Ketika Fitnah Itu Datang

Dakwah adalah aktivitas mainstream orang-orang beriman. Selama di dunia ini ada satu saja orang yang beriman maka dakwah akan tetap berjalan. Kenyataannya dari pertama sejarah manusia dimulai hingga saat saya tulis tulisan ini, sejarah itu tak pernah kosong dari orang yang beriman. Artinya dakwah adalah suatu proyek yang ternyata sudah ada sejak dahulu, manakala nabiyullah Adam as diciptakan. Selama perjalanan itu kita baca, kita akan menemukan ibrah-ibrah yang banyak, dari yang mudah ditangkap dan dipahami sampai yang perlu dianalisa mendetil baik dari sisi historis, sosiologis maupun psikologis. Subhanallah betapa besar dan panjang terpampangnya sketsa-sketsa dakwah. Sisi manakah dari dakwah yang hendak kita pahami, semua ada disitu, politikkah, ekonomikah, sosialkah maupun dakwah fardiyyah yang terkecil hingga dimensi peradabannya.

Mungkin memang sejarah jama’ah dakwah baru terasa kekentalannya dalam sejarah nabiyullah Nuh as (maaf kalau saya salah, silahkan saja kalau ada yang mengkoreksi). Tapi tetap saja kan hal itu tidak mengurangi bahwa contoh-contoh kehidupan jama’ah dakwah sangatlah melimpah. Dan ternyata dinamika dan problematika dakwah dalam tiap-tiap periode generasi manusia selalu terulang atau memiliki kesamaan. Hal ini tentunya akan membantu melapangkan dada para du’at seluas-luasnya ketika menemukan benturan dan cobaan dalam dakwah. Sebagaimana hikmah dari do’anya nabiyullah Musa as ketika hendak berdakwah kepada Fir’aun :
رب اشرح لي صدري و يسر لي أمري و احلل أقدة من لساني يفقهوا قولي
“Ya Allah! Lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku dan bukakanlah ikatan dari lisanku agar mereka memahami betul perkataanku”

Kita ambil satu contoh, ketika fitnah perpecahan melanda suatu jama’ah dakwah. Apakah belum pernah terjadi di masa-masa sebelumnya?

Lihatlah perselisihan antara khalifah Utsman bin Affan ra dengan sekelompok orang yang akhirnya membunuhnya. Dilanjutkan lagi kisah perselisihan antara khalifah Ali ra baik dengan Mu’awiyah ra ataupun dengan kaum khawarij. Atau yang paling dekat kisah perpecahan antara para mujahidin di Afghanistan setelah sebelumnya mereka bersatu begitu erat yang dengan demikian mereka menggetarkan dan menjungkalkan musuh Allah ta’ala Uni Soviet sang komunis. Lalu mengapa harus ada da’i yang sulit bersikap atau kekanak-kanakan ketika fitnah perpecahan mulai merayapi jama’ah dakwah, atau kenapa ada da’i yang justru memancing di air keruh.

Pada umumnya fitnah perpecahan ini terjadi ketika jama’ah dakwah memasuki ranah politik dan pintu-pintu dunia dan kekayaan dibuka oleh Allah dengan lebar untuk mereka. Fitnah itu bisa terjadi karna kesalahan orang-orang yang memegang amanah basah atau bisa juga ditimbulkan oleh barisan sakit hati yang dengki karna tidak terbagi jatah amanah basah itu. Atau fitnah perpecahan itu bisa terjadi ketika ada oknum da’i yang tidak menghargai hasil syura’ (musyawarah) kemudian mereka ber-‘najwa’ ria atau ber-‘tanaji’ ria (bagi yang belum mengerti apa itu najwa dan tanaji’ silahkan membaca surat al Mujadilah 7-10), padahal Allah ta’ala berfirman :
إنما النجوى من الشيطن ليحزن الذين آمنوا
“Sesungguhnya najwa itu hanyalah datang dari syaitan supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” (al Mujadilah : 10)

Lantas, sudahkah kita memahami bahwa mekanisme atau pergerakan meliar yang keluar dari syura’ adalah suatu kebatilan, apalagi ketika pergerakan itu membangun dukungan dan mencoba menyebar pengaruh yang luas.

Mengenai amanah basah, sudahkah kita memahami betapa besarnya hukuman dari Allah bagi orang yang berkhianat dalam menjalankan amanahnya? Apakah mereka sudah tidak takut terhadap Allah? Layakkah seorang da’i tidak takut terhadap Allah? Ingatlah sabda Nabi SAW :
… إنها أمانة و إنها يوم القيامة خزي و ندامة … إلا من أخذها بحقها و أدى الذي عليه فيها.
“… ia merupakan amanah, dan di hari kiamat menyebabkan kehinaan dan penyesalan …, kecuali orang yang mengambilnya secara haq dan menunaikan kewajiban yang dipikulkan kepadanya.”

Mengenai kedengkian karna tidak mendapat jatah amanah basah, bisakah kita bersikap seperti Abu Dzar al Ghifari ra. sang tokoh gerakan hidup sederhana yang begitu lapang dada tidak menerima jabatan apapun dari Rasulullah dalam pemerintahan, Rasulullah SAW mengatakan kepada beliau bahwa ia lemah.

Dan bagi para da’i yang masih bingung mengetahui siapa yang benar manakala fitnah perpecahan itu mulai merayap. Hendaklah ia berdiam diri dan jangan memperkeruh air yang sedang keruh. Biarkanlah ia tenang hingga jernih kembali, maka akan terlihat siapakah yang bersalah.

Wahai para da’i yang berpecah, janganlah kalian berdalih “tawashau bil haq”, kritik membangun atau istilah manis apalah yang kalian gunakan untuk membenarkan keberpecahan kalian dari jama’ah. Karna sesungguhnya dalih-dalih itu tepat kalian gunakan bila kalian masih dalam satu bangunan yang kokoh bersama jama’ah, sesungguhnya ukhuwwah itu adalah nikmat dan kekuatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s