Pencitraan, perlu ga sih (dibahas)?

Ketika banjir Jakarta beberapa hari yang lalu, sejumlah pejabat, parpol dan artis turun ke lapangan. Peninjauan, pemberian bantuan dan pendirian posko banjir serta sejumlah agenda lain dilaksanakan. Tak terkecuali PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang merupakan pelopor gerakan sosial kepartaian dalam bentuk yang real dari semenjak pertama kali berdirinya (dulu bernama PK/Partai Keadilan). Begitu pula Jokowi (Gubernur Jakarta) tak luput dari aktivitas kesana-kemari turun langsung melihat kondisi masyarakat Jakarta.

Lantas, ada satu hal yang diangkat oleh beberapa kalangan mengenai fenomena tersebut dengan mengistilahkan sebagai politik pencitraan dalam rangka agenda 2014 (pemilu). Dari sebagian kalangan yang lebih agamis bahkan menjudgement hal tersebut sebagai amalan riyaa’ (pamer bertujuan pujian dari manusia) yang tentunya tidak akan mendatangkan pahala sedikitpun dari Allah SWT. Nah khususnya untuk PKS yang notabene partai berbasis ideologi dakwahnya, tak pantas mempraktekkan yang berunsur riyaa’ tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah, ada masalahkah dengan politik pencitraan sehingga terasa perlu dikritisi bahkan dengan sikap antipati, meskipun hal itu bagian dari agenda pemenangan pemilu 2014.

Yang perlu dipahami adalah, bahwasannya hal-hal kejiwaan seperti ketulusan (keikhlasan), kesombongan dan juga riyaa’ adalah perkara-perkara hati individual yang mana konsekuensinya hanya memperkarakan ranah jiwa/individu semata, bukanlah ranah instansi.

Maka ketika sebuah instansi seheboh dan sebesar apapun memamerkan kebaikan yang dikerjakannya, tak dapat kita memberikan judgment kepada instansi tersebut sebagai sebuah perbuatan riyaa’. Karena memang tidak ada satupun malaikat yang Allah utus untuk mencatat kebaikan dan keburukan sebuah instansi.

Adalah hal yang tidak patut pula bagi kita menjudgement orang-orang yang ada di instansi tersebut dengan riya (pamer) toh mereka atas nama kepribadiannya sudah tertutup oleh nama instansi tersebut. Yang salah adalah bila orang-orang yang ada dalam instansi tersebut merasa bangga (ujub) secara pribadi karna telah tergabung dalam sebuah instansi yang memberikan manfaat bagi sekitarnya, atau secara pribadi ingin dipuji sebagai seorang aktivis yang tergabung dalam instansi tersebut.

Adapun identifikasi politik pencitraan sebagai kampanye terselubung atau mencuri start sehingga muncul pelarangan dalam bentuk peraturan atau perundangan, itu hanyalah sebuah politisasi yang seringkali bias karena intervensi oleh penguasa saat ini. Contoh, Jokowi sempat melarang parpol mendirikan posko banjir.

Pencitraan Individu

Bila di atas adalah politik pencitraan terkait instansi yang sudah tidak bisa lagi divonis riyaa’ dan tidak ikhlas. Lalu bagaimana dengan pencitraan yang dilakukan atas nama individu, hal ini biasanya terjadi dalam rangka pilpres, pilgub atau pemilukada lainnya. Nah disinilah peluang besar munculnya penyakit riyaa dalam diri seseorang bisa terjadi.

Namun pertanyaan selanjutnya, seberapa pentingkah kita menjudgement seseorang tersebut dengan riyaa’ (pamer) dalam rangka menarik simpati orang lain. Alih-alih sebagai kritik konstruktif malah menjadi politisasi sendiri atau dipolitisasi oleh kalangan tertentu.

Mengapa menjudgement seperti ini menjadi tidak perlu karna fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa manusia tidak pernah bisa menilai hati manusia lainnya dengan benar sebenar-benarnya. Hanya Allah yang paling mengetahui urusan hati manusia karena itu perkara amalan-amalan hati maka serahkan saja kepada Allah urusannya.

Di sisi lain ternyata Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk beramal baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

قُل لِعِبَادِيَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يقِيمُوا الصَّلَاهَ” وَ يُنفِقُوا مِمَّا رَزَقنهُم سِرًّا وَ عَلانِيَهً” مِن قَبلِ أَن يَأتِيَ يَومٌ لَا بَيعٌ فِيهِ وَ لَا خِللٌ

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan” (Ibraahiim: 31)

Atau yang lebih tegas Allah memerintahkan sebuah amal agar bisa dilihat oleh orang lain dalam ayat berikut:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan kalian dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (at Taubah: 105)

Beramal dan berbuat baiklah dalam rangka apapun, pencitraan kah, kampanye kah, toh bila memang bertujuan mendapatkan tampuk kepemimpinan untuk bisa menuai kebaikan dan menyebarkan dakwah lebih sistematis dan kuat, maka itu sebuah visi yang sangat mulia dan pasti bernilai ibadah besar di sisi Allah. Perihal kualitas atau esensi amal-amal tersebut yang mana ikhlas (di hati) menjadi indikatornya sesuai dengan aya di atas, akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang nyata. Bukan dikembalikan kepada kita sendiri.

Maka kita tidak memiliki urgensi lagi untuk mejudgement sebuah aktivitas sosial sebuah instansi atau individu sebagai riyaa’, ujub atau politik pencitraan. Karna judgement tersebut hanya mengindikasikan kekurang pahaman terhadap proyek membangun peradaban yang membutuhkan strategi jangka panjang yang saling berkaitan dan sinergis dimana semua ini menjadi kandungan esensial dakwah yang paripurna serta integral. Atau judgement tersebut hanyalah menjadi sebuah produk politisasi atau menjadi bahan politisasi pihak lain yang berseberangan.

Jadi, daripada meributkan latar belakang politik pencitraan yang bukan ranahnya manusia. Lebih baik mendiskusikan proyek-proyek pencitraan yang efektif dan kotributif terhadap strategi kebaikan yang lebih masif lagi.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s