Azh Zhulmu Hua Hua, wal Jamaa’ah Hiya Hiya

Dalam perjalanan sebuah organisasi pasti akan ditemukan baik konflik antar personal maupun inter personal. Begitu pula bagi organisasi Islam atau yang lebih mengkristal lagi dalam bentuk pergerakan dakwah atau harakah. Nah yang unik bagi organisasi ini dalam mengelola konflik antar maupun inter personalnya adalah terikat dengan prinsip-prinsip umum yang berlaku bagi seluruh kaum muslmin semuanya. Tidak hanya sekedar yang penting menguasai market share dalam industri otomotif, yang penting mendulang suara banyak dalam strategi kampanye partai politik, yang penting dapat rating tertinggi dalam industri perfilman dan hiburan.

Namun bagi harakah dakwah, target orientasi manajemen antar personalnya adalah pembentukan kepemimpinan umat yang satu dan kokoh, yang mengayomi seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia. Inilah yang disebut Jamaa’atul Muslimin, dan seluruh norma-norma dan hukun-hukum yang seringkali dikristalkan oleh teori “sam’an wa tha’an” dalam al Qur’an dan Hadits adalah dalam bingkai keberjama’ahan tersebut yaitu jamaa’atul muslimin. Inilah nisbat kita, inilah tanzhim kita yang hakiki. Al Jamaa’ah hiya hiya; jama’ah itu ya itu-itu saja yaitu jamaa’atul muslimiin.

Semua konsekuensi hukum yang muncul dari ulah individu yang dibicarakan oleh dua sumber di atas (al Qur’an dan Hadits – red) juga dalam bingkai keberjama’ahan tersebut. Diskredit takfir dan bughat atau lainnya yang diperbolehkan hanyalah dikarenakan rencana penghancuran jama’ah tersebut yaitu jamaa’atul muslimiin. Al Jamaa’ah hiya hiya; jama’ah itu ya itu-itu saja yaitu jamaa’atul muslimiin.

Kemudian bagi harakah dakwah, target orientasi manajemen inter personalnya adalah menjadikan seorang muslim yang lulus masuk ke dalam surga Allah di akhirat nanti. Dan ini yang lebih rumit, karena mengelola suatu sumber yang tak terlihat, yaitu hati. Bahkan seringkali alih-alih memperbaiki manajemen antar personal ternyata malah menunjukkan aib inter personal yang semakin parah. Bukankah kita tau bahwa surga itu tidak akan dimasuki oleh orang yang memiliki kesombongan walau seberat biji sawi, bukankah kita tau ada surga yang dimasuki oleh seorang pelacur karna keikhlasannya memberi minum seekor anjing. Kita tak pernah tau garis hidup apa yang menyebabkan seseorang masuk kedalam surga atau neraka. Yang kita tau adalah kita diperintahkan untuk membersihkan hati kita (tazkiatun nafs) dari semua jelaga hati baik yang kecil ataupun besar. Semua penyakit hati bersumber dari jelaga itu, hasad, dengki, ghibah, namimah, kufur, malas, benci, riya, dsb. Azh zhulmu hua hua; kezhaliman itu adalah itu-itu juga. Kezhaliman hati yang merupakan ekses interaksi aammah ataupun kezhaliman hati yang merupakan ekses interaksi da’awiyyah sama-sama merupakan kezhaliman hati, sama-sama penyakit hati. Bencinya seorang pebisnis dengan bencinya seorang aktivis, sama-sama kebencian yang pelakunya berdosa. Ghibahnya ibu-ibu di perkampungan dengan ghibahnya aktivis, sama-sama merupakan ghibah yang pelakunya berdosa. Penyakit hati adalah penyakit hati yang tidak pernah didikotomi oleh posisi.

Kaum muslimin saat ini tidak memiliki jamaa’atul muslimin, yang ada adalah jamaa’aat min jamaa’atil muslimiin. Maka berhati-hatilah mengelola dan memandang konflik berjama’ah kekinian, karena kita berada pada tataran obyek hukum yang berbeda menurut nash, sedangkan di dalam jiwa kita terdapat obyek hukum yang sama menurut nash, baik ada jamaa’atul muslimiin maupun tidak, yaitu hati. Belajarlah dari ketenangan Umar ra. terhadap saudaranya Sa’ad bin Ubadah ra. yang tidak menyukai kepemimpinannya, belajarlah dari kelapang dada-an Sa’ad bin Ubadah ra. terhadap Umar ra. dengan menjaga ketenanngan manajemen kekhilafahan dari konflik antar personal sehingga beliau pergi ke Syiria meninggalkan Umar ra. Dalam sebuah kitab disebutkan kepergiannya itu justru karna rasa kasih sayang beliau kepada Umar ra.

Atau mungkin kita perlu mempelajari manajemen hati yang dibangun oleh Ali ra dan Mu’awiyah yang sama-sama menjaga wibawa dan kehormatan saudara yang sedang berseteru dengannya. Keduanya justru memarahi orang-orang yang menjelek-jelekkan seterunya dalam politik.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s