Menukik; Menyakitkan untuk Hinggap di Kerindangan Nurani

Engkau yang telah jauh pergi. Memapah kekeringan ruhani, menuai perih, pahit dan getir hidup atas fakta dan realita hasil yang kau gantungkan pada pundakmu sendiri. Nyaris tak terpikir sebuah kekuatan dahsyat yang dalam sekejap dapat merubah segalanya.

Engkau yang telah jauh pergi. Berkamuflase dalam kenyamanan fatamorgana dunia, tertipu dengan persepsi kebahagiaan semu sebagai sumber inspirasi, semangat dan langkahmu. Nyatanya kamu hanya menjadi letih, tertatih dan menyerah.

Engkau yang telah jauh pergi. Menyimpan bara dendam terhadap takdirmu yang berlaku kini. Untuk kemudian merasa layak bahagia dengan cara-caramu yang narsis, sombong dan mubazir. Nyatanya air matamu dingin dan anta’ tak berasa, teriakan hatimu hanya bagai pekik di tengah lembah sahara di bawah mentari siang bolong.

Engkau yang telah jauh pergi, karena sejuta kecewa yang menderu di asamu, untuk kemudian menyusun langkah-langkah baru yang indah dibaca, mengharukan di dengar, namun pahit kau gapai. Karna antara mungkin dan tak mungkin makin samar, waktu semakin terasa panjang dan tujuanmu makin terasa jauh tak bertepi.

Untukmu yang telah jauh pergi, kembalilah…!!! Menukik ke kerindangan nurani. Meski berat hatimu, apatis pikiranmu, gontai langkahmu dan penuh malu namun menukiklah ke kerindangan nurani. Karena semua getir pahitnya dan dahsyat sakitnya menukik setelah kau terbang akan terbayar oleh kesejukan, kenyamanan dan ketenangan saat kau bertengger di kerindangan nurani, berkicau dengan segenap dzikir, mengangguk dengan tangisan haru dan buncahan air mata yang selama ini tersumbat di kalbumu. Sesaat kemudian, kau akan melihat dunia ini dengan cerah, kegemerlapannya tak mengusik surgawi yang nampak muncul di pelupuk matamu. Kau akan melangkah kembali dengan kokoh dan pasti.

Namun tak cukup disitu. Karna ketika kau kembali keluar kau siap diperdaya. Mereka yang terkutuk itu akan semakin gencar mengintaimu dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang kau lemah disitu. Maka, kau harus segera kembali, jadikan tempat ini rumahmu, tempat kau bertolak, tempat kau kembali, tempat kau menangis, berkeluh kesah. Karna ada Yang mendengarmu disana dan selalu menyayangimu, menjagamu dan membantumu selama nuranimu tak tertutup mati oleh kekufuranmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s