Hilal 1 Syawal yang Ditunggu

Bagi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia begitu pula di Indonesia, tanggal 1 syawal adalah tanggal yang ditunggu, karena di tanggal itulah segenap kaum muslimin merayakan hari kemenangan dengan sebutan ‘iedul fithri. Kegembiraan dan suka cita serta haru biru pertemuan dalam jalinan silaturrahim sangat meliputi mereka. Serasa bumi, langit dan pepohonan bertasbih mengiringi kegembiraan tersebut.

Namun yang tidak jarang terjadi adalah perbedaan penentuan tanggal 1 Syawal tersebut yang cukup membuat sedih kaum muslimin karena umat terbagi menjadi dua atau tidak serentak bersama-sama merayakannya. Tentu kegembiraan akan lebih berbeda bila dibandingkan perayaan hari kemenangan itu secara serentak.

Perbedaan tersebut terjadi karena terdapat beberapa pendapat dalam menentukan hilal 1 syawal tersebut. Namun pendapat yang mayoritas dipakai oleh umat ini ada 2.

Yang pertama adalah penentuan hilal 1 syawal berdasarkan ru’yatul hilal. Atau hilal (anak bulan yang menandakan kemunculan bulan baru) harus dilihat dengan mata kepala, atau diperbolehkan menggunakan teropong sehubungan dengan polusi udara di dunia ini yang sudah mengganggu pandangan. Bila 1 orang saja dari anak negeri sudah melihat hilal dan ia dinyatakan dapat dipercaya (tsiqah) maka pernyataan orang tersebut sudah bisa dipergunakan untuk seluruh negeri. Pendapat inilah yang dahulu menjadi acuan di zaman Nabi SAW dan para sahabat beliau.

Pendapat yang kedua adalah, penentuan hilal 1 syawal berdasarkan wujuudul hilal. Yaitu pendapat yang menyatakan bahwa bila hilal tidak dapat dilihat oleh mata, bukan berarti hilal itu tidak ada, dengan kemajuan pengetahuan manusia sehingga dapat dirumuskan (hisab) kemunculan hilal tersebut, meskipun hilal yang dinyatakan visibel 2 derajat dari sudut matahari terbenam belum tercapai.

Metode hisab ini juga ada yang dianggap sebagai ru’yat pula, karna ru’yat bisa juga bermakna melihat dengan ilmu pengetahuan bukan hanya dengan mata kepala. Di zaman Nabi dan para sahabat mereka belum mengetahui metode perhitungan ini karna memang ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang.

Nah dari dua pendapat tersebut, perbedaan penentuan tanggal 1 syawal akan terjadi bila hilal pada akhir tanggal 29 Ramadhan (matahari terbenam) belum mencapai 2 derajat yang merupakan kadar visibilitas hilal tersebut oleh mata kepala sehingga mengharuskan bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30, sedangkan metode hisab dengan konsep wujuudul hilal-nya sudah menyatakan hilal sudah ada melalui perhitungan matematis tersebut.

Nah fenomena yang cukup unik memang terjadi di Indonesia (entah mungkin di negara lain juga terjadi) dimana sebagian kaum muslimin tidak mengikuti ketetapan pemerintah mengenai 1 syawal melalui sidang itsbat yang notabene berdasarkan rekomendasi dari para tim ru’yatul hilal yang disebar diseluruh penjuru Indonesia. Namun fakta yang cukup ironis adalah nyatanya dari saya belajar berpuasa hingga saat ini tak satupun pernah terjadi perbadaan antara hasil sidang itsbat yang berdasar ru’yatul hilal tersebut dengan tanggalan yang sudah ditetapkan di kalender yang jelas pasti berdasarkan metode hisab karena sudah ditetapkan pada tahun sebeluumnya. Justru yang sering terjadi adalah perbedaan antara sidang itsbat dan penanggalan kalender di satu pihak dengan metode hisab (wujuudul hilal) yang dilaksanakan oleh ormas seperti Muhammadiyyah. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa pemerintah tidak ingin perubahan tanggal 1 syawal mengganggu protokoler pemerintahan yang sudah direncanakan atau mengganggu kegiatan bisnis.

Wah bagaimana jadinya ya kalau ternyata pemerintah merubah penetapan tanggal 1 syawal dari yang sudah ditetapkan di kalender. Sedangkan masyarakat sudah bersiap-siap merayakan lebaran menurut tanggal merah yang ada di kalender, begitu pula stasiun-stasiun tv yang sudah membuat schedule tayangan menyambut hari raya tersebut, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam

#Sekedar argumentasi apa adanya#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s