Murabbi, antara Kemauan, Semangat, Bekal dan Realitas

film_sang_murabbiMurabbi adalah sebuah kata yang secara khusus sering digunakan oleh kalangan aktivis dakwah bagi seseorang yang membina sekelompok orang (obyek dakwah) dalam julmah tertentu secara berkesinambungan dan terus menerus.

Secara bahasa, murabbi merupakan isim fa’il (subyek) dari kata tarbiyyah, tarbiyyah sendiri secara bahasa diterjemahkan dengan pendidikan. Tarbiyyah berasal dari kata rabaa-yarbuu-rabwatan yang artinya sesuatu yang lebih tinggi dari sekitarnya. Maka dengan demikian secara bahasa berarti tarbiyyah adalah proses menjadikan sesuatu lebih tinggi dari sekitarnya yang pelaku yang membuat sesuatu menjadi lebih tinggi dari sekitarnya itulah yang disebut murabbi.

Secara istilah, tarbiyyah diterjemahkan sebagai berikut:

“Tarbiyah adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (dengan kata-kata) ataupun secara tidak langsung (dengan keteladanan) untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.”

Permasalahannya sekarang adalah, menjadi murabbi seperti tersebut di atas bukanlah perkara yang mudah. Banyak aktivis dakwah yang nota bene berafiliasi pada dakwah ternyata mereka hanya berkontribusi pada zona nyaman diri mereka, sekedar menjadi panitia acara ini dan itu, ikut syura, ini dan itu. Meskipun itu baik bahkan sangat baik namun tetap saja substansi dakwah Rasulullah terhadap umat ini khususnya kepada para sahabat beliau adalah proses pembinaan yang intensif, berkesinambungan dan terus menerus. Dan itu sesuatu yang harus ditapaki pula oleh para aktivis dakwah.

Ada pula seorang murabbi yang menjadi bosan putus asa dan memutuskan mundur karna obyek dakwahnya tidak mengalami peningkatan kualitas keislaman yang signifikan baik dalam pemikiran maupun akhlak mereka bahkan sebagian dari mereka pun mulai menghindar dan lepas. Akhirnya mereka menjustifikasi diri mereka bahwa saya tidak cocok membina (menjadi murabbi). Wow…. hebatnya kesimpulan mereka….

Mengapa menjadi murabbi menjadi sangat berat karna hal-hal berikut:

1. Kemauan.

Ya yang pertama adalah kemauan, pertanyaan pada diri kita sendiri sebelum menjadi murabbi adalah adakah kemauan pada diri kita. Hal ini merupakan yang mendasari kita melakukan segala sesuatu. Kemauan menjadi murabbi dipengaruhi oleh rasa takut, kepercayaan diri dan tipe kepribadian. Saran saya; jangan banyak memikirkan faktor-faktor pengaruh itu, lakukan saja.

2. Semangat

Semangat berasal pada suatu yang terpendam dalam jiwa kita. Apakah itu? bisa jadi banyak hal, ada seorang murabbi yang bersemangat karna pujian agar terlihat sebagai seorang aktivis sejati dan pendidik yang unggul. Namun ketika apresiasi terhadapnya berkurang atau obyek dakwahnya berguguran bisa jadi sang murabbi tersebut ikut mundur dan kecewa. Akan tetapi semangat yang tetap menyala adalah semangat yang muncul dari keimanan dan mafahim dakwah itu sendiri. Bahwa seorang murabbi membina untuk mencari keridhaan Allah tidak dipengaruhi oleh apresiasi orang disekitarnya, kalaupun obyek dakwah yang dibinanya pun berguguran tak turut mengugurkan semangatnya pula untuk terus membina, karena bagi seorang beriman yang dinilai oleh Allah adalah pekerjaan bukan hasilnya. Selama ia masih bekerja menjadi murabbi dengan segala hambatannya maka selama itu pula ia masih mengaplikasikan substansi mafahim dakwah yang menjadi panduan mereka dalam bergerak.

3. Bekal

Ada pepatah yang mengatakan; seorang yang tidak memiliki sesuatu tentu tidak akan bisa memberikan sesuatu. Hal itu sangat benar, begitu pula dengan seorang murabbi agar bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi peningkatan kualitas ke-Islaman obyek dakwahnya maka ia harus sudah memiliki internalisasi kualitas ke-Islaman pada dirinya sendiri tentunya. Nah hal ini bukan untuk dipahami dari sisi apatis dan pesimistis sehingga seorang aktivis dakwah merasa masih banyak kekurangan disana-sini memutuskan untuk tidak menjadi seorang murabbi. Justru hal ini harus menjadi stimulus untuk memacu dirinya untuk senantiasa lebih kuat lagi memperbaiki kualitas dirinya dalam hal pemikiran dan keimanan.

Seorang murabbi tidak perlu menunggu menjadi seorang sarjana agama untuk menjadi murabbi, namun bekal yang terpenting adalah keimanan dan pemahaman terhadap dakwah. Bila itu sudah dimiliki maka lakukanlah selanjutnya bekal strategis dan taktis seorang murabbi akan kita dapatkan dengan sendirinya.

4. Realitas.

Realitas yang dimaksud adalah faktor eksternal proses pembinaan tersebut. Dalam hal ini ada dua hal, yang pertama adalah lingkungan obyek binaan tersebut, lingkungan obyek binaan tentu sangat mempengaruhi karakter kepribadian obyek dakwah, semakin buruk lingkungan mereka tentu akan semakin mudah mengkotori kepribadian obyek dakwah. Disinilah perlunya pengaruh yang kuat dari seorang murabbi dalam bentuk ikatan hati dengan iman yang kuat, kata-kata yang menyentuh fitrah obyek dakwah dan perhatian yang kuat dari sang murabbi.

Yang kedua adalah lingkungan manajemen proses tarbiyah. Nah dalam hal ini seorang murabbi bersama aktivis dakwah lainnya harus membuat sebuah lingkungan baru yang menjadi solusi bagi obyek dakwah untuk menemukan komunitas pengganti dari lingkunganya yang tidak baik, selain sebagai penguat pemahaman mereka pula terhadap apa-apa yang sudah diajarkan oleh seorang murabbi. Disinilah dibutuhkan kekuatan sebuah jama’ah dengan program-program yang terorganisir, sistematis dan tepat sasaran. Jangan sampai alih-alih akselerasi dan percepatan strategi dakwah namun justru sebuah jama’ah malah membuat program yang mengorbankan obyek-obyek binaan mereka.

wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s