Menggali Kenikmatan Ibadah dari Dinamika Hidup

Hidup adalah ibadah. Itulah sebuah aksioma dalam ajaran agama Islam sekaligus hakikat kunci kebahagiaan hidup itu sendiri. Pada keumuman maknanya hal ini berarti menjadikan seluruh aktivitas kehidupannya mulai dari bangun tidur hingga ia tidur lagi serta rancangan kematian yang hendak ia buat adalah ditujukan kepada keridhaan Allah semata. Sedangkan dalam maknanya yang khusus betapa terpampang seremoni-seremoni peribadatan baik yang wajib atau berupa anjuran dalam berbagai tingkatannya yang bisa dilakukan oleh seorang dalam rangka menunjukkan eksistenti penghambaan seseorang dihadapan Tuhan-nya.

Nyatanya Al Qur’an dan agama ini menginformasikan bahwa peribadatan dalam maknanya yang khusus ini merupakan sumber kebahagiaan tersendiri dan sangat mendalam sehingga dapat membuat si pelakunya syahdu dan terhanyut dalam indahnya munajat kepada Tuhan, dan inilah yang disebut khusyuk saat dimana jiwa seorang hamba benar-benar terhubung kepada Tuhan-nya ketika ia sedang beribadah.

Namun ironisnya kekhusyukan menjadi barang yang langka di zaman ini. Mulai dari keengganan mayoritas kaum muslimin mengisi sepertiga malam terakhirnya dengan tahajjud hingga keterburuan mereka dalam shalat-shalat wajib. Sehingga sudah menjadi pertanyaan umum akan seseorang bahwa ia shalat tapi masih melakukan perbuatan keji dan munkar, atau merebaknya kegelisahan, kecemasan, stres dan depresi sedangkan mereka masih melaksanakan shalat yang notabene sarana mengingat Allah. Bukankah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang. Well… tentu jawaban semua ini adalah karena kita telah melupakan ilmu khusyuk dalam ibadah kita, kita lalai dari makna gerak peribadatan kita dan kita lalai dalam keingatan kita rkepada Tuhan, sehingga tanpa kita sadar akhirnya kita lupa siapa Tuhan itu, dan sebesar apa kekuatan Tuhan itu.

Hidup adalah sebuah dinamika. Di dalamnya ada kejadian yang menyedihkan, mengharukan, membahagiakan dan lainnya yang menuntut emosi dan pikiran bermain dalam mempersepsikan semuanya itu. Sudah sewajarnya seorang yang sedang ditimpa musibah akan bersedih, dan ketika bersedih ia ingin ada sesuatu yang membantunya, menghiburnya atau bentuk lainnya yang bertujuan menghapus kesedihanya. Begitu pula sebaliknya ketika ia diberikan kenikmatan ia akan berbahagia, dan ketika ia berbahagia tentu ia ingin mengekspresikan dalam berbagai bentuknya yang membantu memuncaknya kebahagiaan yang ia rasakan.

Well… jadi simpel saja, dari semua fakta-fakta di atas mari kita rangkai menjadi sebuah ikatan sinergi yang produktif bagi kehidupan kita yang akan membawa kebahagiaan hidup kepada kita baik di dunia maupun di akhirat. Satu syaratnya: jadikanlah Allah sebagai satu-satunya Ilah. apa sih Ilah itu, Ilah itu adalah zat yang paling dicenderungi, dicintai dan sumber ketenangan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s