Jika

Barry Calvin Ginting _ID_

Iklan

untukmu Kader Dakwah – inikah Partai Dakwah?

INIKAH PARTAI DAKWAH??
Ya. 100% kami tak pernah sangsi.

KOK ADA YANG BERBUAT BEGITU?
Husnudzon di awal, itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Kalo memang terbukti? Hukum yg akan bicara. Adakah orang yang tidak pernah berbuat salah?

MENODAI PARTAI DKWAH?
Kalo memang TERBUKTI,noda itu tinggal dibersihkan.

KALO TIDAK BISA DIBERSIHKAN?
Diamputasi (pecat). Dan tanpa gembar-gembor, PKS sudah banyak menjatuhkan sangsi kepada kader-kadernya yang terbukti melanggar AD/ART dan etika.

MEMALUKAN?
Tidak. Tapi sbg pembelajaran bg kami, YA! Kenapa harus malu utk mengakui dan bertobat?

KALO ITU TERBUKTI SALAH?
Hanya iblis yang sombong yg tidak mau mengakui kekeliruan diri.

GARA2 INI KADER AKAN BERHENTI?
Tidak. TAKKAN PERNAH.Krn dakwah ini tidak ditentukan satu dua orang. Bahkan seandainya semua meninggalkan arena dakwah, kami tlah ber’azam takkan pernah meninggalkan jalan ini. Kami berdakwah bukan utk berharap puja puji atau takut dicaci. Allah-lah tujuan kami. Kalo ada yg bersalah diantara kami, Allah pula sudah memberi petunjuk: BERTOBAT dan dimaafkan.

KALO TDK MAU BERTOBAT?
Sungguh azab Allah sangat pedih hanya dibanding caci maki!Mungkin ada yang akan mengomentari:”Kasihan kader lapisan bawah yang ikhlas berjuang dan tsiqoh pada qiyadah, tapi qiyadahnya sudah pada menyimpang, hidup bergelimang dunia”.Saya akan katakan: “Kasihinilah dirimu sendiri, yang hidup bergelimang prasangka dan dusta. Kasihinilah dirimu sendiri, yang lebih memilih menyendiri diterkam srigala dibanding teguh dalam jamaah penuh berkah, kasihinlah dirimu sendiri yang tiada henti sibuk mengorek orang lain tapi melupakan aib diri sendiri.

By: anyone

Prof. Jimly Asshiddiqie Khawatir Keberanian KPK Didasari Atas Kebodohan

Islamedia – Hukum adalah alat mencari keadilan. Jadi hukum bukan untuk hukum. Karena itu jangan terpaku hanya pada prosedur, teknis, administrasi.

“Penegak hukum harus melihat konteks yang lebih besar. Bahwa hukum alat membangun keadilan dan kebenaran. Jadi bukan hukum untuk hukum,” ujar mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 31/).

Jimly menanggapi penetapan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka kasus suap impor daging sapi.

“Makanya saya selalu mengatakan penegak hukum itu harus bertangan dingin, berhati dingin, berkepala dingin, dan berdarah dingin. Tidak boleh tangan panas, tidak boleh
berhati panas,” ungkapnya.

Tak hanya itu, penegak hukum juga tidak boleh ingin menunjukkan keberanian. Karena keberanian itu adalah ciri orang berdarah panas. Bahkan, katanya, penegak hukum
tidak boleh pemberani. Pemberani itu tidak relevan untuk penegak keadilan.

“Sangat berbahaya kalau pedang keadilan diserahkan kepada orang yang berani. Yang kita perlukan bukan pemberani. Sebab pemberani itu bisa berani karena bodoh, bisa berani tapi pintar. Tapi sepintar-sepintar orang kalau dia sedang berani sering emosional. Jadi menegakkan hukum tidak perlu berani dan tidak perlu menunjukkan sikap pemberani,” ungkapnya.

Jimly sendiri melihat proses hukum yang dialami oleh Lutfhi sangat cepat. Setelah proses tangkap tangan terhadap tiga orang Selasa malam, pada Rabu malamnya, Luthfi
langsung dijadikan tersangka. Dan malam itu juga dijemput oleh penyidik KPK.

Karena itu, dia kuatir keberanian KPK ini karena didasari atas kebodohan. Kalau sampai pedang keadilan diserahkan kepada orang bodoh, menurutnya itu sangat bahaya.

“Jangan sampai begitu. Menegakkan keadilan itu kan sebagian juga seni. (Lutfhi) belum diperiksa kok dijadikan sebagai tersangka. Bok ditunggu seminggu kalau memang ada alat bukti. Ini kan soal kecerdikan. Jadi ini
penegak hukumnya agak bodoh. Bisa karena bodoh, bisa karena goblok. Ini bukan soal salah benar. Ini soal seni. Dia tidak berseni,” tandasnya.

Sebelumnya Jimly menjelaskan, agar orang tidak curiga, KPK harus menungkapkan dua alat bukti mengenai keterlibatan Lutfhfi. Jadi
kalau misalnya, tidak diungkapkan dua alat bukti yang dianggap cukup itu orang jadi heran. Kok tiba-tiba begitu cepat prosesnya,” ujar Jimly. (rol)

Sumber: Islamedia

Jernih Memandang sebuah Peristiwa – Study Kasus Penangkapan Ustadz Luthfi Hasan Ishaq

presiden_pks_luthfi_hasan_ishaaq_101227130331Beberapa hari ini, medan dakwah dan politik dihebohkan oleh penangkapan Presiden PKS (Luthfi Hasan Ishaq) pada Rabu malam (30/1) oleh KPK dengan dugaan korupsi impor daging sapi. Medan dakwah heboh karena memang PKS yang dikenal kental dengan partai Dakwah yang Islamis namun tercitrakan buruk tentunya dengan kasus ini. Heboh di medan politik karena memang PKS yang dikenal partai yang bersih dan selalu kuat mengusung pemberantasan korupsi ternyata kadernya menjadi tersangka kasus suap, tak tanggung-tanggung karna yang disangka dan ditangkap tersebut adalah presiden partai itu sendiri. Tak tanggung-tanggung hanya dalam hitungan jam dilakukan penangkapan. Begitu ironis dengan dugaan suap ketum Partai Demokrat (Anas Urbaningrum) atau bahkan kasus Angelina Sondakh sendiri yang KPK harus menunggu berhari-hari untuk melakukan penangkapan.

Banyak broadcast BBM dan whats app yang masuk mencoba menjelaskan kejanggalan penangkapan dan kasus ini, berikut di antaranya:

“Terkait dengan isu KPK nampaknya agak kacau balau. Yang bikin skenario kurang profesional. Pertama, Ketika berita penangkapan muncul isunya ikut ditangkap supir Menteri Pertanian (Mentan). Ternyata dibantah. Kedua, yang mau disuap adalah anggota Komisi IV DPR dari PKS. Sekarang jadi LHI yang jelas-jelas Komisi I. Ketiga, jika kaitannya dengan daging impor, dan tudingannya diarahkan LHI bisa atur Mentan yang notabene kader PKS juga, jelas salah alamat. Pasalnya Mentan tak lagi mengatur impor daging. Impor daging kuotanya yang mengatur Deperindag. Apakah LHI bisa atur (mengintervensi) Menperindag yang notabene orang SBY. Keempat, disebutkan upaya penyuapan. Yang bersangkutan (LHI) tidak menerima uang tersebut, hanya disebutkan uang itu rencananya untuk LHI. Apakah adil orang yang baru mau disuap (belum disuap) dijadikan tersangka? Padahal dia (LHI) bisa jadi tidak tahu ada upaya itu. Dan apalagi tidak menerima uang tersebut. Wallahu a’lam bishshawab semoga Allah melindungi kita semua dari makar ini aamiin”

Ada pula yang mencurigai bahwa kasus ini bagian dari makar asing untuk menjatuhkan PKS sebagai Partai yang menurut mereka beraliran Islam garis keras:

“Kompas (31/01/13): Dubes AS ke KPK. Scot Marciel (Dubes AS untuk Indonesia) bertemu pimpinan KPK (30/01/13). Marciel datang ke KPK untuk menawarkan bantuan dana dan menjalin kerjasama lebih erat dengan KPK.

Jadi… Ooo… gini toh… ckckckck.”

Menurut berita dari suaranews.com, disebutkan bahwa Profesor Tjipta Lesma yang ternyata lebih menganggap bahwa proses KPK atas penangkapan LHI merupakan upaya untuk pengalihan isu-isu besar. Bahkan seorang Tjipta Lesmana yang dituduh membela PKS ini oleh jubir KPK, Johan Budi. Menganggap bahwa banyak kasus besar yang masih belum terungkap, lalu tiba-tiba KPK langsung menangkap Ketua Partai dan dikaitkan dengan korupsi.

Dan menurut pengacara LHI, Zainuddin Paru disebutkan bahwa Ahmaf Fathanah yang tertangkap tangan membawa uang 1 milyar (ingat bukan LHI yang sedang memegang  uang 1 milyar tersebut) itu bukanlah orang dekat ataupun teman dari LHI.

Menurut sumber dari satunegeri.com, disebutkan kontrasnya kasus LHI dengan Emir Moeis yang sudah dijadikan tersangka sejak 20 Juli 2012 atas kasus PLTU di Tarahan, Lampung namun hingga kini belum dilakukan penahanan.

Well…. Semua informasi tersebut cukup mencerahkan saya perihal kejanggalan kasus ini dan menimbulkan pertanyaan perihal latar belakang ini semua terlebih lagi bila kita kaitkan dengan Pemilu 2014. Atau bila berbicara lebih makro lagi, perihal sebuah pertanyaan makar apa yang disiapkan dalam strategi makro musuh-musuh dakwah untuk membendung laju PKS yang notabene Partai Islam dengan kekentalan ideologi Islam yang universal dan integralnya serta aktivitas dakwahnya di tengah masyarakat.

Terlepas dari itu semua, sebagai orang beriman, kita punya koridor dalam menilai suatu peristiwa. Apalagi bila peristiwa itu dikaitkan dengan seorang beriman pula yang notabene seorang ustadz, dengan gelar Doktoral Islam dan mantan Mujahidin di Afghanistan.

Bila dalam proses hukum sendiri ada asas praduga tak bersalah dan kronologi urutan status suspek hukum. Maka di dalam syari’at ini ada proses tabayyun (mencari kejelasan dari sumber informasi yang seimbang) dan husnuzhan (prasangka baik).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]:6)

Maka perlu kiranya ketika mendengar kabar seorang Presiden partai dakwah, dengan doktoral Islam-nya serta seorang mantan Mujahidin Afghanistas dalam mengusir Uni Soviet, ditangkap. Sebagai seorang mukmin, persepsi pertama adalah husnuzhan (prasangka baik). Tidak langsung memvonis sebagai koruptor lah dan sebagainya. Toh statusnya sendiri masih tersangka. Kemudian patut kita mencari informasi yang seimbang dalam mengabarkan kasus ini. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kebathilan telah didukung oleh media dalam propagandanya. Lihat sajalah di stasiun-stasiun televisi kita, apa sih yang diajarkan oleh mereka. Jadi tak cukup bagi kita mencari informasi hanya sebatas pada media-media yang tidak Islami, namun perlu kita mencari sumber informasi dari media-media yang mengedepankan nilai-nilai Islami dan dakwah atau kalau bisa kita mengkonfirmasi ke LHI sendiri yang bersangkutan (kalau bisa), toh juga LHI telah memberikan keterangan pers perihal kasusnya. Pelajari kasusnya baik secara mikro dan perlu juga kita melihat apakah ada konspirasi global dari semua ini. Sebagaimana ideologi Islam yang ideal adalah ideologi yang mengglobal sehingga ia akan mendapatkan musuh yang global pula yang akan menghantam dengan berbagai cara.

Bila kita gegabah (isti’jal) dalam menilai kasus ini, maka kita telah masuk dalam perangkap syaithan dan saya khawatir kita terjebak dalam perkataan dusta yang jelas dusta itu bukanlah sifat orang beriman. Alangkah baiknya kita menunggu kejelasan kasus ini , kalaupun pada akhirnya memang beliau telah divonis bersalah maka kita tetap mencari informasi dari sumber media yang berimbang. Sebagaimana kita ketahui di negara ini ada aparat hukum yang salah tangkap, ada ketidak adilan dimana seorang pencuri ringan semacam sendal dan pisang divonis 7 tahun penjara sedangkan koruptor ratusan juta dan milyaran hanya divonis 4 tahun penjara. Maka semua ini tetap tidak akan melunturkan semangat para aktivits dakwah untuk terus melanjutkan misi global mereka menegakkan kalimatullah di bumi ini dan mencari informasi dari sumber media yang seimbang.

Mari kita belajar dari kisah Haditsul Ifki (berita bohong) di zaman Rasulullah SAW yang melibatkan Ummul mukminin ‘Aisyah ra. Ada beberapa orang beriman yang terbawa oleh arus propaganda (hadiitsul ifki) tersebut dan begitu banyak pula orang beriman yang mengedepankan husnuzhan sehingga akhirnya kasus tersebut menjadi jelas dan jelas pulalah siapa yang memegang teguh imannya dan siapa yang telah menjadi munafiq karna ujian tersebut. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang beriman yang tak terbawa propaganda dan juga bisa menyadarkan orang-orang beriman di sekitar kita yang telah terseret oleh propaganda buruk.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu. Bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan (menggapa tidak) berkata: “ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” ….. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah adalah besar. ….. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (An Nuur: 11-20)

Wallahu a’lamu bish shawaab.

Pencitraan, perlu ga sih (dibahas)?

Ketika banjir Jakarta beberapa hari yang lalu, sejumlah pejabat, parpol dan artis turun ke lapangan. Peninjauan, pemberian bantuan dan pendirian posko banjir serta sejumlah agenda lain dilaksanakan. Tak terkecuali PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang merupakan pelopor gerakan sosial kepartaian dalam bentuk yang real dari semenjak pertama kali berdirinya (dulu bernama PK/Partai Keadilan). Begitu pula Jokowi (Gubernur Jakarta) tak luput dari aktivitas kesana-kemari turun langsung melihat kondisi masyarakat Jakarta.

Lantas, ada satu hal yang diangkat oleh beberapa kalangan mengenai fenomena tersebut dengan mengistilahkan sebagai politik pencitraan dalam rangka agenda 2014 (pemilu). Dari sebagian kalangan yang lebih agamis bahkan menjudgement hal tersebut sebagai amalan riyaa’ (pamer bertujuan pujian dari manusia) yang tentunya tidak akan mendatangkan pahala sedikitpun dari Allah SWT. Nah khususnya untuk PKS yang notabene partai berbasis ideologi dakwahnya, tak pantas mempraktekkan yang berunsur riyaa’ tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah, ada masalahkah dengan politik pencitraan sehingga terasa perlu dikritisi bahkan dengan sikap antipati, meskipun hal itu bagian dari agenda pemenangan pemilu 2014.

Yang perlu dipahami adalah, bahwasannya hal-hal kejiwaan seperti ketulusan (keikhlasan), kesombongan dan juga riyaa’ adalah perkara-perkara hati individual yang mana konsekuensinya hanya memperkarakan ranah jiwa/individu semata, bukanlah ranah instansi.

Maka ketika sebuah instansi seheboh dan sebesar apapun memamerkan kebaikan yang dikerjakannya, tak dapat kita memberikan judgment kepada instansi tersebut sebagai sebuah perbuatan riyaa’. Karena memang tidak ada satupun malaikat yang Allah utus untuk mencatat kebaikan dan keburukan sebuah instansi.

Adalah hal yang tidak patut pula bagi kita menjudgement orang-orang yang ada di instansi tersebut dengan riya (pamer) toh mereka atas nama kepribadiannya sudah tertutup oleh nama instansi tersebut. Yang salah adalah bila orang-orang yang ada dalam instansi tersebut merasa bangga (ujub) secara pribadi karna telah tergabung dalam sebuah instansi yang memberikan manfaat bagi sekitarnya, atau secara pribadi ingin dipuji sebagai seorang aktivis yang tergabung dalam instansi tersebut.

Adapun identifikasi politik pencitraan sebagai kampanye terselubung atau mencuri start sehingga muncul pelarangan dalam bentuk peraturan atau perundangan, itu hanyalah sebuah politisasi yang seringkali bias karena intervensi oleh penguasa saat ini. Contoh, Jokowi sempat melarang parpol mendirikan posko banjir.

Pencitraan Individu

Bila di atas adalah politik pencitraan terkait instansi yang sudah tidak bisa lagi divonis riyaa’ dan tidak ikhlas. Lalu bagaimana dengan pencitraan yang dilakukan atas nama individu, hal ini biasanya terjadi dalam rangka pilpres, pilgub atau pemilukada lainnya. Nah disinilah peluang besar munculnya penyakit riyaa dalam diri seseorang bisa terjadi.

Namun pertanyaan selanjutnya, seberapa pentingkah kita menjudgement seseorang tersebut dengan riyaa’ (pamer) dalam rangka menarik simpati orang lain. Alih-alih sebagai kritik konstruktif malah menjadi politisasi sendiri atau dipolitisasi oleh kalangan tertentu.

Mengapa menjudgement seperti ini menjadi tidak perlu karna fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa manusia tidak pernah bisa menilai hati manusia lainnya dengan benar sebenar-benarnya. Hanya Allah yang paling mengetahui urusan hati manusia karena itu perkara amalan-amalan hati maka serahkan saja kepada Allah urusannya.

Di sisi lain ternyata Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk beramal baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

قُل لِعِبَادِيَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يقِيمُوا الصَّلَاهَ” وَ يُنفِقُوا مِمَّا رَزَقنهُم سِرًّا وَ عَلانِيَهً” مِن قَبلِ أَن يَأتِيَ يَومٌ لَا بَيعٌ فِيهِ وَ لَا خِللٌ

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” (Ibraahiim: 31)

Atau yang lebih tegas Allah memerintahkan sebuah amal agar bisa dilihat oleh orang lain dalam ayat berikut:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan kalian dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (at Taubah: 105)

Beramal dan berbuat baiklah dalam rangka apapun, pencitraan kah, kampanye kah, toh bila memang bertujuan mendapatkan tampuk kepemimpinan untuk bisa menuai kebaikan dan menyebarkan dakwah lebih sistematis dan kuat, maka itu sebuah visi yang sangat mulia dan pasti bernilai ibadah besar di sisi Allah. Perihal kualitas atau esensi amal-amal tersebut yang mana ikhlas (di hati) menjadi indikatornya sesuai dengan aya di atas, akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang nyata. Bukan dikembalikan kepada kita sendiri.

Maka kita tidak memiliki urgensi lagi untuk mejudgement sebuah aktivitas sosial sebuah instansi atau individu sebagai riyaa’, ujub atau politik pencitraan. Karna judgement tersebut hanya mengindikasikan kekurang pahaman terhadap proyek membangun peradaban yang membutuhkan strategi jangka panjang yang saling berkaitan dan sinergis dimana semua ini menjadi kandungan esensial dakwah yang paripurna serta integral. Atau judgement tersebut hanyalah menjadi sebuah produk politisasi atau menjadi bahan politisasi pihak lain yang berseberangan.

Jadi, daripada meributkan latar belakang politik pencitraan yang bukan ranahnya manusia. Lebih baik mendiskusikan proyek-proyek pencitraan yang efektif dan kotributif terhadap strategi kebaikan yang lebih masif lagi.

Wallahu a’lam.

Dua Fakta Unik terkait Fenomena Film The Innocence of Moslem

Berikut dua fakta unik dan mengherankan terkait fenomena kontroversi film The Innocence of Moslem yang memunculkan kemarahan kaum muslimin di seluruh dunia karena film tersebut berisi penistaan agama.

Pengadilan menolak Gugatan Artis Film The Innocence of Moslem

Pengadilan California menolak gugatan Cindy Lee Garcia, artis film The Innocence of Moslem. Hakim di pengadilan tinggi Los Angeles Luis Lavin mengatakan dia menolak sebagian gugatan Garcia, karena laki-laki yang diyakini membuat film tersebut tidak mendapatkan salinan gugatan. Permintaan untuk membatasi sementara (tayangan film) ditolak, kata hakim Lavin seperti yang dilansir BBC, Jum’at (21/9).

Cindy Lee Garcia memperkarakan penayangan film yang menghina Nabi Muhammad SAW itu karena merasa ditipu. Ia memperkarakan sang produser Nakoula Basseley alias Sam Bacile. Tak hanya Nakoula, Cindy juga menggugat Youtube agar menarik video menghina umat Islam itu dari server mereka.

Hadiah 900 Juta Rupiah

Menteri Perkeretaapian Pakistan, Ghulam Ahmad Bilour, Sabtu (22/9/2012) menawarkan hadian US $ 100.000 atau sekitar Rp 900 juta bagi pembunuh pembuat film The Innocence of Moslem.

“Saya mengumumkan hari ini, si penghujat adalah orang berdosa yang telah berbicara omong kosong tentang nabi. Siapa yang membunuh dia, aku akan menghadiahinya dengan US $ 100.000.”

Siyaasah Ibaadah

Orang yang mempelajari fiqh dakwah akan segera memahami bahwa perencanaan Islam (takhthiith islaamii) memiliki ciri khas yang berbeda dari ciri yang ada pada partai-partai sekuler. Perencanaan Islami tercermin pada pemaduan sempurna antara tarbiyyah iimaaniyyah akhlaaqiyyah dan penetrasi politis.

Program kita bukan program politis semata. Di dalam program kita tidak cukup hanya dengan pemberian tarbiyah kepada para da’i sehingga dapat membuat sikap-sikap politik. Tetapi keterlibatan politik ini harus didahului oleh fase ta’siis (pembangunan asas) yang menggarap tarbiyah dalam pembangunan organisasi. Setelah itu tarbiyah terus berlangsung dan mengikuti keterbukaan aktivitas dan pertarungan politik, sedangkan kontribusi sikap-sikap politik menjadi sandaran dan dukungan baginya.

Sejarah Jama’ah mengisyaratkan bahwa usaha-usaha tarbiyah menjamin keselamatan kerja dan terhindarnya dari penyimpangan, membantu melenyapkan berbagai fitnah dan memberi solusi terhadap berbagai keletihan semangat, di samping sebagai petunjuk-petunjuk syar’iyyah. Usaha-usaha tarbiyyah merupakan sunnah (aturan) praktis yang dilalui nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membentuk para sahabat beliau dan membangun daulah islaamiyyah.

Siyaasah ‘ibaadah yang kami maksud adalah bahwa ia mencakup tarbiyah ini. Praktek kolektif, pelatihan-pelatihan praktis dan pengangkatan para pemimpin dianggap sebagai sisi-sisi penting di dalam siyaasah (policy). Begitu juga berdiam diri di masjid, membaca al Qur’an, majlis pengajian hadits nabawi yang mulia, penelaahan kitab-kitab nasihat, dan mendengar nasihat dan ajaran dianggap sebagai sisi-sisi lain yang sama pentingnya dengan yang di atas, atau menjadi pintu gerbang baginya atau membantu kelanggengan pengaruhnya.

Demikianlah garis tengah dan ukuran yang benar. Hal ini hanya dilupakan oleh dua orang:

Pertama, sekelompok da’i lugu yang menjauhi keterlibatan politik dan berlebihan dalam tarbiyah yang statis dan jumud, kemudian ia keluar ke kutub radikal yang mengingkari seluruh dasar tarbiyah, lalu ia memuntahkan semua ungkapannya yang bersemangan dalam kata-kata yang tidak terukur.

Kedua, sekelompok da’i yang terburu-buru menempatkan diri mereka pada wilayah politik yang mendekati sikap gegabah, lalu ia keluar ke kutub radikal berlawanan yang dengannya ia berubah menjadi sekedar seorang yang zuhud ahli ibadah.

Kebenaran tidak ada pada salah satu dari dua kelompon ini. Sebaliknya kebenaran ada pada kemenyeluruhan, lebertahapan, dan kombinasi tetap antara tarbiya dan keterlibatan politik.

dikutip dari tulisan Muhammad Ahmad ar Rasyiid di buku Khitah Dakwah: Garis Perjuangan Gerakan Islam Kontemporer (judul asli: al Masaar), semoga dapat menjadi nasihat bagi kita semua.