Siyaasah Ibaadah

Orang yang mempelajari fiqh dakwah akan segera memahami bahwa perencanaan Islam (takhthiith islaamii) memiliki ciri khas yang berbeda dari ciri yang ada pada partai-partai sekuler. Perencanaan Islami tercermin pada pemaduan sempurna antara tarbiyyah iimaaniyyah akhlaaqiyyah dan penetrasi politis.

Program kita bukan program politis semata. Di dalam program kita tidak cukup hanya dengan pemberian tarbiyah kepada para da’i sehingga dapat membuat sikap-sikap politik. Tetapi keterlibatan politik ini harus didahului oleh fase ta’siis (pembangunan asas) yang menggarap tarbiyah dalam pembangunan organisasi. Setelah itu tarbiyah terus berlangsung dan mengikuti keterbukaan aktivitas dan pertarungan politik, sedangkan kontribusi sikap-sikap politik menjadi sandaran dan dukungan baginya.

Sejarah Jama’ah mengisyaratkan bahwa usaha-usaha tarbiyah menjamin keselamatan kerja dan terhindarnya dari penyimpangan, membantu melenyapkan berbagai fitnah dan memberi solusi terhadap berbagai keletihan semangat, di samping sebagai petunjuk-petunjuk syar’iyyah. Usaha-usaha tarbiyyah merupakan sunnah (aturan) praktis yang dilalui nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membentuk para sahabat beliau dan membangun daulah islaamiyyah.

Siyaasah ‘ibaadah yang kami maksud adalah bahwa ia mencakup tarbiyah ini. Praktek kolektif, pelatihan-pelatihan praktis dan pengangkatan para pemimpin dianggap sebagai sisi-sisi penting di dalam siyaasah (policy). Begitu juga berdiam diri di masjid, membaca al Qur’an, majlis pengajian hadits nabawi yang mulia, penelaahan kitab-kitab nasihat, dan mendengar nasihat dan ajaran dianggap sebagai sisi-sisi lain yang sama pentingnya dengan yang di atas, atau menjadi pintu gerbang baginya atau membantu kelanggengan pengaruhnya.

Demikianlah garis tengah dan ukuran yang benar. Hal ini hanya dilupakan oleh dua orang:

Pertama, sekelompok da’i lugu yang menjauhi keterlibatan politik dan berlebihan dalam tarbiyah yang statis dan jumud, kemudian ia keluar ke kutub radikal yang mengingkari seluruh dasar tarbiyah, lalu ia memuntahkan semua ungkapannya yang bersemangan dalam kata-kata yang tidak terukur.

Kedua, sekelompok da’i yang terburu-buru menempatkan diri mereka pada wilayah politik yang mendekati sikap gegabah, lalu ia keluar ke kutub radikal berlawanan yang dengannya ia berubah menjadi sekedar seorang yang zuhud ahli ibadah.

Kebenaran tidak ada pada salah satu dari dua kelompon ini. Sebaliknya kebenaran ada pada kemenyeluruhan, lebertahapan, dan kombinasi tetap antara tarbiya dan keterlibatan politik.

dikutip dari tulisan Muhammad Ahmad ar Rasyiid di buku Khitah Dakwah: Garis Perjuangan Gerakan Islam Kontemporer (judul asli: al Masaar), semoga dapat menjadi nasihat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s