Lingkaran yang tidak lagi Tersambung

cincin patahKite memang perlu membedakan antara sistem, sarana, pelaku dan terapan. Namun dalam konteks idealisme dakwah Islam komprehensifitas atas keempat hal diatas adalah sebuah keniscayaan tersendiri yang mencerminkan kebenaran sistem tersebut, kesehatan sarananya, keshalihan pelakunya dan keshahihan penerapannya. Pada akhirnya hasil-hasilnya adalah sebuah perbaikan di pribadi, keluarga, masyarakat dan dunia.

Jelas, meragukan sebuah sistem adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir. Namun perpisahan terhadap 3 hal yang tersisa di atas adalah buah dari kekecewaan yang teramat dalam atas gagalnya sebuah komprehensivitas. Adakah sebuah kebersamaan harus terus dipertahankan bersama sebuah parsialitas kesatuan umat, saat hal tersebut tidak lagi berdampak signifikan bagi perbaikan diri dan manfaat ukhrawi. Sedangkan bisa jadi di sisi sana ada sebuah parsialitas lagi yang mendengungkan komprehensivitas dan bisa jadi mereka benar, hanya perlu kita mencoba memahaminya saja dengan sebuah kemerdekaan fikrah.

Ketika sebuah sistem teramat agung dan sempurna. Namun sarananya begitu makin keropos tanpa ada reformasi sistematis memperbaikinya. Pelakunya begitu banyak diisi oleh oknum yang tegak di atas pepesan kosong ukhuwah dan retorika. Dan penerapannya seolah berjalan di tempat untuk tidak menyebut mundur kebelakang bila menoleh perkembangan politik dan umat serta masyarakat saat ini. Pada saat  itulah kita sedang berada pada lingkaran yang tidak lagi tersambung, cincin yang patah atau parahnya sebuah semangat yang semu dan tujuan yang fatamorgana. Tapi di sisi lain diri kita tetap harus terus belajar dan memperbaiki diri agar bisa mengajari dan memperbaiki orang lain. Ingat, tanggung jawab sejalan waktu semakin besar seiring pertambahan usia, perkembangan keluarga dan polemik masyarakat, politik dan negara.

Maka janganlah kalian nistai dia dengan ketidakberadaannya karena kalian sudah tau rambu-rambunya dari al Qur’an, begitu pula isyarat dari sang murabbi kita berikut ini.

كم فينا و ليس منا, و كم منا و ليس فينا

Betapa banyak yang bersama kita tapi bukan berasal dari kita, dan betapa banyak yang dari kita namun tidak bersama-sama kita.

Wallahu a’lam.

Iklan

untukmu Kader Dakwah – inikah Partai Dakwah?

INIKAH PARTAI DAKWAH??
Ya. 100% kami tak pernah sangsi.

KOK ADA YANG BERBUAT BEGITU?
Husnudzon di awal, itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Kalo memang terbukti? Hukum yg akan bicara. Adakah orang yang tidak pernah berbuat salah?

MENODAI PARTAI DKWAH?
Kalo memang TERBUKTI,noda itu tinggal dibersihkan.

KALO TIDAK BISA DIBERSIHKAN?
Diamputasi (pecat). Dan tanpa gembar-gembor, PKS sudah banyak menjatuhkan sangsi kepada kader-kadernya yang terbukti melanggar AD/ART dan etika.

MEMALUKAN?
Tidak. Tapi sbg pembelajaran bg kami, YA! Kenapa harus malu utk mengakui dan bertobat?

KALO ITU TERBUKTI SALAH?
Hanya iblis yang sombong yg tidak mau mengakui kekeliruan diri.

GARA2 INI KADER AKAN BERHENTI?
Tidak. TAKKAN PERNAH.Krn dakwah ini tidak ditentukan satu dua orang. Bahkan seandainya semua meninggalkan arena dakwah, kami tlah ber’azam takkan pernah meninggalkan jalan ini. Kami berdakwah bukan utk berharap puja puji atau takut dicaci. Allah-lah tujuan kami. Kalo ada yg bersalah diantara kami, Allah pula sudah memberi petunjuk: BERTOBAT dan dimaafkan.

KALO TDK MAU BERTOBAT?
Sungguh azab Allah sangat pedih hanya dibanding caci maki!Mungkin ada yang akan mengomentari:”Kasihan kader lapisan bawah yang ikhlas berjuang dan tsiqoh pada qiyadah, tapi qiyadahnya sudah pada menyimpang, hidup bergelimang dunia”.Saya akan katakan: “Kasihinilah dirimu sendiri, yang hidup bergelimang prasangka dan dusta. Kasihinilah dirimu sendiri, yang lebih memilih menyendiri diterkam srigala dibanding teguh dalam jamaah penuh berkah, kasihinlah dirimu sendiri yang tiada henti sibuk mengorek orang lain tapi melupakan aib diri sendiri.

By: anyone

Jernih Memandang sebuah Peristiwa – Study Kasus Penangkapan Ustadz Luthfi Hasan Ishaq

presiden_pks_luthfi_hasan_ishaaq_101227130331Beberapa hari ini, medan dakwah dan politik dihebohkan oleh penangkapan Presiden PKS (Luthfi Hasan Ishaq) pada Rabu malam (30/1) oleh KPK dengan dugaan korupsi impor daging sapi. Medan dakwah heboh karena memang PKS yang dikenal kental dengan partai Dakwah yang Islamis namun tercitrakan buruk tentunya dengan kasus ini. Heboh di medan politik karena memang PKS yang dikenal partai yang bersih dan selalu kuat mengusung pemberantasan korupsi ternyata kadernya menjadi tersangka kasus suap, tak tanggung-tanggung karna yang disangka dan ditangkap tersebut adalah presiden partai itu sendiri. Tak tanggung-tanggung hanya dalam hitungan jam dilakukan penangkapan. Begitu ironis dengan dugaan suap ketum Partai Demokrat (Anas Urbaningrum) atau bahkan kasus Angelina Sondakh sendiri yang KPK harus menunggu berhari-hari untuk melakukan penangkapan.

Banyak broadcast BBM dan whats app yang masuk mencoba menjelaskan kejanggalan penangkapan dan kasus ini, berikut di antaranya:

“Terkait dengan isu KPK nampaknya agak kacau balau. Yang bikin skenario kurang profesional. Pertama, Ketika berita penangkapan muncul isunya ikut ditangkap supir Menteri Pertanian (Mentan). Ternyata dibantah. Kedua, yang mau disuap adalah anggota Komisi IV DPR dari PKS. Sekarang jadi LHI yang jelas-jelas Komisi I. Ketiga, jika kaitannya dengan daging impor, dan tudingannya diarahkan LHI bisa atur Mentan yang notabene kader PKS juga, jelas salah alamat. Pasalnya Mentan tak lagi mengatur impor daging. Impor daging kuotanya yang mengatur Deperindag. Apakah LHI bisa atur (mengintervensi) Menperindag yang notabene orang SBY. Keempat, disebutkan upaya penyuapan. Yang bersangkutan (LHI) tidak menerima uang tersebut, hanya disebutkan uang itu rencananya untuk LHI. Apakah adil orang yang baru mau disuap (belum disuap) dijadikan tersangka? Padahal dia (LHI) bisa jadi tidak tahu ada upaya itu. Dan apalagi tidak menerima uang tersebut. Wallahu a’lam bishshawab semoga Allah melindungi kita semua dari makar ini aamiin”

Ada pula yang mencurigai bahwa kasus ini bagian dari makar asing untuk menjatuhkan PKS sebagai Partai yang menurut mereka beraliran Islam garis keras:

“Kompas (31/01/13): Dubes AS ke KPK. Scot Marciel (Dubes AS untuk Indonesia) bertemu pimpinan KPK (30/01/13). Marciel datang ke KPK untuk menawarkan bantuan dana dan menjalin kerjasama lebih erat dengan KPK.

Jadi… Ooo… gini toh… ckckckck.”

Menurut berita dari suaranews.com, disebutkan bahwa Profesor Tjipta Lesma yang ternyata lebih menganggap bahwa proses KPK atas penangkapan LHI merupakan upaya untuk pengalihan isu-isu besar. Bahkan seorang Tjipta Lesmana yang dituduh membela PKS ini oleh jubir KPK, Johan Budi. Menganggap bahwa banyak kasus besar yang masih belum terungkap, lalu tiba-tiba KPK langsung menangkap Ketua Partai dan dikaitkan dengan korupsi.

Dan menurut pengacara LHI, Zainuddin Paru disebutkan bahwa Ahmaf Fathanah yang tertangkap tangan membawa uang 1 milyar (ingat bukan LHI yang sedang memegang  uang 1 milyar tersebut) itu bukanlah orang dekat ataupun teman dari LHI.

Menurut sumber dari satunegeri.com, disebutkan kontrasnya kasus LHI dengan Emir Moeis yang sudah dijadikan tersangka sejak 20 Juli 2012 atas kasus PLTU di Tarahan, Lampung namun hingga kini belum dilakukan penahanan.

Well…. Semua informasi tersebut cukup mencerahkan saya perihal kejanggalan kasus ini dan menimbulkan pertanyaan perihal latar belakang ini semua terlebih lagi bila kita kaitkan dengan Pemilu 2014. Atau bila berbicara lebih makro lagi, perihal sebuah pertanyaan makar apa yang disiapkan dalam strategi makro musuh-musuh dakwah untuk membendung laju PKS yang notabene Partai Islam dengan kekentalan ideologi Islam yang universal dan integralnya serta aktivitas dakwahnya di tengah masyarakat.

Terlepas dari itu semua, sebagai orang beriman, kita punya koridor dalam menilai suatu peristiwa. Apalagi bila peristiwa itu dikaitkan dengan seorang beriman pula yang notabene seorang ustadz, dengan gelar Doktoral Islam dan mantan Mujahidin di Afghanistan.

Bila dalam proses hukum sendiri ada asas praduga tak bersalah dan kronologi urutan status suspek hukum. Maka di dalam syari’at ini ada proses tabayyun (mencari kejelasan dari sumber informasi yang seimbang) dan husnuzhan (prasangka baik).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]:6)

Maka perlu kiranya ketika mendengar kabar seorang Presiden partai dakwah, dengan doktoral Islam-nya serta seorang mantan Mujahidin Afghanistas dalam mengusir Uni Soviet, ditangkap. Sebagai seorang mukmin, persepsi pertama adalah husnuzhan (prasangka baik). Tidak langsung memvonis sebagai koruptor lah dan sebagainya. Toh statusnya sendiri masih tersangka. Kemudian patut kita mencari informasi yang seimbang dalam mengabarkan kasus ini. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kebathilan telah didukung oleh media dalam propagandanya. Lihat sajalah di stasiun-stasiun televisi kita, apa sih yang diajarkan oleh mereka. Jadi tak cukup bagi kita mencari informasi hanya sebatas pada media-media yang tidak Islami, namun perlu kita mencari sumber informasi dari media-media yang mengedepankan nilai-nilai Islami dan dakwah atau kalau bisa kita mengkonfirmasi ke LHI sendiri yang bersangkutan (kalau bisa), toh juga LHI telah memberikan keterangan pers perihal kasusnya. Pelajari kasusnya baik secara mikro dan perlu juga kita melihat apakah ada konspirasi global dari semua ini. Sebagaimana ideologi Islam yang ideal adalah ideologi yang mengglobal sehingga ia akan mendapatkan musuh yang global pula yang akan menghantam dengan berbagai cara.

Bila kita gegabah (isti’jal) dalam menilai kasus ini, maka kita telah masuk dalam perangkap syaithan dan saya khawatir kita terjebak dalam perkataan dusta yang jelas dusta itu bukanlah sifat orang beriman. Alangkah baiknya kita menunggu kejelasan kasus ini , kalaupun pada akhirnya memang beliau telah divonis bersalah maka kita tetap mencari informasi dari sumber media yang berimbang. Sebagaimana kita ketahui di negara ini ada aparat hukum yang salah tangkap, ada ketidak adilan dimana seorang pencuri ringan semacam sendal dan pisang divonis 7 tahun penjara sedangkan koruptor ratusan juta dan milyaran hanya divonis 4 tahun penjara. Maka semua ini tetap tidak akan melunturkan semangat para aktivits dakwah untuk terus melanjutkan misi global mereka menegakkan kalimatullah di bumi ini dan mencari informasi dari sumber media yang seimbang.

Mari kita belajar dari kisah Haditsul Ifki (berita bohong) di zaman Rasulullah SAW yang melibatkan Ummul mukminin ‘Aisyah ra. Ada beberapa orang beriman yang terbawa oleh arus propaganda (hadiitsul ifki) tersebut dan begitu banyak pula orang beriman yang mengedepankan husnuzhan sehingga akhirnya kasus tersebut menjadi jelas dan jelas pulalah siapa yang memegang teguh imannya dan siapa yang telah menjadi munafiq karna ujian tersebut. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang beriman yang tak terbawa propaganda dan juga bisa menyadarkan orang-orang beriman di sekitar kita yang telah terseret oleh propaganda buruk.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu. Bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan (menggapa tidak) berkata: “ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” ….. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah adalah besar. ….. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (An Nuur: 11-20)

Wallahu a’lamu bish shawaab.

Murabbi, antara Kemauan, Semangat, Bekal dan Realitas

film_sang_murabbiMurabbi adalah sebuah kata yang secara khusus sering digunakan oleh kalangan aktivis dakwah bagi seseorang yang membina sekelompok orang (obyek dakwah) dalam julmah tertentu secara berkesinambungan dan terus menerus.

Secara bahasa, murabbi merupakan isim fa’il (subyek) dari kata tarbiyyah, tarbiyyah sendiri secara bahasa diterjemahkan dengan pendidikan. Tarbiyyah berasal dari kata rabaa-yarbuu-rabwatan yang artinya sesuatu yang lebih tinggi dari sekitarnya. Maka dengan demikian secara bahasa berarti tarbiyyah adalah proses menjadikan sesuatu lebih tinggi dari sekitarnya yang pelaku yang membuat sesuatu menjadi lebih tinggi dari sekitarnya itulah yang disebut murabbi.

Secara istilah, tarbiyyah diterjemahkan sebagai berikut:

“Tarbiyah adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (dengan kata-kata) ataupun secara tidak langsung (dengan keteladanan) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.”

Permasalahannya sekarang adalah, menjadi murabbi seperti tersebut di atas bukanlah perkara yang mudah. Banyak aktivis dakwah yang nota bene berafiliasi pada dakwah ternyata mereka hanya berkontribusi pada zona nyaman diri mereka, sekedar menjadi panitia acara ini dan itu, ikut syura, ini dan itu. Meskipun itu baik bahkan sangat baik namun tetap saja substansi dakwah Rasulullah terhadap umat ini khususnya kepada para sahabat beliau adalah proses pembinaan yang intensif, berkesinambungan dan terus menerus. Dan itu sesuatu yang harus ditapaki pula oleh para aktivis dakwah.

Ada pula seorang murabbi yang menjadi bosan putus asa dan memutuskan mundur karna obyek dakwahnya tidak mengalami peningkatan kualitas keislaman yang signifikan baik dalam pemikiran maupun akhlak mereka bahkan sebagian dari mereka pun mulai menghindar dan lepas. Akhirnya mereka menjustifikasi diri mereka bahwa saya tidak cocok membina (menjadi murabbi). Wow…. hebatnya kesimpulan mereka….

Mengapa menjadi murabbi menjadi sangat berat karna hal-hal berikut:

1. Kemauan.

Ya yang pertama adalah kemauan, pertanyaan pada diri kita sendiri sebelum menjadi murabbi adalah adakah kemauan pada diri kita. Hal ini merupakan yang mendasari kita melakukan segala sesuatu. Kemauan menjadi murabbi dipengaruhi oleh rasa takut, kepercayaan diri dan tipe kepribadian. Saran saya; jangan banyak memikirkan faktor-faktor pengaruh itu, lakukan saja.

2. Semangat

Semangat berasal pada suatu yang terpendam dalam jiwa kita. Apakah itu? bisa jadi banyak hal, ada seorang murabbi yang bersemangat karna pujian agar terlihat sebagai seorang aktivis sejati dan pendidik yang unggul. Namun ketika apresiasi terhadapnya berkurang atau obyek dakwahnya berguguran bisa jadi sang murabbi tersebut ikut mundur dan kecewa. Akan tetapi semangat yang tetap menyala adalah semangat yang muncul dari keimanan dan mafahim dakwah itu sendiri. Bahwa seorang murabbi membina untuk mencari keridhaan Allah tidak dipengaruhi oleh apresiasi orang disekitarnya, kalaupun obyek dakwah yang dibinanya pun berguguran tak turut mengugurkan semangatnya pula untuk terus membina, karena bagi seorang beriman yang dinilai oleh Allah adalah pekerjaan bukan hasilnya. Selama ia masih bekerja menjadi murabbi dengan segala hambatannya maka selama itu pula ia masih mengaplikasikan substansi mafahim dakwah yang menjadi panduan mereka dalam bergerak.

3. Bekal

Ada pepatah yang mengatakan; seorang yang tidak memiliki sesuatu tentu tidak akan bisa memberikan sesuatu. Hal itu sangat benar, begitu pula dengan seorang murabbi agar bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi peningkatan kualitas ke-Islaman obyek dakwahnya maka ia harus sudah memiliki internalisasi kualitas ke-Islaman pada dirinya sendiri tentunya. Nah hal ini bukan untuk dipahami dari sisi apatis dan pesimistis sehingga seorang aktivis dakwah merasa masih banyak kekurangan disana-sini memutuskan untuk tidak menjadi seorang murabbi. Justru hal ini harus menjadi stimulus untuk memacu dirinya untuk senantiasa lebih kuat lagi memperbaiki kualitas dirinya dalam hal pemikiran dan keimanan.

Seorang murabbi tidak perlu menunggu menjadi seorang sarjana agama untuk menjadi murabbi, namun bekal yang terpenting adalah keimanan dan pemahaman terhadap dakwah. Bila itu sudah dimiliki maka lakukanlah selanjutnya bekal strategis dan taktis seorang murabbi akan kita dapatkan dengan sendirinya.

4. Realitas.

Realitas yang dimaksud adalah faktor eksternal proses pembinaan tersebut. Dalam hal ini ada dua hal, yang pertama adalah lingkungan obyek binaan tersebut, lingkungan obyek binaan tentu sangat mempengaruhi karakter kepribadian obyek dakwah, semakin buruk lingkungan mereka tentu akan semakin mudah mengkotori kepribadian obyek dakwah. Disinilah perlunya pengaruh yang kuat dari seorang murabbi dalam bentuk ikatan hati dengan iman yang kuat, kata-kata yang menyentuh fitrah obyek dakwah dan perhatian yang kuat dari sang murabbi.

Yang kedua adalah lingkungan manajemen proses tarbiyah. Nah dalam hal ini seorang murabbi bersama aktivis dakwah lainnya harus membuat sebuah lingkungan baru yang menjadi solusi bagi obyek dakwah untuk menemukan komunitas pengganti dari lingkunganya yang tidak baik, selain sebagai penguat pemahaman mereka pula terhadap apa-apa yang sudah diajarkan oleh seorang murabbi. Disinilah dibutuhkan kekuatan sebuah jama’ah dengan program-program yang terorganisir, sistematis dan tepat sasaran. Jangan sampai alih-alih akselerasi dan percepatan strategi dakwah namun justru sebuah jama’ah malah membuat program yang mengorbankan obyek-obyek binaan mereka.

wallahu a’lam

New Year…. So What….???

tahun baru

Tahun baru telah tiba, 2012 telah berganti menjadi 2013. Menjelang subuh ini saya terbangun, dan hmmmmm masih tipe pagi yang sama, udara yang sama hanya tanggalnya saja yang sudah berbeda. Tak ada kesan sejarah yang bermakna spiritualitas tinggi yang perlu direnungi dari pergantian tahun ini. Lalu apa yang mereka rayakan semalam, hingga menjelang subuh ini mungkin mereka masih mendengkur terkulai lemas hanya untuk menunggu hitungan 3-2-1 teng tengah malam telah tiba, serentak iblis dan tentaranya pun berpesta pora.

Tahun masehi dengan tahun hijriah secara konseptual matematis dalam perspektif al Qur’an tidaklah berbeda karena dalam surat Ar Rahman Allah berfirman:

“Matahari dan bulan memiliki perhitungan”

Jadi memang tidak perlu antipati terhadap penggunaan tahun masehi karena ia pun diakui eksistensi-nya oleh al Qur’an sebagai sesuatu yang memiliki perhitungan. Kebetulan saja penemunya adalah orang Mesir kuno. Namun ada refleksi sejarah yang berbeda sangat kental dalam sejarah penggunaan tahun masehi dan tahun hijriah.

Bila tahun masehi pertama kali dipergunakan oleh kaisar Romawi untuk penanggalan kaum mereka yang tak memiliki kejelasan momentum apa starting poin-nya karena notabene kaum Romawi hanya mengambil penemuan peradaban Mesir kuno tersebut. Sedangkan tahun hijriah mulai digunakan oleh khalifah Umar bin Khatthab sebagai penanggalan kaum muslimin dimana starting pointnya peristiwa Hijrah Rasulullah dan kaum muslimin saat itu, dimana hijrah menjadi titik kulminasi perjuangan Islam untuk menjadi lebih eksis dan akselerasi dakwahnya pun semakin meluas sehingga setelah itu kemenangan demi kemenangan begitu banyak diraih.

Jadi dalam perayaan tahun baru dari dua metode penanggalan tersebut dalam bentuk refleksi serta hikmah dan makna spiritualitas yang merupakan nilai kemuliaan manusia itu bersumber, jelas keduanya memiliki kontradiksi yang sangat besar untuk dirayakan. Apakah kita hendak merayakan tahun baru masehi dengan merefleksi sebuah kebudayaan (Romawi) yang nota bene bukan kebudayaan kita dan agamanya (Nasrani dan Majusi/penyembah api) bukan agama kita sebagai seorang Muslim. Ya pantas saja perayaan tahun baru masehi hanya berisi kembang api, kemubaziran bahkan seks bebas (astaghfirullah ya Allah ampuni dosa hamba). Karena memang dari awalnya seperti itu, dan kita ternyata hanya mengikuti saja, bukankah Rasulullah pernah menegaskan bahwa barang siapa mengikuti kebiasaan suatu kaum maka ia bagian dari kaum tersebut.

Kalaupun ada sebagian kecil (semoga semakin banyak dan populis) yang merefleksikan pergantian tahun ini dengan muhasabah atau mengevaluasi diri di masjid-masjid agar tahun yang baru ini lebih baik dari tahun yang lalu, tentu hal ini jauh lebih baik dilakukan. Dan tak perlu kita mencap refleksi tahun baru masehi di masjid-masjid dengan bentuk seperti ini sebagai perbuatan bid’ah apalagi taqlid kufri. Karena toh perhitungan masehi (matahari) diakui oleh al Qur’an dan kegiatan mereka bernilai ibadah dan positif.

Begitu pula dengan tahun baru hijriah sebagai sebuah peristiwa sejarah yang penuh makna bagi umat Islam tentu tak ada salahnya bila dirayakan dalam sebuah bentuk refleksi diri untuk menjadi lebih baik lagi serta menggali makna dari peristiwa hijrah tersebut. Namun bila pada akhirnya tahun baru Islam pun dirayakan dalam bentuk kemubadziran dan kesia-siaan maka tak akan bedanya dengan penyakit masyarakat yang kronis dalam perayaan tahun baru masehi.

Mari kita melihat esensi dan substansi yang bermakna spiritualitas tinggi sebagai sumber kemuliaan manusia dalam memaknai setiap perjalanan kehidupan dunia ini, semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi insan yang lebih baik lagi di tahun baru ini maupun tahun baru yang akan datang bila memang kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah ta’aalaa.

Dua Fakta Unik terkait Fenomena Film The Innocence of Moslem

Berikut dua fakta unik dan mengherankan terkait fenomena kontroversi film The Innocence of Moslem yang memunculkan kemarahan kaum muslimin di seluruh dunia karena film tersebut berisi penistaan agama.

Pengadilan menolak Gugatan Artis Film The Innocence of Moslem

Pengadilan California menolak gugatan Cindy Lee Garcia, artis film The Innocence of Moslem. Hakim di pengadilan tinggi Los Angeles Luis Lavin mengatakan dia menolak sebagian gugatan Garcia, karena laki-laki yang diyakini membuat film tersebut tidak mendapatkan salinan gugatan. Permintaan untuk membatasi sementara (tayangan film) ditolak, kata hakim Lavin seperti yang dilansir BBC, Jum’at (21/9).

Cindy Lee Garcia memperkarakan penayangan film yang menghina Nabi Muhammad SAW itu karena merasa ditipu. Ia memperkarakan sang produser Nakoula Basseley alias Sam Bacile. Tak hanya Nakoula, Cindy juga menggugat Youtube agar menarik video menghina umat Islam itu dari server mereka.

Hadiah 900 Juta Rupiah

Menteri Perkeretaapian Pakistan, Ghulam Ahmad Bilour, Sabtu (22/9/2012) menawarkan hadian US $ 100.000 atau sekitar Rp 900 juta bagi pembunuh pembuat film The Innocence of Moslem.

“Saya mengumumkan hari ini, si penghujat adalah orang berdosa yang telah berbicara omong kosong tentang nabi. Siapa yang membunuh dia, aku akan menghadiahinya dengan US $ 100.000.”