Realitas Ukhuwwah: Kita dan Mereka

Introducing: Sepenggal Kisah Abdurrahman bin ‘Auf ra.

Ketika peristiwa hijrah, Rasulullah SAW mempersaudarakan antara seorang kaum muhajirin (penduduk Mekkah) dengan seorang kaum Anshar (penduduk Madinah). Adapaun Abdurrahman bin ‘Auf yang merupakah salah seorang muhajirin dipersaudarakan oleh seorang anshar yang bernama Sa’ad bin Rabi’.

Demi melihat saudaranya yang tak memiliki harta yang layak dikarenakan beliau sebagai seorang pendatang, berkatalah Sa’ad bin Rabi’ kepada Abdurrahman bin ‘Auf, sebagaimana yang dikisahkan oleh Anas bin Malik ra.:

“Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperistrinya.”

Jawab Abdurrahman bin ‘Auf: “Semoga Allah memberkati anda, istri dan harta anda! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga!”

Semenjak itu, Abdurrahman bin ‘Auf yang datang ke Madinah dalam keadaan miskin berubah menjadi seorang yang kaya raya. Namun bagaimanakah sikapnya setelah ia menjadi kaya raya berkat perniagaannya itu. Pada suatu ketika sepeninggal Rasulullah SAW, kota Madinah dibuat hiruk pikuk dengan kedatangan 700 kendaraan yang penuh dengan muatannya. Ternyata hal itu adalah kafilah dagang Abdurrahman bin ‘Auf yang baru datang dari Syam. Demi melihat itu, Siti ‘Aisyah ra. menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengingat-ingat ucapan yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW. Kemudian ia berkata: “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.”

Demi mendengar kabar itu, Abdurrahman bin ‘Auf menuju rumah ‘Aisyah lalu berkata kepadanya: “Anda telah mengingatkanku suatu hadits yang tak pernah kulupakannya. Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah ‘azza wa jalla.” Maka dibagikanlah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang besar.

Ya memang benar bahwasannya Abdurrahman bin ‘Auf pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda padanya:

يَا ابنَ عَوفٍ إِنَّكَ مِنَ الأَغنِيَاءِ, وَ إِنَّكَ سَتَدخُلُ الجَنَّهَ” حَبوًا, فَأَقرِضِ اللّهَ يُطلِق لَكَ قَدَمَيكَ

“Wahai ibnu ‘Auf! Anda termasuk golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan. Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda!”

Begitulah Abdurrahman bin ‘Auf yang menjadi seorang yang kaya raya namun seolah kedermawanannya melebihi kebesaran kekayaannya, hingga orang-orang mengatakan:: “Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin ‘Auf pada hartanya. 1/3 dipinjamkannya kepada mereka, 1/3 lagi dipergunakannya untuk membayar hutang-hutang mereka, dan 1/3 sisanya diberikan dan dibaagi-bagikannya kepada mereka.”

Dan dikatakan pula mengenainya perihal betapa ia tidak sombong dan takabbur meski kekayaannya berlimpah: “Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka.

Kisah di atas adalah realitas ukhuwwah yang dipraktekkan para generasi terbaik kaum muslimin. Dan menjadi teladan bagi kita, baik kita ini berposisikan seperti Sa’ad bin Rabi’ yang kaya raya yang diberi amanah untuk menolong saudaranya seiman, atau kita berposisi seperti Abdurrahman bin ‘Auf yang sedang kesusahan setibanya di Madinah sebagai pendatang baru, atau kita berposisi seperti Abdurrahman bin ‘Auf yang mampu keluar dari kesusahan menjadi seorang yang sukses besar dengan segenap keberhasilan kita.

Realitas Ukhuwwah: Kita dan Mereka

Apakah anda seorang yang kaya ataupun seorang yang kaya raya. Memiliki rumah yang layak ataupun megah, memiliki kendaraan-kendaraan yang mewah, perniagaan (bisnis) atau pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang besar bagi anda sehingga bisa membahagiakan diri anda, istri dan anak-anak anda dengan fasilitas-fasilitas kehidupan yang mewah, anda dapat dengan mudahnya berlibur bukan hanya sekedar keluar kota, bahkan ke luar negeri sekalipun.

Lalu bagaimana sekiranya bila ada seseorang yang datang kepada anda, mungkin saudara anda atau teman anda. Ia datang meminta pertolongan karena sedang ditimpa musibah, cobaan atau ujian dari Allah. Mungkin ia hanya sekedar mengajukan pinjaman agar ia bisa berusaha untuk memberikan hasil yang halal dan menjadi pemenuh kebutuhan hidup dan keluarganya. Ia hanya sekedar meminta dipinjamkan sepersekian persen daripada kekayaan anda untuk dikembalikannya suatu saat nanti ketika ia sudah dilapangkan.

Apakah anda akan curiga kepadanya lantas tidak mempercayainya, berbasa-basi seolah anda sendiri sedang tidak punya uang, atau seolah anda mengatakan kepadanya “urus saja kehidupan kita masing-masing”, atau segala bentuk alasan-alasan yang hanya mencerminkan kekikiran anda, atau kalaupun anda membantu akan disertai embel-embel yang cukup menyakitkannya. Atau anda akan begitu mudah membantunya, mensupport dengan penuh kepercayaan bahkan mendoakannya agar ia bisa keluar dari permasalahan yang mendera dan bisa kembali hidup dengan nyaman.

Di sisi sebaliknya, apakah anda ini seorang yang miskin, atau sedang ditimpa musibah. Anda begitu di dera oleh kebutuhan-kebutuhan hidup yang mendesak dan anda ingin keluar dari semua penderitaan ini dengan jalan yang baik dan diridhai Allah. Kemudian anda merasa sulit sekali mendapati orang lain, saudara atau teman anda yang bersedia membantu anda padahal anda sudah mengajukan permohonan bantuan itu meskipun hanya sekedar pinjaman yang akan anda kembalikan suatu saat nanti.

Lalu bagaimanakah sikap anda. Apakah anda akan marah kepada saudara dan teman-teman anda seolah mereka semua pembohong, lalu menuduh mereka kikir, sombong dan pelit. Akhirnya anda putus asa dan mengambil jalan yang haram untuk bisa keluar dari permasalahan yang melilit kehidupan anda. Atau anda akan berjuang semaksimal mungkin mencari jalan yang halal demi bertahan dan keluar dari penderitaan hidup anda.

Saya yakin di antara kita pasti pernah atau saat ini sedang berperan sebagai salah satu dari contoh-contoh orang yang saya gambarkan di atas. Apapun sikap anda tentu sepenggal kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf patut menjadi acuan dalam bersikap yang benar ketika kita mengakui sebagai orang yang beriman.

Mengapa saya mengatakan orang yang beriman? Karena memang iman adalah refleksi ukhuwwah. Dengan tegas Allah berfirman bahwa orang-orang yang mengaku beriman pasti mengamalkan nilai-nilai ukhuwwah:

إِنَّمَا المُوءمِنُونَ إِخوَهٌ”

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu pasti bersaudara” (al Hujuraat: 10)

Di ayat tersebut Allah menggunakan kata ‘innamaa’ yang merupakan ‘alaamatul hasyr (pengumpulan tanpa kecuali). Artinya sesuatu yang diluar dari yang dikumpulkannya maka pasti bukan bagian dari yang dikumpulkannya itu. Misalnya sebuah hadits yang menggunakan kata ‘innamaa’:

إِنَّمَا الأعمَالُ بِالنِّيَّات

“Sesungguhnya amal itu disertai dengan niat”

Maka hadits ini secara tidak langsung mengatakan bahwa, syarat suatu pekerjaan disebut dengan amal shalih adalah bila disertai niat, bila suatu pekerjaan dilakukan tanpa ada niat tidak akan dikategorikan sebagai amal. Shalat tanpa niat ataupun puasa tanpa niat maka tidak akan dikategorikan sebagai sebuah amal shalih. Karena itulah para ulama fiqh selalu menyertakan niat sebagai rukun pertama dalam setiap amal.

Begitu pula dengan ayat mengenai ukhuwwah di atas, maka secara tidak langsung ayat tersebut berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang mengaku beriman itu pasti melaksanakan nilai-nilah ukhuwwah (bersaudara), dan yang tidak melaksanakan nilai-nilai ukhuwwah (persaudaraan) maka bukanlah orang-orang yang beriman.”

Lantas, apakah kita akan menyebut orang kaya yang tidak mau membantu orang yang meminta tolong kepadanya karena sedang kesusahan atas nama ukhuwwah islamiyyah bukanlah orang beriman. Tentu kita tidak boleh serta merta menuduh orang per orang dengan tuduhan tersebut. Karena ayat tersebut pula bermakna relevansi aplikasi nilai ukhuwwah dalam diri seorang signifikan dengan besar-kecilnya nilai keimanan pada diri orang tersebut. Maka yang perlu kita ketahui adalah batas terendah dan tertinggi dari penerapan nilai ukhuwwah. Aplikasi tertinggi dari nilai ukhuwwah adalah itsar yaitu mendahulukan kepentingan saudara kita dari pada diri kita sendiri. Aplikasi ukhuwwah ini banyak kita lihat di generasi sahabat atau dalam penggalan kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf di atas pula. Di zaman sekarang, mungkin sangat sulit kita menemukan aplikasi nilai ukhuwwah tertinggi tersebut namun saya tidak mengatakan tidak ada. Saya pribadi mengharap diri saya dan anda pembaca sekalian mendapatkan hidayah untuk bisa mengamalkan nilai ukhuwwah yang tertinggi tersebut.

Kemudian, batas terendah aplikasi nilai ukhuwwah adalah salaamatush shadr, yaitu bersihnya hati kita dari buruk sangka atau selamatnya jiwa dan harga diri saudara kita dari gunjingan, kebencian dan kedengkian kita karena hal yang tidak diperkenankan secara syar’i. Maka dalam kasus misalnya seorang yang miskin meminta pertolongan kepada seorang yang kaya, namun si orang kaya tersebut tidak bersedia memberikan bantuan apapun alasannya paling tidak jangan diikuti dengan kebencian, gunjingan dan stigma-stigma negatif terhadap si miskin. Begitu pula bila memang benar mau membantu maka harus membantu dengan ikhlash tanpa diiringi oleh kecurigaan dan gunjingan-gunjingan yang bisa menyakitkan orang yang dibantu bila mendengarnya. Begitu pula bagi si miskin yang sedang membutuhkan pertolongan, bila ia ternyata tidak mendapatkan pertolongan dari orang yang diharapkannya atau mendapatkan pertolongan tidak sesuai dengan yang diharapkannya maka bukan berarti harus membenci si orang kaya tersebut kemudian mengeluarkan sumpah serapah kepadanya meskipun hanya dalam hati. Tapi sebaliknya ia harus senantiasa berbaik sangka, mencari seribu satu alasan untuk berpikir positif menilai keadaan yang terjadi. Bahkan ia harus mencontoh Abdurrahman bin ‘Auf yang berusaha keras bekerja di pasar dengan modal seadanya namun berkat kegigihannya ia berhasil.

Bila anda tidak menemukan seseorang yang bisa membantu anda layaknya Sa’ad bin Rabi’ al Anshaarii, bukan berarti anda tidak harus bersikap elegan dan berusaha keras layaknya ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

Bila sudah demikian, maka si kaya dan si miskin tidak kehilangan nilai keimanannya sampai pada titik nol dengan saling menjaga kebersihan hati meskipun tolong-menolong yang diharapkan itu tidak terwujud.

Begitulah ukhuwwah menjadi cerminan dari kualitas keimanan seorang, baik ia berposisi sebagai si orang kaya yang selayaknya mampu membantu orang lain, ataupun ia berposisi sebagai si miskin yang sedang membutuhkan bantuan orang lain. Orang kaya yang mampu menginfakkan hartanya dan seringkali mengatasi permasalahan saudaranya yang kesusahan, bila semua itu dilakukan dengan ikhlash maka tak pelak bahwa ia adalah orang kaya yang memiliki ketinggian iman.

“Barang siapa dijauhkan dari kekikiran (kebakhilan) dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang menang (beruntung).” (at Taghaabun: 16)

Begitu pula orang miskin yang sedang membutuhkan bantuan tapi tak mendapatkannya, namun ia tetap menjaga dirinya dengan segala prasangka baik maka tak pelak ia masih menjaga keimanannya dengan baik meskipun ia sedang diuji oleh Allah dengan kemiskinan dan kesusahan.

Semoga kita sama-sama bisa mengaplikasikan nilai ukhuwwah setinggi mungkin sebagai apapun posisi kita karena disitulah terdapat barometer kualitas keimanan kita.

One response to “Realitas Ukhuwwah: Kita dan Mereka

  1. Ping balik: Pertanyaan Terselesaikan: Haram hukumnya menonton sepak bola!!.? | ligaindonesia.biz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s