Merdeka Sejati

Hari ini 17 Agustus 2011, 66 tahun sudah rakyat Indonesia mengklaim kemerdekaan bangsanya dari penjajahan bangsa lain. Namun sejauh mana klaim itu memberi manfaat yang signifikan bagi rakyat Indonesia itu sendiri untuk menjalankan kehidupannya sebagai manusia sejati. Tentu jawabannya sama-sama kita bisa jawab sendiri sambil melihat perkembangan bangsa ini dari berbagai media yang mengabarkan kepada kita corat-marut negeri ini. Mulai dari dekadensi moral, keputus asaan, korupsi sistemik merajalela dan separatisme di berbagai tempat. Apakah lantas signifikansi itu jelas terlihat dari sebuah bangsa yang mengaku merdeka.

Kemerdekaan bukanlah semata kebebasan menaikkan bendera kebangsaan kita dengan seremoni upacara yag khidmat dan penghormatan kepadanya. Bukan pula pekik eforia “merdeka” dan aneka perlombaan di mana-mana. Saya yakin para pendiri bangsa ini yang telah menumpahkan darah dan keringat berkorban harta dan jiwa untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah tidak pernah sepicik itu mengharapkan bentuk kemerdekaan. Saya yakin mereka memiliki harapan yang besar bahwa bangsa ini bisa hidup di atas kesejatiannya sebagai manusia sebagaimana saya yakin mereka akan menangis bila mata mereka masih bisa melihat bangsa ini sekarang.

Manusia adalah sesosok makhluk yang tidak mungkin tidak tunduk pada sesuatu, dan sesuatu itulah yang akan menjadi haluan dan petunjuk hidupnya. Sampai-sampai seorang manusia yang mengaku atheis sekalipun bukan berarti mereka tidak memiliki haluan dan petunjuk bagi hidupnya, haluan dan petunjuk hidup mereka adalah persepsi buruk pikiran kotor mereka yang diargumentasikan dalam berbagai bentuk sistem, entah itu sistem ekonomi, sistem budaya dan sebagainya, mereka berhaluan kesitu. Maka manusia yang merdeka bukan berarti manusia yang terbebas dari haluan dan petunjuk. Nah pertanyaannya adalah haluan dan petunjuk apa yang secara tegas kita bisa benarkan bahwa dengan tunduk padanya maka kita bisa menjadi manusia yang merdeka.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka marilah kita bertanya kembali mengenai kesejatian manusia, apa dan siapa manusia itu. Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah ta’aalaa, Ia lah yang paling tahu mengenai manusiam dan Ia pulalah yang paling tahu bagaimana mengatur kehidupan manusia, kenapa? Karna Ia-lah yang menciptakan manusia. Tanpa pretensi menyamakan, hanya sebagai logika sederhana saja; seorang profesor yang mampu membuat robot, maka profesor tersebutlah yang paling tahu mengenai robot tersebut, ketika robot itu menunjukkan indikasi kerusakan maka profesor tersebutlah yang paling tahu cara memperbaikinya.

Sebuah motor Honda Tiger dikeluarkan oleh pabrikan Honda. Ketika motor tersebut rusak tentu selayaknya dibawa ke bengkel Honda bukan bengkel Yamaha, untuk kemudian di perbaiki oleh mekanik yang dididik oleh Honda berdasarkan buku panduan yang dikeluarkan oleh Honda.

Nah, ketika kita sudah mengetahui kesejatian manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah. Maka kita bisa menjawab bahwa haluan dan petunjuk yang patut manusia tunduk padanya sehingga ia bisa dikatakan manusia merdeka adalah haluan dan petunjuk yang datang dari Allah, semuanya termuat dalam kitab suci yang diturunkannya yaitu Al Qur’an dan disampaikan oleh utusannya yaitu Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, manusia bisa disebut merdeka ketika ia secara totalitas telah menjadi hamba Allah, bukan hamba manusia, hamba harta apalagi hamba nafsu.

Implikasinya apa ketika seorang manusia menjadi hamba Allah? Seorang hamba Allah akan berimplikasi pada dua hal:

  1. Khalifah di muka bumi. Seorang hamba Allah diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi, yaitu makhluk yang mengemban amanah menjalankan aturan-aturan di muka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah: 2 yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.”
  2. Ibadah kepada Allah. Implikasi kedua sebagai seorang manusia yang merdeka adalah menjadikan totalitas hidupnya sebagai bentuk peribadatan kepada Allah. Yaitu senantiasa menjalankan hidupnya dengan jalan dan tujuan yang diridhai oleh Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS Adz Dzaaririyaat : 56 yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Dua implikasi di atas agar tidak salah jalan memasuki kesesatan tentu membutuhkan sebuah aplikasi yang benar. Nah aplikasi itu adalah berupa penghayatan dan pendalaman ilmu dan pemahaman manusia terhadap kandungan Al Qur’an seutuhnya.

Implikasi dan aplikasi yang tepat, terealisir dan berkesinambungan lah yang akan menjadikan manusia sebagai insan sejati yang merdeka dan dengan sendirinya terealisir signifikansi kemerdekaan hidup mereka berupa kemakmuran dan kesejahteraan di dunia ini, persis dengan yang difirmankan Allah dalam ayat berikut ini:

و لو أن أهل القرى ءامنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركت من السماء و الأرض و لكن كذبوا فأخذنهم بما كانو يكسبوم

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf : 96)

Lantas dimana keberkahan kekayaan bangsa ini yang nota bene menyimpan kekayaan alam di laut dan tanahnya, serta mendapat curahan hujan dari langit yang seimbang sebagai sebuah negara tropis di garis khatulistiwa. Dimana lagi kalau bukan sejatinya kita belum merdeka sebagai bangsa.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s