Petaka Barca – Sepakbola Indah harus Mati di Tangan Sepakbola Pragmatis

Satu pekan terakhir ini benar-benar menjadi pekan kelam bagi sebuah tim yang disebut-sebut sebagai tim sepakbola terbaik di dunia, FC Barcelona. Tiga kali bertanding berturut-turut tanpa kemenangan bahkan dua diantaranya kalah. Dan ironisnya ketiga pertandingan tersebut adalah pertandingan penting yang sangat menentukan kelanjutan perburuan trofi juara bagi Barca.

Pertama, seminggu lalu pada semifinal leg I liga Champions, Barca harus menyerah dari Chelsea 1-0 melalui gol tunggal Didier Drogba. Kekalahan ini ternyata krusial bagi Barca karna pula tak satu pun gol mampu mereka ciptakan dalam status pertandingan away, dan menjadi kemenangan penting bagi Chelsea sebagai modal berharga menghadapi leg II di Camp Nou, kandang Barca.

Yang kedua, beberapa hari lalu Barca harus mengakui keunggulan rival abadi mereka di La Liga, Real Madrid. Bertanding di kandang sendiri, Camp Nou, Barca justru harus kalah 1-2. Kekalahan ini hampir menghabiskan perjuangan Barca dalam perebutan gelar juara La Liga, bagaimana tidak, yang sebelumnya mereka tertinggal 10 poin dari Madrid kemudian mereka bisa pangkas melalui kemenangan-kemenangan beruntun di La Liga sehingga menjelang el Clasico tersebut selisih poin Madrid-Barca hanya tinggal 4. Di atas kertas Barca diunggulkan dalam el Clasico tersebut selain memang memiliki materi pemain lebih baik dari Madrid, ditambah pertandingan tersebut digelar di kandang Barca, padahal el Clasico sebelumnya di kandang Madrid berhasil dimenangkan oleh Barca. Prediksi pun menyebutkan persaingan La Liga akan semakin seru karna Barca diunggulkan akan menang di el Clasiso kali ini sehingga selisih poin hanya tinggal satu saja. Alih-alih tersebut ternyata justru Barca malah kalah dan selisih poin Madrid-Barca melebar lagi menjadi 7 poin. Dengan sisa 4 pertandingan lagi, pelatih Barca, Pep Guardiola nampak pesimis dan langsung mengucapkan selamat kepada Madrid bahwa mereka pasti juara.

Yang ketiga, seolah klimaks dari pekan hitam tersebut, beberapa jam yang lalu Barca ditahan imbang 2-2 oleh Chelsea di Camp Nou dalam pertandingan leg II semifinal Liga Champions, yang mana memastikan Barca sebagai juara bertahan tersingkir dari turnamen paling bergengsi antar klub Eropa tersebut karna kalah agregat 3-2..

Kalah dan menang dalam sebuah pertandingan bagi sebuah klub atau tim memang hal biasa. Begitu pula silih bergantinya kegagalan dan kejayaan sebuah tim dalam suatu kompetisi dan turnamen merupakan kepastian. Namun yang menarik dibahas dalam petaka pekan kelam bagi Barca adalah beberapa kesamaan dalam tiga pertandingan tersebut.

Dalam tiga pertandingan tersebut, Barca bukannya tampil buruk, bahkan Barca tetap bermain dengan sepakbola indahnya yang khas dengan gaya tiki-taka yang nota bene adalah transformasi gaya total football-nya Belanda yang dibawa oleh Johan Cryuff dan Frank Rijkard (keduanya asal Belanda) yang pernah melatih Barca kemudian disempurnakan oleh Pep Guardiola. Dengan permainan tersebut bahkan Barca mampu melakukan penguasaan bola hingga 70% lebih. Ini bisa dibilang fantastis, karena berhadapan dengan tim sebesar Real Madrid sekalipun, Barca memiliki penguasaan bola lebih dari 70%. Namun semua itu menjadi tidak berarti karena tak mampu membobol gawang lawan secara signifikan untuk mengkoversikannya menjadi sebuah kemenangan.

Di sisi lain, gaya dan strategi perlawanan yang diterapkan oleh Real Madrid dan Chelsea adalah gaya sepakbola pragmatis (yang penting menang dan tidak kalah). Gaya ini adalah gaya cattenaccio-nya Italia yaitu permainan dengan sistem grendel (bertahan penuh) sambil sesekali mengandalkan counter attack serangan balik atas kelengahan lawan yang keasyikan menyerang. Terbukti dari 5 gol yang tembus ke jala Barca di 3 pertandingan tersebut, hanya satu yang merupakan hasil polemik di jantung pertahanan Barca yang dibuat oleh Sami Khedira (Madrid). Sedangkan 4 gol lainnya oleh Drogba, Ramirez, Torres (Chelsea) dan Ronaldo (Madrid) memiliki kesamaan yaitu hasil counter attack melalui umpan terobosan atau crossing tak terduga karna para pemain Barca sedang keasyikan menyerang.

Sebenarnya gaya pragmatis ini sudah jarang dipakai bahkan oleh tim-tim asal Italia sendiri. Bahkan gaya bermain seperti ini banyak tidak disukai oleh beberapa mantan pemain sepakbola yang mengamati perkembangan permainan sepakbola dunia. Namun bukanlah sebuah kesalahan memakai gaya pragmatis tersebut, terlebih menghadapi tim yang super kuat dan dominan dalam penguasaan lapangan tengah seperti Barcelona. Maka gaya sepakbola pragmatis menjadi suatu keharusan dalam kondisi seperti ini. Seolah memang sudah menjadi konklusi bagi para perancang strategi (pelatih) yang akan melawan Barca sehingga cara ini sudah hampir berhasil diterapkan Alegri untuk mematikan Barca oleh AC Milan pada perempat final Liga Champions tahun ini pula. Setelah sukses
Menahan di San Siro dengan skor 0-0, namun Milan terpancing untuk bermain agak terbuka di leg II di Camp Nou dengan tujuan mencuri gol tandang. Jadilah Milan korban pembantaian Barca di sana dengan skor 3-1.

Strategi ini menjadi makin sempurna ketika dimainkan oleh tim sekelas Real Madrid dan Chelsea. Mengapa demikian? Real Madrid dan Chelsea sendiri tidak biasanya bermain dengan gaya ini ketika menghadapi lawan selain Barca. Namun, Real Madrid dengan sentuhan tangan Jose Maourinho yang nota bene pernah sukses melatih Chelsea bahkan Inter Milan (Italia) dengan raihan treeble winner ditambah skill dan kecepatan para pemain Madrid yang tidak terlalu jauh berbeda dengan Barca, ternyata sangat meyakinkan menaklukkan Barca dengan gaya tersebut.

Sedangkan Chelsea, dibawah racikan care taker-nya, Di Matteo (orang Italia) seolah menjelma menjadi sebuah klub Italia di masa-masa kejayaannya yang lalu, ditambah lagi kedisiplinan total dan determinasi tinggi para pemainnya menjadikan strategi ini saaaangat sempurna dan berhasil.

Bedanya antara Madrid dan Chelsea dalam menahan Barca dengan strategi ini hanyalah; kalau Madrid masih mampu bertahan dan bermain lebih ketengah lapangan, namun Chelsea benar-benar bertahan total di jantung pertahanan sendiri. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh kualitas pemain Madrid yang memang lebih baik dari Chelsea atau memang Jose Mourinho (pelatih Madrid) tidak sepenuhnya menerapkan strategi ini karena memang Mourinho berkebangsaan Portugal dan hanya pernah melatih di Italia (Inter Milan).

Well…. Terlepas dari tidak disukainya gaya pragmatis sepakbola seperti itu, yang jelas dalam permainan sepak bola pemenangnya adalah yang mampu lebih banyak mencetak gol dan lebih sedikit kebobolan, tak peduli sedikit apapun mereka menguasai bola dan permainan. Dan kali ini terbukti; sepakbola Indah tiki-taka itu mati di tangan sepakbola pragmatis

link gambar: http://m.detik.com/read/2012/04/25/041902/1900702/1033/kutukan-juara-bertahan-liga-champions-masih-berlanjut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s