Temu Sains, Kebijakan dan Pasar

Peran Riset Sosial Ekonomi dalam Mendorong Peningkatan Produksi dan Pemasaran Catfish di Indonesia

Itulah tema dari acara seminar Temu Sains, Kebijakan dan Pasar, yang di adakan pada tanggal 23 Juni 2011 di Ballroom  Kementrian Kelautan dan Perikanan, Gedung Mina Bahari Lt. 1, Jl. Medan Merdeka Timur.16, Jakarta. Acara tersebut adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBRSEKP).

Acara seminar tersebut mempertemukan antara para pemerhati hal-hal yang terkait dengan sains bagi produksi catfish (patin dan lele) di Indonesia, pemangku kebijakan (pemerintah) dan para pelaku pasar/bisnis. Dalam hal ini saya hadir sebagai pelaku pasar (petani pembenih ikan patin).

Tujuan Temu Sains Kebijakan dan Pasar adalah :

“Melakukan penyerasian bersama serta membentuk rekomendasi ilmiah dan kebijakan terkait daya saing pasar ikan dan produk perikanan catfish (patin dan lele) sebagai pendukung keberhasilan visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)”

Keluaran:

Keluaran dari kegiatan Temu Sains, Kebijakan dan Pasar adalah rekomendasi ilmiah dan kebijakan terkait daya saing pasar ikan dan produk perikanan catfish (patin dan lele).

Beberapa topik yang diangkat adalah:

  1. Peluang pasar catfish dalam negeri, oleh Direktur Pemasaran Dalam Negeri, P2HP-KKP.
  2. Perkembangan impor fillet patin di Indonesia serta analisa kebutuhan dalam negeri, oleh Direktur Pemasaran Luar Negeri, P2HP-KKP.
  3. Peluang pasar retail dan pasar ikan patin serta catfish lainnya di Indonesia, oleh Sekjen Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO).
  4. Peluang usaha dan pasar catfish (patin dan lele) bagi pengusaha, oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I).
  5. Kebijakan dalam pengurangan biaya produksi dalam usaha budidaya produksi catfish di Indonesia, oleh Direktur Produksi DJPB-KKP.
  6. Daya saing produk perikanan catfish, oleh peneliti senior BBRSEKP Dr. Sonny K.

Teknologi yang Sederhana

Pada dasarnya produksi catfish membutuhkan teknologi yang sangat sederhana. Namun memang telah ditemukan bibit unggul bagi 2 produk catfish (patin dan lele), yaitu patin pasupati dan lele sangkuriang yang diharapkan bisa menjadi pilihan bagi para petani untuk meningkatkan produksi mereka. Teknologi lebih diarahkan kepada riset sosial dalam rangka membangun mainset yang semakin baik di masyarakan untuk mengkonsumsi catfish.

Kebijakan

Vietnam adalah negara pengekspor ikan patin terbesar di dunia, tercata 96% pasar ekspor dunia dikuasai oleh vietnam, bahkan Indonesia sendiri mengimpor lebih dari 900 ton ikan patin dari negara tersebut, ironisnya Vietnam mendapatkan benih ikan patin dari Sumatera 12-15 tahun yang lalu. Untuk mendorong petani memenuhi target produksi yang tahun lalu hanya tercapai sebesar 64% dari proyeksi, pemerintah tidak mungkin serta merta melarang impor patin dari Vietnam yang akan menimbulkan pertanyaan mampukah petani lokal mengisi pasar yang kosong yang ditinggalkan oleh Vietnam.

Diantara hal-hal yang dilakukan pemerintah adalah menghilangkan PPN bagi pakan ikan patin, penggodokan untuk penghilangan atau pengurangan PPH bagi produksi pakan ikan patin, mengkampanyekan GEMAR IKAN kepada masyarakat sebagaimana diketahui harga protein yang dapat diperoleh dari membeli daging ikan patin ternyata jauh lebih murah dari daging sapi, bahkan dari tempe dan tahu sekalipun. Dan beberapa hari lagi akan diadakan Catfish Day di Jambi.

Realitas Pasar

Ternyata bagi kalangan petani, realitas pasar tidaklah seperti yang digembar-gemborkan pemerintah. Ada di beberapa tempat yang sampai-sampai ikan patin itu harus merayakan ulang tahun karena sulit terjual, karena pasar begitu sepi begitu banyak petani pembesar yang gulung tikar, dan menurut catatan dari seorang petani pembenih senior ada sekitar 90% petani pembenih yang menutup usahanya dari tahun 2009-2010, dan pada tahun 2011 baru sekitar 20% yang bangkit kembali. Lalu pertanyaannya mengapa harus ada impor 900 ton ikan patin dari Vietnam?

Ternyata pasar lokal dan pasar impor yang digarap oleh Vietnam berada pada segment yang berbeda. Pasar impor menggarap pasar ekonomi menengah ke atas seperti perhotelan dan restoran, sedangkan pasar lokal hanya menggarap pasar ekonomi menengah ke bawah. Hal ini di antaranya menurut Bapak Thomas (Ketua AP51) karena daging patin Indonesia memiliki guratan merah darah pada tengahnya yang akan menghitam ketika digoreng, sedangkan itu tidak terjadi pada daging patin yang dimiliki Vietnam.

Nah berdasarkan fakta pasar inilah, para pelaku pasar lokal mengharapkan pemerintah dengan sarana penelitiannya bisa membuka jalan bagi para petani lokal untuk menggarap pasar ekonomi menengah ke atas, sambil pula mengedukasi pasar ekonomi menengah ke bawah. Bahkan menurut seorang petani lagi, kami mampu mebuat HPP menjadi 5.400/kg, lebih murah dibandingkan HPP Vietnam yang 6.00/kg bila memang pasar terbuka lebar.

Kemudian petani pun mengharapkan pemerintah bisa menekan harga pakan ikan sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan yang signifikan untuk mensejahterakan hidupnya. Tentunya tidak akan ada masyarakan yang ingin menggarap segmen bisnis tersebut bila kesejahteraan mereka tidak terjamin dari bisnis tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s