Dinamika Iman dan Harapan (Rajaa’)

Salam jumpa pembaca sekalian. Sekedar tulisan ringan semoga bermanfaat buat kita semuanya khususnya diri saya pribadi.

Kita tak pernah tahu ibadah kita yg mana yang diridhai oleh Allah, atau ibadah yg paling diridhai oleh Allah. Bisa jadi suatu ibadah meski ringan namun diridhai oleh Allah sehingga menjadi besar nilainya di sisi Allah. Mungkin pula suatu ibadah besar namun tidak diridhai oleh Allah sehingga tidak punya nilai apa-apa di sisi Allah laksana debu yg bertebaran.

Lalu, kita pun tak pernah tahu kapan doa kita dikabulkan dan doa mana dari kita yang mampu membuka pintu langit sehingga turun rahmat Allah kepada kita karna doa-doa tersebut sehingga puaslah hati kita dan ridha terhadap rahmat Allah tersebut.

Maka, pembaca sekalian:

1. Jangan menganggap remeh ibadah yang ringan
Lakukan saja semua dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah. Tidak ada ibadah yang kecil di mata Allah selama dilakukan dengan penuh keikhlasan, karna keikhlasan itu sendiri adalah sesuatu yang besar, bahkan substansi dari agama itu sendiri. Masih ingat kan kisah seorang pelacur yang masuk surga karna memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan menggunakan sepatunya sebagai gayung untuk mengambil air dari sebuah sumur. Nah itu salah satu contohnya.

2. Jangan tertipu dengan ibadah yang besar.
Adakalanya suatu ibadah menuntut kita pengorbanan waktu yang tidak sebentar, kelelahan fisik dan pikiran, menghabiskan harta yang banyak bahkan kehilangan atau jauh dari orang-orang yang kita cintai. Betapa beratnya ibadah yang demikian, namun semua itu takkan ada artinya sama sekali tanpa keikhlasan alias nol besar.

Bahkan ibadah yg demikian akan menjadi bumerang bagi pelakunya bila diiringi dengan perasaan ‘ujuub (bangga diri) dan riyaa’ (pamer untuk mendapat pujian manusia). Karena ibadah yang seperti ini bukan hanya tak bernilai justru malah menjadi dosa yang membuat hati berjelaga dan semakin buta akan petunjuk Tuhan.

3. Janganlah berputus asa.
Ya… Janganlah berputus asa baik dalam beribadah maupun berdoa. Seringkali seorang yang beriman dan membentengi iman mereka dengan ibadah yang giat dan ikhlas namun tetap saja mereka diterpa permasalahan dalam kehidupannya yang tak jarang menghantam asa mereka ke tanah. Patut disadari bahwa hal itu harus disikapi dengan husnuzhan (prasangka baik) bahwa semua itu sebaga wujud kasih sayang Allah yang besar. Bila hal ini disikapi dengan kesabaran maka berguguranlah dosa-dosa dan ganjaran yang besar siap menanti baik di dunia dan akhirat kelak. Karena begitulah memang jalan menuju surga.

“Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga
Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu
dekat.” (Qs. al-Baqarah: 214)

Begitu pula janganlah berputus asa dalam berdoa. Karna tidak ada doa yang sia-sia bila dilakukan dengan tulus dan ihsan. Allah akan memberi jawaban yang terbaik bagi kita yang mungkin tidak bersesuaian dengan yang kita inginkan.

Berhati-hatilah dengan keputus-asaan karena al Qur’an menyamakan orang yang putus asa dengan kafir.

“Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir” (Yusuf: 87)

4. Jangan larut pada kesalahan masa lalu dan kemalasan.
Hampir setiap orang punya masa lalu yang buruk. Selama sudah bertaubat nasuha dengan penuh ketulusan insya Allah hal itu tidak akan menjadi masalah. Yang akan menjadi masalah adalah bila kita larut dalam kesedihan masa lalu kita yang buruk tersebut sehingga secara psikologis menghambat kita untuk hidup produktif dengan amal-amal shalih yang nyata, renungi hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499)

Begitu pula janganlah kita larut dalam kemalasan. Karna rasa malas dan bosan adalah sesuatu yang niscaya dan pasti pernah menghinggap setiap manusia. Yang salah adalah ketika rasa malas dan bosan itu datang, kita mengalihkan fokus, perhatian dan aktivitas kita pada hal yang merusak keimanan atau kemaksiatan.

Ketika rasa malas dan bosan itu datang, saya rasa tak ada salahnya kita ‘beristirahat’ atau berhenti sejenak menenangkan pikiran dan isilah dengan rangkaian dzikir terutama istighfar, maka perlahan semangat akan kembali merayapi jiwa kita.

Bahkan ada doa khusus yang diajarkan kanjeng Rasulullah SAW dalam hal ini:

اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَ الحَزَنِ وَ أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجزِ وَ الكَسَلِ وَ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبنِ وَ البُخلِ وَ أَعُوذُ بِكَ مِن غَلَبَهِ” الدَّينِ وَ قَهرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekhawatiran dan kesedihan, dari kelemahan dan malas, dari rasa takut dan pelit, dan dari lilitan hutang dan intervensi (paksaan) orang lain”

5. Bergerak saja dan bertawakkal
Yup… Bergeraklah, beramallah karena pergerakan adalah pertanda hati dan pikiran yang sehat. Air yang diam biasanya penuh penyakit dan menyimpan pemangsa, sedangkan air yang mengalir adalah air yang sehat dan menimbulkan keindahan melalui resonansi riak-riaknya. Bila sudah bergerak maka bertawakkallah kepada Allah serahkan hasilnya pada Allah. Tugas kita hanya beramal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s