Salah Kaprah Mengenai Bagi Hasil

Bagi hasil adalah salah satu kosep terapan ekonomi syari’ah yang diberlakukan sebagai konsekuensi atasi pinjaman modal yang diberikan pemodal kepada pengelola modal tersebut. Bila pada konsep ekonomi konvensional seorang pemberi pinjaman modal menerima bunga yang sudah ditentukan dimuka yang besaran porsentasenya dikenakan atas modal yang diberikan, tidak memperdulikan usaha yang dijalankan itu untung atau rugi, si peminjam harus mampu mengembalikan pinjaman modal tersebut berdasarkan waktunya dan juga bunganya. Sedangkan dalam konsep syari’ah si pemberi modal akan mendapatkan nisbah bagi hasil yang besaran porsentasenya ditetapkan atas hasil dari usaha tersebut. Bila usaha tersebut merugi tentu pemberi modal pun akan menanggung beban kerugian sebesar porsentase nisbah yang dimilikinya pula.

Ilustrasi:

Ekonomi konvensional:

Pinjaman modal Rp 10.000.000,- selama setahun dengan bunga 10% (Rp 1.000.000,-). Setelah setahun usaha itu untung ataupun rugi, berkembang ataupun bangkrut, maka si peminjam harus mengembalikan pinjamannya sebesar Rp 11.000.000,-

Ekonomi syari’ah:

Pinjaman modal Rp 10.000.000,- selama setahun dengan nisbah bagi hasil: Pemodal : Pengelola = 30 : 70. Bila setelah setahun usaha tersebut mendapatkan keuntungan sebesar Rp 5.000.000,- maka pengelola mengembalikan pinjaman sebesar Rp 11.500.000,- (pinjaman pokok Rp 10.000.000,- ditambah bagi hasil 30% dari Rp 5.000.000,-). Namun bila sebaliknya usaha itu merugi sebesar Rp 5.000.000,- maka pengelola hanya wajib memberikan pinjaman sebesar Rp 8.500.000,- (pinjaman pokok rp 10.000.000,- dikurangi nisbah kerugian sebesar 30% dari Rp 5.000.000,-).

Tentu hal diatas hanya berbicara hitung-hitungan di atas kertasi. Tentu dalam proses agreement kerjasama usaha harus disertai kepercayaan, kejujuran dan kepastian kehalalan jenis usaha tersebut.

Jadi adalah salah kaprah bila ada suatu bank yang meskipun berlabel bank syari’ah ketika mengimingi pinjaman modal kepada nasabah dengan bagi hasil, namu bank tersebut sudah menetapkan besarnya bagi hasil dimuka dalam bentuk besaran rupiah. Ya tentu salah, usaha belum berjalan sehingga belum diketahui usaha tersebut merugi atau tidak kok bank tersebut sudah bisa menetapkan bagi hasil yang harus dikembalikan. Praktek ini tidak ada bedanya dengan konsep bunga dalam sistem ekonomi konvensional, hanya penamaannya saja yang berbeda.

Bisnis bukanlah utang-piutang an sich. Utang piutang murni dalam Islam justru tidak boleh ada tambahan dalam pengembalian, baik tambahan waktu maupun tambahan pokok hutang (bunga, red:). Kalaupun ada tambahan waktu maka harus ada keridhaan dari kedua belah pihak, kalaupun ada tambahan uang maka bersipat hadiah ketika pengembalian dan tidak boleh disepakati dalam bentuk lisan/tulisan maupun isyarat bahasa lainnya pada awal perjanjian utang piutang tersebut.

Sedangkan bisnis adalah proses usaha yang memiliki dua kemungkinan, ada kalanya untung atau ada kemungkinan rugi. Tak ada satu bisnispun yang tak memiliki resiko. Karena itu konsep ekonomi Islam menerapkan bagi hasil sedemikian dengan prinsip keadilan dan agar tidak ada yang terzhalimi baik usaha tersebut memperoleh keuntungan maupun merugi.

Bila ada pendapat yang mengatakan daripada berbisnis mengambil resiko lebih baik saya bersedekah. Ya bersedekah memang berpahala, namun berbisnis juga memiliki pahala sendiri. Karna Allah memerintahkan dalam firmannya:

فانتشروا في الأرض و ابتغوا من فضل الله

“Maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah” (al Jumu’ah : 10)

Dengan berbisnis kita bisa menafkahi keluarga dan dengan berbisnis pula kita bisa memperbanyak bersedekah. Rasulullah dan mayoritas para sahabat adalah pebisnis. Soal mana bisnis yang paling menguntungkan (bukan nol resiko) dan cara bisnis yang menguntungkan tentu perlu ada bab pembahasan tersendiri. Tapi yang jelas dasar dari bisnis adalah proses usaha yang memiliki kemungkinan untung atau pun rugi.

Wallahu a’lam

3 responses to “Salah Kaprah Mengenai Bagi Hasil

  1. Saya setuju dengan penjelasan anda dan memang itu benar sekali. Dalam konsep Islam bahwa Pinjaman bagi hasil adalah perjanjian keuntungan berdasarkan ratio bukan ramalan/penentuan nominal sebelum terjadi. Dan Islam juga mengajarkan pemberian tangguh bagi yang dipinjamkan dana. Bahkan di hitung2 keuntungan bagi si pemberi pinjaman akan lebih besar dan bagi si peminjam tidak ada tekanan sedikitpun.

    Contoh :

    Riba : Seseorang sudah di tetapkan nominal pembayaran dan bulan depan sudah harus di bayar cicilan modal dan nominal persen/uang. Orang yang meminjam belum ada untung sudah harus membayar.
    Cth : si peminjam meminjam uang sebesar 10 juta dan nominal di tentukan setiap bulan harus membayar 1juta untuk pinjaman selama 1 tahun, jadi total yang musti di bayar kepada si pemberi pinjaman sebesar 12 juta.Jika 3 bulan kemudian tersebut modal harus dipakai, maka modal tersebut sudah tersedot sebesar 3 juta, sehingga sisa 7 juta. Alhasil, jika 3 bulan kemudian di butuhkan modal sebesar 10juta, maka modal sudah tidak cukup sehingga usaha menjadi tidak berjalan lancar dan keuntungan tentu tidak ada/rugi, sehingga terjadi 2 hal buruk. Kerugian bagi si peminjam/tekanan yang harus di bayar/bangkrut dan kerugian bagi yang meminjamkan/kredit macet. Jika si peminjam berhati busuk tentu dia akan menggunakan segala cara untuk membayar, seumpama melakukan suap supaya menang tender. Karena itulah Riba di haramkan, karena membawa malapetaka dan keburukan.

    Bagi hasil : Bagi pemberi pinjaman dan peminjam sudah di tentukan akad keuntungan ratio pembagian netto, misal 30:70 / 40:60 / 50:50 dan pemberian tangguh sekian waktu berdasarkan perjanjian. Dengan system seperti itu maka tidak ada tekanan terhadap si peminjam dan pengurangan modal dari si peminjam. Jika si peminjam meminjam modal 10 juta dan si pemberi pinjaman memberi tangguh 6 bulan, Jika terjadi 3 bulan kemudian ternyata di butuhkan uang modal sebesar 11juta yang di perlukan dan kebetulan saat bulan 1 dan 2 dia mendapatkan keuntungan 1 juta maka dia tidak memerlukan tambahan pinjaman, karena modal cukup, Bagi si peminjam akan mendapatkan keuntungan yang berlipat dan terus meningkat. Dari sekiranya 6 bulan kemudian di si peminjam membayar ratio perjanjian yaitu sebesar 30% dari netto kepada si pemberi pinjaman dan mendapatkan keuntungan yang tinggi, seumpama mendapat keuntungan bersih 10 juta, tentu si pemberi pinjaman mendapat uang sebesar 3 juta yang nominal keuntungan melebihi dari Riba. dan itu dapat berlanjut terus selama si peminjam belum melunasi modal walau sebesar 1 rupiah pun. Coba bayangkan, lebih besar mana keuntungan? Apa bagi hasil atau Riba? Bagi si peminjam dapat benar2 menggunakan skillnya tanpa harus menggunakan cara2 haram karena tidak ada tekanan sehingga mendapatkan keuntungan yang baik dan halal lalu si pemberi pinjaman mendapatkan keuntungan yang halal dan juga jumlahnya sangat besar.

    Tapi anehnya dengan system yang keren begitu kenapa umat muslim senang dengan system Riba? Apa karena mereka tidak mengerti hebatnya system bagi hasil? Makanya untuk itulah pertama yang harus di lakukan agar tidak terjadi hal-hal di luar dugaan. Si peminjam yang ingin meminjamkan secara bagi hasil harus melihat beberapa kategori dari si peminjam, (1) dia haruslah Islam (kemungkinan kecil orang Islam mau merusak agamanya sendiri), (2) tauhid kepada Allah,bukanlah seorang yang musyik maupun syirik (Jaminan ketakutan yang tinggi kepada Allah). (3) Pantang menyerah dan selalu ingin bersedekah kepada orang lain. Nah type2 seperti ini sudah masuk kedalam katergori yang dapat di percaya.

    Disinilah anehnya kenapa System Riba bisa berjalan, sedangkan setelah di selidiki terjadi dan selalu kredit macet. Ternyata ada donatur2 di dalam ini agar system Riba trus berjalan. Siapakah donatur tersebut? Anda bisa tebak sendiri.

    Nah di sini lah kita tau bahwa konsep Islam itu sebenarnya sangat hebat dan brilliant/junius, kenapa, kok bisa begitu? Karena konsep itu yang membuat adalah Allah Tuhan semesta Alam. Bersihkan hati, lalu kita sesama orang Islam harus saling membantu untuk kemajuan umat Islam itu sendiri. Semoga yang membaca dapat terbuka akal sehatnya🙂

  2. bagi hasil ya di bagi hasilnya baik untung maupun rugi dengan catatan, usahanya dikelola dulu dengan benar sesuai syar’i

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s