Luasnya Ampunan Allah

Abu Nuwas berkata :

يَا رَبِّ إِنْ عَظُمَتْ ذُنُوْبِي كَثْرَةً … فَلَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ عَفْوَكَ أَعْظَمُ

Ya Robku, jika dosa-dosaku telah banyak bertumpuk…maka sungguh aku mengetahui bahwasanya ampunanMu lebih luas…

إَنْ كَانَ لاَ يَرْجُوْكَ إِلاَّ مُحْسِنُ … فَمَنِ الَّذِي يَرْجُو وَيَدْعُو الْمُجْرِمُ

Jika yang bisa berharap kepadaMu hanyalah orang yang baik…lantas kepada siapakah seorang pendosa berharap dan berdoa…?

مَالِي إِلَيْكَ وَسِيْلَةٌ إِلاَّ الرَّجَا وَجَمِيْلُ عَفْوِكَ ثُمَّ إِنِّي مُسْلِمُ

Aku tidak bisa sampai kepadaMu kecuali dengan mengandalkan pengharapan…dan indahnya pemaafanMu lalu aku menyerahkan diriku…

Yang lain juga berkata :

وَلَمَّا قَسَى قَلْبِي وَضَاقَتْ مَذَاهِبِي … جَعَلْتُ رَجَائِي نَحْوَ عَفْوِكَ سُلَّمَا

Tatkala keras hatiku dan telah sempit semua jalan….akupun menjadikan harapanku sebagai tangga menuju ampunanMu…

تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا

Dosaku terasa sangat besar bagi diriku, akan tetapi tatkala aku bandingakan dengan ampunanMu wahai Robku….ternyata ampunanMu lebih besar…

(Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rojab Al-Hanbali dalam Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam 3/1163)

Iklan

ketika Allah Menyayangiku

Bulan April yang lalu adalah bulan yang penuh dengan hikmah dan pembelajaran yang sangat besar bagi saya. Di saat itulah saya mendapatkan ujian atau teguran dari Allah ta’aalaa dengan suatu penyakit yang praktis membuat saya harus berhenti beraktivitas seperti sedia kala.

Hal yang patut saya syukuri adalah tentunya masih banyak orang lain yang mendapatkan musibah dan cobaan atau ujian lebih besar dari yang saya rasakan. Namun sebagai hamba yang merasa lemah dihadapan Sang Khalik, hal itu tetap terasa berat kurasa karena memang tak pernah saya merasakan penderitaan seperti ini sebelumnya. Karena itulah tak henti ku berdoa memohon ampunan dari Allah atas segala dosa-dosa saya yang mungkin menyebabkan saya menerima teguran seperti ini, berpikir positif dan berprasangka baik kepada-Nya akan ujian yang sedang saya terima tersebut sambil mengharap ridha dan rahmat-Nya agar ujian/cobaan ini bisa saya lalui dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

Mungkin pembaca sekalian pernah mengalami hal yang lebih berat dari yang saya rasakan, atau mungkin belum pernah merasakannya. Tapi itu tidaklah penting, yang terpenting dari alasan saya menulis pengalaman di blog ini adalah agar kita semua ketika mendapatkan musibah, ujian atau teguran sepahit dan seberat apapun tetap berpikir positif, bersabar dan berprasangka baik kepada Allah yang tentunya atas kehendak-Nya-lah hal itu terjadi dan atas kehendak-Nya pula lah semua itu disingkirkan. Senantiasa berdoa mengharap ridha, taufiq dan rahmat-Nya adalah hal mutlak di samping segala ikhtiar yang kita kerjakan untuk melewati itu semua.

Pada tanggal 31 Maret 2012, tepatnya menjelang maghrib saya mulai merasakan sakit di dada sebelah kiri. Selepas maghrib rasa sakit itu semakin menjadi hingga membuat saya sulit bernafas. Ketika waktu isya tiba saya memaksakan diri shalat isya dengan penuh kepayahan hingga pada saat selesai salam saya hampir pingsan dan merasa tidak kuat lagi. Saya pun dibawa ke UGD rumah sakit Harapan Bunda.
Di UGD dengan sigap saya ditangani. Tindakan yang paling sangat membantu saya adalah pemberian oksigen. Kemudian melihat keluhan yang saya alami dokter mengira saya mengalami serangan jantung. Namun setelah melalui pemeriksaan dengan stetoskop dan ECG, indikasi tersebut justru tidak ada. Dokter menyimpulkan hanya ada permasalahan di otot dada saya kemudian tercampur rasa cemas (stress) sehingga menyebabkan sensasi sesak. Akhirnya saya diperbolehkan pulang setelah diberi resep obat yang harus diminum. Selain itu dokter pun menyarankan kepada saya agar hari senin untuk datang kembali mengikuti treadmill untuk lebih memastikan kebenaran ada atau tidaknya penyakit jantung tersebut, karena pemeriksaan stetoskop dan ECG saja masih bisa berpeluang memberi hasil yang keliru.

Hari senin tepatnya tanggal 2 April 2012 saya pun mendatangi dokter kembali. Saya ceritakan bahwa kondisi saya membaik, rasa sakit di dada menghilang. Saya pun melaksanakan treadmill selama kurang lebih 15 menit, setelah melalui pemantauan dokter di komputer yang saya tidak tau cara membacanya, dan melalui laporan hasil akhir treadmill tersebut, dokter memastikan bahwa jantung saya masih berfungsi dengan baik dan tidak ada gejala serangan jantung sedikitpun. Alhamdulillah saya bersyukur sekali mendengarnya. Namun kemudian dokter tersebut mengingatkan saya kembali bahwa rasa sakit dan sesak itu kemungkinan disebabkan oleh otot dada yang disertai stress, atau ada kemungkinan lain yaitu adanya permasalahan di paru-paru saya.

Saya sudah merasa puas dengan hasil pengobatan tersebut, sehingga tidak lagi memastikan kecurigaan dokter mengenai permasalahan yang mungkin ada di paru-paru saya. Dan ternyata sekitar 2 pekan kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 13 April 2012, selepas maghrib saya pun merasa sesak kembali seperti gejala yang pernah saya alami sebelumnya namun kali ini tidak disertai rasa sakit di dada sebelah kiri. Saya pun harus masuk UGD lagi untuk penanganan darurat namun kali ini dokter yang menangani saya bukanlah dokter yang sebelumnya yang merupakan dokter spesialis jantung. Seperti biasa, tindakan yang sangat membuat saya lebih nyaman adalah pemberian oksigen.

Dokter yang menangani saya hanyalah dokter umum. Nampak sepertinya ia tidak bisa atau tidak mau mendiagnosa penyakit saya. Ia pun menyarankan agar saya dirawat untuk diobservasi lebih lanjut atau segera dirontgen. Saya sangat tidak menyukai tinggal di ruang perawatan rumah sakit tentunya, sehingga saya memutuskan dirontgen saja. Setelah dirontgen dan diketahui hasilnya ternyata saya disimpulkan mengidap penyakit bronchitis. Sebuah penyakit yang baru bagi saya, ada sedikit rasa cemas memikirkan sejauhmana bahaya penyakit tersebut. Akan tetapi setelah keluhan saya mulai menghilang saya diperbolehkan pulang setelah membeli obat sesuai resep yang diberikan oleh dokter umum tersebut. Dan bila obatnya sudah habis, saya disarankan untuk datang ke dokter spesialis paru.

Setiba dirumah obat pun saya minum. Reaksi obat segera saya rasakan berupa debar jantung yang drastis meningkat yang ternyata disebabkan oleh obat bronkodilator. Hingga keesokan harinya efek samping itu masih saya rasakan, ditambah lagi saya semakin lemas rasanya sampai-sampai dari pagi hingga siang saya habiskan waktu dengan tidur saja. Pada menjelang sore hari ada pekerjaan yang harus saya lakukan, saya coba untuk melakukannya namun tubuh semakin lemas dan nafas terasa sesak. Hujan tiba-tiba turun dengan deras, suhu terasa menurun drastis, langsung saya diterpa demam dan sesak yang hebat sehingga saya mengeluarkan keringat dingin. Karena merasa tidak tahan lagi saya pun harus dibawa kembali ke UGD. Di UGD langsung ditangani dan sudah tidak diperbolehkan pulang lagi karna harus dirawat.

Dimulailah beberapa hari kedepan saya jalani terbaring di ruang perawatan rumah sakit, serasa dipenjara dengan tangan ‘diborgol’ oleh infusan. Sekitar 3-4 hari pertama penyakit saya masih kambuh terutama menjelang sore atau selepas maghrib. Betapa saya melihat iba yang terpancar dari orang-orang yang menjenguk saya yang kebetulan melihat saya sedang berjuang melawan rasa sakit yang saya rasakan ketika penyakit itu sedang kambuh. Ternyata setelah memasuki ruang perawatan, penyakit saya bertambah dengan dispepsia (semacam penyakit maag yang juga bisa menyebabkan sesak nafas). Sepertinya melihat hal ini, dokter spesialis paru yang menangani saya mulai menyimpulkan ada stress dan depresi yang saya alami. Well… menurut saya pribadi kalaupun dispepsia itu muncul karna stres dan depresi yang saya alami, saya merasa hal itu terjadi lebih besar karena rasa bosan yang teramat sangat saya rasakan dengan hanya berada diruang perawatan berhari-hari. Akhirnya saya pun diberi obat anti depresan (frizium). Dan terus terang obat itu tidak setiap hari saya minum karna saya merasa khawatir akan ketergantungan. Saya lebih berusaha mencari pengobatan untuk hal ini dengan memperbanyak dzikir untuk ketenangan jiwa saya

Selain ikhtiar medis saya lakukan, alhamdulillah Allah masih memberikan taufiiq kepada saya untuk memperkuat ibadah dan doa yang tak henti meskipun badan ini begitu lemah. Dan Alhamdulillah setelah 4 hari Allah mengijabah doa saya dengan saya tidak merasakan lagi kambuhnya penyakit saya, namun rasa stress dan depresi akibat berada di ruangan tersebut tetap saja saya rasakan. Semenjak saya tidak merasakan kambuhan penyakit saya, saya pun mulai berkomunikasi agar diizinkan pulang, hingga akhirnya pada hari ke-6 saya diperbolehkan pulang tepatnya pada hari Jum’at tanggal 20 April 2012.

Saya berharap hari Jum’at tersebut pagi-pagi sekali bisa pulang, ternyata karena urusan birokrasi dan administrasi rumah sakit menyebabkan saya baru bisa pulang sekitar pukul 11 siang. Hal itu menjadi stress tersendiri bagi saya yang memang sudah tak betah berada di rumah sakit. Di lain sisi, saya pun merasa khawatir bila saya berada di rumah maka saya akan jauh dari penanganan medis seandainya penyakit saya tiba-tiba kambuh karena memang saya merasa tubuh saya belum pulih benar, masih merasakan lemas, dan ternyata hal ini juga menyebabkan stress tersendiri. Namun saya memberanikan diri melawan rasa takut tersebut sehingga memutuskan tetap pulang ke rumah.

Setiba di rumah, benar saja penyakit saya kambuh lagi, selain memang saya masih sangat lemas, rasa sesak masih muncul sehingga semua ini membuat saya harus berbaring dan tidak sanggup menuju masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Namun saya sudah menyimpulkan bahwa sensasi sakit yang saya rasakan ini bukanlah semata karna penyakit yang ada di tubuh saya tapi lebih besar karena pikiran saya yang terbebani oleh stress dan depresi sebagaimana saya sebutkan di atas. Sempat terpikir untuk kembali lagi ke rumah sakit, namun saya memutuskan untuk tenang dan berzikir sebanyak mungkin , melawan penyakit saya dengan pikiran yang tenang bukan dengan penanganan medis di rumah sakit. Alhamdulillah sekitar jam 1-2 siang rasa sakit saya mulai mereda sehingga saya bisa bangkit untuk shalat zuhur menggantikan shalat jum’at yang saya tinggalkan.

Sementara itu semenjak saya sudah berada di rumah, saya juga menambah ikhtiar saya dengan meminum madu 100 gr per hari dan habbatussauda’ (jintan hitam) 6 butir sehari. Selain itu kakak saya juga membelikan saya suplemen yaitu bee propolis (resin/liur lebah) yang saya minum 3 butir sehari dan bee polen (nektar lebah) yang saya minum 2 butir sehari. Hal ini saya lakukan karna saya merenungi sebuah do’a yang diajarkan Nabi kita SAW ketika sakit yang berbunyi;

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, أَذهِبِ البَأسَ, اشفِ أَنتَ الشَّافِيءُ, لَا شِفَاءَ إِلّا شِفَاوءُكَ, شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Wahai Allah Engkau-lah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah… Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyebabkan komplikasi (efek samping)”.

Kemudian saya merenungi tentu kesembuhan yang diharapkan tanpa komplikasi adalah yang sesuai ajarannya pula tanpa saya meremehkan dan menafikan segala ikhtiar yang saya lakukan melalui perawatan dan pengobatan dari dokter. Perihal penyembuhan yang tersurat jelas dalam syari’at adalah yang bersumber dari lebah sesuai dengan surat An Nahl: 68-69:

“Dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah: “buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”

Dan juga sebuah hadits bahwasannya Nabi SAW bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ مِنَ السَّامِ. قُلْتُ: وَمَا السَّامُ؟ قَالَ: الْمَوْتُ

“Sesungguhnya jintan hitam ini merupakan penyembuh dari semua penyakit kecuali penyakit as saam.” Aku bertanya: “apakah as saam itu?” Beliau menjawab: “Kematian.” (HR Bukhari dan Muslim).

Keesokan harinya atau hari sabtu penyakit saya masih kambuh juga pada siang hari meski tidak sehebat sebelumnya. Namun saya tetap melawannya dengan perasaan tenang. Pada hari minggu hingga menjelang zuhur saya tidak merasakan kambuh lagi kecuali hanya lemas saja, saya memutuskan untuk memulai kembali shalat berjama’ah di masjid. Subhanallah…. Masjid yang hanya berjarak 200 m dari rumah saya serasa berjarak 1 km namun saya jalani dengan tenang, dalam hati saya berkata kepada Allah; “ya Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu yang beriman, maka tolonglah aku”. Ketika shalat di masjid tersebut pun saya merasakan penyakit saya kambuh, usai shalat saya segera pulang dan kembali berbaring di tempat tidur menenangkan diri dengan zikir melawat penyakit yang saya rasakan hingga saya tertidur. Dengan sangat sedih saya pun memutuskan untuk tidak shalat berjama’ah dulu di masjid hingga beberapa waktu. Pada hari minggu dan senin siang pun saya masih merasakan kambuhnya penyakit saya. Tapi saya perhatikan dari hari ke hari rasa sakit dari kambuhnya penyakit itu semakin menurun.

Saya dianjurkan untuk kontrol kembali pada hari rabu, namun karena saya merasakan masih sering kambuh maka saya memutuskan hari senin malam untuk kontrol lagi ke dokter yang menangani saya hingga saya menceritakan semua keluhan-keluhan yang masih saja saya alami. Alhamdulillah menurut pemeriksaan beliau paru-paru saya sudah membaik dan beliau menganjurkan untuk tidak beraktifitas di luar rumah terlebih dahulu. Rasa lemas yang muncul lebih disebabkan karena stamina yang belum kembali pulih setelah dirawat. Saya pun diberikan resep lagi berupa obat-obatan yang berguna untuk menghilangkan keluhan saya. Saya cari pengetahuan mengenai obat-obatan tersebut, karena saya merasa khawatir dengan efek sampingnya, saya habiskan yang sekiranya baik untuk dihabiskan dan saya hentikan minumnya yang sekiranya keluhan yang saya alami sudah menghilang.

Hari demi hari secara umum kondisi dan stamina saya makin membaik. Saya pun sudah sanggup untuk berjalan menuju masjid. Namun yang masih saya keluhkan adalah mudah lelah dan permasalahan di perut saya yang masih saja sering kembung, dan serasa setiap 2 jam harus diisi oleh makanan bila tidak akan terasa keram yang justru malah mengganggu pernafasan saya kembali. Sebagian orang mengatakan itu bagus supaya gemuk dan menambahkan stamina, namun bagi saya ini adalah hal yang aneh. Pernah saya mencoba puasa hari senin namun pada siang harinya saya tidak sanggup karna lemas yang teramat sangat sehingga harus berbuka. Jelas ini masih sebuah permasalahan dan gejala yang tidak normal dan menimbulkan tanda tanya besar sampai kapan saya harus begini, sedangkan saya ingin sekali bisa puasa sunnah tanpa terganggu oleh keluhan penyakit.

Saya ingin kontrol kembali ke dokter namun saya tidak akan merasa puas bila kontrol ke dokter yang sebelumnya menangani saya karena beliau dokter spesialis paru, sedangkan saya merasa paru-paru dan gejala pernafasan di paru-paru saya sudah baik, yang saya keluhkan adalah di sekitar perut. Akhirnya saya putuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Sukamto, Sppd di RSIA Hermina, Depok.

Tepat pada tanggal 1 Mei hari selasa saya kontrol ke RS Hermina tersebut malam hari. Dan ternyata menurut diagnosa dokter tersebut paru-paru dan darah pun sehat. Penyakit di perut yang saya rasakan lebih dipicu oleh kegelisahan, stress dan tekanan yang masih belum hilang di pikiran saya sehingga menimbulkan asam lambung yang berlebihan. Well…. Saya terima diagnosa tersebut dengan lapang dada meskipun selama ini saya sudah berusaha mengurangi segala beban dan tekanan di pikiran saya. Saya berpikir positif menganggap bahwa segala usaha saya untuk menenangkan jiwa dan pikiran saya masih kurang. Setelah menebus resep yang diberikan dokter tersebut saya pun kembali dan seolah memikirkan sebuah hidup baru yang penuh dengan ketenangan tanpa kecemasan.

Alhamdulillah hingga saat ini kondisi saya hari demi hari kian membaik meski masih terasa mudah lelah dan masih terapi obat dari dokter dan tentunya terapi obat-obatan yang terungkap oleh ayat-ayat ilahiyah yang tak akan saya hentikan demi kesehatan saya terus. Semoga Allah terus menyempurnakan kesembuhan saya hingga saya bisa beraktivitas sedia kala lagi. Menjalankan kembali amanah-amanah yang ada di pundak saya.

Di antara hikmah-hikmah yang mungkin bisa sedikit saya jabarkan disini adalah beberapa poin di bawah ini. Namun demikian mungkin ada hikmah-hikmah lain yang jauh lebih besar yang khilaf untuk saya tulis disini sebagai makhluk yang lemah, yang terpenting dari semua itu adalah berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah.

# Yakinlah bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah termasuk penyakit tersebut, namun penyebabnya adalah kita sendiri, bisa berupa kelalaian, dosa-dosa, ataupun merupakan ujian bagi keimanan kita. Maka memohon ampunlah sebanyak-banyaknya kepada Allah.

# Bersabarlah dan jaga aqidah kita ketika ditimpa musibah dari kemusyrikan berupa pengobatan-pengobatan yang melanggar syari’at, keputus-asaan karna tidak tahan dengan sakit yang dirasakan.

# Senantiasa berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah. Bahwa ada hikmah besar dibalik semua ini yang baik bagi kita selama kita menjalaninya dengan tulus dan penuh kesabaran.

# Bertawakkallah kepada Allah sekuat mungkin, lakukan ikhtiar semampu mungkin namun serahkan semua kepada Allah apa-apa yang hanya menjadi iraadah (kehendak) Allah berupa hasil dan kesembuhan. Lebih luas lagi jalanilah hidup ini dengan baik dan bahagia dan serahkan kepada Allah apa yang hanya menjadi iraadah-Nya dalam kehidupan kita, apakah itu rezeki, kesehatan, jodoh dan sebagainya. Jangan disibukkan pikiran kita dengan sesuatu yang memang hanya menjadi urusan Allah.

# Seorang dokter yang baik bukanlah dokter yang hanya bisa menghilangkan keluhan penyakit pasiennya, namun lebih dari itu yang bisa memberikan informasi kepada pasiennya sumber dan penyebab penyakit yang diderita dan bagaimana hal itu bisa dihindari untuk selanjutnya agar tidak terjangkit lagi, terlebih lagi dokter tersebut bisa mengajarkan perihal pola hidup sehat yang bisa menghindari pasiennya dari penyakit-penyakit yang lain.

# Apapun ikhtiar yang kita lakukan tentunya dalam kerangka yang dihalalkan oleh Allah, yakinilah kesembuhan itu datangnya dari Allah, usaha kita hanya sarana saja maka perbanyaklah berdoa memohon kesembuhan dari-Nya semata. Renungkanlah firman Allah berikut ini

وَ إِذَا مَرِضتُ فَهُوَ يَشفِينِ

“jika aku sakit maka Dia-lah (Allah) yang menyembuhkanku” (asy Syu’araa’: 80)

Ustadz Abdul Aziz Matnur, Lc. Semoga Allah Merahmatimu

Pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 tepatnya pukul 11.23 kabar duka itu datang dari sebuah pesan singkat yang masuk ke handphone saya:

“Innalillahi wa inna ilaihi raajiun telah meninggal dunia ust Abdul Aziz Matnur Lc. pk 10.15 hr ini.”

Kontan kenangan masa lalu menghampiri saat dimana beliau masih memimpin kami dalam pergerakan dakwah dan politik khususnya di Jakarta Barat, karna dulu beliau adalah yang pertama kali menjadi Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan (belum menjadi Partai Keadilan Sejahtera, red:) Jakarta Barat pada tahun 1998.

Bagi saya beliau adalah sosok pemimpin yang ramah dan rendah hati serta murah senyum. Ketika beliau menjadi aleg DPRD DKI Jakarta pun hal itu tetap melekat pada beliau. Sebagai salah seorang perintis dakwah PK/PKS khususnya di Jakarta Barat bagi kami beliau adalah sosok yang sangat diterima dan mampu mensolidkan kader ditengah kebutuhan organisasi yang masih baru tersebut.

Berikut artikel lebih lengkap mengenai sepak terjang aktifitas dakwah, politik dan kemasyarakatan beliau yang saya copas dari link ini. Semoga beliau dilipatgandakan amal-amalnya, diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya dan hati keluarga yang ditinggalkannya:

Pesanggrahan – Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun. Hari Sabtu, 10 Desember 2011 pukul 10.15 WIB, DPC PKS Pesanggrahan kehilangan seorang pejuang sekaligus mujahid dakwah, H Abdul Aziz Matnur, Lc, MM.

Ustadz Aziz begitu dia biasa dipanggil oleh kader PKS dan masyarakat Pesanggrahan, menghembuskan nafas terakhir di kediamannya Jalan H Ilyas RT 001 RW 10 No.7 Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan.

Menurut keterangan Ketua DPC PKS Pesanggrahan, Mohammad Yamin, ustadz Aziz meninggal mendadak disebabkan serangan jantung koroner saat sedang mengisi pengajian rutin ibu-ibu yang diadakan di rumahnya. “Sebelumnya, saat itu beliau sempat tak sadarkan diri dan diperiksa oleh salah seorang anggota jamaah yang juga seorang dokter yang ikut dalam pengajian,” kata Yamin.

Yamin menturkan, saat kejadian ustadz Aziz sempat dilarikan ke Rumah Sakit Aminah Jalan Kreo Selatan Larangan Tangerang. Namun setibanya di Rumah Sakit nyawanya sudah tidak tertolong lagi. “Menurut dokter yang memeriksa, ustadz Aziz sudah meninggal dunia sejak di rumah,” tutur Yamin yang sempat bermain bulutangkis bersama almarhum paginya.

Sejak Sabtu siang, terlihat ratusan kader PKS dan masyarakat datang untuk melayat, menyalatkan sekaligus mengantarkan jenazah ke pemakaman di daerah Kreo Selatan Larangan Tangerang Banten tempat ustadz Aziz dilahirkan. Turut hadir para tokoh PKS seperti ustadz Ma’mur Hasanuddin, MA (Ketua Wilda Banjabar), Nasir Jamil dan Mutamimul Ula yang merupakan anggota DPR RI dari PKS serta Triwisaksana, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.

Abdul Aziz Matnur yang lahir pada 9 November 1969 merupakan putra Jakarta. Almarhum meninggalkan 4 orang anak yang masih sekolah di bangku SMA dan SMP dari pernikahannya dengan Nenny Utama Sari (Fathimah). Sebelumnya, pernah menjabat menjadi Ketua DPD Partai Keadilan Jakarta Barat tahun 1998 yang menghantarkannya menjadi anggota DPRD DKI Jakarta periode tahun 1999-2004.

Selain sebagai aktifis partai, almarhum juga dikenal sebagai pejuang dakwah, mubaligh di tengah masyarakat yang selalu mengisi kajian tafsir alquran di Masjid, Mushalla bahkan sebagai narasumber sekaligus pembicara dalam acara seminar. Semoga segala amal ibadah yang dilakukan diterima disisi Allah SWT dan diberikan tempat yang sebaik-baiknya. (Mj/My/Yus/pks pesanggrahan)

Allah, Kesombongan dan Manusia

Tergelincirnya pertengahan malam adalah waktu yang paling tepat dan mengasyikkan bagi para ‘ibaadurrahmaan untuk bermunajat kepada Rab-nya dengan ibadah dan perenungan. Kesyahduannya sering kali membuat mata menganak sungai sebagai refleksi kepedihan hidup dan kelemahan diri serta pengharapan dan rasa takut menghadapi suatu kehidupan yang kedatangannya niscaya, yaitu alam kubur dan kehidupan akhirat.

Mari sejenak kita merenungkan sesuatu yg mungkin luput dari diri kita tuk menjauhinya bahkan dalam sekelebatan mata, padahal dampaknya begitu tragis dan merusah, dialah kesombongan.

Manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki akal dan ditundukkan baginya alam disekitarnya ini tentu menjadikannya sebagai makhluk yang paling mulia. Namun hal demikian bukanlah untuk menjadikan dirinya berjalan angkuh di muka bumi berbuat fasad dan kehancuran.

Dan diantara manusia itu sendiri ada yang memiliki kelebihan satu dari yang lainnya. Entah itu kelebihan ilmu, harta, istri, anak-anak, penampilan dan skill atau kemampuan serta lain-lainnya. Demikian pula hal itu tidak sepatutnya menjadikan ia bersikap angkuh dihadapan yang lain. Karena sesungguhnya semua itu datang dari Pemilik semua kebesaran itu, yaitu Allah.

Sepatutnya manusia yang diberikan kelebihan oleh Allah lebih menundukkan diri penuh tawaadhu’, seraya takut dan khawatir anugerah yang diberikannya itu tidak dapat menjadi alat penambah pahala dan kebajikannya di hadapan umat manusia dan Tuhan-nya.

Bagaimana tidak, semua kelebihan-kelebihan itu memiliki batas waktu dan pertanggung jawaban atas hak guna dan manfaat selama ia merasakannya. Seorang yg memiliki ilmu akan ditanyakan apakah ia amalkan dan ia ajarkan ilmunya tersebut, seorang yg memiliki kekuatan akan dipertanyakan penggunaannya. Terlebih lagi kelebihan-kelebihan berupa perhiasan dunia secara tegas Allah menamakan hal itu dengan sebutan “mataa'”.

Apakah mataa’ itu yg secara harfiah diartikan dengan perhiasan. Ia adalah “maa yatamatta’u bihil insaanu tsumma yazaalu qaliilan qaliilan”, artinya: ia adalah sesuatu yang dapat membuat manusia bersenang dengannya namung kemudian (kesenangannya) itu menghilang sedikit demi sedikit”. Maka semakin menjadi hujjah untuk tidak dimabuk kesombongan karenanya.

Kesombongan adalah selendang Allah, ia hanya pantas disematkan kepada Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta ini. Tak layak manusia mengambil selendang-Nya. Kesombongan dapat menjadi penghangus semua amal ibadah kita bahkan surga pun telah diharamkan dari kesombongan meski dengan sebewar biji sawi, na’uudzu billahi min dzaalik.

Marilah para ‘ibaadurrahmaan yang memiliki segala kelebihan itu untuk mengatakan melalui lisan dan gumaman hatinya dengan “haadzaa min amri rabbii”. Yaa… “ini adalah suatu urusan yang datangnya dari Allah”, bukan semata-mata daya upaya kita sebagai manusia.

Akhir kata marilah kita mengingat perkataan seorang ulama kepada al hajjaaj yang salah seorang umaraa’ kaum muslimin dulu yg terkenal keras dan sombong serta menindas. Al hajjaj menyuruh ulama tersebut menyebut siapa dirinya (al hajjaaj). Lalu ulama tersebut mengatakan “kau adalah makhluk Allah yang berasal dari lumpur hitam dan perutmu berisi kotoran yang menjijikkan”

Wallahu a’lam bish shawaab.

Atas Izin Allah Patin-patin itu pun Sehat Kembali

Benih-benih ikan patin yang saya pelihara pada umur hari ke-11 mengalami masalah. Menurut saya dan teman, benih-benih tersebut terserang bakteri, karena terlihat dari gejalanya berenang di permukaan air secara vertikal. Hal itu bisa disebabkan sebagai berikut:

  1. Tempat yang tidak higienis atau kotor yang memungkinkan menjadi sumber pertumbuhan bakteri.
  2. Tertular bakteri dari tempat lain, yang bisa jadi perantaranya adalah udara/angin, atau tubuh manusia yang menjadi perantara antara daerah terinfeksi dengan yang belum terinfeksi.
  3. Kualitas air yang sudah rusak atau kurang bagus namun belum diganti, sehingga membuat kondisi ikan lemah sehingga memudahkan diserang bakteri.

Hal demikian menyebabkan peradangan pada insang ikan, kemudian dapat menyerang peradangan di dubur sehingga duburnya terlihat merah darah, kalau sudah parah ikan bisa terserang herpes, atau rontoknya buntut ikan tersebut.

Well saya bukanlah pakar dalam ilmu perikanan, apa yang saya dapatkan adalah bekal pengalaman berternak ikan patin selama 3 tahun terakhir ini dan dari ilmu yang saya dapatkan dari teman-teman yang tentunya lebih ahli dan berpengalaman. Maka langkah-langkah yang saya lakukan untuk pengobatan adalah sebagai berikut:

  1. Kenali sedini mungkin gejala ikan terjangkit penyakit sehingga proses pengobatan tidak akan terlalu berat.
  2. Kurangi intensitas dan kuantitas ikan makan, intensitasnya bisa 2 kali sehari dengan kuantitas makanan sekedar agar ikan tidak mati kelaparan. Karena ketika ikan mulai terjangkit penyakit dan tetap diberi makan sampai kenyang maka peradangan di insang akan bertambah parah, begitu juga di duburnya.
  3. Untuk menyembuhkan peradangan insang maka 1 ton air larutkan dengan 2 gram OTC, dan jaga kualitas air agar tetap jernih terus agar proses penyembuhan semakin cepat.
  4. Untuk menyembuhkan peradangan di dubur maka 1 ton air larutkan dengan 1 gram Enro Floxacine.
  5. Masa pengobatan jangan kurang dari 4 atau 5 hari.
  6. Ketika gejala mulai hilang mulailah naikkan intensitas pemberian makan dengan kuantitas normal menurut kadar kenyangnya ikan, misalnya yang tadinya 2 kali sehari menjadi 3 kali sehari. Agar ikan tidak terlalu terus-terusan kekurangan makan yang bisa menyebabkan ikan mudah terserang penyakit lagi. Dan ketika ikan benar-benar sembuh barulah intensitas makanan kembali seperti normalnya.

Wallahu a’lam

Salam sukses selalu

Ketika ‘Arsy Allah Bergetar

Semenjak 14 abad silam dimulailah penyebaran suatu suara atau kalimat ke seluruh penjuru timur dan barat dunia, yaitu kalimat لا إله إلا الله. Penyebarannya selama 14 abad ini belum pernah berhenti hingga sekarang seiring berubah-ubahnya keadaan, berubah-ubahnya suatu negara. Tersebarnya kalimat ini adalah dalil hidup yang berbicara mengenai kemenangan Muhammad bin Abdullah.

Kemenangan ini bukanlah kemenangan dalam pertempuran dan peperangan, bukanlah fathu mekkah, dan juga bukanlah tertunduknya dua kerajaan yaitu Persia dan Romawi. Semata-mata kemenangan ini adalah kemenangan universal, natural, yang memang ada dalam struktur kehidupan manusia.

Kemenangan ini tidaklah akan hilang seiring kelemahan yang menimpa kaum muslimin dalam suatu waktu, dan prinsip-prinsipnya tidak akan ditundukkan oleh kemunculan aliran-aliran dan filsafat-filsafat baru, cahayanya tidak akan padam seiring penaklukan suatu negara atas negara lain. Karena, akar kemenangan ini menancap di kedalaman alam, berakar di hati nurani manusia dan berjalan mengikuti aliran kehidupan karena memang kemenangan ini adalah kemenangan universal dan natural.

Kemenangan ini adalah kemenangan yang membawa petunjuk yang besar, maka hendaklah kita berusaha mengetahui sebab-sebab dan sarana-sarananya untuk kita mengusahakan sebab-sebab dan sarana-sarana itu pada hari ini.

Tidak diragukan bahwa Allah memang menghendaki Muhammad bin Abdullah untuk menang, dan Allah menginginkan agama ini berkuasa. Akan tetapi Allah tidak menginginkan kemenangan ini sebagai suatu hal yang mudah dicapai, dan Allah tidak ingin menjadikan kemenangan ini sebagai mukjizat, harus ada kesungguhan dari manusia untuk mewujudkannya. Semata-mata Allah menjadikan kemenangan ini sebagai buah dari kesungguhan dan jihad Rasulullah SAW, dan hasil yang logis dari tadhhiyyah (pengorbanan) Rasul dan para sahabatnya.

Maka, barang siapa yang ingin mengetahui bagaimana Muhammad bin Abdullah menang atau bagaimana Islam menang hendaklah ia mempelajari kepribadiannya, prilakunya, sejarahnya dan jihadnya SAW. Karena dengan demikian ia akan mengetahui bahwa jalan kemenangan itu telah tergambar, sarana-sarana kemenangan itu telah ada dan sebab-sebab kemenangan itu telah ada. Siapa yang ingin memperoleh kemenangan di suatu tempat manapun, di suatu waktu kapanpun, hendaklah ia menjadikan Rasul sebagai qudwahnya (suri tauladannya)

Muhammad bin Abdullah telah memperoleh kemenangannya ketika datang  pembesar-pembesar Quraisy yang berhujjah kepada Abi Thalib tentangnya. Mereka meminta kepada Abi Thalib agar memalingkan keponakannya untuk diam dihadapan mereka dan tuhan-tuhan mereka. Karna hal ini telah menggoncangkan agama mereka, mengusik tradisi mereka dan menggoyahkan aqidah mereka. Jika Muhammad mau maka ia akan diberikan apa yang ia inginkan. Jika menginginkan harta, mereka akan memberinya, jika ia menginginkan kehormatan, mereka pun akan menghormatinya, bahkan lebih dari itu yang ia inginkan akan diberikan.

Sunguh, Muhammad telah memperoleh kemenangannya manakala ia melemparkan jawaban ke telinga-telinga mereka dengan satu kata-kata yang kekal yang bersumber dari mata air keimanan :

و الله يا عمي لو وضعوا الشمس في يميني و القمر في يساري على أن أترك هذا الأمر, ما فعلت حتى يظهره الله أو أهلك دونه

“Demi Allah wahai pamanku, jika seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan melakukannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa di hadapannya”

Ya Allah!! Betapa ini suatu keajaiban yang menggoncangkan, betapa ini adalah gambaran universal yang dahsyat. ” jika seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku” ini adalah ungkapan yang muncul dari nurani alam bukan dari khayalan seorang manusia (Muhammad). Ini adalah ungkapan yang dihembuskan oleh kemutlakan iman dan kekuatan emosi.

Sungguh, pada hari itu Muhammad telah memperoleh kemenangannya, ia telah menggoncangkan emosi orang-orang Quraisy dengan satu kekuatan yang berasal dari keimanan. Karna kekuatan seperti ini tidak akan dapat dikalahkan oleh sesuatupun di muka bumi ini ketika ia sudah bersemayam kokoh di hati nurani manusia.

Muhammad bin Abdullah telah memperoleh kemenangannya ketika ia telah berhasil menjadikan sahabat-sahabatnya ra. gambaran hidup dari keimanan. Mereka makan, berjalan di pasar-pasar, sedangkan Muhammad telah membentuk masing-masing mereka menjadi Al Qur’an yang hidup yang merayap di atas muka bumi, pada saat itu juga Muhammad telah menjadikan setiap mereka contoh konkret dari Islam, manakala para manusia melihat mereka maka para manusia ini melihat Islam.

Sesungguhnya nash-nash agama ini tidak berbuat apa-apa, dan mushhaf pun tidak beraktivitas layaknya seorang laki-laki dan prinsip-prinsip agama ini pun tidak akan hidup kecuali ketika ia menjadi perilaku. Dari sinilah Muhammad bin Abdullah menjadikan strategi yang pertamanya adalah membentuk generasi bukan memberi nasihat, membentuk hati nurani bukan menyampaikan khutbah, membangun umat bukan filsafat. Adapun fikrah (pemikiran) sejatinya menjadi tanggungan Al Qur’an al Karim sedangkan kerja Muhammad SAW adalah merubah fikrah an sich menjadi tokoh-tokoh yang nyata dan terlihat oleh mata.

Maka ketika tokoh-tokoh ini bertebaran di penjuru timur dan barat bumi, seketika itu manusia melihat makhluk baru yang tidak ada tandingannya dalam periode kemanusaan. Ketika itulah para manusia beriman dengan fikrah, karna mereka beriman kepada laki-laki yang terjewantahkan fikrah itu darinya, serta merta mereka merealisasikan fikrah itu dan menempuh jalan yang sama.

Pemikiran-pemikiran (fikrah) sendiri tidaklah hidup, kalaupun dia hidup maka dia tidak memberikan satu qudwah (contoh). Akan tetapi semua fikrah akan hidup manakala terjewantahkan sebagai manusia yang berjalan tegak, dan seluruh fikrah akan bekerja ketika ia berubah menjadi pergerakan manusia. Sungguh, telah menang Muhammad pada hari dia membetuk dari fikrah itu pribadi-pribadi yang agung yang pernah ada di muka bumi dan menjadi generasi terbaik.

Cahaya apakah yang mereka pedomani, sehingga mereka menjadi manusia-manusia langit yang agung, sehingga mereka mampu merubah bangsa Arab yang terkungkung dalam kegersangan padang pasir menjadi soko guru peradaban dunia. Tidak terpikir sebelumnya oleh mereka bisa menginjak permadani-permadani kisra, menaklukkan adikuasa saat itu Romawi.

Cahaya yang mereka pedomani adalah keimanan yang mendalam yang tidak hanya berada di bibir, tapi masuk ke seluruh relung-relung jiwa dan mengharu biru dada mereka sehingga berkecamuk kerinduan mereka kepada Tuhan mereka untuk bertemu dalam suasana راضية مرضية (ridha dan diridhai).

Bahkan keimanan mereka ini adalah keimanan yang mencapai puncaknya, keimanan yang sudah ‘mentok’ pada titik tertinggi nilai keimanan itu sendiri, sehingga kalaulah tabir keghaiban itu dibuka untuk diperlihatkan kepada mereka, maka hal itu tidak akan menambah keimanan mereka. Karna mereka sudah melihat seluruh keghaiban yang dikabarkan dalam agama mereka dengan keimanan mereka dan mereka sunguh-sungguh beriman dengannya. Lihatlah kisah di bawah ini yang terjadi antara Muhammad SAW dengan Haritsah ra. :

Haritsah berjalan melalui tempat Rasulullah SAW, lalu beliau SAW bertanya dengan sabdanya :

كيف أصبحت يا حارثة؟

قال : أصبحت مؤمنا حقا

قال : انظر ماذا تقول!! فإن لكل شيء حقيقة, فما حقيقة إيمانك؟

قال : عزفت نفسي عن الدنيا, فأسهرت ليلي و أظمأت نهاري و كأني أنظر إلى عرش ربي بارزا, و كأني أنظر إلى أهل الجنة يتزاورون فيها, و كأني أنظر إلى أهل النار يتضاغون فيها

قال : عرفت يا حارثة, فالزم!!

“Bagaimanakah engkau pagi ini wahai Haritsah?

Haritsah menjawab : saya adalah mukmin yang benar

Rasul bersabda : pikirkanlah baik-baik apa yang engkau katakan itu, sebab segala sesuatu pasti ada hakekatnya, maka apakah hakekat keimananmu itu?

Haritsah menjawab : Jiwaku tidak memperhatikan lagi keduniaan, waktu malam saya berjaga dan waktu siang saya haus (malam bangun shalat dan siang berpuasa). Seolah-olah saya melihat ‘arsy Tuhan-ku yang tampak jelas, seolah-olah saya melihat ahli surga saling ziarah-menziarahi, dan seolah-olah saya melihat para ahli neraka sama-sama berteriak-teriak di dalamnya.

Rasul bersabda : Engkau sudah benar-benar mengerti itu wahai Haritsah, maka tetapilah!!

Keimanan inilah yang membuat mereka mampu mengarungi samudera, menerjang badai dan menelusuri gunung dan lembah. Keimanan inilah yang membuat mereka mampu berkorban sampai pada tingkat perngobanan yang setinggi-tingginya (syahadah) mati syahid dijalan Allah, sebuah seni kematian bercita rasa tinggi. Dengarlah senandung Abdullah ibnu Rawahah ketika hendak mengubur rasa kecut dan ragunya di hadapan bala tentawa Ramawi :

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga

Tapi kenapa kulihat engkau menolak surga

Wahai diri, bila engkau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati

Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti”

Atau simaklah kisah Hanzhalah yang rela meninggalkan kenikmatan berada di antara dua paha istrinya dalam syahdunya suasana pengantin baru, yang kemudian loncat dari peraduan mereka untuk lebih memilih kematian di medan perang, apa yang terjadi setelah itu? Malaikat pun memandikan tubuh yang mulia ini setelah syahidnya.

Keimanan inilah yang mampu membuat mereka berukhuwwah (bersaudara) hingga pada tingkat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain) sehingga seorang Sa’ad bin Rabi mampu berkata kepada Abdurrahman bin ‘Auf :

“Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silahkan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperistrinya”

Dengan keimanan pulalah Abdurrahman bin Auf menjawab kebaikan saudaranya seiman ini :

“Moga-moga Allah memberkati anda, istri dan harta anda, tunjukilah letaknya pasar agar aku dapat berniaga!”

Cahaya yang mereka pedomani adalah kequdwahan yang sempurna. Bagaimana mereka mencontoh idola mereka sampai pada hal-hal detil. Karna mereka yakin apa yang dikatakan ‘A’isyah ra. :

“Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an”

Atau ketika ‘A’isyah ra. ditanya manakah kepribadian Rasulullah yang menakjubkan, ia balik bertanya :

“Adakah kepribadian Rasulullah yang tidak menakjubkan?”

Pernahkan kita melihat seseorang yang tidak ingin mengupas buah, hanya karna ia belum melihat bagaimana sang idolanya mengupas buah?

Betapa seorang Ali bin Abi Thalib ra. memiliki idola yang sangat diidam-idamkan manakala ia menaiki kudanya, berdo’a lalu tersenyum. Ketika ditanya mengapa ia tersenyum, ia hanya berkata bahwa ia melihat Rasulullah tersenyum ketika menaiki kudanya.

Apalagi kalau kita membaca sejarah Ibnu Umar ra. yang perangai dan karakternya paling mirip Rasulullah SAW. Tidak pernah ia melewati suatu jalan lalu berhenti dan duduk tanpa alasan satupun kecuali ia telah melihat rasul melakukan hal serupa, atau ketikaa ia masuk ke kota dan memutarkan ontanya tanpa ada alasan baginya dan ontanya kecuali karna onta Rasulullah telah melakukan hal serupa. Allahu akbar wa lillahil hamd

Sungguh inilah sketsa kehidupan yang memaksa mata menangis mengalirkan kerinduan untuk bertemu mereka, membuat bulu roma berdiri dan menggetarkan hati sebagai kecemburuan akan pola hidup mereka. Dan yang lebih mencengankan lagi keterbatasan usia mereka mengetarkan Arsy Allah yang Agung, renungkanlah ketika berpulangnya Sa’ad bin Mu’adz yang dikatakan oleh Rasulullah SAW :

“Sungguh Arsy Tuhan Yang Rahman bergetar dengan berpulangnya Sa’ad bin Mu’adz”

 

Referensi :

1.       Dirasaat Islamiyyah – Sayyid Quthb

2.       Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah – Khalid Muhammad Khalid

3.       Aqidah Islam – Sayyid Sabiq