Hidup adalah Pilihan

Tulisan di bawah ini adalah saya copy dari salah satu teman facebook saya dengan seizinnya. Bagi saya menarik dan membacanya cukup menggelitik namun hikmah dari tulisan ini sungguh amik. Jalanilah hidup anda dengan barometer keridhaan Allah. Jangan diatur oleh persepsi manusia an sich, karena persepsi manusia meskipun terkesan aksiomatis di tengah masyarakan tetapi belum tentu benar secara hakikat menurut ajaran Tuhan yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah-masalah baru selanjutnya bahkan mungkin tak henti-hentinya. Enjoy it…!!!

Sebelum saya membahas inti masalah yang ingin saya kemukakan maka ada baiknya kita membaca anekdot berikut, ini sudah populer dari dulu namun masih sangat relevan dengan
siatuasi dan kondisi sekarang. Judulnya “Abunawas Membeli Keledai”

Suatu hari Abunawas bersama anaknya pergi ke pasar hewan di pinggiran kota Baghdad. sesudah tawar menawar dan transaksi, mereka pulang membawa keledai yang baru dibeli tersebut. Dalam perjalanan pulang, Abunawas dan anaknya berjalan sambil menuntun keledai tersebut. saat melewati sekelompok orang, Abunawas mendengar seseorang berkata: “Lihat bapak anak itu, punya keledai cuman dituntun doang, buat
apa beli?” Akhirnya, Abunawas menyuruh anaknya naik keledai dan dia berjalan sambil menuntun keledai.

Lewatlah mereka didepan sekelompok orang lagi, dan mendengar perkataan: “Lihat anak durhaka itu, dia enak-enak naik keledai, sementara bapaknya disuruh berjalan kaki, dasar anak sekarang…” Abunawas pun tukar posisi dengan anaknya, dia naik keledai sementara anaknya berjalan menuntun binatang itu.

Didepan sekerumunan orang yang ketiga, ada juga yang berkomentar: “Dasar orang tua tak tahu diri, anaknya disuruh nuntun keledai, dianya nongkrong diatas pelana…”
Akhirnya Abunawas dan anaknya naik berdua ke atas keledai…

Komentar keempat: “Bapak ama anak sama-sama enggak tahu peri-kehewanan, masak keledai kecil begitu dinaiki berdua, astaghfirulloh….” Abunawas pun bicara kepada anaknya: “Nak, beginilah kalo kita hidup hanya mendengarkan dan menuruti
omongan orang, …”

Hidup adalah pilihan kawan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya, agar siap dengan segala konsekuensinya dan tidak menyesal kemudian maka perlu diperdalam sedalam-dalamnya konsekuensi pilihan yang akan kita ambil.

Berkaitan dengan itu ada masalah yang mengganjal dalam fikiran, yaitu tentang pilihan hidup menikah atau tidak.

Pilihan : Hidup menyendiri padahal umur sudah lumayan, maka ada saja celetukan orang.
Komentar :Kok gak laku-laku ya? Bujang lapuk, Pertu (perawan tua), Duda/janda pemilih, mau yang perfect ya?

Pilihan : Jika pilih menikah sekenanya asal ada yang melamar.
Komentar: Terkesan sudah kebelet ya, kok tidak pikir-pikir dulu, kan baru kenal.

Pilihan :Jika kita pilih menjadi istri pertama yang artinya suami nikah lagi.
Komentar:Maka orang akan bilang wedew istrinya sudah tidak mampu memberi yang terbaika buat suaminya sampai harus
mencari yang lain. Kamu kalah saingan dong sama yang lain. dsb.

Pilihan :Jika kita pilih menjadi istri kedua dan seterusnya.
Komentar : Dassar perebut suami orang. matrealsitik, kena guna-guna ya? sudah takut tidak laku ya? menjadi istri kedua memang lebih mudah diterima daripada istri pertama. apakah sudah tidak
ada laki-laki lain lagi? sudah kehabisan stock ya? sudah tidak kaut menyendiri ya? iddi kalau saya ogah ah..dan banyak lagi cibiran lainnya.

Pilihan :Jika memilih yang jauh lebih tua umurnya tapi kaya.
Komentar: Matrealistik, demi uang rela melakukan apa saja, numpang hidup ya?

Pilihan :Jika memilih suami yang jauh lebih tua namun miskin
Komentar: Jodoh apa bodoh? kena pelet ya?

Pilihan :Jika menikah dengan “berondong” baik terpaut umur beberapa tahun apalagi belasan tahun.
Komentar: Kegenitan amat ya? beli cinta ya?suaminya matre ya? minimal cibiran uhhuyyyy..dsb.

Ya Allah, tuooolooong deh!

Saudaraku, kita hidup untuk ibadah, apapun yang kita pilih porosnya adalah ibadah (dakwah+tholabul ‘ilmi dsb.). Selama itu yang jadi patokan atau standar dalam memilih maka kita tidak sepatutnya memberikan penilaian negatif yang bisa saja menghambat atau bahkan membuat orang stagnan di tempat dan putus asa karena selain harus menghadapi konsekuensi logis di balik putusan itu , diperparah dengan komentar dari kita.

Bukankah selama itu syar’i dan sama-sama ridho menjalani, kita sebagai orang luar tidak seharusnya memberikan suggesti buruk? yang dibutuhkan saudara kita adalah support dan solusi bagi dirinya, bukan stigma atau judgement kita.

Wallahu a’lam

One response to “Hidup adalah Pilihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s