Dibalik Kekalahan Timnas 0-1 dari Malaysia

Pertandingan terakhir babak penyisihan grup A pada Sea Games XXVI antara Indonesia kontra Malaysia yang dimenangkan oleh Malaysia 0-1 memang bukanlah pertandingan yang menentukan maju atau tidaknya timnas u-23 Indonesia ke semifinal. Karna Indonesia sudah memastikan tempatnya di semifinal terlebih dahulu setelah mengkandaskan Thailand 3-1.

Namun ditengah ekspektasi besar penggemar sepakbola tanah air dan animo penonton yang begitu deras dibanding pertandingan-pertandingan sebelumnya, mengharapkan Indonesia bisa mengalahkan Malaysia, rival abadinya yang juga telah mengkandaskan Indonesia di piala AFF lalu, maka pertandingan kemarin memiliki makna tersendiri. Namun sayang timnas harus kalah 0-1 dari Malaysia.

Pelatih, Rahmat Darmawan lebih memilih grand strategi merebut emas daripada memaksakan diri tampil full team mengalahkan Malaysia. Karna Indonesia sudah dipastikan masuk semifinal, sejumlah pemain utama dan andalan di rotasi seperti Wanggai, Okto, Andik, Diego dan Meiga (GK) demi menjaga kondisi fisik dan menghindari akumulasi kartu kuning, mengingat pertandingan semifinal dan final yang hanya berselang dua hari-dua hari saja. Dan hasilnya; para supporter harus rela menerima kenyataan timnas kalah lagi dari rival ‘bebuyutannya’, Malaysia.

Well, apapun hasilnya, dari sisi manajerial nampaknya strategi tersebut tidak boleh disalahkan, namun kekalahan dari Malaysia selalu menyakitkan, mungkin karna ada dendam emosionil di luar lapangan yang melibatkan kedua negara ini. Dan kini pencinta sepakbola tanah air tinggal berharap semoga strategi yang dijalankan pelatih timnas benar adanya dan berhasil membawa timnas merebut emas Sea Games setelah 20 tahun lamanya Indonesia puasa gelar ini.

Namun, lepas dari itu semua, kekalahan dari Malaysia harus menjadi warning bagi segenap pihak yang mengurusi persepakbolaan negeri ini sehingga mereka segera mengambil kesimpulan dan solusi yang benar baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang demi kepentingan kemajuan olahraga sepakbola nusantara.

Pertama, timnas seringkali terlena dan seolah kehilangan integritasnya sebagai pemain berkelas ketika ekspektasi masyarakat meninggi kepada mereka dan mereka mulai kembali dielu-elukan.

Hal ini bukan hanya terjadi di Sea Games kali ini saja, contoh sebelumnya terlihat di Piala AFF dan Pra Piala Dunia. Di tengah kegemilangan timnas melahap point sempurna di babak penyisihan Piala AFF, namun mereka kehilangan integritasnya sebagai pemain berkelas di final sehingga harus dikalahkan Malaysia, padahal pada babak penyisihan, timnas secara meyakinkan menekuk Malaysia 5-1.

Apa yang terjadi sebelum pertandingan final tersebut; para pemain timnas begitu dielu-elukan, menjadi sumber berita maupun bintang infotainment, diundang ke acara istighasah para ulama, diundang meeting n makan bersama oleh konglomerat Indonesia, diundang ke acara Bukan Empat Mata dan lain sebagainya. Lalu mereka lupa bahwa lawan tak tinggal diam membenahi diri, mereka lupa bahwa sepakbola adalah pertandingan teknik dan strategi, bukan hanya mengandalkan semangat, harapan besar dan nasionalisme. Mereka lupa bahwa mereka belum menjadi yang terhebat dari sisi hakekat seni sepakbola itu sendiri.

Di Pra Piala Dunia, timnas kembali mendapat ekspektasi besar setelah masuk ke babak ketiga setelah menyingkirkan Kazakstan untuk masuk ke dalam kubangan atmosfer sepakbola a la timur tengah. Sejumlah kalkulasi berdasarkan sejarah dihitung sehingga mereka begitu diharapkan mampu ke babak selanjutnya. Nyatanya timnas hanya menjadi juru kunci dan bulan-bulanan tim-tim timur tengah. Sekali lagi, sepakbola adalah pertandingan teknik dan strategi di lapangan, bukan hanya mengandalkan semangat, harapan besar dan nasionalisme.

Jauh lebih dulu pun nampaknya tidak jauh berbeda. Timnas sempat dijuluki macan Asia, namun toh tidak ada gelar yang mereka raih, juara piala asia tidak dan tampil di piala dunia pun tidak. Kini, di tengah kegemilangan timnas u-23 melumat lawan-lawannya (Kamboja, Singapura dan Thailand) dengan kemenangan sempurna di 3 pertandingan pertama babak penyisihan, timnas kembali dielu-elukan dan sumber berita dengan ekspektasi besar. Kekalahan dari Malaysia memang bukan akhir segalanya (Sea Games ke-26), tapi hal itu harus menjadi sinyalemen kehati-hatian bahwa timnas tidak boleh kehilangan integritas pemain sepakbola yang mampu menampilkan teknik, kerjasama dan strategi tim di lapangan layaknya pemain berkelas sebagaimana yang di tampilkan pada pertandingan babak penyisihan sebelum melawan Malaysia. Bila ternyata timnas tidak mampu konsisten pada pertandingan semifinal dan mungkin final nanti, saya rasa kita dapat menyimpulkan satu permasalahan di timnas adalah pada mental mereka yang belum bermental juara dan itu harus dibenahi.

Kedua, pada pertandingan kontra Malaysia kemarin dengan melakukan rotasi pemain utama terlihat permainan timnas berubah sangat drastis, satu-satunya bintang pemain utama yang turun, Titus Bonai tidak mampu berbuat banyak menerobos pertahanan Malaysia atau menyelesaikan peluang-peluang emas. Di lain sisi, pertahanan timnas mendapat ujian yang sebenarnya melawan Malaysia kali ini, dan nampaknya pertahanan timnas masih rapuh dan tak seimbang dengan kualitas kekuatan tengah dan lini depan timnas. Hal ini menandakan bahwa kekuatan timnas masih belum merata antara pemain utama dan cadangan terlalu timpang, dan pemain belakang belum setangguh pemain tengah dan depan. Permasalahan ini tentu krusial bagi sebuah turnamen yang membutuhkan konsistensi tim. Itu artinya pembenahan skill para pemain sepakbola Indonesia masih membutuhkan strategi yang lebih baik lagi berupa sistem pendidikan yang sempurna dan geliat sepakbola yang sinergis.

Dalam hal ini nampaknya kita perlu mencontoh Eropa, yang membina bibit pesepakbola mereka dengan sistem yang baik mulai dari usia dini, membangun kompetisi lokal yang kompetitif disertai perancangan geliat sepakbola yang sinergis dari sisi ekonomi dan bisnis sehingga sepakbola menjadi sebuah indutri, hal ini jelas menguntuhkan tuk memenuhi kebutuhan pembinaan bibit-bibit pesepakbola itu sendiri, jangan hanya melihat dari sisi kapitalismenya an sich.

Kesimpulannya adalah; sepakbola adalah pertarungan teknik dan strategi di lapangan sebenarnya, bukan besar-besaran ekspektasi dan semangat nasionalime semata.

#sekedar catatan dan pemerhati amatiran pesepakbolaan tanah air#

2 responses to “Dibalik Kekalahan Timnas 0-1 dari Malaysia

  1. timnas indonesia sentiasa kelihatan ego,terlalu percaya akan menjadi juara.mungkin kadang2 anda lupa dan memandang rendah malaysia,anda lupa malaysia ialah juara bertahan sea games.walaupun sebagai juara bertahan,malaysia sentiasa kelihatan cool dan merendah diri.itulah senjata paling ampuh skuad malaysia,iaitu sentiasa tenang dan tidak menyimpulkan diri sebagai terlalu favorit untuk juara.jadi tekanan juga tidak terlalu berat di pihak malaysia.
    Perlawanan kelmarin bagi saya adalah kesalahan strategi timnas indonesia,saya kurang bersetuju timnas anda ingin ‘membuang’ perlawanan itu kepada malaysia.dan saya kurang setuju timnas anda ingin menyimpan pemain utamanya.JIKA INGIN MENYIMPAN PLAYER UTAMA<MENGAPA MASIH MAHU MENURUNKAN TITUS DAN DIAGO YG AKHIRNYA MENDAPAT KARTU KUNING?

    • Ya, argumentasi anda sah-sah dan boleh saja, tapi toh semua ini (strategi ini) baru akan terjawab hingga sea games usai, kan di atas sudah saya katakan, strategi ini mungkin bisa benar n salah. Dan saya tidak pernah menyalahkan ekspektasi pencinta sepakbola indonesia, yang salah adalah mental dan sikap dalam menghadapi ekspektasi ini, karena sebuah tim yang sempurna tidak akan dipengaruhi oleh ekspektasi dan tekanan dari luar lapangan, hasil pertandingan hanya bergantung dari strategi dan teknik dilapangan, itulah yang sentiasa berusaha dibenahi agar sebuah tim memiliki kekuatan yang cukup konsisten sebagaimana thailand saat ini di asia tenggara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s