Cahaya di Lorong Purnama

Hidup adalah perjalanan menuju kebahagiaan. Kebahagiaan pada hidup itu sendiri dan kebahagian pada kehidupan nanti. Maka, kehidupan itu menjadi potongan-potongan perjalanan berupa judul-judul dalam satu tema besar yaitu kebahagiaan. Adakalanya suatu judul menjadi paradoksal dari hakikat ceritanya, namun hikmah adalah mata rantai yang membuat kita tetap berpegang pada tujuan hidup itu sendiri yaitu kebahagiaan, sepahit dan semanis apapun judulnya, tinggal bagaimana kita merangkai kata, menjabar judul itu hingga menjadi sebuah konklusi yang senantiasa bersambung dan sinergis.

Ketika sedang asyik dan syahdu dalam kehangatan kasih sayang bunda. Serta-merta Ia memanggilnya ditengah dahagaku yang masih gersang. Alam pun hening di telinga, udara begitu menusuk di dada dan pikiranpun hampa. Ternyata setelah itu aku menjadi dewasa, tabah dan lentur menjalani hidup.

Ketika kerinduan yang tak kusadari menerpa, beberapa keindahan datang menyapa. Aku dan mereka tak menyadari kesungguhan rindu ini, namun kami sibuk dan tenggelam dalam romansa picisan. Kemudian, sakitnya tetap sama. Namun, satu ilmu kugenggam tanpa kusadari hingga menjadi sebuah bab falsafah yang akan terbuka nanti.

Sakit dan kecewa itu menstimulus pencarian di atas dahaga spiritual akan kerindangan ilmu dan iman. Serta merta menjadi sebuah semangat, melaju di atas sebuah idealisme dalam darah segarnya pemuda dan hangatnya remaja. Keputusan sakral diambil namun sayangnya bab falsafah yang lalu belum kubuka, mengenai diri dan kebutuhannya untuk bertarung di samudera kehidupan setelah antiklimaks kesungguhan seorang pemuda. Ternyata perlahan tapi pasti ku memasuki sebuah lorong panjang, gelap dan semakin menyempit ditambah beban-beban yang semakin memuncah di uluhati.

Ku coba mewarnai semua itu dengan fatamorgana berbekal keyakinan, dengan senyum yang menyimpan kegetiran, dengan tangisan dan perenungan, bahkan dengan marah dan ankara murka. Bab falsafah diri itu pun terbuka, laksana tergambar sebuah jembatan kecil di atas jurang kebencian Tuhan, dan aku putuskan aku harus kesana. Disanalah aktualisasi dan improvisasi kehidupan sebagaimana disana pula impresi manis atas sebuah biduk yang akan kukendarai.

Ternyata oh ternyata, jembatan rapuh itu dihiasi tiga warna indah, entahlah akan ada warna apalagi diujung sana. Warna pertama yang ku temui adalah warna masa lalu. Berbicara tentang sebuah bibit cinta yang tetap tertanam dalam hipokritnya kami. Serasa mendapat oase di tengah sahara bibit itupun kami sirami hingga berbuah indah namun mengandung cukup racun tuk mematikan hati.

Tanpa kompas kami berjalan entah kemana, hingga yang kami temukan hanyalah kebimbangan, hingga saat ini pun kami tak bisa memastikan dimana kami telah berada.

Warna kedua adalah warna mencolok, berkilau bahkan menyilaukan. Karnanya membuat kami seolah melihat sebuah arah dan tujuan yang bisa ditempuh diatas sebuah komitmen dan janji. Sayang sungguh disayang warnanya tak sekuat yang kukira. Meski ia menangis namun hatinya batu, meski ia lembut namun pikirannya kaku. Jadilah aku korban dari eforia pencarian sebuah sosok dan jebakan hati.

Kini ia datang lagi membawa penyesalan dan iming-iming permohonan maaf. Sejenak ku terlena akan sebuah memori sutra, namun ternyata ia terbakar dalam setiap lipatannya. Masih saja begitu dan tetap saja begitu, ah aku jenuh, bibirku kelu dan otakku pun kaku. Hanya satu kalimat kini untukmu; pudarlah kau.

Warna yang ketiga cukup aneh hingga ku tak tau harus menyebut apa. Ketika ku berpetuah ia seolah sosok yang manut dan pasrah. Namun tatkala ku dahaga, ia hanya memberikan segelas air laut.

Di antara semua warna, kuyakin ada sebuah cahaya. Yang sudah terlihat di kegelapan ini. Itulah CAHAYAKU DI LORONG PURNAMA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s