(menjelang subuh:) Mari Sedikit Berbicara Cinta

Cinta itu adalah kehidupan atau tepatnya cinta itu adalah spirit yang membangun kehidupan itu. Dengan cinta kepada Allah kita mampu untuk senantiasa ta’at dan takut pada-Nya, begitu pula sebaliknya Ia menciptakan keindahan alam semesta ini dan memeliharanya hingga waktu yang Ia tentukan. Dengan cinta pula baginda Rasulullah SAW begitu mengharukan kita akan perjuangan beliau menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, hingga pada saat sekaratnya, umat ini pun tetap diingatnya. Dengan cinta pula kehidupan rumah tangga menjadi biduk yang nyaman, baik untuk menikmati ketenangan samudera atau membelah kedahsyatan gelombangnya.

Cinta kepada Allah tumbuh dengan serta merta seiring penghayatan yang semakin mendalam bahwa Ia Sang Pencipta (Khaliq) dan kita adalah lemah (makhluuq). Cinta kepada Rasul SAW adalah semburat dan ghirah (kecemburuan) iman setelah mendalamnya rasa cinta kita kepada Allah. Lalu cinta kepada wanita? Hmmmm saya tak tau pasti sebabnya, karna banyak orang yang mengatakan “saya tidak tau kenapa saya mencintainya”. Tanpa sadar semenjak saya merasa pernah mencintai wanita alam bawah sadar saya pun mengatakan demikian.

Namun tak layak rasanya kita membangun sesuatu yang seolah menjadi esensi warna kehidupan ini tanpa alasan dan sebab yang kuat. Lalu karna apakah gerangan, apakah karna kecantikannya yang dengannya hasrat seksual akan terpuaskan pada level produktivisme dan kebahagiaan hidup karna nota bene kepuasan seksual itu adalah kebutuhan manusiawi yang diciptakan oleh Allah.

(hmmmm sudah adzan subuh, terpaksa dilanjutkan setelah semua aktivitas indah menyambut subuh ini selesai)

mari… kita lanjutkan;

aaaah itu mah nafsu bukan cinta. Lalu apakah karna harta? Aaaah harta itu sangat mudah dicari dan kepuasan memiliki harta bukanlah pada sedikit-banyaknya tapi pada kelapangan hati menerimanya, begitupula kecukupannya pada keberkahannya (kembali lagi ke iman toh bila sudah berbicara keberkahan). Lalu apakah karna derajat dan kebangsawanannya (darah biru gitu), oh oh oh ooooh bodoh benar seorang yang mencinta karna hal itu, saya suka sekali dengan hujjah seorang ulama kepada Hajjaj bin Yusuf sang penguasa muslim yang zhalim ketika beliau membanggakan kedudukannya, seraya berkata: “Kamu adalah makhluk Allah yang diciptakan dari lumpur yang hitam, perutmu berisi kotoran yang menjijikkan”. Lalu apakah hanya karna keshalihannya? hmmmmm…. saya rasa begitu banyak wanita shalilah di sekitar kita, lalu kenapa kita memilih satu di antaranya, apa alasan kita memilih yang satu itu, apakah kita sudah merasa yakin benar bahwa yang kita pilih itu adalah yang paling baik imannya, hmmm saya lebih memilih untuk tidak na’if dengan alasan itu meski alasan itu sangat mulia sekali. Ingat kita sedang berbicara cinta dan penisbahannya pada fase sakral kehidupan manusia.

Saya rasa kita sudah tau rasa cinta itu apa dan bagaimana, bila kita mencoba berbicara kepada hati dan perasaan kita masing-masing. Nah itulah cinta dan ya itu pasti cinta, tapi masalahnya kita sering kali salah menterjemahkannya dalam bahasa. Jadi saya lebih memilih bahwa cinta itu adalah definisi hati dan perasaan bukan olah pikir. Olah pikir adalah keputusan untuk melanjutkan cinta itu atau tidak. Maka yang perlu kita perhatikan adalah cinta yang membawa keselamatan dunia-akhirat, cinta yang membawa keselamatan akhirat namun neraka di dunia, cinta yang membawa keselamatan dunia namun kesengsaraan akhirat, atau cinta yang membawa kesengsaraan dunia-akhirat.

Orang yang waras dan lurus hatinya tentu akan memilih cinta yang membawa keselamatan dunia-akhirat, itu pulalah yang saya inginkan. Ini bukan berarti keinginan untuk mendapatkan yang sempurna loh. Ini kita berbicara petunjuk yang diturunkan Allah dalam mengarahkan para hamba-Nya menggapai kebahagiaan dunia-akhirat. Ya…. kita berbicara tentang bagaimana Allah mengarahkan manusia memilih cintanya.

Maka ketika kita sudah merasa mencintai seseorang, selanjutnya pilihlah bentuk cinta kita. Disitulah salah satu letak kemerdekaan manusia untuk memilih, namun ingat…!! Setiap pilihan ada konsekuensinya, tentu saya lebih memilih konsekuensi yang paling besar dan kekal kebaikannya.

Terakhir sebagai penutup, sedikit panduan ringan:

Wanita yang shalihah adalah wanita yang baik imannya, tentu sudah banyak referensi barometer keimanan mereka, bahkan seringkali anda lebih tau dari saya. Kemudian marilah hayati hadits nabi berikut ini:

“ Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki : (1) Isteri Sholihah yang jika dipandang membuat mu semakin sayang, jika kamu pergi membuat mu merasa aman karena bisa menjaga kehormatan diri dan harta mu. (2) Kendaraan yang baik yang bisa mengantar kemana pun pergi. Dan (3) Rumah yang lapang, damai, penuh kasih sayang”. (HR. Abu dawud)

Wallahu a’lam wa hual muwaffiq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s