Ketika Kita Berbeda

Wah…wah…wah…, kalau memperhatikan dampak dari terjadinya perbedaan perayaan ‘Iedul Fithri tahun ini baik di jejaring sosial maupun di masyarakat ternyata cukup membuat hati ini sedih. Ada yang menganehkan dan menyudutkan ijtihad orang lain tanpa sedikitpun apresiasi atas proses ijtihad, padahal ijtihad sendiri begitu dihargai oleh Allah sampai-sampai bila pun ia salah tetap akan mendapat pahala, lantas mengapa manusia yang teramat bodoh dan lemah dengan congkaknya menyudutkan orang lain yang telah berijtihad.

Ada yang memaki tanpa dasar ilmu atau sekedar berangkat dari kedangkalan wawasannya. Ada pula yag alih-alih tidak mengakui hasil sidang itsbat pemerintah Indonesia karna pemerintahan yang tak berkonsep daulah Islamiyyah ternyata justru mengambil keputusan pemerintah Malaysia sebagai hujjah untuk menguatkan pendapatnya, apakah Malaysia sendiri sebuah daulah Islamiyy

Ada yang mengkhawatirkan makanan penyambut hari raya basi atau habis sebelum waktunya. dan yang paling menyedihkan terjadi di masyarakat adalah sebagian dari mereka mengikuti hari raya sesuai keputusan pemerintah (hari rabu) namun hari selasa-nya mereka tetap tidak mau berpuasa dengan alasan sudah ada yang berbuka. Tentu hal ini berangkat dari ketidakpahaman mereka terhadap detil hukum kasus ini secara integral dan tidak mengambil apa yang enaknya aja. laa ilaa haa-ulaa’ wa laa ilaa haa-ulaa’.

Tentu bila semua bisa dipersatukan akan terasa lebih indah. Akan tetapi melihat kerasnya pihak tertentu dalam mempertahankan pendapatnya, khususnya dalam sidang itsbat kemarin, kita dapat memahami bahwa persatuan umat masih menjadi PR yang perlu diselesaikan bukan dengan cara yang instant saat ini juga. Karena itu keputusan untuk mengedepankan tasaamuh (toleransi) tidak saling menghujat, ukhuwwah dan kelembutan hati dan perasaan sesama muslim adalah keputusan yang paling bijak, aktual dan faktual.

Bagi mereka yang belum memiliki kemampuan menalar dalil, hendaklah senantiasa belajar. Sementara itu ikutilah barisan yang dianggap terpercaya secara utuh, tidak asal mengambil yang enaknya saja seperti lebaran yang ramai hari rabu diambil, namun sudah tidak mau lagi berpayah-payah puasa pada hari selasa.

Dan ujung dari semua ini adalah harusnya terbentuk suatu pemerintahan yang legitimated dan di akui dengan penuh ihtiraam oleh segenap lapisan masyarakat. Sehingga umat mampu berada dalam satu keputusan, bukankah keluar dari khilaf menuju persatuan itu disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Yup…. sebuah PR besar… namun insya Allah KITA BISA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s