Allah, Kesombongan dan Manusia

Tergelincirnya pertengahan malam adalah waktu yang paling tepat dan mengasyikkan bagi para ‘ibaadurrahmaan untuk bermunajat kepada Rab-nya dengan ibadah dan perenungan. Kesyahduannya sering kali membuat mata menganak sungai sebagai refleksi kepedihan hidup dan kelemahan diri serta pengharapan dan rasa takut menghadapi suatu kehidupan yang kedatangannya niscaya, yaitu alam kubur dan kehidupan akhirat.

Mari sejenak kita merenungkan sesuatu yg mungkin luput dari diri kita tuk menjauhinya bahkan dalam sekelebatan mata, padahal dampaknya begitu tragis dan merusah, dialah kesombongan.

Manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki akal dan ditundukkan baginya alam disekitarnya ini tentu menjadikannya sebagai makhluk yang paling mulia. Namun hal demikian bukanlah untuk menjadikan dirinya berjalan angkuh di muka bumi berbuat fasad dan kehancuran.

Dan diantara manusia itu sendiri ada yang memiliki kelebihan satu dari yang lainnya. Entah itu kelebihan ilmu, harta, istri, anak-anak, penampilan dan skill atau kemampuan serta lain-lainnya. Demikian pula hal itu tidak sepatutnya menjadikan ia bersikap angkuh dihadapan yang lain. Karena sesungguhnya semua itu datang dari Pemilik semua kebesaran itu, yaitu Allah.

Sepatutnya manusia yang diberikan kelebihan oleh Allah lebih menundukkan diri penuh tawaadhu’, seraya takut dan khawatir anugerah yang diberikannya itu tidak dapat menjadi alat penambah pahala dan kebajikannya di hadapan umat manusia dan Tuhan-nya.

Bagaimana tidak, semua kelebihan-kelebihan itu memiliki batas waktu dan pertanggung jawaban atas hak guna dan manfaat selama ia merasakannya. Seorang yg memiliki ilmu akan ditanyakan apakah ia amalkan dan ia ajarkan ilmunya tersebut, seorang yg memiliki kekuatan akan dipertanyakan penggunaannya. Terlebih lagi kelebihan-kelebihan berupa perhiasan dunia secara tegas Allah menamakan hal itu dengan sebutan “mataa'”.

Apakah mataa’ itu yg secara harfiah diartikan dengan perhiasan. Ia adalah “maa yatamatta’u bihil insaanu tsumma yazaalu qaliilan qaliilan”, artinya: ia adalah sesuatu yang dapat membuat manusia bersenang dengannya namung kemudian (kesenangannya) itu menghilang sedikit demi sedikit”. Maka semakin menjadi hujjah untuk tidak dimabuk kesombongan karenanya.

Kesombongan adalah selendang Allah, ia hanya pantas disematkan kepada Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta ini. Tak layak manusia mengambil selendang-Nya. Kesombongan dapat menjadi penghangus semua amal ibadah kita bahkan surga pun telah diharamkan dari kesombongan meski dengan sebewar biji sawi, na’uudzu billahi min dzaalik.

Marilah para ‘ibaadurrahmaan yang memiliki segala kelebihan itu untuk mengatakan melalui lisan dan gumaman hatinya dengan “haadzaa min amri rabbii”. Yaa… “ini adalah suatu urusan yang datangnya dari Allah”, bukan semata-mata daya upaya kita sebagai manusia.

Akhir kata marilah kita mengingat perkataan seorang ulama kepada al hajjaaj yang salah seorang umaraa’ kaum muslimin dulu yg terkenal keras dan sombong serta menindas. Al hajjaj menyuruh ulama tersebut menyebut siapa dirinya (al hajjaaj). Lalu ulama tersebut mengatakan “kau adalah makhluk Allah yang berasal dari lumpur hitam dan perutmu berisi kotoran yang menjijikkan”

Wallahu a’lam bish shawaab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s