ketika Allah Menyayangiku

Bulan April yang lalu adalah bulan yang penuh dengan hikmah dan pembelajaran yang sangat besar bagi saya. Di saat itulah saya mendapatkan ujian atau teguran dari Allah ta’aalaa dengan suatu penyakit yang praktis membuat saya harus berhenti beraktivitas seperti sedia kala.

Hal yang patut saya syukuri adalah tentunya masih banyak orang lain yang mendapatkan musibah dan cobaan atau ujian lebih besar dari yang saya rasakan. Namun sebagai hamba yang merasa lemah dihadapan Sang Khalik, hal itu tetap terasa berat kurasa karena memang tak pernah saya merasakan penderitaan seperti ini sebelumnya. Karena itulah tak henti ku berdoa memohon ampunan dari Allah atas segala dosa-dosa saya yang mungkin menyebabkan saya menerima teguran seperti ini, berpikir positif dan berprasangka baik kepada-Nya akan ujian yang sedang saya terima tersebut sambil mengharap ridha dan rahmat-Nya agar ujian/cobaan ini bisa saya lalui dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

Mungkin pembaca sekalian pernah mengalami hal yang lebih berat dari yang saya rasakan, atau mungkin belum pernah merasakannya. Tapi itu tidaklah penting, yang terpenting dari alasan saya menulis pengalaman di blog ini adalah agar kita semua ketika mendapatkan musibah, ujian atau teguran sepahit dan seberat apapun tetap berpikir positif, bersabar dan berprasangka baik kepada Allah yang tentunya atas kehendak-Nya-lah hal itu terjadi dan atas kehendak-Nya pula lah semua itu disingkirkan. Senantiasa berdoa mengharap ridha, taufiq dan rahmat-Nya adalah hal mutlak di samping segala ikhtiar yang kita kerjakan untuk melewati itu semua.

Pada tanggal 31 Maret 2012, tepatnya menjelang maghrib saya mulai merasakan sakit di dada sebelah kiri. Selepas maghrib rasa sakit itu semakin menjadi hingga membuat saya sulit bernafas. Ketika waktu isya tiba saya memaksakan diri shalat isya dengan penuh kepayahan hingga pada saat selesai salam saya hampir pingsan dan merasa tidak kuat lagi. Saya pun dibawa ke UGD rumah sakit Harapan Bunda.
Di UGD dengan sigap saya ditangani. Tindakan yang paling sangat membantu saya adalah pemberian oksigen. Kemudian melihat keluhan yang saya alami dokter mengira saya mengalami serangan jantung. Namun setelah melalui pemeriksaan dengan stetoskop dan ECG, indikasi tersebut justru tidak ada. Dokter menyimpulkan hanya ada permasalahan di otot dada saya kemudian tercampur rasa cemas (stress) sehingga menyebabkan sensasi sesak. Akhirnya saya diperbolehkan pulang setelah diberi resep obat yang harus diminum. Selain itu dokter pun menyarankan kepada saya agar hari senin untuk datang kembali mengikuti treadmill untuk lebih memastikan kebenaran ada atau tidaknya penyakit jantung tersebut, karena pemeriksaan stetoskop dan ECG saja masih bisa berpeluang memberi hasil yang keliru.

Hari senin tepatnya tanggal 2 April 2012 saya pun mendatangi dokter kembali. Saya ceritakan bahwa kondisi saya membaik, rasa sakit di dada menghilang. Saya pun melaksanakan treadmill selama kurang lebih 15 menit, setelah melalui pemantauan dokter di komputer yang saya tidak tau cara membacanya, dan melalui laporan hasil akhir treadmill tersebut, dokter memastikan bahwa jantung saya masih berfungsi dengan baik dan tidak ada gejala serangan jantung sedikitpun. Alhamdulillah saya bersyukur sekali mendengarnya. Namun kemudian dokter tersebut mengingatkan saya kembali bahwa rasa sakit dan sesak itu kemungkinan disebabkan oleh otot dada yang disertai stress, atau ada kemungkinan lain yaitu adanya permasalahan di paru-paru saya.

Saya sudah merasa puas dengan hasil pengobatan tersebut, sehingga tidak lagi memastikan kecurigaan dokter mengenai permasalahan yang mungkin ada di paru-paru saya. Dan ternyata sekitar 2 pekan kemudian tepatnya pada hari Jum’at tanggal 13 April 2012, selepas maghrib saya pun merasa sesak kembali seperti gejala yang pernah saya alami sebelumnya namun kali ini tidak disertai rasa sakit di dada sebelah kiri. Saya pun harus masuk UGD lagi untuk penanganan darurat namun kali ini dokter yang menangani saya bukanlah dokter yang sebelumnya yang merupakan dokter spesialis jantung. Seperti biasa, tindakan yang sangat membuat saya lebih nyaman adalah pemberian oksigen.

Dokter yang menangani saya hanyalah dokter umum. Nampak sepertinya ia tidak bisa atau tidak mau mendiagnosa penyakit saya. Ia pun menyarankan agar saya dirawat untuk diobservasi lebih lanjut atau segera dirontgen. Saya sangat tidak menyukai tinggal di ruang perawatan rumah sakit tentunya, sehingga saya memutuskan dirontgen saja. Setelah dirontgen dan diketahui hasilnya ternyata saya disimpulkan mengidap penyakit bronchitis. Sebuah penyakit yang baru bagi saya, ada sedikit rasa cemas memikirkan sejauhmana bahaya penyakit tersebut. Akan tetapi setelah keluhan saya mulai menghilang saya diperbolehkan pulang setelah membeli obat sesuai resep yang diberikan oleh dokter umum tersebut. Dan bila obatnya sudah habis, saya disarankan untuk datang ke dokter spesialis paru.

Setiba dirumah obat pun saya minum. Reaksi obat segera saya rasakan berupa debar jantung yang drastis meningkat yang ternyata disebabkan oleh obat bronkodilator. Hingga keesokan harinya efek samping itu masih saya rasakan, ditambah lagi saya semakin lemas rasanya sampai-sampai dari pagi hingga siang saya habiskan waktu dengan tidur saja. Pada menjelang sore hari ada pekerjaan yang harus saya lakukan, saya coba untuk melakukannya namun tubuh semakin lemas dan nafas terasa sesak. Hujan tiba-tiba turun dengan deras, suhu terasa menurun drastis, langsung saya diterpa demam dan sesak yang hebat sehingga saya mengeluarkan keringat dingin. Karena merasa tidak tahan lagi saya pun harus dibawa kembali ke UGD. Di UGD langsung ditangani dan sudah tidak diperbolehkan pulang lagi karna harus dirawat.

Dimulailah beberapa hari kedepan saya jalani terbaring di ruang perawatan rumah sakit, serasa dipenjara dengan tangan ‘diborgol’ oleh infusan. Sekitar 3-4 hari pertama penyakit saya masih kambuh terutama menjelang sore atau selepas maghrib. Betapa saya melihat iba yang terpancar dari orang-orang yang menjenguk saya yang kebetulan melihat saya sedang berjuang melawan rasa sakit yang saya rasakan ketika penyakit itu sedang kambuh. Ternyata setelah memasuki ruang perawatan, penyakit saya bertambah dengan dispepsia (semacam penyakit maag yang juga bisa menyebabkan sesak nafas). Sepertinya melihat hal ini, dokter spesialis paru yang menangani saya mulai menyimpulkan ada stress dan depresi yang saya alami. Well… menurut saya pribadi kalaupun dispepsia itu muncul karna stres dan depresi yang saya alami, saya merasa hal itu terjadi lebih besar karena rasa bosan yang teramat sangat saya rasakan dengan hanya berada diruang perawatan berhari-hari. Akhirnya saya pun diberi obat anti depresan (frizium). Dan terus terang obat itu tidak setiap hari saya minum karna saya merasa khawatir akan ketergantungan. Saya lebih berusaha mencari pengobatan untuk hal ini dengan memperbanyak dzikir untuk ketenangan jiwa saya

Selain ikhtiar medis saya lakukan, alhamdulillah Allah masih memberikan taufiiq kepada saya untuk memperkuat ibadah dan doa yang tak henti meskipun badan ini begitu lemah. Dan Alhamdulillah setelah 4 hari Allah mengijabah doa saya dengan saya tidak merasakan lagi kambuhnya penyakit saya, namun rasa stress dan depresi akibat berada di ruangan tersebut tetap saja saya rasakan. Semenjak saya tidak merasakan kambuhan penyakit saya, saya pun mulai berkomunikasi agar diizinkan pulang, hingga akhirnya pada hari ke-6 saya diperbolehkan pulang tepatnya pada hari Jum’at tanggal 20 April 2012.

Saya berharap hari Jum’at tersebut pagi-pagi sekali bisa pulang, ternyata karena urusan birokrasi dan administrasi rumah sakit menyebabkan saya baru bisa pulang sekitar pukul 11 siang. Hal itu menjadi stress tersendiri bagi saya yang memang sudah tak betah berada di rumah sakit. Di lain sisi, saya pun merasa khawatir bila saya berada di rumah maka saya akan jauh dari penanganan medis seandainya penyakit saya tiba-tiba kambuh karena memang saya merasa tubuh saya belum pulih benar, masih merasakan lemas, dan ternyata hal ini juga menyebabkan stress tersendiri. Namun saya memberanikan diri melawan rasa takut tersebut sehingga memutuskan tetap pulang ke rumah.

Setiba di rumah, benar saja penyakit saya kambuh lagi, selain memang saya masih sangat lemas, rasa sesak masih muncul sehingga semua ini membuat saya harus berbaring dan tidak sanggup menuju masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Namun saya sudah menyimpulkan bahwa sensasi sakit yang saya rasakan ini bukanlah semata karna penyakit yang ada di tubuh saya tapi lebih besar karena pikiran saya yang terbebani oleh stress dan depresi sebagaimana saya sebutkan di atas. Sempat terpikir untuk kembali lagi ke rumah sakit, namun saya memutuskan untuk tenang dan berzikir sebanyak mungkin , melawan penyakit saya dengan pikiran yang tenang bukan dengan penanganan medis di rumah sakit. Alhamdulillah sekitar jam 1-2 siang rasa sakit saya mulai mereda sehingga saya bisa bangkit untuk shalat zuhur menggantikan shalat jum’at yang saya tinggalkan.

Sementara itu semenjak saya sudah berada di rumah, saya juga menambah ikhtiar saya dengan meminum madu 100 gr per hari dan habbatussauda’ (jintan hitam) 6 butir sehari. Selain itu kakak saya juga membelikan saya suplemen yaitu bee propolis (resin/liur lebah) yang saya minum 3 butir sehari dan bee polen (nektar lebah) yang saya minum 2 butir sehari. Hal ini saya lakukan karna saya merenungi sebuah do’a yang diajarkan Nabi kita SAW ketika sakit yang berbunyi;

اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, أَذهِبِ البَأسَ, اشفِ أَنتَ الشَّافِيءُ, لَا شِفَاءَ إِلّا شِفَاوءُكَ, شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Wahai Allah Engkau-lah Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah… Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyebabkan komplikasi (efek samping)”.

Kemudian saya merenungi tentu kesembuhan yang diharapkan tanpa komplikasi adalah yang sesuai ajarannya pula tanpa saya meremehkan dan menafikan segala ikhtiar yang saya lakukan melalui perawatan dan pengobatan dari dokter. Perihal penyembuhan yang tersurat jelas dalam syari’at adalah yang bersumber dari lebah sesuai dengan surat An Nahl: 68-69:

“Dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah: “buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”

Dan juga sebuah hadits bahwasannya Nabi SAW bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ مِنَ السَّامِ. قُلْتُ: وَمَا السَّامُ؟ قَالَ: الْمَوْتُ

“Sesungguhnya jintan hitam ini merupakan penyembuh dari semua penyakit kecuali penyakit as saam.” Aku bertanya: “apakah as saam itu?” Beliau menjawab: “Kematian.” (HR Bukhari dan Muslim).

Keesokan harinya atau hari sabtu penyakit saya masih kambuh juga pada siang hari meski tidak sehebat sebelumnya. Namun saya tetap melawannya dengan perasaan tenang. Pada hari minggu hingga menjelang zuhur saya tidak merasakan kambuh lagi kecuali hanya lemas saja, saya memutuskan untuk memulai kembali shalat berjama’ah di masjid. Subhanallah…. Masjid yang hanya berjarak 200 m dari rumah saya serasa berjarak 1 km namun saya jalani dengan tenang, dalam hati saya berkata kepada Allah; “ya Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu yang beriman, maka tolonglah aku”. Ketika shalat di masjid tersebut pun saya merasakan penyakit saya kambuh, usai shalat saya segera pulang dan kembali berbaring di tempat tidur menenangkan diri dengan zikir melawat penyakit yang saya rasakan hingga saya tertidur. Dengan sangat sedih saya pun memutuskan untuk tidak shalat berjama’ah dulu di masjid hingga beberapa waktu. Pada hari minggu dan senin siang pun saya masih merasakan kambuhnya penyakit saya. Tapi saya perhatikan dari hari ke hari rasa sakit dari kambuhnya penyakit itu semakin menurun.

Saya dianjurkan untuk kontrol kembali pada hari rabu, namun karena saya merasakan masih sering kambuh maka saya memutuskan hari senin malam untuk kontrol lagi ke dokter yang menangani saya hingga saya menceritakan semua keluhan-keluhan yang masih saja saya alami. Alhamdulillah menurut pemeriksaan beliau paru-paru saya sudah membaik dan beliau menganjurkan untuk tidak beraktifitas di luar rumah terlebih dahulu. Rasa lemas yang muncul lebih disebabkan karena stamina yang belum kembali pulih setelah dirawat. Saya pun diberikan resep lagi berupa obat-obatan yang berguna untuk menghilangkan keluhan saya. Saya cari pengetahuan mengenai obat-obatan tersebut, karena saya merasa khawatir dengan efek sampingnya, saya habiskan yang sekiranya baik untuk dihabiskan dan saya hentikan minumnya yang sekiranya keluhan yang saya alami sudah menghilang.

Hari demi hari secara umum kondisi dan stamina saya makin membaik. Saya pun sudah sanggup untuk berjalan menuju masjid. Namun yang masih saya keluhkan adalah mudah lelah dan permasalahan di perut saya yang masih saja sering kembung, dan serasa setiap 2 jam harus diisi oleh makanan bila tidak akan terasa keram yang justru malah mengganggu pernafasan saya kembali. Sebagian orang mengatakan itu bagus supaya gemuk dan menambahkan stamina, namun bagi saya ini adalah hal yang aneh. Pernah saya mencoba puasa hari senin namun pada siang harinya saya tidak sanggup karna lemas yang teramat sangat sehingga harus berbuka. Jelas ini masih sebuah permasalahan dan gejala yang tidak normal dan menimbulkan tanda tanya besar sampai kapan saya harus begini, sedangkan saya ingin sekali bisa puasa sunnah tanpa terganggu oleh keluhan penyakit.

Saya ingin kontrol kembali ke dokter namun saya tidak akan merasa puas bila kontrol ke dokter yang sebelumnya menangani saya karena beliau dokter spesialis paru, sedangkan saya merasa paru-paru dan gejala pernafasan di paru-paru saya sudah baik, yang saya keluhkan adalah di sekitar perut. Akhirnya saya putuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Sukamto, Sppd di RSIA Hermina, Depok.

Tepat pada tanggal 1 Mei hari selasa saya kontrol ke RS Hermina tersebut malam hari. Dan ternyata menurut diagnosa dokter tersebut paru-paru dan darah pun sehat. Penyakit di perut yang saya rasakan lebih dipicu oleh kegelisahan, stress dan tekanan yang masih belum hilang di pikiran saya sehingga menimbulkan asam lambung yang berlebihan. Well…. Saya terima diagnosa tersebut dengan lapang dada meskipun selama ini saya sudah berusaha mengurangi segala beban dan tekanan di pikiran saya. Saya berpikir positif menganggap bahwa segala usaha saya untuk menenangkan jiwa dan pikiran saya masih kurang. Setelah menebus resep yang diberikan dokter tersebut saya pun kembali dan seolah memikirkan sebuah hidup baru yang penuh dengan ketenangan tanpa kecemasan.

Alhamdulillah hingga saat ini kondisi saya hari demi hari kian membaik meski masih terasa mudah lelah dan masih terapi obat dari dokter dan tentunya terapi obat-obatan yang terungkap oleh ayat-ayat ilahiyah yang tak akan saya hentikan demi kesehatan saya terus. Semoga Allah terus menyempurnakan kesembuhan saya hingga saya bisa beraktivitas sedia kala lagi. Menjalankan kembali amanah-amanah yang ada di pundak saya.

Di antara hikmah-hikmah yang mungkin bisa sedikit saya jabarkan disini adalah beberapa poin di bawah ini. Namun demikian mungkin ada hikmah-hikmah lain yang jauh lebih besar yang khilaf untuk saya tulis disini sebagai makhluk yang lemah, yang terpenting dari semua itu adalah berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah.

# Yakinlah bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah termasuk penyakit tersebut, namun penyebabnya adalah kita sendiri, bisa berupa kelalaian, dosa-dosa, ataupun merupakan ujian bagi keimanan kita. Maka memohon ampunlah sebanyak-banyaknya kepada Allah.

# Bersabarlah dan jaga aqidah kita ketika ditimpa musibah dari kemusyrikan berupa pengobatan-pengobatan yang melanggar syari’at, keputus-asaan karna tidak tahan dengan sakit yang dirasakan.

# Senantiasa berpikir positif dan berprasangka baik kepada Allah. Bahwa ada hikmah besar dibalik semua ini yang baik bagi kita selama kita menjalaninya dengan tulus dan penuh kesabaran.

# Bertawakkallah kepada Allah sekuat mungkin, lakukan ikhtiar semampu mungkin namun serahkan semua kepada Allah apa-apa yang hanya menjadi iraadah (kehendak) Allah berupa hasil dan kesembuhan. Lebih luas lagi jalanilah hidup ini dengan baik dan bahagia dan serahkan kepada Allah apa yang hanya menjadi iraadah-Nya dalam kehidupan kita, apakah itu rezeki, kesehatan, jodoh dan sebagainya. Jangan disibukkan pikiran kita dengan sesuatu yang memang hanya menjadi urusan Allah.

# Seorang dokter yang baik bukanlah dokter yang hanya bisa menghilangkan keluhan penyakit pasiennya, namun lebih dari itu yang bisa memberikan informasi kepada pasiennya sumber dan penyebab penyakit yang diderita dan bagaimana hal itu bisa dihindari untuk selanjutnya agar tidak terjangkit lagi, terlebih lagi dokter tersebut bisa mengajarkan perihal pola hidup sehat yang bisa menghindari pasiennya dari penyakit-penyakit yang lain.

# Apapun ikhtiar yang kita lakukan tentunya dalam kerangka yang dihalalkan oleh Allah, yakinilah kesembuhan itu datangnya dari Allah, usaha kita hanya sarana saja maka perbanyaklah berdoa memohon kesembuhan dari-Nya semata. Renungkanlah firman Allah berikut ini

وَ إِذَا مَرِضتُ فَهُوَ يَشفِينِ

“jika aku sakit maka Dia-lah (Allah) yang menyembuhkanku” (asy Syu’araa’: 80)

4 responses to “ketika Allah Menyayangiku

  1. Ping balik: Kesehatan adalah kekayaan | Hidup Yang Selalu Baru

  2. Ping balik: Curug Malela, Niagara Mini Indonesia | Hidup Yang Selalu Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s