Adakan Bank Syari’ah yang Sesuai Syari’ah

Ini adalah pengalaman dari sebuah bank yang berlabel syari’ah. Saya berniat mengajukan pinjaman ke sebuah bank syari’ah untuk pengembangan usaha saya. Tidak besar sih, masih di bawah 50 juta. Tapi saya kaget ketika saya disodorkan tabel angsuran yang sudah tetap ditambah besarnya bagi hasil yg diformulasikan dari persentase yang tetap atas pinjaman saya. Lalu dimana letak bagi hasil-nya dalam konsep syari’ah, atau dimana perbedaannya dengan bila saya mengajukan kredit itu ke bank konvensional yang sama-sama menyodorkan tabel angsuran yang  tetap dan pasti.

Konsep ekonomi syari’ah yang saya pelajari ketika masih kuliah tentang bagi hasil adalah, bila kita memberikan dana investasi maka disitu ada kemungkinan untung atau rugi. Kalaupun kita berbicara hanya untung maka tentunya keuntungan itu akan fluktuatif. Dan akan mempengaruhi besaran bagi hasil untuk si pemberi pinjaman.

Berbeda dengan konsep bunga, yaitu dana investasi harus dikembalikan disertai bunganya tanpa melihat usaha itu untung atau rugi atau tanpa melihat fluktuasi keuntungan usaha tersebut, sehingga wajar bila terjadi seorang peminjam terbebani oleh hutang yang semakin menjerat karna usahanya sedang tidak bagus.

Nah dengan disodorkannya tabel angsuran yang sudah tetap beserta tambahan yang diklaim oleh pihak bank dengan sebutan bagi hasil itu, tentu ini menunjukkan tidak adanya perbedaan dengan konsep bunga di bank konvensional.

Seharusnya yang disodorkan oleh pihak bank adalah nisbah bagi hasilnya, adapun mengenai besaran nominal bagi hasilnya akan ditentukan kemudian ketika proses usaha sudah berjalan. Bahkan ketika usaha ini mengalami kerugian tentunya bank pun akan ikut menanggung kerugian tersebut sesuai dengan nisbah yang disepakati dari awalnya.

Mungkin ada yang mengatakan, “loh Bank juga kan ga ingin menanggung resiko”. Saya akan jawab, kalau begitu jangan investasi atau jangan memberikan pinjaman modal bila tidak ingin menanggung resiko. Karna yang namanya keuntungan usaha itu bergantung pada takdir Allah yang tak pernah kita ketahui akan bagaimana hasilnya. Namun selama usaha itu dijalankan dengan baik, diniatkan ibadah, dan produknya halal tentulah usaha ini akan memberikan berkah.

Kalaupun bank ingin memperkecil resiko tentu bukanlah dengan mengklaim praktek bunga dengan sebutan bagi hasil. Tapi seharusnya bagaimana bank bisa memperbaiki sistem survey terhadap customernya yang akan membangun kepercayaan antara pihak bank dan customer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s