ketika Allah Menyayangiku

Bulan April yang lalu adalah bulan yang penuh dengan hikmah dan pembelajaran yang sangat besar bagi saya. Di saat itulah saya mendapatkan ujian atau teguran dari Allah ta’aalaa dengan suatu penyakit yang praktis membuat saya harus berhenti beraktivitas seperti sedia kala.

Hal yang patut saya syukuri adalah tentunya masih banyak orang lain yang mendapatkan musibah dan cobaan atau ujian lebih besar dari yang saya rasakan. Namun sebagai hamba yang merasa lemah dihadapan Sang Khalik, hal itu tetap terasa berat kurasa karena memang tak pernah saya merasakan penderitaan seperti ini sebelumnya. Karena itulah tak henti ku berdoa memohon ampunan dari Allah atas segala dosa-dosa saya yang mungkin menyebabkan saya menerima teguran seperti ini, berpikir positif dan berprasangka baik kepada-Nya akan ujian yang sedang saya terima tersebut sambil mengharap ridha dan rahmat-Nya agar ujian/cobaan ini bisa saya lalui dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

Mungkin pembaca sekalian pernah mengalami hal yang lebih berat dari yang saya rasakan, atau mungkin belum pernah merasakannya. Tapi itu tidaklah penting, yang terpenting dari alasan saya menulis pengalaman di blog ini adalah agar kita semua ketika mendapatkan musibah, ujian atau teguran sepahit dan seberat apapun tetap berpikir positif, bersabar dan berprasangka baik kepada Allah yang tentunya atas kehendak-Nya-lah hal itu terjadi dan atas kehendak-Nya pula lah semua itu disingkirkan. Senantiasa berdoa mengharap ridha, taufiq dan rahmat-Nya adalah hal mutlak di samping segala ikhtiar yang kita kerjakan untuk melewati itu semua.

Pada tanggal 31 Maret 2012, tepatnya menjelang maghrib saya mulai merasakan sakit di dada sebelah kiri. Selepas maghrib rasa sakit itu semakin menjadi hingga membuat saya sulit bernafas. Ketika waktu isya tiba saya memaksakan diri shalat isya dengan penuh kepayahan hingga pada saat selesai salam saya hampir pingsan dan merasa tidak kuat lagi. Saya pun dibawa ke UGD rumah sakit Harapan Bunda.
Di UGD dengan sigap saya ditangani. Tindakan yang paling sangat membantu saya adalah pemberian oksigen. Kemudian melihat keluhan yang saya alami dokter mengira saya mengalami serangan jantung. Namun setelah melalui pemeriksaan dengan stetoskop dan ECG, indikasi tersebut justru tidak ada. Dokter menyimpulkan hanya ada permasalahan di otot dada saya kemudian tercampur rasa cemas (stress) sehingga menyebabkan sensasi sesak. Akhirnya saya diperbolehkan pulang setelah diberi resep obat yang harus diminum. Selain itu dokter pun menyarankan kepada saya agar hari senin untuk datang kembali mengikuti treadmill untuk lebih memastikan kebenaran ada atau tidaknya penyakit jantung tersebut, karena pemeriksaan stetoskop dan ECG saja masih bisa berpeluang memberi hasil yang keliru.

Hari senin tepatnya tanggal 2 April 2012 saya pun mendatangi dokter kembali. Saya ceritakan bahwa kondisi saya membaik, rasa sakit di dada menghilang. Saya pun melaksanakan treadmill selama kurang lebih 15 menit, setelah melalui pemantauan dokter di komputer yang saya tidak tau cara membacanya, dan melalui laporan hasil akhir treadmill tersebut, dokter memastikan bahwa jantung saya masih berfungsi dengan baik dan tidak ada gejala serangan jantung sedikitpun. Alhamdulillah saya bersyukur sekali mendengarnya. Namun kemudian dokter tersebut mengingatkan saya kembali bahwa rasa sakit dan sesak itu kemungkinan disebabkan oleh otot dada yang disertai stress, atau ada kemungkinan lain yaitu adanya permasalahan di paru-paru saya.

Saya sudah merasa puas dengan hasil pengobatan tersebut, sehingga tidak lagi memastikan kecurigaan dokter mengenai permasalahan yang mungkin ada di paru-paru saya. Dan ternyata sekitar 2 pekan kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 13 April 2012, selepas maghrib saya pun merasa sesak kembali seperti gejala yang pernah saya alami sebelumnya namun kali ini tidak disertai rasa sakit di dada sebelah kiri. Saya pun harus masuk UGD lagi untuk penanganan darurat namun kali ini dokter yang menangani saya bukanlah dokter yang sebelumnya yang merupakan dokter spesialis jantung. Seperti biasa, tindakan yang sangat membuat saya lebih nyaman adalah pemberian oksigen.

Dokter yang menangani saya hanyalah dokter umum. Nampak sepertinya ia tidak bisa atau tidak mau mendiagnosa penyakit saya. Ia pun menyarankan agar saya dirawat untuk diobservasi lebih lanjut atau segera dirontgen. Saya sangat tidak menyukai tinggal di ruang perawatan rumah sakit tentunya, sehingga saya memutuskan dirontgen saja. Setelah dirontgen dan diketahui hasilnya ternyata saya disimpulkan mengidap penyakit bronchitis. Sebuah penyakit yang baru bagi saya, ada sedikit rasa cemas memikirkan sejauhmana bahaya penyakit tersebut. Akan tetapi setelah keluhan saya mulai menghilang saya diperbolehkan pulang setelah membeli obat sesuai resep yang diberikan oleh dokter umum tersebut. Dan bila obatnya sudah habis, saya disarankan untuk datang ke dokter spesialis paru.

Setiba dirumah obat pun saya minum. Reaksi obat segera saya rasakan berupa debar jantung yang drastis meningkat yang ternyata disebabkan oleh obat bronkodilator. Hingga keesokan harinya efek samping itu masih saya rasakan, ditambah lagi saya semakin lemas rasanya sampai-sampai dari pagi hingga siang saya habiskan waktu dengan tidur saja. Pada menjelang sore hari ada pekerjaan yang harus saya lakukan, saya coba untuk melakukannya namun tubuh semakin lemas dan nafas terasa sesak. Hujan tiba-tiba turun dengan deras, suhu terasa menurun drastis, langsung saya diterpa demam dan sesak yang hebat sehingga saya mengeluarkan keringat dingin. Karena merasa tidak tahan lagi saya pun harus dibawa kembali ke UGD. Di UGD langsung ditangani dan sudah tidak diperbolehkan pulang lagi karna harus dirawat.

Dimulailah beberapa hari kedepan saya jalani terbaring di ruang perawatan rumah sakit, serasa dipenjara dengan tangan ‘diborgol’ oleh infusan. Sekitar 3-4 hari pertama penyakit saya masih kambuh terutama menjelang sore atau selepas maghrib. Betapa saya melihat iba yang terpancar dari orang-orang yang menjenguk saya yang kebetulan melihat saya sedang berjuang melawan rasa sakit yang saya rasakan ketika penyakit itu sedang kambuh. Ternyata setelah memasuki ruang perawatan, penyakit saya bertambah dengan dispepsia (semacam penyakit maag yang juga bisa menyebabkan sesak nafas). Sepertinya melihat hal ini, dokter spesialis paru yang menangani saya mulai menyimpulkan ada stress dan depresi yang saya alami. Well… menurut saya pribadi kalaupun dispepsia itu muncul karna stres dan depresi yang saya alami, saya merasa hal itu terjadi lebih besar karena rasa bosan yang teramat sangat saya rasakan dengan hanya berada diruang perawatan berhari-hari. Akhirnya saya pun diberi obat anti depresan (frizium). Dan terus terang obat itu tidak setiap hari saya minum karna saya merasa khawatir akan ketergantungan. Saya lebih berusaha mencari pengobatan untuk hal ini dengan memperbanyak dzikir untuk ketenangan jiwa saya

Selain ikhtiar medis saya lakukan, alhamdulillah Allah masih memberikan taufiiq kepada saya untuk memperkuat ibadah dan doa yang tak henti meskipun badan ini begitu lemah. Dan Alhamdulillah setelah 4 hari Allah mengijabah doa saya dengan saya tidak merasakan lagi kambuhnya penyakit saya, namun rasa stress dan depresi akibat berada di ruangan tersebut tetap saja saya rasakan. Semenjak saya tidak merasakan kambuhan penyakit saya, saya pun mulai berkomunikasi agar diizinkan pulang, hingga akhirnya pada hari ke-6 saya diperbolehkan pulang tepatnya pada hari Jum’at tanggal 20 April 2012.

Saya berharap hari Jum’at tersebut pagi-pagi sekali bisa pulang, ternyata karena urusan birokrasi dan administrasi rumah sakit menyebabkan saya baru bisa pulang sekitar pukul 11 siang. Hal itu menjadi stress tersendiri bagi saya yang memang sudah tak betah berada di rumah sakit. Di lain sisi, saya pun merasa khawatir bila saya berada di rumah maka saya akan jauh dari penanganan medis seandainya penyakit saya tiba-tiba kambuh karena memang saya merasa tubuh saya belum pulih benar, masih merasakan lemas, dan ternyata hal ini juga menyebabkan stress tersendiri. Namun saya memberanikan diri melawan rasa takut tersebut sehingga memutuskan tetap pulang ke rumah.

Setiba di rumah, benar saja penyakit saya kambuh lagi, selain memang saya masih sangat lemas, rasa sesak masih muncul sehingga semua ini membuat saya harus berbaring dan tidak sanggup menuju masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Namun saya sudah menyimpulkan bahwa sensasi sakit yang saya rasakan ini bukanlah semata karna penyakit yang ada di tubuh saya tapi lebih besar karena pikiran saya yang terbebani oleh stress dan depresi sebagaimana saya sebutkan di atas. Sempat terpikir untuk kembali lagi ke rumah sakit, namun saya memutuskan untuk tenang dan berzikir sebanyak mungkin , melawan penyakit saya dengan pikiran yang tenang bukan dengan penanganan medis di rumah sakit. Alhamdulillah sekitar jam 1-2 siang rasa sakit saya mulai mereda sehingga saya bisa bangkit untuk shalat zuhur menggantikan shalat jum’at yang saya tinggalkan.

Sementara itu semenjak saya sudah berada di rumah, saya juga menambah ikhtiar saya dengan meminum madu 100 gr per hari dan habbatussauda’ (jintan hitam) 6 butir sehari. Selain itu kakak saya juga membelikan saya suplemen yaitu bee propolis (resin/liur lebah) yang saya minum 3 butir sehari dan bee polen (nektar lebah) yang saya minum 2 butir sehari. Hal ini saya lakukan karna saya merenungi sebuah do’a yang diajarkan Nabi kita SAW ketika sakit yang berbunyi;

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, أَذهِبِ البَأسَ, اشفِ أَنتَ الشَّافِيءُ, لَا شِفَاءَ إِلّا شِفَاوءُكَ, شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Wahai Allah Engkau-lah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah… Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyebabkan komplikasi (efek samping)”.

Kemudian saya merenungi tentu kesembuhan yang diharapkan tanpa komplikasi adalah yang sesuai ajarannya pula tanpa saya meremehkan dan menafikan segala ikhtiar yang saya lakukan melalui perawatan dan pengobatan dari dokter. Perihal penyembuhan yang tersurat jelas dalam syari’at adalah yang bersumber dari lebah sesuai dengan surat An Nahl: 68-69:

“Dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah: “buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”

Dan juga sebuah hadits bahwasannya Nabi SAW bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ مِنَ السَّامِ. قُلْتُ: وَمَا السَّامُ؟ قَالَ: الْمَوْتُ

“Sesungguhnya jintan hitam ini merupakan penyembuh dari semua penyakit kecuali penyakit as saam.” Aku bertanya: “apakah as saam itu?” Beliau menjawab: “Kematian.” (HR Bukhari dan Muslim).

Keesokan harinya atau hari sabtu penyakit saya masih kambuh juga pada siang hari meski tidak sehebat sebelumnya. Namun saya tetap melawannya dengan perasaan tenang. Pada hari minggu hingga menjelang zuhur saya tidak merasakan kambuh lagi kecuali hanya lemas saja, saya memutuskan untuk memulai kembali shalat berjama’ah di masjid. Subhanallah…. Masjid yang hanya berjarak 200 m dari rumah saya serasa berjarak 1 km namun saya jalani dengan tenang, dalam hati saya berkata kepada Allah; “ya Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu yang beriman, maka tolonglah aku”. Ketika shalat di masjid tersebut pun saya merasakan penyakit saya kambuh, usai shalat saya segera pulang dan kembali berbaring di tempat tidur menenangkan diri dengan zikir melawat penyakit yang saya rasakan hingga saya tertidur. Dengan sangat sedih saya pun memutuskan untuk tidak shalat berjama’ah dulu di masjid hingga beberapa waktu. Pada hari minggu dan senin siang pun saya masih merasakan kambuhnya penyakit saya. Tapi saya perhatikan dari hari ke hari rasa sakit dari kambuhnya penyakit itu semakin menurun.

Saya dianjurkan untuk kontrol kembali pada hari rabu, namun karena saya merasakan masih sering kambuh maka saya memutuskan hari senin malam untuk kontrol lagi ke dokter yang menangani saya hingga saya menceritakan semua keluhan-keluhan yang masih saja saya alami. Alhamdulillah menurut pemeriksaan beliau paru-paru saya sudah membaik dan beliau menganjurkan untuk tidak beraktifitas di luar rumah terlebih dahulu. Rasa lemas yang muncul lebih disebabkan karena stamina yang belum kembali pulih setelah dirawat. Saya pun diberikan resep lagi berupa obat-obatan yang berguna untuk menghilangkan keluhan saya. Saya cari pengetahuan mengenai obat-obatan tersebut, karena saya merasa khawatir dengan efek sampingnya, saya habiskan yang sekiranya baik untuk dihabiskan dan saya hentikan minumnya yang sekiranya keluhan yang saya alami sudah menghilang.

Hari demi hari secara umum kondisi dan stamina saya makin membaik. Saya pun sudah sanggup untuk berjalan menuju masjid. Namun yang masih saya keluhkan adalah mudah lelah dan permasalahan di perut saya yang masih saja sering kembung, dan serasa setiap 2 jam harus diisi oleh makanan bila tidak akan terasa keram yang justru malah mengganggu pernafasan saya kembali. Sebagian orang mengatakan itu bagus supaya gemuk dan menambahkan stamina, namun bagi saya ini adalah hal yang aneh. Pernah saya mencoba puasa hari senin namun pada siang harinya saya tidak sanggup karna lemas yang teramat sangat sehingga harus berbuka. Jelas ini masih sebuah permasalahan dan gejala yang tidak normal dan menimbulkan tanda tanya besar sampai kapan saya harus begini, sedangkan saya ingin sekali bisa puasa sunnah tanpa terganggu oleh keluhan penyakit.

Saya ingin kontrol kembali ke dokter namun saya tidak akan merasa puas bila kontrol ke dokter yang sebelumnya menangani saya karena beliau dokter spesialis paru, sedangkan saya merasa paru-paru dan gejala pernafasan di paru-paru saya sudah baik, yang saya keluhkan adalah di sekitar perut. Akhirnya saya putuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Sukamto, Sppd di RSIA Hermina, Depok.

Tepat pada tanggal 1 Mei hari selasa saya kontrol ke RS Hermina tersebut malam hari. Dan ternyata menurut diagnosa dokter tersebut paru-paru dan darah pun sehat. Penyakit di perut yang saya rasakan lebih dipicu oleh kegelisahan, stress dan tekanan yang masih belum hilang di pikiran saya sehingga menimbulkan asam lambung yang berlebihan. Well…. Saya terima diagnosa tersebut dengan lapang dada meskipun selama ini saya sudah berusaha mengurangi segala beban dan tekanan di pikiran saya. Saya berpikir positif menganggap bahwa segala usaha saya untuk menenangkan jiwa dan pikiran saya masih kurang. Setelah menebus resep yang diberikan dokter tersebut saya pun kembali dan seolah memikirkan sebuah hidup baru yang penuh dengan ketenangan tanpa kecemasan.

Alhamdulillah hingga saat ini kondisi saya hari demi hari kian membaik meski masih terasa mudah lelah dan masih terapi obat dari dokter dan tentunya terapi obat-obatan yang terungkap oleh ayat-ayat ilahiyah yang tak akan saya hentikan demi kesehatan saya terus. Semoga Allah terus menyempurnakan kesembuhan saya hingga saya bisa beraktivitas sedia kala lagi. Menjalankan kembali amanah-amanah yang ada di pundak saya.

Di antara hikmah-hikmah yang mungkin bisa sedikit saya jabarkan disini adalah beberapa poin di bawah ini. Namun demikian mungkin ada hikmah-hikmah lain yang jauh lebih besar yang khilaf untuk saya tulis disini sebagai makhluk yang lemah, yang terpenting dari semua itu adalah berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah.

# Yakinlah bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah termasuk penyakit tersebut, namun penyebabnya adalah kita sendiri, bisa berupa kelalaian, dosa-dosa, ataupun merupakan ujian bagi keimanan kita. Maka memohon ampunlah sebanyak-banyaknya kepada Allah.

# Bersabarlah dan jaga aqidah kita ketika ditimpa musibah dari kemusyrikan berupa pengobatan-pengobatan yang melanggar syari’at, keputus-asaan karna tidak tahan dengan sakit yang dirasakan.

# Senantiasa berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah. Bahwa ada hikmah besar dibalik semua ini yang baik bagi kita selama kita menjalaninya dengan tulus dan penuh kesabaran.

# Bertawakkallah kepada Allah sekuat mungkin, lakukan ikhtiar semampu mungkin namun serahkan semua kepada Allah apa-apa yang hanya menjadi iraadah (kehendak) Allah berupa hasil dan kesembuhan. Lebih luas lagi jalanilah hidup ini dengan baik dan bahagia dan serahkan kepada Allah apa yang hanya menjadi iraadah-Nya dalam kehidupan kita, apakah itu rezeki, kesehatan, jodoh dan sebagainya. Jangan disibukkan pikiran kita dengan sesuatu yang memang hanya menjadi urusan Allah.

# Seorang dokter yang baik bukanlah dokter yang hanya bisa menghilangkan keluhan penyakit pasiennya, namun lebih dari itu yang bisa memberikan informasi kepada pasiennya sumber dan penyebab penyakit yang diderita dan bagaimana hal itu bisa dihindari untuk selanjutnya agar tidak terjangkit lagi, terlebih lagi dokter tersebut bisa mengajarkan perihal pola hidup sehat yang bisa menghindari pasiennya dari penyakit-penyakit yang lain.

# Apapun ikhtiar yang kita lakukan tentunya dalam kerangka yang dihalalkan oleh Allah, yakinilah kesembuhan itu datangnya dari Allah, usaha kita hanya sarana saja maka perbanyaklah berdoa memohon kesembuhan dari-Nya semata. Renungkanlah firman Allah berikut ini

وَ إِذَا مَرِضتُ فَهُوَ يَشفِينِ

“jika aku sakit maka Dia-lah (Allah) yang menyembuhkanku” (asy Syu’araa’: 80)

Apresiasi Sang Sahabat

Intro :
Sejak peristiwa ledakan itu
Aku sudah menyiapkan ruang hatiku untuk kau benci
Sejak saat itu
Aku membuat keputusan baru
Aku ingin mencintaimu tanpa syarat

“Aku Mencintaimu Tanpa Syarat”

Aku mencintaimu tanpa syarat
Ku terima dirimu utuh
Lebih dan kurangmu
Semua tentangmu

Aku mencintaimu tanpa syarat
Aku tak peduli kau balas dengan apa cintaku ini
Aku hanya ingin mencintaimu
Itu saja

Tak perlu kau jabar dengan logika
Karena tak ada penjelasan logis tentang ini
Aku hanya ingin mencintaimu
Itu saja

Ku ingin kau tahu
Luka seberapapun akan ku tanggung
Pahit bagaimanapun akan kutelan
Derita seperti apapun akan ku terima
Karena Aku mencintaimu tanpa syarat

Ketika kau pergi dengan yang lain
Aku tak mengapa
Karena Aku mencintaimu tanpa syarat

Ketika kau membuatku kalah
Aku tak apa
Karena Aku mencintaimu tanpa syarat

Namun jika kau masih ingin bersamaku
Aku selalu siap
Kapanpun
Karena Aku mencintaimu tanpa syarat

Aku hanya ingin mencintaimu tanpa syarat
Bahkan tanpa harus merasa memilikimu
Bahkan tanpa perlu kau menangkan
Bahkan tanpa balasan apapun darimu
Bahkan bila kau membenciku
Cintaku tak bersyarat
Aku hanya ingin mencintaimu
Itu saja

Jakarta, 28 Mei 2010

Dibuat oleh : APC (inisial sang sahabat)

Bila Engkau Saudaraku

Bila engkau saudaraku

Ku kan menatapmu penuh cinta

Ku kenang dirimu dengan penuh kerinduan

Ku hayal dirimu atas segala kebaikan

Bila Engkau Saudaraku

Kan kuperah meski setetes peluh ku punya tuk membantumu

Kan ku tuang meski setetes darah milikku tuk membelamu

Kan ku tutup meski sepercik aib menerpa mahkotamu

Bila engkau saudaraku

Ku jaga jiwamu dari lisanku

kuhapus namamu dalam lontaran-lontaran penyakit hatiku

kulapangkan dadaku tuk namamu menjelang tidurku.

Wahai engkau…. Bila engkau saudaraku

Ku ingin masuk surga karenamu

karena telah menjaga jiwa, diri, harta dan keluargamu

dari pedang mulut dan hatiku atau orang lain yang membencimu

atau khilaf memandangmu.

Aku dan Motorcycle

Entah kenapa saya begitu terobsesi dengan motor, rasanya lebih ingin memiliki motor yang nyaman dikendarai daripada mobil. Sepertinya obsesi itu dimulai ketika saya mulai menyukai traveling, pergi ke tempat-tempat yang memiliki keindahan alam dan khas (meski jam terbang saya sendiri tidak tinggi-tinggi amat, karna paling jauh hanya ke Aceh), namun tidak ingin direpotkan oleh naik turun angkutan umum, sesaknya penumpang dan kemacetan, maka penggunaan motor adalah solusi yang tepat. Namun pertanyaannya motor yang bagaimana yang nyaman tuk mendukung hobi ini. Kalau dulu ketika SMA saya pernah menggunakan Suzuki Shogun 2 tak kemudian berpindah ke Honda Supra X 110.

Sebagai seorang makhluk yang tinggal di sebuah kota di Indonesia dengan aktivitas keseharian antara Jakarta-Tangerang-Bekasi namun memiliki obsesi seperti tersebut di atas tentu harus memilih motor fungsional yang tepat, bila perlu tidak hanya 1 motor namun 2, karna keadaan tersebut menyebabkan munculnya dua kondisi lalu lintas yang berbeda. Ketika ngubek-ngubek kota akan menemukan kemacetan yang weleh-weleh, namun ketika sedang keluar kota tentu kondisinya akan berbeda.

Sekarang mau ngomong mimpi;

Karna memiliki aktivitas keseharian antara Jakarta-Tangerang-Bekasi yang terkenal kemacetannya bikin pantat panas, otak meleleh, emosi membara, kerongkongan kerontang dsb. Tentu lebih enak memiliki motor kecil berbobot ringan tapi memiliki power yg cukup signifikan untuk melibas kondisi lalu lintas yang stop and go. Harusnya sih skutik karna ga akan cape oper gigi, namun saya sangat ga bergairah naik motor skutik, maka pilihan yang tepat jatuh pada Suzuki Satria FU, motor flagship Suzuki bermesin DOHC 150 cc yang notabene down grade dari Suzuki FXR selain kecil dan ringan, namun enak dipandang dan power (16 hp) serta torsinya cocok untuk digunakan di jalanan perkotaan.

Suzuki Satria FU

Nah untuk keperluan traveling jauh (touring) tentu memiliki moge sebagai sarananya akan sangat mendukung sekali. Namun harga moge itu melangit. Kalau menurut pribadi saya jangan sampai alih-alih hobi seperti tersebut di atas maka harus menghabiskan ratusan juta rupiah untuk menebus kendaraan yang kita inginkan, uang sebanyak itu masih bisa difungsikan untuk keperluan yang lain. Ini untuk pribadi saya loh, bukan berarti saya menyalahkan orang-orang yang sudah memiliki dan ingin memiliki moge, karna saya bisa mehamami obsesi untuk mewujudkan hobi itu memiliki keasyikan tersendiri yang akan membuat hidup ini tidak membosankan.

Beckham dengan F131 Hellcat Combat seharga 612 juta

Solusinya cari moge yang ga mahal-mahal amat, kalau perlu yang second namun kualitas masih baik. Nah nampaknya Honda Hornet 250 pilihan yang tepat. Sepertinya motor ini sudah tidak diproduksi lagi, jadi tinggal cari yang second, kalau ga salah second-nya berada pada kisaran harga 60 jutaan, entah bolong atau isi.

Honda Hornet 250

Motor street fighter (saya lebih sukanya nyebut motor touring hehehe…) ini dibekali mesin DOHC 4 slinder dengan total ruang pembakaran 250 cc, sudah cukup aduhai untuk melibas jalanan antar kota-antar provinsi di Indonesia dikarenakan powernya mencapai 40 hp lebih tinggi dari Honda CBR 250 (26 hp) dan Ninja 250 (31 hp) sekalipun.

Itu kalau punya dana cukup untuk nebus keduanya, kalau ga cukup ya syukur-syukur bisa ngedapetin motor dual purpose, yang menurut saya cocok digunakan disegala kondisi jalan. Nah di Indonesia sendiri sudah ada motor dual purpose yang beredar di pasaran resmi yaitu Kawasaki D-Tracker 150. Jadi, satu motor, ga terlalu merepotkan untuk kemacetan dan juga nyaman untuk antar kota-antar provinsi.

Naah bangun deh alias sekarang sedang tidak bermimpi.

Namun karena sudah keduluan kepincut sama motornya kang Primus akhirnya yang keduluan kepinang adalah Honda Tiger Revo, motor yang katanya bermesin jadul (GL) dengan ruang pembakaran 200 cc, ternyata ergonominya muantap banget dan terasa banget ketika dipakai keluar kota. Powernya yang cuma 16,7 Hp terkadang masih membuat kurang puas ketika ketemu jalanan kosong melompong… pong… pong… pong… Kalau pemakaian dalam kota, yah harus banyak-banyak sabar aja lah membawa motor seberat itu di kemacetan Kota. Well daripada tidak ya syukuri saja. Kan firman Allah yg artinya: “Sungguh jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah (nikmat-Ku), namun bila kalian kufur sesungguhnya azab-Ku amat pedih”. Mudah-mudahan kalau disyukuri dan dinikmati akan ada rezeki yang ga disangka-sangka dan bisa untuk menebus motor-motor impian di atas.

Dan dalam perjalanannya selama hampir 3 tahun, Tiger Revo yang saya beri nama Siti ini sudah menemani kesibukan saya di dalam kota dan perjalanan ke beberapa kota, seperti; Serang-Pandeglang, Bogor-Bandung-Garut-Tasik-Ciamis-Banjar dan Sukabumi Ujung alias Ujung Genteng.

Alhamdulillah

Tour de' Pandeglang

Tour de' Ujung Genteng

Tour de' Banjar

Yang Kucinta

Yang kucinta adalah kelembutan

Kelemahan yang menaklukkan

Intonasi yang menggugahkan

Kasih sayang membangun belaian

 

Yang kucinta adalah kecantikan

Paras yang menyegarkan

Harum khas tak terlupakan

Racikan unik sebuah kenikmatan

 

Yang kucinta adalah kebijakan

Celotehan kebangkitan

Petuah kemanusiaan

Namun tak melemahkan

 

Yang kucinta adalah kesabaran

Melingkari keterasuhan

Mengerti arti kesalahan

Guru bagi hikmah dan kebijakan

 

Yang kucinta adalah pengorbanan

Tatkala cinta begitu diagungkan

Melahirkan sebuah kekuatan

Untuk satu tiang peradaban

 

Datangnya dari arah tak berarah

Tampaknya dari kota sebelah

Sosok keterhimpunan cahaya-cahaya

Yang melintasi sejarah kehidupan

Milik seorang anak manusia

 

Benarkah ku dapatkan

Usaikah penantian

Lagi-lagi satu yang tersisa

Ikatan teguh dalam naungan rahmat dan karunia Tuhan

 

4 Oktober 2008

Ku Panggil Kau “Jiwa”

Kau memang manusia

Dengan kewajaran kau alpa

Namun kau jiwa

Tempat iman datang mendera

Untuk kesekian kali kau menyapa

Karma kau sadar Ia tak pernah berpaling

Dan yang selalu kau tanya

Apakah pada akhirnya kau bersama ridha-Nya

Baiklah, dan tak ada salahnya

Kau gores lagi titik-titik bahasa

Gambar azzam dan taubat

Rupa niat dan tawakkal

Dengan harap ia akan menjadi jejak

Bilamana kau salah melangkah lagi

Kini ku panggil kau Jiwa

Wahai garis-garis hidup dalam pena

Karna kau adalah semburat iman

Hari demi hari hingga akhirnya kau mati

Semoga tetes tinta terakhirmu

Tak ada nama lain yang kau toreh

Kecuali ALLAH

Dukuh, 16 November 2010

Butir Renungan Saat Aku Jatuh

(copas dari tetangga sebelah ^_^, semoga bermnfaat ya…)

MENGAPA AKU DIUJI

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka seseungguhnya Allah Mengetahui orang-orang yang benar dan seseunguhnya Dia Mengetahui orang-orang yang dusta”
(Q.S. Al-Ankabut 2-3)

MENGAPA AKU TIDAK DAPAT YANG AKU IDAM-IDAMKAN

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”
(Q.S. Al-Baqarah 216)

MENGAPA AKU DIBERI UJIAN SEBERAT INI

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(Q.S. Al-Baqarah 286)

AKU SUDAH MERASA FRUSTASI

” Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”
(Q.S. Al-Imran 139)

BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA

“ Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkan kesabaranmu…”
(Q.S Al-Imran 200)

APA YANG AKU DAPAT DARI COBAAN INI

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka…” (Q.S At-Taubah 111)

KEPADA SIAPA AKU HARUS BERHARAP

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Aras yang agung’
(Q.S At-Taubah 129)

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”
(Q.S Yusuf 86)

AKU TAK DAPAT BERTAHAN LAGI

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari Rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”
(Q.S. Yusuf 87)

“Sesungguhnya Allah tidak akan selalu memenuhi KEINGINAN kita, tapi PASTI selalu memenuhi segala KEBUTUHAN kita”.

“Kesalahan terbesar adalah bila engkau berusaha meluruskan & membenahi kehidupan yang ada di sekitarmu, tapi engkau meninggalkan kekacauan dalam hatimu”.
(Musthofa Shidiq ar Rafi’i)

http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/annisa-lestari/butir-renungan-saat-aku-jatuh/405448481403