan amarah yang malah membuat kita semakin kehilangan arah.

Ketika merasa hidup ini sulit dan buntu, berhentilah sejenak di dalam kerindangan nurani lebih lama. Gali potensi sekecil apapun yang bisa membuat kita bersemangat dalam hidup ini. Saat kita berhenti biarkanlah Allah bekerja, tugas kita adalah merintih di hadapan Allah meminta dengan segenap kekhusyu’an agar Ia tak pernah meninggalkan kita. Insya Allah setelah itu nurani dan jiwa kembali jernih dan kita akan mampu melihat sesuatu yang tak terlihat sebelumnya. Berjalanlah kembali dengan senantiasa melantunkan dzikir dalam hati – yang utama – dan kehati-hatian.

Wallahu a’lam

Inilah Hidup, Kawan…!!!

Terbangun jam 11 malam, TV masih menyala dan nampak acara yang sedang berlangsung adalah “Bukan Empat Mata”. Sebuah acara yang entah apa manfaat yang bisa diambil darinya. Namun tiba-tiba saja acara ini menjadi menarik ketika dipanggilkan seroang bintang tamu, seorang laki-laki berusia 50-an yang diminta menceritakan perjalanan hidupnya.

Beliau bernama Sriyono, pada masa mudanya beliau adalah seorang milyarder, pengusaha somay dan mempunyai banyak kios di beberapa mall. Allah begitu memanjakannya dengan kekayaan sehingga ia lupa diri. Ia hanya sibuk hura-hura dan menikmati kekayaannya dengan jalan yang jauh dari kesyukuran.

Hingga pada usia di atas 40 pun ia belum mau menikah dan tetap saja ingin menikmati hidupnya dengan cara seperti itu. Barulah pada usia 43 tahun ia mulai sedikit melihat kegelapan cara hidupnya hingga pada usia 45 tahun ia memutuskan menikah meskpun orang yang ia nikahi adalah seorang wanita yang sudah ia hamili terlebih dahulu. Seorang mahasiswi semester 3 berusia 19 tahun.

4 bulan setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak. Dan 4 bulan setelah anak yang pertama lahir, istrinya pun hamil kembali sehingga dalam waktu dekat mereka sudah mempunyai 2 orang anak. Kini ia menikmati hidupnya dengan kebersamaan keluarga kecilnya. Ia pun mulai tidak fokus dengan usahanya tersebut dan lebih banyak menyerahkan pengelolaannya kepada saudara-saudaranya. Pada tahun 2003 usahanya mulai goyah dan pada tahun 2004 usahanya benar-benar rata dengan tanah. Ia tak punya apa-apa lagi, hingga istrinya pun meninggalkannya dan ia tak bisa bertemu anaknya lagi.

Ia mencoba bangkit secara perlahan, dimulai dengan membeli sepeda secara kredit yang digunakan untuk berjualan somay, begitu pula bahan-bahan pembuatan somay pun ia dapat dengan berhutang, dan rumah yang ia tempati pun mengontrak dengan membayar harian di Kebayoran Lama. Mulailah ia rintis kembali usahanya dengan berjualan somay keliling menggunakan sepeda, namun yang unik kali ini adalah ia berjualan dengan warna serba pink, mulai dari sepeda dan perangkat somaynya, pakaian, topi, sepatu dan kaus kaki hingga kacamata pun berwarna pink. Dan kini ia sudah mampu menyewa kios untuk somaynya dengan harga 45 juta setahun. Beliau begitu mensyukuri keadaannya saat ini, terlebih ia telah bisa bertemu anaknya pada januari yang lalu. Nampak kini ia telah menjadi bijak dengan kehidupannya.

Inilah hidup, kawan! Hidup tak akan selamanya indah dan flat. Pasti ada fase yang begitu menguji jiwa dan menghantam asa kita ke tanah. Apapun bentuk dan caranya Allah akan membuat hidup kita bergejolak. Namun yang mampu tetap eksis adalah mereka yang tekun dan tentunya mengingat Allah di atas segalanya.

Baca juga: Link

Kepada YTH Kehidupan

Adakah pengorbanan yang lebih besar

daripada kuat dan hangatnya aliran darah pemuda

Adakah pengorbanan yang lebih besar

dari kecenderungan, hasrat dan kesempatan untuk mendapatkannya

Sangat BODOH, DUNGU yang berkata “telah banyak yang aku korbankan”

tapi cuma sekedar pecahan-pecahan rupiah

yang dipikirkan adalah bagaimana dihargai

tidak terpikir bagaimana menghargai pengorbanan yang dinikmatinya

Aduhai kehidupan, adakah lagi waktumu

untuk melihat wajah yang sejuk

untuk menyandar dada yang rindang

untuk menyemangatkan kata-kata curahan

Kenalilah dirimu, niscaya kau tahu nikmat pengorbanan yang untukmu

tetap saja kau terombang ambing dalam kedunguan itu

tak sadarkah kau betapa berkaratnya dosa itu

ketidak sabaranmu dosa baru di atas karat dosa itu

Bila ada tiga tahapan untuk meluruskan

setelah dua tahapan itu aku simpan pukulan untuk saatnya

karna ku tahu saat ini ia tak berarti apa-apa

kerasnya ia berada di atas lemahnya kewibawaan

Tunggulah saat itu wahai kehidupan

sebagaimana engkau hanya menunggu taufiq dan hidayah

28 September 2008