Rusuh Purwakarta dan Dakwah yang Sistematis

Hari ini terjadi kerusuhan di Purwakarta, berupa penghancuran patung Gatot Kaca dan patung Semar di kota tersebut oleh puluhan hingga mungkin ratusan orang berseragam putih, memakai peci dan sorban.

Entah apa alasan sebenarnya penghancuran tersebut, apakah karna Gatot Kaca dan Semar berasal dari budaya Jawa sedangkan Purwakarta masuk dalam daerah suku Sunda. Wah tentu bila alasan ini yang mendasari tentu harus diwanti-wanti karna terlihat pergesekan dua suku terbesar yang ada di Indonesia. Jangan sampai rusuh tersebut didalangi oleh pihak-pihak tertentu dengan tujuan busuk dan keji.

Adapun bila alasan penghancuran tersebut karna patung dilarang oleh Islam, maka yang perlu sedikit kita bahas adalah metode infiltrasi budaya yang diperankan oleh para aktifis ‘garis kasar’ Islam tersebut.

Adakah yang lebih membuat Rasul SAW marah sehubungan dengan adanya simbol-simbol berhala selain ratusan patung yang mengelilingi rumah suci Ka’bah. Namun selama kurang lebih 15 tahun beliau mampu bersabar membersihkan penistaan itu melalui proses infiltrasi budaya bangsa Arab hingga berlandaskan tauhid yang kuat dan kokoh menghujam di dalam hatinya. Sehingga ketika saatnya tiba, maka penghancuran patung-patung tersebut menjadi tuntutan yang relevan dengan opini dan persepsi masyarakat. Tak ada resistensi setelahnya.

Lalu bagaimana dengan kasus Purwakarta hari ini di tengah konteks berbangsa dan bernegara yang masih terlalu majemuk, nasionalisme kebangsaan yang masih kuat berakar pada elemen-elemen budaya yang beraneka ragam.

Tentu kejadian tersebut rentan menimbulkan pergesekan budaya yang berujung pada ketidaknyamanan hidup berbangsa dan bernegara. Di lain hal juga akan menimbulkan opini negatif terhadap agama ini. Karna apa? Karna aktivis dakwah belum menginfiltrasi budaya bangsa Indonesia dengan Tauhid yang kuat dan menghujam di hati dan jiwa mereka. Opini bangsa ini diseluruh elemennya masih belum Islami sehingga tak pantas para aktivis Islam memaksakan sesuatu tindakan yang akhirnya hanya dicerminkan dengan kata ‘kasar, primitif’ dan sebagainya.

Wallahu a’lam semoga semua aktivis Islam lebih bisa bersabar dan bijak dalam mengolah keadaan dan lingkungan menjadi lebih baik.

5 responses to “Rusuh Purwakarta dan Dakwah yang Sistematis

  1. Secara pribadi, sebagai muslim saya tidak pernah bermasalah dengan patung. Emang kenapa kalau ada patung? Selama tidak disembah kan tidak masalah…Justru seperti biasa biasanya aksi-aksi seperti ini mrpkn aksi pesanan… dan tugas Polri untuk mencari dan menyelidiki. Kemana ya BAKIN? Kog intel Indonesia spt nya melempem sejak ORBA bubar???

    • Justru klw dlm konteks indonesia, pergesekan antara dua budaya atw pergesekan antara dua agama jauh lebih mengerikan drpd pergesekan antara budaya dgn agama. Apalagi ini antara 2 suku besar di Indonesia (Sunda & Jawa). Kasus pergesekan antara dua budaya spt yg pernah terjadi antara suku dayak dan jawa, atw pergesekan antara 2 agama spt yg pernah terjadi di …. yah kita tahu lah dimana itu, semua itu lebih mengerikan daripada pergesekan antara budaya dan agama, krn sekali lg dlm konteks indonesia dua hal itu adalah dua segmen dlm ranah yg berbeda jadi hanya tinggal meluruskan persepsi aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s