Qaddafy yaa Qaddafy…

K. H. Muhammad Arifin Ilham: “Alhamdulillah, sudah 3 kali ke Libya, dan 2 kali sholat berjamaah di lapangan Moratania dan Lapangan Tripoli sholat berjamaah yg dihadiri 873 ulama seluruh dunia dan rakyat Libya, dengan Imam langsung Muammar Qoddafy, bacaan panjang hampir 100 ayat Al Baqoroh, sebagian besar jamaah menangis, sebelumnya syahadat 456 muallaf dari suku-suku Afrika, dan dakwah beliau selalu mengingatkan tentang ancaman Zionis dan Barat, Pemimpin Arab boneka AS, selamatkan Palestina, Afghan & Irak…inilah kesanku pd almarhum, sahabatku FIllah.”

Bagaimanakah sikap anda menyikapi kematian qaddafy di tangan para revolutor Libya terlebih lagi setelah membaca statemen KH M Arifin Ilham di atas. Seshalih apakah qaddafy hingga para jama’ah ma’muum shalatnya menangis mendengar bacaannya terhadap ayat-ayat Allah. Setulus apakah jiwanya sehingga senantiasa mengumandangkan dakwah perlawanan terhadap musuh Islam zionis dan AS. Lalu sejernih apa hatinya hingga mensyahadatkan ratusan mu’allaf. Masih berdiri dengan megah sebuah masjid besar di Bogor yang dibiayainya sendiri untuk kaum muslimin di Indonesia.

Sungguh menyayat hati ini mendengar seseorang yang demikian mati di tangan orang-orang yang juga meneriakkan Allahu akbar, bahkan mereka bersujud syukur setelah membunuhnya.

Bagaimana kita menyikapi kematian Qaddafy menurut saya adalah hak anda sekalian, namun menurut saya sebaiknya sikap kita berangkat dari frame berikut:
1. Berangkat dari iman dan ukhuwwah Islamiyyah. Berbicaralah dengan iman dalam jiwa kita dalam menyikapi kematian seorang muslim yang masih mengangkat konsep dakwah dan perjuangan untuk kemaslahatan kaum muslimin dari ancaman global.
2. Pengetahuan yang mendetil mengenai peta dan fenomena konflik lebih mendasar di Libya. Dengan demikian kita lebih bisa membaca arah perubahan seperti apa, siapa ditunggangi siapa dan sebagainya.

Rasanya shalat ghaib, dan do’a permohonan ampunan atas dosa-dosa Qaddafy serta penerimaan terhadap amal-amalnya hingga berguna bagi kehidupannya di akhirat kepada Allah adalah sesuatu yang layak kita berikan kepadanya. Serta mengedepankan husnuzhan sesama mu’min dan kehati-hatian dalam menuduh sesama mu’min.

Wallahu a’lam bish shawaab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s