Revitalisasi dan Rivalisasi Ideologi

Panduan yang sempurna

Akhir-akhir ini sedang hangat pembicaraan mengenai tumbangnya rezim-rezim diktator (malikan jabariyyan) di dua negara. Ben Ali di Tunisia dan Hosni Mobarak di Mesir. Di sisi lain saya teringat seorang teman seperjuangan (semoga Allah mengakui saya sebagai orang-orang yang berjuang) yang terjebak oleh romantisme tempo dulu fase perjalanan dakwah. Seraya pula mengambil contoh dari aplikasi manhaj yang berada di Mesir dan Palestina beberapa tahun belakangan ini. Mungkin dia kurang mencermati bahwa sebagian aktivis dakwah yang menjadi major voice di sana pun belajar dari para aktivis dakwah yang ada di Indonesia pada sisi tertentu khususnya dalam kehidupan Politik. Seperti kemanangan Hamas di Palestina. Dan kini dua peristiwa di atas mengingatkan kita pada fenomena sosial politik dan kemasyarakatan yang terjadi di Indonesia ketika Soeharto lengser keprabon beberapa tahun yang lalu.

Lalu pertanyaannya apakah krisis politik yang kini terjadi di Mesir buah dari pembelajaran terhadap kiprah para aktivis dakwah yang ada di Indonesia? Yang berarti kedepannya akan mungkin akan menjadi hujjah untuk membantah orang-orang yang terjebak dengan romantisme tempo dulu fase perjalanan dakwah. Akan tetapi sudah sejak lama saya mendengar bahwa; bila para aktivis dakwah menginginkan berdirinya daulah islamiiyah di Mesir hanya diibaratkan tinggal tekan tombol saja. Apakah semua ini menunjukkan tombol yang sudah dipencet, atau sebuah proses yang harus dilalui seperti keadaan di Indonesia sebagai upaya untuk mengendarai hukum alam (sunnatullah) yang harus dikendarai, sehingga kemenangan tidak lahir prematur baik dalam menghadapi ancaman mikro maupun global.

Namun, apapun skenario yang sedang dijalankan satu hal yang perlu diwaspadai adalah masa transisi. Hasan al Banna asy Syahiid mengatakan dalam bukunya “majmu’atur rasaa’il” bahwa masa transisi adalah masa-masa kritis perpindahan kekuasaan. Mengapa demikian, karna pada masa transisi timbul fenomena revitalisasi dan rivalisasi idiologi seiring munculnya keterbukaan dari vacuum of power.

Berbagai macam bentuk idiologi muncul sebagai konsekuensi dari keterbukaan, bukan sekedar muncul tapi mereka pula mencari simpati dan dukungan dengan menguatkan jargon-jargon idiologi mereka, dan iniliah yang disebut revitalisasi. Nah dalam proses mengisi kekosongan kekuasaan tentu idiologi-idiologi ini akan berbenturan dan saling menjatuhkan, inilah yang disebut rivalisasi. Namun bagi persepsi aktivis dakwah, pertarungan itu hanya ada satu jenis yaitu al haq melawan al baathil, maka teramat disayangkan bila dalam masa transisi ini para aktivis dakwah saling bertengkar yang notabene satu idiolog hanya karna perbedaan manhaj.

Karna itu Allah ta’aalaa memandu kita dalam melewati masa transisi ini melalu QS al Anfaal : 12;

“… akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pancunglah leher mereka dan penggallah ujung-ujung jari mereka”

Ayat diatas turun berbicara mengenai peristiwa perang Badr. Kita ketahui bahwa perang badar adalah fase transisi eksistensi Dakwah / Islam untuk kemudian diakui sebagai kekuatan yang perlu diperhitungkan, karna itu perang Badr disebut juga yaumul Furqan (Hari Pembeda) dan semenjak setelah itu dakwah Islam semakin meluas dan berkuasa. Pade fase transisi itu Allah memerintahkan untuk mematikan segenap potensi kebathilan yang bisa merongrong pengembangan Islam dengan istilah “pancunglah leher mereka dan penggallah ujung jari mereka”. Leher dan jari yang putus benar-benar menandakan berakhirnya sebuah kekuasaan sama sekali dan menutup segala kemungkinan penjelmaan dan reinkarnasi kekuatan batil itu sendiri.

Dengan demikian bagi para aktivis dakwah yang sedang berada dalam pergolakan masa transisi, tentu memancung dan memenggal kekuatan-kekuatan kebathilan adalah kemutlakan agar kekuasaan yang mereka raih lebih langgeng dan tidak tersibukkan oleh konflik dalam negeri yang menyita waktu dan peran internasional, terlebih lagi tanah Palestina sudah sangat menunggu. Tentu hal ini harus sejalan dengan revitalisasi idiologi dakwah itu sendiri, dan ingat ini niscaya. bila tidak, sekumpulan aktivis dakwah hanya seperti kumpulan domba yang dimasuki oleh “musang berbulu domba” baik dlm konteks hati, pikiran atau niat si musang tersebut.

Lalu bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia ketika rezim Soeharto runtuh. hmmmm dengan adanya Gayus saja sudah menunjukkan bahwa kekuatan bathil di Indonesia belum terpenggal dan terpancung. Haruskah people power di Indonesia terulang untuk ketiga kalinya…???

2 responses to “Revitalisasi dan Rivalisasi Ideologi

  1. Kekuatan FreeMason Yahudi di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utama tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada orang yang bisa menangkap, mengadili, dan menghukum Gembong tersebut, selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

    • bersatu, tegakkan khilafah….. saya setuju sekali… sudah seharusnya setiap pergerakkan dakwah mengagendakan penegakkan khilafah….. kalau tidak tak lebih hanya gerakan kultural an sich….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s