Puncak Kekecewaan dan Apatisme Rakyat, Aktivis/Demonstran Membakar Diri di Depan Istana

Sondang Hutagalung, aktivis/demonstran yang membakar diri di depan Istana Negara

Sondang Hutagalung, aktivis/demonstran yang membakar diri di depan Istana Negara

Apa yang ada di benak kita ketika mendenger adanya seorang aktivis yang berdemonstrasi di depan istana negara (kepresidenan) membakar diri hingga tewas.

Saya hendak memflashback peristiwa demonstrasi beberapa tahun lalu semenjak 1997. Saya mulai bersentuhan dengan aktivitas demonstrasi semenjak kelas 3 SMA. Mulai dari upaya menjatuhkan rezim Soeharto, menurunkan Gus Dur, memprotes Megawati dan mencoba menggagalkan kepemimpinan Sutiyoso terhadap DKI Jakarta.

Tak kan pernah ada yang tahu sedetik kemudian apa yang akan terjadi pada kami (sang demonstran) saat berdemonstrasi. Suasana berubah menjadi chaos, dentuman tembakan terdengar entah menggunakan peluru karet atau tidak, belum lagi lesakkan peluru para sniper dan mata-mata yang setiap saat bisa saja menculik kami, asap menyengat dari gas air mata membuat kami tak bisa berpikir, suasana kerap berubah menjadi border para demonstran berbekal keberanian masing-masing menggandengkan tangan berhadapan (face to face) hanya berjarak 2-3 meter dengan aparat bersenjata yang bisa setiap saat represif terhadap kami. Kami hanya bisa bertakbir “Allahu akbar”.

Kami tak sedikitpun berniat bunuh diri dengan demonstrasi tersebut, nyatanya korban tewas pun tak sedikit berjatuhan (tragedi Trisakti, Semanggi/Atmajaya dll).

Kini ketika saya melihat demonstran (Sondang Hutagalung) yang dengan sengaja membakar diri di depan istana negara (kepresidenan) tak perlu saya mencela perbuatannya sebagai tindakan konyol dan berlebihan. Saya yakin kita semua tak ingin kejadian demonstrasi yang menorbankan nyawa seperti itu atau dengan cara lainnya terjadi lagi. Sebaiknya kami serahkan pertanggungjawabannya atas tindakan beliau kepada Tuhan semata, Tuhan yang Maha Tahu, Maha Adil dan Maha Bijaksana. Namun, saya pikir satu hal yang sama adalah bahwa antara kami dulu dan mereka sekarang merasakan klimaks kekecewaan dan apatisme terhadap penguasa, yang memaksa kami ikut bertindak padahal kami tau tindakan itu bisa menyebabkan kami mati.

Sebegitu besarnya lah keseriusan mahasiswa (baca: rakyat), dan kesedihan mahasiswa melihat pelaku pemerintahan negeri ini, semuanya benar-benar menjadi klimaks sehingga mereka (dulu dan sekarang) sanggup melakukan apa saja dengan kemungkinan terburuk sekalipun, yaitu mati.

Lantas, dengan penuh hormat wahai penguasa negeri ini…!!! Adakah kalian seserius mereka mengurus negeri ini membebaskannya dari kemiskinan penduduknya (satu tuntutan sederhana namun mendasar) sampai kalian pun siap menerima kemungkinan terburuk bagi hidup kalian, misalkan ikut jatuh miskin demi memangkas pendapatan pejabat dari negeri ini demi totalitas program pengentasan kemiskinan rakyat dan mensterilkan negeri ini dari korupsi. Atau kalian ternyata benar-benar sudah buta hati kalian oleh harta kalian, alih-alih mengurus negeri ternyata justru kemewahan yang dipertontonkan kepada kami.

One response to “Puncak Kekecewaan dan Apatisme Rakyat, Aktivis/Demonstran Membakar Diri di Depan Istana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s