Impresi 3 tahun bersama Honda Tiger Revo

that is my revo

that is my revo

Honda Tiger digadang-gadangkan sudah memasuki masa uzur dan akan segera pensiun dari produksi masal industri motor Indonesia digantikan oleh gelotoran produk-produk baru yang fresh. Namun tak bisa dipungkiri motor ini menjadi legenda di mindset konsumen Indonesia maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti harga motor bekas ini akan melonjak.

Sebagai pengguna Honda Tiger Revo sejak tahun 2008 tentu saya memiliki kesan-kesan tersendiri berupa suka-dukanya. Dikatakan puas tidak juga karna banyak hal yang membuat saya kecewa dari motor ini, dikatakan tidak puas pun sulit karna impresi riding bersama motor ini sangat membuat sayang untuk digantikan, khususnya ketika jarak jauh.

Saat ini, motor Tiger Revo lansiran tahun 2008 ini sudah memasuki km 90.000 lebih sudah sekali turun mesin. Selain saya gunakan sebagai motor komuter (harian), tak terhitung jumlahnya bulak-balik Jakarta-Bogor-Puncak-Bandung apalagi Jakarta-Tangerang dengan motor rersebut. Sejumlah kota/tempat yang pernah disinggahi menggunakan motor ini adalah Pandeglang, Sumedang, Ujung Genteng, Tasik, Banjar, Dieng (Wonosobo).

melibas jalur Ujung Genteng

melibas jalur Ujung Genteng

Motor bermesin SOHC 200 cc ini memiliki power puncak mesin sebesar 16,7 hp pada 8.000 rpm. Penampilan secara umum gagah dan sangat relevan dengan konsep sport touring yang diusung motor ini. Dari depan anda akan terlihat gagah dengan tongkrongan motor ini, namun dari samping bila anda memiliki tubuh yang kurus akan kurang mendukung dengan penampilan motor ini yang cukup besar, adapun dari belakang rasanya Tiger lama lebih sedap dipandang daripada Tiger Revo, dan akan lebih sempurna bila ban belakang diganti dengan ban bertapak lebar minimal 120 supaya tidak terlihat cungkring.

Yang paling istimewa dari Tiger adalah sisi ergonomisnya yang membuat anda begitu menikmati perjalanan touring jarak jauh. Akseleresi motor ini bercirikan cruiser, lemot di bawah namun cukup berisi di tengah dan atas. Top speed yang pernah saya raih adalah 125 km/jam di speedometer dengan deviasi kira-kira sebesar 8-10% ketika saya uji dengan software Runtastic Blackberry yang menggunakan GPS. Sepertinya kecepatan tersebut sudah sulit untuk naik lagi kecuali bila dalam kondisi turunan. Kalau berbicara akselerasi dan top speed, menurut saya pribadi motor ini ga kalah dibanding Scorpio atau V-Ixion bila sudah bermain di putaran mesin menengah ke atas. Karna memang pengalaman melibas trek lurus nan panjang seperti jalan raya Cianjur-Padalarang atau Nagrek berulang kali motor ini tak terkejar oleh Scorpio, V-Ixion apalagi Satria FU. Dengan pembawaannya yang gambot membuat anda merasa cukup nyaman berkecepatan tinggi.

Lalu apa saja sisi buruk yang membuat saya kecewa terhadap motor ini, bukan tidak sedikit namun berikut saya jabarkan hal-hal yang menurut saya kurang normal untuk dimaklumi. Pertama, 3 bulan setelah menggunakan motor ini saya dibuat kaget dengan gejala gas ngempos di putaran atas. Setelah dicek kalaupun kanvas koplingnya habis saja sudah tidak normal karna baru 3 bulan, lah ini ternyata rumah kopling pun harus diganti. Sepertinya saya perlu mengatakan ada cacat produksi pada rumah kopling Tiger Revo keluaran tahun 2008, alhamdulillah setelah diganti hingga sekarang rumah kopling tersebut tidak pernah bermasalah.

Kedua, sepertinya material body dari motor ini memiliki kualitas yang kurang bagus. Contohnya; tangki bensin mudah sekali bocor dan rembes, awalnya masih bisa disiasati dengan lem besi namun ternyata makin lama rembesan makin luas sehingga terpaksa besi tangki bagian bawah saya ganti dengan besi plat yang baru dikerjakan di tukang las. Dan sekedar note, kejadian demikian terjadi meskipun saya selalu menggunakan Pertamax atau sekelasnya di SPBU resmi.

cover samping disiasati dengan tambahan ring lebar berbahan plastik

cover samping disiasati dengan tambahan ring lebar berbahan plastik

Kemudian cover samping baik kanan-maupun kiri mudah rapuh dan patah pada bagian yang menjadi tempat baut atau penghubung dengan tangki. Hal ini saya siasati dengan menggunakan lem power glue (meski tidak terlalu banyak membantu) dan saya buatkan tambahan ring berbahan plastik agar baut bisa bekerja sempurna menempel cover ini ke body.

refektor tidak rigid dipegang oleh rumah kabel lampu depan

refektor tidak rigid dipegang oleh rumah kabel lampu depan

Contoh lainnya adalah refektor yang cukup mudah patah pegangan bautnya. Hal ini saya rasa karna desain pegangan baut refektor sangat tidak rigid dihubungkan dengan rumah kabel lampu depan. Hal ini menyebabkan refektor mudah copot terlebih bila motor sering digunakan dijalan yang konturnya kurang halus.

leher knalpot mudah berkarat

leher knalpot mudah berkarat

Terakhir yang membuat saya khawatir adalah leher knalpot yang mudah sekali berkarat. Untuk mensiasatinya saya oleskan oli bekas ke leher knalpot yang dalam kondisi panas untuk menghilangkan karat-karat tersebut.

tour de Dieng

tour de Dieng

Well, begitulah impresi bersama Honda Tiger Revo 2008 berada antara puas dan tidak puas.

12 responses to “Impresi 3 tahun bersama Honda Tiger Revo

    • Ga ada maksud apa2 masbro, memang dr awal ngeblog di wp lom ngutak-ngatik format moderasi, btw pengalaman saya ngeblog di multiply tanpa moderasi jadi buanyak iklan ga jelas masbro

  1. salam kena masbrow…
    ane tambal tanki ninja pake lem besi bisa awet bro, hardenerny yg warna putih dibanyakin. trs amplas permukaan tanki smp dasarny kliatan, tambalan bagian bawah tangki bertahan 1 th lbh. yg samping br bocor 2bln yll, bahkan bocornya ga cuma rembes tp berlubang sktr 1mm, ane tambal pake cara yg sma msh aman2 aja smp skg. cuma tampilannya jd ga sedap dipandang mata….

  2. pengalaman yg berharga, at least apapun kelemahan dan kelebihan motor kita lebih baik kita terima dg ikhlas krn itu dibeli dg usaha keras kita sendiri..

  3. memank touring brsama tiger itu asik, itu kepuasan pertama yang ane rasain ketika touring. sebelumny sering touring pke motor sport merek lain.

    tetapi kekecewaan yang ane alami ntu masalah velg yang sering aus di bagian pengencang gear belakang yang menggunakan snap ring…. lupa ngecek kekencengan rantai za efeknya jadi ke ketahanan bosh yang bikin gear oleng trus ngerembet velg deh… soo bubut lagi… heu2……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s