Tour de Dieng – Dieng Plateau, Wonosobo, Jawa Tengah (Day 3rd & 4th)

Sabtu. 3 September 2011

04:30-07:00

Subuh pertama di dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau). Kami melaksanakan shalat berjama’ah di penginapan di tengah udara dingin yang menusuk. Suhu di dalam ruangan menurut thermometer menunjukkan 15 derajat celcius, Wah apalagi diluar ya. Akhirnya kami tunggu matahari mulai bersinar untuk keluar dan exploring Dieng agar tidak terlalu dingin. Setelah shalat, kami menghangatkan tubuh kami dengan kopi luwak dan radix sambil bincang-bincang dengan pak Ahmad Haidar pemilik penginapan tersebut. Ternyata beliau menawarkan sarapan kentang goreng. Ya memang hasil bumi dataran tinggi Dieng selain purwaceng (semacang ginseng) juga kentang. Bahkan pak Haidar sendiri dulu pernah menjadi pemasok kentang dari Dieng ke pasar induk Kramat Jati di Jakarta.

Pak Haidar begitu baik kepada kami sampai-sampai ia mengupaskan sendiri kentang-kentang untuk sarapan kami, dan ia pula yang menggorengnya. Sehingga kami merasa malu dalam hati karena telah menawar harga penginapan dari Rp 125.000,- menjadi Rp 100.000,-. Karna hal itu pulalah menjelang pulang kami pun menambahkan kembali harga sewa tersebut menjadi Rp 130.000,-. Sekali lagi kami merasakan kehangatan, kebaikan dan keramahan masyarakat Jawa Tengah khususnya Dieng.

Setelah sarapan, saya memberanikan diri mandi pagi itu. Karna saya merasa dengan mandi jusru akan lebih menghangatkan tubuh meskipun harus menahan dinginnya air yang sangat menusuk hingga ke tulang. Benar saja ketika gayungan pertama air menyentuh tubuh terasa sangat dingin sekali, bahkan bro Medi sampai harus teriak menahan dinginnya air. Alhamdulillah usai mandi badan terasa lebih hangat, rasa dingin lebih terfokus hanya pada jari-jari saja.

07:00-15:00

Nampaknya matahari sudah mulai menghangatkan tanah Dieng, sehingga kami memberanikan diri keluar dan mulai mengeksplor dataran tinggi Dieng. Dieng Plateau adalah sebuah dataran tinggi yang menjadi hunian penduduk, dengan ketinggian 2300 mdpl menyebabkan udara di dataran tinggi Dieng begitu dingin. Penduduknya harus selalu menggunakan jaket terutama pada malam hari. Karna saking dinginnya penduduk tersebut ada yang jarang mandi, Ada yang mandi hanya sekali saja entah itu pada pagi hari atau sore hari saja.

Sindoro dari Dieng

Dataran tinggi dieng dikelilingi oleh empat buah gunung yaitu: gunung Prau, gunung Sikunir, gunung Sindoro dan satu lagi saya lupa. Ada begitu banyak tempat wisata di dataran tinggi Dieng yaitu; wisata candi, wisata telaga dan goa, wisata sunrise atau gunung, wisata kawah dan air terjun serta wisata theater. Karena keterbatasan waktu, tidak semua wisata tersebut bisa kami sambangi.

Candi Pandawa Lima

Tempat wisata yang pertama kami datangi adalah Candi Pandawa Lima, mungkin disebut pandawa lima karena di situ terdapat lima buah candi. 4 buah candi terkumpul di komplek candi Arjuna dan satu lagi terpisah yaitu candi setyaki.

Tiket masuk ke komplek candi ini Rp 10.000,- sudah termasuk wisata ke telaga Balai Kambang dan kawah Sikidang. Sayangnya telaga Balai Kambang yang kami datangi sedang kering sehingga tidak terlihat keindahannya mungkin karena kemarau yang cukup panjang.

komplek candi Arjuna

Gunung Prau

menuju gunung Prau

Gunung prau bukanlah jalur wisata resmi dataran tinggi Dieng, sehingga jarang pengunjung ada yang kesana. Namun kami mencoba untuk kesana sambil bertanya-tanya. Ada yang mengatakan butuh waktu 3 jam untuk sampai ke puncak gunung Prau, ada juga yang mengatakan cuma butuh setengah jam. Kami coba hiking kesana dan membawa motor kami sejauh bisa dinaikkan ke atas gunung tersebut. Motor kami terhenti di ladang yang luas dengan jalur yang sempit namun bercabang-cabang sehingga membuat kami bingung harus mengambil jalur yang mana, sementara di depan terlihat gunuung Prau menganga begitu luas dan lebar. Karna waktu itu sudah menjunjukkan hampir pukul 11:00 dengan kebutaan kami terhadap jalur prau, tentu berisiko dan kalau pun kami mampu sampai ke puncak gunung Prau kami yakin kami akan tiba di bawah lagi sudah lewat maghrib. Akhirnya kami urungkan niat kami mendaki gunung Prau dan kami menuju gunung Sikunir.

Telaga Kecebong dan Gunung Sikunir

telaga Kecebong

Telaga Kecebong dan Gunung Sikunir sebenarnya terletak di desa lain dari desa Dieng. Bila dari arah Wonosoboketika sampai di Dieng kita mengambil jalur ke kiri terus mengikuti jalan hingga jalan berakhir mentok di telaga kecebong dan gunung Sikunir, tak ada jalan lagi setelah itu. Sepanjang perjalanan sekitar 5 km dari desa Dieng kita ditawarkan oleh panorama cukup indah dengan awan yang berada di bawah kita.

Telaga Kecebong terletak persis di bawah gunung Sikunir, untuk masuk ke wisata ini kita hanya dimintai harga tiket sebesar Rp 3.000,-. Telaga ini menjadi sumber air bagi warga setempat, viewnya pun cukup indah untuk hunting poto, kami menyempatkan mengelilingi telaga ini menggunakan perahu dengan biaya Rp 5.000,-/orang.

puncak Sikunir

Dari telaga Kecebong kami mendaki gunung Sikunir, butuh waktu sekitar 1/2-1 jam hiking mencapai puncak gunung Sikunir dengan ketinggian sekitar 2600 mdpl. Dari puncak Sikunir kita dapat melihat view gunung Sindoro dan kota Wonosobo. Sebenarnya wisata gunung Sikunir adalah wisata pagi atau wisata sunrise, sayangnya semalam kami terlalu letih sehingga tidak terpikir untuk melihat sunrise di gunung Sikunir pada subuh harinya.

Di puncak gunung Sikunir terdapat sebuah gua yang sepertinya jarang terjamah. Kami tak tahu seberapa besar gua tersebut karena begitu gelap dan kami pun khawatir terdapat ular terlebih kami sendiri tidak membawa senter, yang jelas dengan keberadaan gua tersebut menambah sedikit misteri mengenai puncak gunung Sikunir.

Kawah Sikidang

Pegunungan Dieng memiliki beberapa buah kawah, di antaranya kawah Sikidang, kawah Timbang yang belum lama ini sedang bergejolak, dan lainnya sehingga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi. Satu kawah yang kami kunjungi adalah kawah Sikidang, sebuah kawah kecil dengan telaga yang mendidih airnya serta asap yang mengepul. Pengunjung tidak boleh terlalu dekat, karna itu kawah tersebut dijaga oleh pagar kayu. Memang ketika saya sampai di sana, baunya begitu menyengat bahkan hinga radius ratusan meter, karna itulah kami pun tidak ingin terlalu berlama-lama disana.

DPT (Dieng Plateau Theatre)

Untuk mengetahui sejarah terbentuknya dataran tinggi Dieng yaitu dengan meletusnya kawah Sinila, kita bisa mengetahui sejarahnya dengan menonton tayangan sejarah di DPT (Dieng Plateau Theatre) dengan tiket masuk seharga Rp 3.000,-. Namun sayang saat itu antrian cukup panjang sehingga kami mengurungkan niat kami menonton tayangan sejarah tersebut.

Telaga Warna

Telaga Warna menampilkan panorama yang sangat indah. Ada beberapa hal yang membedakan antara telaga warna di Dieng dengan telaga warna di gunung Gede-Pangrango:

Telaga warna di Dieng jauh lebih luas daripada telaga warna di Gede-Pangrango. Telaga warna di Gede Pangrango hanya menampilkan satu warna saja dalam satu musim kemudian berubah pada musim lainnya menjadi warna lain, sedangkan telaga warna di Dieng menampilkan warna-warna yang lebih dari satu tanpa dipengaruhi musim. Hal ini karena warna pada telaga di Gede-Pangrango dipengaruhi oleh banyak-sedikitnya tanaman sub montanan di dasar telaga, sedangkan warna pada telaga di Dieng dipengaruhi oleh belerang pada dasar telaga tersebut.

Di sekitar telaga terdapat 3 buah gua, di antaranya gua Semar dan gua Sumur, namun karena gue itu ditutup oleh pagar sehingga tidak membuat kami terlalu tertarik melihat gua tersebut dan kami urung untuk mencari gue yang ketiga.

Setelah dari telaga warna kami pun merasakan lelah dan lapar, kami putuskan makan siang di sekitar telaga warna, namun harga makanan disini sangat mahal. Harga sepiring nasi dan gule ditambah air teh hangat seharga Rp 20.000,-, maklumlah daerah wisata.

15:00-19:00

Kami kembali ke penginapan dengan rasa lelah dan letih yang sangat. Setiba di penginapan pak Haidar pun bertanya kita kemana saja. Kami bercerita tentang gagalnya kami ke gunung Prau, hingga ia menawarkan untuk mengantar karna menurutnya cuma 1/2 jam saja. Kami sempat tertarik dan berpikir untuk kembali ke jakarta esok hari. Namun karna rasa letih saya yang teramat sangat saya mempersilahkan bro Dani dan Medi ke gunung Prau dan saya menunggu di penginapan. Namun bro Dani pun enggan karna ketidak ikutan saya dan akhirnya kami pun lebih memilih istirahat tidur dan mandi mempersiapkan perjalanan pulang menuju Jakarta selepas maghrib.

19:00

Kami berangkat pulang menuju Jakarta melewati jalur Wonosobo, karna jalut ini sepertinya lebih mudah tidak terlalu panjang melintasi jalur pegunungan berkabut. Setengah jam kemudian kita pun sudah sampai di kota Wonosobo, lalu lanjut menuju Banjarnegara dan berisitirahat makan sate sejenak di rumah makan Sate Inung.

Perjalanan kami lanjutkan, kami putuskan lewat Purwokerto, akan tetapi kami sempat kebingungan memasuki kota Purwokerto sehingga membuat jarak tempuh kami membengkak, dan parahnya di kota ini pula Supri pun bocor lagi bannya pada malam hari sekitar pukul 00.00. Alhamdulillah 1 km ke depan kita temukan tukang tambal ban yang masih buka. perjalananpun bisa dilanjutkan. Pada pukul 02:00 kami merasa begitu lelah sehingga kami putuskan untuk bermalam di masjid Baitul Mu’min Karang Pucung, Majenang.

Pada pukul 07:30 keesokan harinya kami keluar dari Masjid tuk mencari bengkel Ahass Honda untuk tune up Siti dan Supri. Ternyata kami menghabisan waktu cukup lama di bengkel hingga pukul 11:00. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan dan ketika memasuki Ciamis lalu lintas macet total, disinilah kami terpisah. Lalu lintas pun dialihkan oleh polisi melalui kota Tasik sedangkan bro Dani dan Medi lebih memilih mengambil jalur utara.

Dari kota Tasik lalu lintas cukup lancar namun di Ciawi hingga Limbangan seolah tidak ada harapan untuk bergerak. Namun alhamdulillah ada penduduk yang memberi petunjuk jalan memutar melewati perkampungan sedikit membelah bukit, saya putuskan mengambil jalan itu meskpun sangat rusak namun alhamdulillah macet bisa dilewati. Saya pun tiba di Nagreb mahhrib dan saya putuskan terus riding sendirian setelah istirahat sebentar melibas Cileunyi, Bandung, Cimahi dan Padalarang. Barulah di Citata saya beristirahat cukup lama di SPBU untuk shalat dan makan malam.

Setelah itu perjalanan saya lanjutkan menuju Puncak dengan kecepatan rata-rata berkisar 100 km/jam. Hanya butuh waktu satu setengah jam saya sudah tiba di Puncak karena memang lalu lintas sangat kosong tidak ada halangan yang berarti. Seperti biasa di Puncak saya sempatkan berhenti sejenak menikmati suasana puncak dengan bandrek.

Usai menikmati bandrek perjalanan menuju Jakarta berlanjut, lalu lintas kosong sehingga memungkinkan saya memacu sepeda motor saya hingga kecepatan 110 km/jam. Dan alhamdulillah 2 jam kemudian saya sudah tiba di Jakarta dengan selamat.

Iklan

Tour de Dieng – Dieng Plateau, Wonosobo, Jawa Tengah (Day 2nd)

Jum’at, 2 September 2011

04:30-06.00

Suara adzan subuh dengan nada khas tanah pasundan di sebuah masjid pinggiran kota Garut membangunkan kami dari tidur lelap kami di masjid tersebut. Alhamdulillah badan sudah terasa bugar meski tidur hanya sekitar 3 jam saja. Kontan saja kita nikmati subuh di kota tersebut, kami iringi dengan do’a-do’a yang kami panjatkan kepada Allah ta’aalaa dengan harapan Ia mengijabah do’a kami selaku musafir. Selepas shalat kami bersantai sejenak, menikmati kopi luwak dan kopi radix yang kami bawa dari Jakarta sambil mencharge HP kami di masjid tersebut.

06:00 – 11:00

Perjalanan kami lanjutkan, lalu lintas sudah mulai lancar sehingga riding pagi menyusuri pegunungan kota Garut begitu enak dinikmati dengan jalurnya yang berkelok-kelok tersebut. Sesampai di Malangbong (perbatasan Garut-Tasikmalaya) kami istirahat sejenak mengisi perut kami dengan sarapan bubur ayam. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan lagi melintasi kabupaten Tasikmalaya. Di daerah Rajapolah yang terdapat jembatan layangnya kami mengambil jalur lurus melewati jembatan tersebut yang mengarah ke Ciamis dan Jawa Tengah, bila mengambil jalur kiri akan menuju pusat kota Tasikmalaya. Sesampai di Prancis (PRApataN CIamiS) kami istirahat sebentar di SPBU karna harus ke toilet. Tak lama kemudian perjalanan kami lanjutkan lagi menyusuri jalan raya Ciamis-Banjar yang lengang dan berliku hingga kami berhenti di kota Banjar tuk istirahat kembali, yah beginilah riding kami terlalu banyak istirahat, namun dinikmati saja.

SPBU Prancis (PRApataN CIamiS)

Di kota Banjar, suasana pantai Pangandaran cukup terasa disini dengan banyaknya warung-warung tenda di pinggir jalan, padahal pantai Pangandaran sendiri masih cukup jauh dari kota ini. Setelah istirahat sebentar tuk minum dan ke toilet perjalanan pun kami lanjutkan kembali hingga tiba di tugu perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah kita berhenti sejenak untuk foto-foto sebagai kenangan. Suasana begitu panas di daerah tugu perbatasan tersebut sehingga tidak enak untuk berlama-lama. Perjalanan pun berlanjut, kali ini kami sudah melintasi daerah Jawa Tengah, kota yang pertama kali kami lewati adalah Wanareja. Mulai dari sinilah kami bertiga benar-benar buta jalur ini, karena saya sendiri riding motor terjauh di jalur ini hanya sampai kota Banjar. Akhirnya di sebuah SPBU di kota Wanareja kami berhenti sejenak untuk navigasi dengan GPS yang ada di BB. Setelah mendapatkan gambaran rute, perjalanan kami lanjutkan dan kita sepakati kita akan terus berjalan hingga pukul 11.00 siang untuk istirahat, makan dan shalat Jum’at.

11:00-13:00

Pukul 11:00 pun tiba dan kami sudah sampai di kabupaten Banyumas, tepatnya beberapa kilometer sebelum kota kecil Wangon. Kami pun berjalan perlahan sambil mencari rumah makan yang nyaman untuk sekaligus istirahat. Akhirnya kami menemukan rumah makan soto dan bakso yang built ini dengan rumah pemiliknya. Segera saja kami sambangi dan alhamdulillah ternyata ibu pemilik warung tersebut begitu sangat ramah kepada kami, sehingga memungkinkan kami untuk istiraha disitu cukup lama, tidur-tiduran, mencharge HP bahkan bolak-balik ke toilet. Di sinilah kami mulai merasakan keramahan penduduk Jawa Tengah.

Ketika adzan dzuhur berkumandang kami berangkat ke masjid yang jaraknya sekitar 400 m dari rumah tersebut. Semua perbekalan termasuk HP dan motor pun kami titip di rumah tersebut. Kami memutuskan jalan kaki ke Masjid supaya ga bosan di atas motor terus.

Well…. ritual shalat jum’at di desa tersebut ternyata di luar dugaan saya. Tadi saya pikir akan menemukan ritual macam-macam seperti yang biasa saya temukan di perkampungan di luar kota Jakarta, seperti khutbah bahasa Arab, cerita berbagai kisah sebelum khutbah dll. Namun ternyata ritual jum’at di desa tersebut sama persis dengan kebanyakan yang ada di kota Jakarta. Kami duduk di dalam masjid tersebut mendengarkan khutbah, beberapa orang dari penduduk tersebut menoleh kepada kami tanpa ada pandangan aneh terhadap kami seolah mereka menampakkan wajah selamat datang kepada kami. Yah begtulah shalat jum’at di desa tersebut cukup kami nikmati, setelah menjama’ dengan shalat ashar sekali lagi kami panjatkan do’a-do’a kami kepada Allah ta’aalaa sebagai musafir kami berharap do’a-do’a tersebut pun segera diijabah oleh-Nya. Aamiiin.

Usai jum’atan kami kembali ke tempat istirahat sambil bersiap melakukan perjalanan kembali. Sebelumnya saya meminta dibuatkan es teh oleh pemilik warung tempat kami beristirahat namun ketika saya bayar malah ia tidak mau, terpaksalah saya selipkan uang tersebut dengan lebihan dikit diatas meja.

13:00 – 17:00

Perjalanan kami lanjutkan hingga sekitar satu setengah jam kami tiba di persimpangan Rawalo. Kami sempat bingung harus mengambil jalur kiri atau kanan. GPS menunjukkan arah terdekat adalah mengambil jalur kanan melewati Sampang dan Kemrajen kemudian ke kiri mengarah ke kota Banyumas, setelah di kota Banyumas mengambil kanan dan lurus terus hingga sampai Wonosobo. Akan tetapi penduduk setempat menyarankan mengambil jalur kiri melewati purwokerto kemudian mengambil kanan ke arah kota Banyumas lalu ke kiri menuju Wonosobo.

Setelah diskusi sebentar akhirnya kita sepakati mengambil jalur kanan melewati Sampang dan Kemrajen. Ternyata membaca jalur ini tidak semudah membaca jalur yang ada di GPS, mungkin karena jalanan cukup macet dan tidak terlalu berbeda antara jalur utama dan jalur alternatif atau atara jalan raya dan bukan jalan raya, semua hampir sama. Dan benar saja, kami merasa perjalanan kami sudah jauh namun ada yang terasa aneh. Ketika menemukan persimpangan jalan besar kami pun berhenti lagi untuk melihat GPS dan ternyata kami sudah melenceng sangat jauh dari jalur yang disarankan GPS. Saat itu kami sudah sampai di Gombong Kabupaten Kebumen. Berarti harus balik lagi, namun serasa berat bagi kami untuk balik lagi. Namun ketika kami melihat ada penunjuk arah ke Banjarnegara melalui jalur alternatif ke kiri maka kami bertanya ke tukang becak untuk memastikan. Tukang becak tersebut mengiyakan jalut alternatif ini bisa tembus ke Banjarnegara setelah di waduk Sempor belok kanan.

jalur Gombong-Sempor-Banjarnegara

Akhirnya kita sepakat tuk mengambil jalur tersebut. Jalut alternatif ini begitu sempit, berliku dan naik turun,  namun pemandangannya lumayan indah karna membelah bukit. Karna waktu sudah sore agar tidak kemalaman sampai di Dieng, maka saya putuskan lebih memacu motor kami berdua, dan alhamdulillah tak lama kemudian kami bisa tembus di jalan raya Banjarnegara-Wonosobo yang berarti kami sudah kembali ke rute yang benar.

Karena sudah merasa tenang, di Banjarnegara kami istirahat kembali, mengisi bahan bakar si Supri dan kita pun makan bakmi jamur. Di warung bakmi tersebut pemilik warung dan istrinya begitu ramah dengan lebih dulu menanyakan tujuan kami dan mereka pun menyarankan kalau mau ke Dieng sebaiknya jangan melalui Wonosobo karna khawatir macet di kota tersebut. Mereka menyarankan dari Banjarnegara tersebut mengambil ke kiri melalu jalur alternatif melewati pegunungan pasti akan terhindar oleh macet, dan jalanannya pun menurut mereka sekarang sudah bagus dan tak perlu khawatir tersasar karna ada petunjuk jalan menuju Dieng disana. Wah kami pikir sudah dekat nih maka kami putuskan mengikuti saran pemilik warung bakmi tersebut setelah selesai makan.

17:00-21:00

Ternyata saran yang kami ikuti dari pemilik bakmi tersebut tidak sedekat yang kami kira. Bahkan terlalu berat untuk dilewati pada malam hari. Hingga maghrib tiba petunjuk arah di jalur tersebut menunjukkan Dieng masih 30 km lebih lagi. Dengan demikian kami harus melalui jalur sempit pegunungan ini pada malam hari. Kabut pun turun, jarak pandang meskipun dengan lampu utama motor hanya sekitar 10 meter. Kami terpaksa jalan sangat pelan-pelan dan berhati-hati. Supri yang saat itu sengaja di depan agar tidak terlalu tertinggal oleh Siti berkali-kali sempat masuk ke jalur berlawanan dan hampir keluar jalur kekiri menyentuk dinding bukit, untung saja saya bisa mengawasi dari belakang sambil berteriak. Karna merasa lampu penerangan Supri ga bagus untuk menembus kabut akhirnya Siti kembali di depan, namun jalan tetap sangat perlahan dengan kecepatan antara 10-20 km/jam. Perjalanan semakin berat karna dingin khas Dieng mulai terasa menusuk tubuh. Saya yang kebetulan hanya menggunakan sarung tangan setengah jari merasakan beku di ujung-ujung jari sehingga hampir-hampir tidak sanggup memegang kendali motor. Namun uniknya ketika kami sudah bertemu perkampungan ternyata disitu masih ada SPBU Pertamina, well segera saja kami istirahat sejenak untuk melaksanakan shalat maghri dan isya di jama’ kembali.

Permasalahan bertambah ketika kami tiba di antara desa Wanareja (bukan kota Wanareja di Cilacap yang telah kami lewati) dan desa Grogol. Ban motor Supri kembali bocor pada pukul 19:30, saya pun sempat panik dan bingung hingga mengisi status di FB dengan “jangan menyerah” karena suasana saat itu begitu gelap dan sepi. Namun saya teringat firman Allah إن مع العسر يسرا (sesungguhnya dalam sebuah kesulitan ada banyak kemudahan). Akhirnya kami melanjutkan perjalanan semakin pelan lagi dengan keadaan supri gembos ban, Bro Dani pindah ke Siti dan Supri di bawa oleh Medi yang lebih kurus supaya tidak terlalu merusak ban.

Setelah beberapa saat berjalan kami menemukan perkampungan dan disitu ada tukang tambal ban yang sudah tutup. Medi yang bisa berbahasa Jawa kami minta untuk mengetuk pintu pemilik bengkel tersebut. Sang ibu pemilik bengkel tersebut keluar dan menyambut kami dengan ramah tanpa ada rasa curiga sedikitpun, namun ia meminta maaf karna suaminya sedang tidak ada di rumah jadi tidak mungkin bisa membantu. Beberapa warga yang baru usai melaksanakan shalat Isya di masjid pun menghampiri kami dan menyuruh kami ke atas sedikit karna di sana pun ada tukang tambal ban. Kami lanjut lagi ke atas dan tukang tambal ban disitu pun ternyata sudah tutup. Kami ketok pintu rumah pemilik tambal ban tersebut, cukup lama tidak ada yang menyahut, alhamdulillah setelah sekitar 10 menit ibu pemilik bengkel tersebut pun keluar namun sayangnya ia mengatakan suaminya pun sedang ‘mudun’ (turun ke bawah) jadi ga bisa bantu. Namun ia mengatakan ada lagi bengkel tambal ban ke atas namun cukup jauh di Desa Grogol atau harus turun lagi ke bawah sekitar 1 km di desa Wanareja, itu pun masih untung-untungan apakah laki-laki yang bisa mengerjakan tambal ban ada dirumah.

Kami memutuskan Medi untuk turun ke bawah membawa Siti untuk memastikan bisa atau tidaknya Supri ditambal bannya di situ. Tidak lama kemudian Medi kembali mengabarkan bahwa benar 1 km ke bawah ada tukang tambal ban dan pekerjanya pun mau membuka bengkelnya kembali untuk menolong kami. Salut…. saluuut kepada penduduk desa ini, mereka semua begitu ramah dan mudah memberikan pertolongan. Bahkan ketika Supri selesai di tambal, pemilik bengkel hanya meminta harga normal tambal ban yaitu Rp 5.000,-, sekali lagi kami salut dan sebagai ungkapan rasa syukur pun bro Dani memberikan uang Rp 10.00,- kepada pemilik bengkel tersebut. Itu pun pemilik bengkel menolak dan berkeras akan mengembalikan namun bro Dani tetap memaksa ga usah dikembalikan. Sekali lagi salut saluuuuut….

Selain itu sambil menunggu Supri ditambal kami sempat ngobro-ngobrol dengan keluarga pemilik bengkel tersebut dan sempat ditawari masuk ke dalam rumahnya, namun kami menolak dan cukup diluar saja sambil memperhatikan Supri yang sedang di tambal. Menurut pemilik bengkel tersebut Dieng tinggal sekitar 45 menit perjalanan lagi. Wah… wah… waaaah… 45 menit perjalanan bukanlah waktu yang sebentar mengingat rute yang ditempuh adalah jalan kecil, gelap, berliku ditambah lagi diliputi kabut yang dingin membekukan jari-jari. Tapi jangan menyerah perjalanan harus dilanjutkan.

Setelah Supri selesai ditambal, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga pemilik bengkel tersebut lalu perjalanan kami lanjutkan kembali. Dan benar saja 30 menit kemudian kami sampai di desa Batur, lalu 15 menit setelah itu tibalah kami di desa Dieng tempat yang kami tuju.

21:00

Setiba di desa Dieng, terlihat begitu banyak penginapan dan homestay, namun cukup banyak pula pengunjung yang sudah tiba disitu kebanyakan dari mereka menggunakan mobil berseri B yang artinya dari Jakarta. Kami sempat mencari-cari sejenak penginapan yang cocok buat kami. Hingga bertemu penginapan Pondok Lestari yang menawarkan kamar dengan kamar mandi di dalam serta TV seharga Rp 250.000,-. Kami sempat diam dan berpikir, namun seolah pemilik penginapan tersebut memahami sesuatu dari kami dan ia pun menawarkan kamar yang lebih sederhana yaitu di rumahnya beberapa meter dari Pondok Lestari tersebut dengan harga Rp 125.000,-.

Ternyata setelah tiba di penginapan tersebut, kami merasa ini justru lebih dari cukup, karna meskipun kami hanya menyewa satu kamar namun serasa kami seolah menyewa satu rumah. Full AC (AC Alam Dieng), TV dan kamar mandi yang bebas. Ditambah lagi kami diberikan kue-kue lebaran di penginapan tersebut. Setelah tertarik dengan penginapan tersebut, bro Dani masih menyempatkan menawar dengan harga Rp 100.000,- dan alhamdulillah disepakati, karena memang informasi yang saya terima dari internet, penginapan di Dieng yang sederhana berkisar antara Rp 60.000 – Rp 100.000,-. Untuk yang tertarik dengan penginapan yang kami gunakan di Dieng bisa menghubungi bapak Ahmad Haidar di 081325671508.

Segera motor kami masukan ke dalam rumah, barang-barang pun kami letakkan di kamar. Setelah itu kami menghangatkan badan sejenak dengan kopi luwak dan kopi radix kembali. Setelah badan terasa hangat, kami sempatkan keluar mencari makan, meski sudah banyak yang tutup namun alhamdulillah kami masih bertemu tukang nasi goreng dengan harga hanya Rp 7.000,-. Sebuah harga yang murah untuk daerah wisata. Setelah kenyang kami pun kembali penginapan dan tidur meringkuk menahan dingin Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuh kami. Zzzzzzzzz……….

Bersambung ke day 3rd & 4th

Tour de Dieng – Dieng Plateau, Wonosobo Jawa Tengah (Pre Day)

Baru kali ini saya akan menulis catatan perjalanan secara langsung atau sambil proses perjalanan itu berlangsung yang dibagi dalam potongan-potongan harinya. Kali pertama ini, saya akan menulis catatan perjalanan saya ke Dieng Plateau (dataran tinggi Dieng), Wonosobo, Jawa Tengah.

Rencana bermula dari bulan Ramadhan atau bahkan sebelum Ramadhan saya menginginkan sekali touring jarak menengah-jauh, paling tidak di luar Jawa Barat. Sejumlah destination bermunculan. Ada Lampung-Palembang, Jogjakarta, Bromo, Dieng bahkan Bali. Karna masih ada waktu sekitar sebulan dicobalah cari-cari teman perjalanan yang kira-kira tertarik dengan destination tersebut di dunia nyata maupun di dunia maya baik dari Facebook maupun Yahoo Chatting Room. Maklum ga gampang mencari teman yang bisa jalan seperti ini, sebagaimana tahun lalu pun sebelum Ramadhan saya sempat backpackeran hiking ke gunung Papandayan Garut bersama 4 orang teman yang mana 3 diantaranya adalah kenalan di Facebook.

Ternyata sampai lebaran tiba tanggal 31 Agustus 2011, tak satupun menemukan teman yang sejalan. sampai malamnya pun masih mencari-cari teman masih ga ketemu juga. Ya sudah deh pasrah aja tidur kemungkinan besok ga jalan, atau dilanjutin dipikirin besok harinya mau kemana meskipun harus sendiri cuma sekedar di daerah Jawa Barat aja misal ke Ujung Genteng yang pernah saya sambangi di liburan lebaran tahun lalu.

Namun, pada pertengahan malam saya terbangun sekitar jam 2. Hmmmmm kembali terpikirkan lagi, kira-kira kemana ya. Coba-coba membuka lagi daftar kontak BBM saya, terlihat disitu ada dua nama. Satu nama sudah saya tawarkan sebelumnya namun sempat beralasan motornya lagi bermasalah, saya coba tawarkan lagi tapi tetap saja ga berhasil kali ini alasannya takut macet, yo weiss laa ba’s (jawa – arab dikit bahasanya nih). Satu teman lagi bernama Dani al Maidany (Dani red:) yang tahun lalu pun jalan bareng ke gunung Papandayan, beberapa hari lalu beliau menawarkan hiking ke gunung Ceremai, Kuningan. Saya sempat sedikit tertarik, tapi karna rasa ini lebih cenderung kepada touring jarak menengah maka saya tangguhi dulu kesepakatannya hingga pada malam setelah lebaran saya kabari kepastian tuk ikut atau ga-nya.

Well…. sebelum mengkontak Dani saya memang sudah hampir teguh pendirian untuk memutuskan pergi ke Dieng saja meskpun sendirian, terlebih lagi setelah membaca blog ini. Oke saya mantap, barulah saya kontak Dani melalui BBM sekitar jam 3 tuk mengabari bahwa saya ga jadi ikut ke Ceremai dan memutuskan solo ride ke Dieng. Ternyata Dani mengabari bahwa sudah 3 orang membatalkan ke Ceremai, langsung saja saya tawarkan beliau tuk ikut saya aja ke Dieng. Hanya butuh waktu 1-2 jam berpikir akhirnya Dani mengabarkan sepakat. Yesss …. alhamdulillah… ada teman….. Oke selanjutnya tinggal memperkuat azzam dan tawakkal serta doa.

Kita memutuskan akan berangkat pukul 13.oo Kamis ini 01 September 2011, dari meeting point SPBU Lenteng Agung yang akan menempuh jalur selatan menggunakan 2 motor; Siti (Honda Tiger Revo 2008) dan Supri (Honda Supra X 125), bermodalkan navigasi map di BB karna kita berdua belum pernah kesana. Dan selanjutnya insya Allah reportase akan dilanjutkan melalui tulisan berikutnya yang akan saya posting melalui aplikasi wordpress yang sudah tersedia di BB. Bila tidak ada reportase lanjutan mungkin disebabkan tak sempat atau ternyata batal karna ada hal-hal yang diluar kehendak kami berdua namun Allah menghendaki itu.

بسم الله توكلت على الله لا حول و لا قوة ألا بالله العظيم

bersambung ke Day 1st