Mengenang Touring Ujung Genteng (2)

Setiba di lokasi pertama pantai Ujung Genteng atau yang disebut pantai nelayan seolah kita dipertemukan dengan lokasi wisata yang aneh. Tempat yang tidak beraturan dan sedikit kotor, lokasi yang seakan sempit dan banyak perahu nelayan, seolah tak layak daerah ini disebut sebagai pantai yang layak dikunjungi meski jauh. Bahkan ketika tiba pertama kali saya sempat bingung harus kemana setelah bertemu dengan jalan buntu yang tidak mungkin lagi dilalui oleh motor, namun setelah beramah-tamah dengan salah satu penjual ikan barulah saya mengetahui arah yang harus dituju. Sebelumnya, ketika saya mengakhiri jalan ujung genteng saya berbelok kekiri karna jalan ke kiri masih beraspal akan tetapi malah menemukan jalan buntu, ternyata kita harus berbelok ke kanan memasuki jalan berpasir putih pantai untuk menuju pantai cibuaya, pantai penangkaran penyu dan pantai ombak tujuh.

jalan buntu

nah… ketika berbelok ke kanan dari jalan ujung genteng memasuki jalan berpasir, disini mulai terlihat kekhasan pantai ujung genteng, pantai berkarang dengan kedalaman air hanya setengah meter sepanjang kurang lebih 500 meter dari bibir pantai hingga ketengah sangat menggoda pengunjung untuk melepaskan sepatu dan menginjakkan kakinya di pantai ini mencari binatang-binatang laut. Karena terlalu letih saya hanya beristirahat saja di atas pasir sambil memandangin alam yang menenangkan ini, namun ketika saya melihat bulu babi yang diambil oleh salah seorang pengunjung, membuat saya tertarik untuk menghampiri.

bulu babi

Karena benar-benar awam dengan tempat wisata ujung genteng, saya memutuskan untuk menyewa tukan ojek agar mengantar saya ke pantai cibuaya dan penangkaran penyu. Tetapi ternyata jalur dari pantai nelayan ke pantai cibuaya tidaklah rumit, hanya memilik satu belokan saja ke arah kiri namun terkadang motor perlu turun ke pantai untuk mendapat jalur yang lebih mudah. Andai tau seperti ini tentu saya ga akan menyewa tukang ojek.

Siti harus turun ke laut

Pantai cibuaya pantai dengan ombak laut selatannya yang khas, tepi pantainya cenderung tidak berpasir tapi dipenuhi dengan sampah-sampah rumah kerang dan pecahan-pecahan karang kecil, airnya begitu jernih dan menggoda untuk dinikmati seperti halnya pantai nelayan, karna terdapat karang yang datar pula yang bisa dimanfaatkan untuk snorkling. Akan tetapi bedanya bila dipantai nelayan ombaknya hanya sampai di tengah dan tidak ke tepi, namun di pantai cibuaya ini ombaknya cukup besar mencapai tepian. Di titik tertentu dari pantai cibuaya ini dipakai untuk berenang oleh pengunjung. Bila anda ingin menginap, di pantai cibuaya ini terdapat beberapa penginapan yang langsung menghadap ke pantai.


Dari pantai Cibuaya menuju pantai penangkaran penyu, menyusuri jalan berpasir kembali dan becek dibeberapa titik. Setiba saya disana hari masih siang, pantai ini sangat sepi sekali. Hamparan pasir putih yang luas, ombak yang menderu dan besar yang sudah terdengar dari kejauhan sehingga pantai ini tidak digunakan untuk berenang kecuali oleh orang-orang yang profesional. Tujuan saya ke pantai ini adalah ingin ikut melepas tukik-tukik penyu ke samudera dan melihat penyu dewasa naik ke pantai untuk bertelur.

Karena hari masih siang sedangkan pelepasan tukik-tukik penyu baru dilakukan sore hari sekitar jam 5, maka saya mencoba menikmati ketenangan alam disana dengan irama deru ombak. Ketika tiba saatnya pelepasan tukik-tukik penyu ternyata banyak pengunjung yang berdatangan ke pantai ini untuk ikut melepas tukik penyu pula, bahkan terdapat beberapa turis asing.

Setelah melepas tukik penyu dan memasuki waktu maghrib sebenarnya saya ingin menunggu sunset, namun karna udara sedikit mendung maka sunset urung tampak, akhirnya kami disuruh menjauh dari pantai, karna pada malam hari penyu-penyu dewasa akan naik ke pantai untuk bertelur. Bila penyu baru naik tapi mendengar suara berisik atau melihat cahaya di pantai maka penyu tersebut akan kembali ke laut. Barulah setelah penyu tersebut membuat lubang yang waktunya kurang lebih satu setengah jam, kita diperbolehkan mendekat, karna ia tak akan lari.

penyu hijau yang sedang bertelur

Sayangnya saya tidak sanggup melanjutkan perjalanan menuju pantai ombak tujuh, pantai yang dikenal dengan ombaknya yang berlapis-lapis, dikarenakan waktu yang terbatas, dan dari informasi yang saya terima oleh petugas setempat bahwa pantai ombak tujuh sangat jauh jaraknya,  kurang lebih 2-4 jam perjalanan tergantung kondisi, ditambah lagi medannya yang berbatu dan licin, sungguh beresiko bila saya pergi sendirian kesana. Dan ketika bertanya ke tukang ojek pun dia mau mengantar bila bayarannya dua ratus ribu rupiah. Wah sudah kebayang benar deh penderitaannya di jalan berarti. Jadi cukup sampai disini saja.

Dan begitulah kenangan wisata dan touring ke Ujung Genteng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s