Fenomena Facebook

Facebook benar-benar fenomena dan fenomenal bagi kehidupan manusia. Setidaknya itulah yang saya lihat dan simpulkan setelah melihat dan membaca status teman-teman saya yang sudah saya kenal sebelumnya. Kalau saya menilai status-status mereka dengan persepsi seolah tak mengenal mereka, maka saya tau bahwa itu adalah karakter dan kepribadian yang baru ketika mengingat kembali bahwa mereka adalah orang yang saya kenal. Namun bila membaca status-status mereka dengan penuh kesadaran bahwa mereka adalah orang-orang yang saya kenal, maka dapat disimpulkan irisan karakter dan kepribadian yang mereka tampilkan di Facebook dengan yang sudah saya kenal sebelumnya sehingga seolah kita mengetahui apa sih sisi hati mereka yang selama ini disembunyikan, maka berhati-hatilah karna tanpa sadar kita telah membuka sesuatu yang sebenarnya sangat kita tutupi sejak lama.

Banyak warna di dunia Facebook. Ada orang-orang yang sangat menampilkan keshalihannya, ada yang menjadikannya sebagai sarana mencari jodoh, bisnis relasi, ada pula yang menyebar pornografi, kritik dam kekecewaan politik, dan yang menurut saya menggelikan adalah menjadikan Facebook sebagai cover untuk menutupi kelemahan dirinya padahal sejatinya dia rapuh sehingga pada akhirnya orang tersebut tidak mampu jujur terhadap dirinya maka ia akan sulit mengevaluasi diri dan memperbaikinya.

Namun ada pemandangan yang ironis di tengah fenomena dan kefenomenalan Facebook. Zuckerberg sang penemu dan arsitek Facebook sendiri mengatakan akan menutup Facebook pada tanggal 15 Maret 2011 (kita lihat saja kebenarannya), beliau mengatakan tidak perduli dengan uang karna ditutupnya Facebook, bahkan beliau mengakui sendiri bahwa dia telah membuat orang lain kehilangan kehidupannya, karena yang seharusnya orang itu dapat keluar rumah untuk berinteraksi dan mencari relasi tetapi malah menjadikan facebook teman sejatinya.

Bagaimana dengan anda

2 responses to “Fenomena Facebook

    • oh yaaa….., statemen apologi atas penyesalan hanyalah menunjukkan kepribadian yang kerdil, namun seharusnya ketika seseorang melangkah sudah membaca semua konsekuensi dan lika-liku perjalanan yang akan dilewati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s