Curug Citambur

image

Terletak di Kabupaten Cianjur menjelang perbatasan dengan Kabupaten Bandung. Jarak dari jakarta sekitar 200 km, dapat ditempuh melalui Bandung melewati Ciwidey atau langsung melewati Cianjur. Overall jarak keduanya hampir sama, namun bila melewati Bandung tentu jalurnya lebih ramai dan padat sampai melewati Rancabali. Bila melewati Cianjur, selepas Cianjur kota kita akan dihadapi jalanan yang lebih lengang dan naik turun perbukitan.

image

Mungkin dinamakan Citambur (ci=air, tambur=drum) karrna suara air terjun ini yang keras seolah drum yang ditabuh, dan memang saja air terjun ini jatuh dalam kungkungan lembah yang bila didekati suaranya dan hempasannya begitu luar biasa, saya sampai mengistilahkan hujan abadi di radius 100-200 meter disekitarnya, sampai-sampai susah sekali mengambil panorama air terjun ini dengan handphone dikarenakan hujan abadi tersebut.

Memasuki curug Citambur anda akan dikenakan retribusi 7.000 rupiah ditambah parkir kendaraan. Air terjun ini masih jarang dikunjungi sehingga tidak terlalu ramai pengunjung sekalipun memang tidak sesepi dan seterpencil curug Malela yang terletak dekat perbatasan Bandung-Cianjur juga.

image

Well… kesan yang saya rasakan ketika kesana adalah, keperkasaan Tuhan yang terlihat dari ciptaan-Nya di alam semesta ini sehingga membuat saya begitu lemah di hadapan-Nya. Di sisi lain juga memasuki daerah ini saya merasakan sekali nuansa pedalaman Cianjur yang begitu kental nuansa pedesaannya dan jauh dari hingarnta Puncak atau Cipanas yang selama ini menjadi tujuan utama wisata di Cianjur.

Curug Malela, Niagara Mini Indonesia

Pada tahun 2013 lalu, saat weekend terakhir menjelang puasa atau tepatnya pada hari Sabtu rasa bosan menyelimuti saya di pagi itu. Sekitar setahun lebih kosong dari aktivitas touring semenjak saya dirawat di RS karena penyakit maag kronis. Otomatis perasaan menggebu-gebu untuk kembali touring mengendarai motor kesayangan ke luar kota terlebih lagi beberapa hari kedepan akan masuk Ramadhan. Kontan saja tanpa pikir panjang lagi saya bulatkan tekad untuk pergi touring hari itu juga. Dan tempat yang saya putuskan untuk saya tuju adalah Curug Malela.

Curug Malela sering diistilahkan oleh para netizen sebaga Niagara Mini Indonesia, karena memang bentuknya yang mirip air terjun Niagara dalam skala yang kecil. Posisi Curug Malela berada di perbatasan Cianjur dan Kab. Bandung Barat. Bila mendengar posisinya yang berada di antara Cianjur dan Bandung Barat terkesan dekat dari Jakarta namun ternyata akses menuju kesana tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk menuju Curug Malela bisa diakses melalui Cianjur atau melalui Cimahi, Bandung. Saya memutuskan mengaksesnya melalui Cimahi, Bandung.

Setelah memantapkan tekad untuk touring hari itu juga, maka sekitar jam 10 pagi saya bertolak dari Jakarta memacu Honda Tiger Revo saya melewati Bogor, Puncak, Cianjur, Padalarang dan Cimahi. Sesampai di Cimahi, petunjuk jalan menuju Curug Malela sudah kelihatan yang mengharuskan saya belok ke kanan. Dalam benak saya, suatu tempat wisata bila dituliskan di petunjuk jalan di atas jalan raya berarti tempat tersebut mudah diakses dan banyak dikunjungi. Maka ketika melihat petunjuk jalan tersebut saya berpikir lokasi sudah dekat.

Namun setelah 2 jam berkendara dari Cimahi (termasuk satu jam macet-macetan karena berbarengan dengan pendukung Persib yang hendak ke stadion Jalak Harupat) lokasi yang dituju tidak kesampaian juga. Rasa lelah menghantui tubuh saya maklum karena kondisi belum 100% fit semenjak sakit dan akhirnya penyakit maag saya kambuh saat itu. Kepala pusing dan keleyengan dicampur rasa paranoid memaksa saya untuk menepi disebuah pom bensin mencari mushalla dan tidur sejenak. Selepas tidur kondisi sedikit membaik namun tidak cukup untuk membulatkan keberanian saya untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Cimahi, kebetulan disana ada rumah saudara saya yang kosong sehingga saya bisa beristirahat total menghabiskan malam, leyeh-leyeh serta mencari kuliner yang enak di Cimahi malam itu.

Pagi harinya badan terasa cukup fit untuk melanjutkan perjalanan, maka tekad mencapai Curug Malela pun kembali dilanjutkan pagi itu. Jalanan pagi itu di Cimahi cukup lengang sehingga riding begitu enak untuk dinikmati ditengah udara Bandung yang ada dingin-dinginnya. Istirahat sebentar di Cililin untuk nyabu (nyarap bubur) kemudian perjalanan dilanjutkan kembali terus melintasi terusan waduk Saguling, menelusuri jalan yang semakin lama semakin kecil menaiki gunung dan berkelok-kelok serta sudah tidak bisa dikatakan mulus lagi aspalnya.

945917_4964750965310_1619851478_n

Perkebunan teh Rongga

Sekitar 2,5 jam berlalu perjalanan tanpa kemacetan namun masih belum ada tanda-tanda berarti yang menunjukkan Curug Malela tinggal sepandangan mata, saya pun tiba di perkebunan teh Rongga. Dan akhirnya setengah jam lagi berkendara dari perkebunan teh tersebut tibalah saya di gerbang/gapura selamat datang Curug Malela. Akhirnya sampai juga pikir saya, namun ternyata alih-alih senang karena sudah tiba di tujuan justru dari gerbang selamat datang tersebutlah tantangan yang sesungguhnya dimulai untuk mengakses Curug Malela. Di gerbang selamat datang tersebut saya tidak dipungut bayararan sepeser pun untuk memasuki kawasan Curug Malela sekalipun disitu terlihat ada pos penjagaan namun tidak ada orang yang menjaganya, dari situ saja saya sudah melihat kejanggalan dari tempat wisata ini.

 

IMG00398-20130616-0944

Welcome gate Curug Malela

Sebagaimana disebutkan di atas, tantangan justru dimulai dari gerbang selamat datang. Yup setelah melewati gerbang ini jalur sangat tidak karu-karuan. Tanjakan, turunan disertai jalan yang hancur seperti habis di bom karena penuh kerikil dan batu-batu tajam. Kadangkala harus melewati jalanan tanah yang becek dan berlumpur, belum lagi harus berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut kayu. Sungguh ini bukanlah medannya motor Tiger sekalipun Tiger adalah motor penjelajah. Medan ini benar-benar off road dan cuma layak dilewati oleh motor-motor semisal Kawasaki KLX.

Setelah satu jam berkutat dengan perjalanan yang menantang tersebut, tibalah saya di penghujung jalan yang tidak bisa dilalui motor lagi, selanjutnya motor harus diparkir ditempat tersebut. Suasana disitu sangat sepi, hanya ada dua buah warung dan selain saya ada 3 motor Bajaj Pulsar 200 yang merupakan milik pengunjung lainnya. Motor pun saya parkir di depan warung sambil beristirahat dan bertanya-bertanya kepada pemilik warung tersebut.

1013676_4967493353868_1031284799_n

Dari tempat parkiran motor, untuk mencapai lokasi Curug Malela dibutuhkan berjalan kaki kurang lebih sejauh 1,5 km melewati persawahan dan sedikit semak. Setelah itu barulah kita tiba di Curug Malela, Niagara Mini Indonesia. Sayangnya ketika saya kesana saat itu sedang musim penghujan sehingga air cenderung keruh kecoklatan mengurangi keindahan Curug Malela sendiri.

malela

Tidak terlalu berlama-lama di Curug Malela, selanjutnya saya putuskan untuk kembali ke parkiran motor dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Setelah mengisi perut, saya pun bertolak menuju Jakarta namun kali ini saya memutuskan untuk tidak mengambil jalur Cimahi, tapi saya mengambil jalur yang langsung menuju ke Cianjur dengan harapan bisa memangkas jarak. Yup jarak memang terpangkas tapi waktu tempuh sama saja, hal ini dikarenakan jalan rusak yang harus ditempuh untuk bisa keluar ke jalan raya terusan Cianjur lebih panjang dan lebih hancur daripada jalan yang keluar menuju Cimahi.

Jalan keluar menuju Cianjur membelah hutan dan sangat hancur sekali, sangat berbahaya dikala hujan yang kebetulan saat itu pun sedang hujan, sehingga dua kali saya terjatuh dari motor sampai menyebabkan luka karena kaki saya menghantam bongkahan batu jalanan.

Butuh 2 jam melalui jalan hancur tersebut hingga akhirnya tiba di jalan raya dengan aspal mulus yang mengarahkan kita ke kota Cianjur untuk 1 jam perjalanan kemudian.

IMG_20160306_090941[1]

Tiang-tiang Memori Curug 7 Cilember

Curug 7 Cilember letaknya di Kabupaten Bogor, tepatnya dari jalan raya Puncak-Cisarua, dari arah jakarta belok ke kiri menyusuri jalan kurang lebih 5 km. Kini sudah ada plang petunjuk arah yang menunjukkan jalan akses menuju curug 7 cilember. Ketika sampai di pos pendaftaran atau pintu gerbang tempat wisata ini masih harus berjalan kaki lagi sejauh 1 km barulah akan sampai di air terjun (curug) 7 Cilember. Di Lokasi wisata curug Cilember ini sendiri terdapat 7 buah air terjun yg masing-masing jaraknya kurang lebih 0,5-1 jam perjalanan, yang terdekat dari pos pendaftaran adalah curug 7 dan yang terjauh curug 1 dan 2.

Dulu ketika pertama kali saya mengunjungi tempat ini pada waktu SMP, tempat ini terlihat kurang diperhatikan dan dieksplorasi oleh pemerintah setempat. Belum ada pemondokan dan para penjual aksesories, hanya beberapa warung makan terbuat dari kayu yang sudah terlihat tua. Ketika saya camping saat itu bersama teman-teman, masih terasa seperti berada di alam liar.

Namun kini tempat wisata ini sudah mengalami banyak perubahan. Mulai dari pintu gerbang yang sudah berbentuk gapura beton, jalan setapak yg sudah tertata rapi dihiasi dengan jembatan-jembatan dari bambu bercat warna hijau juga kolam-kolam kecil berisi ikan, 3-4 buah pemondokan indah dari kayu dengan harga berkisar 1,2 juta rupiah permalamnya, banyak penjual aksesories dan semakin banyak kantin, mushalla yang kecil namun bagus dan berlantaikan keramik hingga terdapat taman kupu-kupu. Sehingga ketika terakhir saya mengunjungi tempat ini, terasa sangat berbeda sekali seolah aroma alam liarnya sudah hilang. Meski demikian tidak mengurangi daya tarik air terjun yang ada di sana.

Meski tidak terlalu istimewa di mata kebanyakan wisatawan, namun bagi saya tempat ini begitu istimewa karna setiap kali saya mengunjungi tempat ini selalu mewakili fase perjalanan hidup dan orientasi jiwa yang berbeda-beda. Bahkan saya dan teman-teman (beberapa laki-laki dan wanita) pernah di hukum oleh penjaga wisata ini dengan push up dan pull up lantaran kami menerobos masuk tempat wisata ini tanpa melalui pos pendaftaran, mengikuti petunjuk dari penduduk setempat.

“One place Thousand reminders”