Sebuah Kumpulan

Permadani di atas bumi, saat kau hendak dicuri, kau biarkan aku merebah dalam kehalusan bulu-bulumu. Menikmati meski tak memiliki, memiliki belum tentu menikmati, tetap saja ku menanti.

Kata-kata apa yang bisa menerjemahkan perasaan ini, usaha apa tuk mengurai benang kusut di hati, mereka tak pernah mengerti, atau hanya senyum yang mereka mengerti. Bilamana mata tak bisa menangis lagi, maka tangisan hati lebih lagi tidak dimengerti. Biarkan ku sendiri, menikmati tapak-tapak yg kuanggap pasti.

Cinta dan api adalah sinonim, kehangatan, membakar dan terbakar. Saat anak panah itu telah menembus jantung, mengapa harus dicabut dengan tangan untuk ditancapkan lagi. Uniknya; di tengah perih dan darah yang membuncah, seyum ini harus mengembang. Sebuah fenomena yang memilukan bagi anak cucu Adam dan Hawa (as)

Diharu biru oleh kegalauan, dibayang-bayangi oleh harapan, sebuah konsekuensi atas kesalahan. Laksana tak ada tempat kembali, hutan rimba ini harus dilalui, samudera ini harus diseberangi, sambil bertawakkal dan berdoa kepada-Nya. menata kembali hati, menyusun kembali pemikiran, tuk melawan satu amarah besar yg seolah tiada penawar. tiada kata lain selain SABAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s