ubah Iri Kita menjadi Doa

Sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita di dunia ini. Apapun keadaan kita di dunia ini, harus kita syukuri dengan melihat bahwa begitu banyak orang lain yang keadaannya lebih susah dari diri kita. Dengan demikian kita bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup yang kita jalani tersebut.

Namun tak bisa dipungkiri, rasa iri, baik yang besar begitu mendominasi pikiran seseorang maupun sedikit rasa iri yang hanya menjadi lintasan pikiran seseorang terkadang muncul ketika melihat orang lain memiliki kenikmatan dunia yang lebih dari yang kita rasakan.

Ketika hanya punya motor, terkadang iri ketika melihat orang lain yang begitu nyaman melakukan perjalanan dengan mobil berkursi empuk dan ber-ac. Iri melihat orang lain yang memiliki rumah lebih bagus . Dan berbagai iri dalam bentuk-bentuk yang lainnya besar atau kecil selalu ada dalam diri kita meski hanya cuma lintasan saja.

Rasa iri adalah penyakit, bila dibiarkan tanpa disikapi dengan benar akan memberikan pengaruh yang tidak baik pada cara berpikir seorang. Berpikir negatif, sedih, panjang angan-angan adalah diantara dampak yang timbul dari pikiran bila rasa iri tidak bisa disikapi dengan benar. Pada akhirnya hidup kita hanya diliputi oleh ketidakbahagiaan. Dan perlu kita camkan bahwa perasaan tidak bahagia adalah penyebab penyakit baik fisik maupun psikis.

Tulisan ringkas ini bukan untuk membahas panjang lebar perihal iri dan teori-teori serta hujjah yang meliputinya dari sudut pandang syari’at Islam. Tapi sekedar melihat bahwa iri sering kali menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari pada setiap orang meskipun hanya sekedar lintasan pikiran untuk diubah menjadi suatu kebiasaan yang diperbolehkan bahkan dianjurkan dan bernilai ibadah. Nah dengan demikian rubahlah rasa iri yang ada dalam diri kita meskipun hanya berupa lintasan pikiran sesaat saja dengan sebuah do’a yang kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Kaya.

Misalkan, seorang yang hanya memiliki motor merasa iri dengan orang lain yang memiliki mobil karena bisa bertransportasi dengan nyaman, membawa anak dan istri dengan aman. Maka daripada pikiran kita diliputi oleh angan-angan yang panjang maka sebaiknya ungkapkan isi hati dan pikiran tersebut dengan doa. Misalkan do’anya seperti ini:

“Wahai Allah ar Rahmaan ar Rahiim… Yang Maha Kaya, karuniakanlah hamba kendaraan yang nyaman. Yang bisa saya gunakan untuk beramal shalih, membahagiakan keluarga hamba, saudara-saudara hamba serta membantu orang-orang yang beriman. Dan jadikanlah hamba orang yang pandai bersyukur kepada-Mu.”

Atau ketika iri ingin memiliki rumah yang lebih besar dan megah dari rumah yang kita miliki, misalkan:

“Wahai Allah ar Rahmaan ar Rahiim… Yang Maha Kaya, karuniakanlah hamba rumah yang luas yang bisa hamba gunakan untuk beramal-shalih, berdakwah dan membahagiakan anak dan istri hamba, dan jadikanlah hamba orang yang pandai bersyukur kepada-Mu.”

Atau do’a-do’a apapun dengan permintaan yang lebih besar dari dua contoh tersebut. Dan yakinlah dan tenangkan hati kita dengan memahami bahwa kita telah meminta kepada Zat yang benar untuk dimintai, kita tidak meminta kepada manusia yang bisa saja mentertawai anda ketika anda meminta hal itu. Tapi kita meminta kepada Zat Yang Maha Kaya Pemilik alam semesta ini. Dengan demikian rasa iri itu akan hilang atau tidak menjadi penyakit yang membuat hati kita berjelaga.

Salahkah anda berdoa serperti itu? Saya katakan TIDAK. Allah itu Maha Kaya, dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa atau meminta kepadanya. Jangankan anda hanya meminta mobil mewah ataupun rumah mewah, anda meminta memiliki hotel, perusahaan multinasional dan uang trilyunan rupiah pun bila Allah ridha untuk mengijabahnya maka akan Allah berikan.

Ini bukan soal rasa iri yang anda ubah menjadi keharusan memiliki apapun yang anda inginkan di dunia ini. Tapi ini soal bagaimana anda mengarahkan pendaman rasa iri yang negatif tersebut menjadi terungkap (curhat) dan menjadi sesuatu yang bernilai ibadah yaitu do’a. Kalau ternyata doa tersebut dikabulkan oleh Allah siapa yang tahu, tentu mungkin saja bahkan lebih dari sekedar mungkin doa itu dikabulkan oleh Allah. Subhaanallah…..

Meski demikian, rasa syukur dan qana’ah adalah suatu pakem yang harus tetap kita jaga. Meski do’a itu tidak dikabulkan di dunia ini kita tetap harus mensyukuri hidup kita, karena Rasulullah sendiri mengatakan bahwa bila meskipun kita hanya bangun pada pagi hari dalam keadaan sehat dan memiliki sesuatu yang bisa dimakan pada hari itu, seolah hal itu adalah Allah telah memberikan dunia seisinya pada kita. Terlebih lagi bila doa-doa kita terkabul, maka kita harus lebih bersyukur lagi.

Pahamilah bahwa Allah lebih tau yang terbaik untuk kita. Kita patut lebih bersyukur lagi bila doa-doa tersebut dikabulkan, bila tidak, bisa jadi Allah sedang menundanya untuk memberikan yang lebih baik atau pada waktu dan situasi yang tepat atau Allah menggantinya dengan pahala di akhirat nanti. Satu hal yang pasti, doa-doa kita tidak akan sia-sia. Karena itulah para sahabat Rasulullah banyak berdoa ketika mereka mengetahui bahwa berdoa itu bernilai ibadah.

Ingat….!!! Semua hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Maka alangkah indahnya pula bila dalam doa-doa tersebut kita sampaikan visi dan misi kita yang menyebabkan kita meminta atau berdoa seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s