Kaidah Jiwa

Kaum muslimin tidak akan bangkit kecuali dengan apa yang telah membuatnya bangkit dahulu. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga ia merubah apa yang ada di jiwa mereka. Maka jiwa tak akan kembali kecuali dengan apa yang telah membuatnya kembali.

Ketika jiwa ini lahir ke bumi, ia datang dalam keadaan suci. Lalu lingkungan mengotorinya, atas petunjuk Tuhan-nya ia kembali kepada kesucian dan menghangatkan persemaiannya dengan munajat ibadah dan kekhusyu’an hati dan pikirian hanya kepada Tuhan-nya.

Lantas ketika jiwa itu kembali diguncang karena memang guncangan adalah sebuah keniscayaan bagi akuisisi keimanan jiwa. Tak pelak jiwa kembali tersasar pada jalan yang jauh dari hakikat kebahagiaan dan ketenangan.

Dunia, harta, perniagaan, wanita, anak-anak dan keindahan alam semesta hanyalah tasliah (hiburan) bagi jiwa dan washiilah (perantara) yang mengantarkan jiwa pada keagungan Tuhan-nya untuk kembali merengkuh kesucian. Lalu bila mereka hanyalah menjadi perongrong tentu Tuhan menjadi hal yang lebih utama. Mereka semua bisa terganti namun Tuhan tak kan pernah terganti.

Tak akan ada yang mengembalikan jiwa kepada ketenangannya kecuali apa yang telah membuatnya tenang dan bahagia dahulu, ketika syahdu dan haru biru bermunajat menjadi kebiasaan dan khusyu’ menjadi identitas jiwa tersebut.

Kembalilah wahai jiwa meniti kaidahmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s