Kemerdekaan Hati

Sudah sekian lama saya tak membuat tulisan untuk di posting dalam blog saya maupun catatan akun FB. Yang lebih sering dilakukan hanyalah mengisi-ngisi status FB, terlihat praktis namun sesungguhnya mengajarkan kita malas dan jauh tuk bisa berpikir sistematis dalam suatu kerangka tematis.

Banyak hal yang menyebabkan hal itu terjadi. kesibukan saya mencari pembeli ikan-ikan saya dikarenakan pasar ikan sedang lesu, kesibukan membangun tempat pembenihan ikan baru di Tangerang, kesibukan mengelola BMT yang masih dalam tahap perintisan, kesibukan membina interaksi dengan orang-orang yang dekat di hati saya dan kesibukan-kesibukan lainnya yang begitu menguras tenaga, pikiran dan waktu.

Dikarenakan itu semua, banyak hal yang terbengkalai. Membaca al Qur’an yang berkurang frekuensinya, shalat malam semakin jarang, dzikr al ma’tsurat tidak ada lagi. Shalat-shalat yang saya laksanakan hampir seolah seperti penggugur kewajiban saja karena kekhusyu’an berkurang. Di tengah ketertatihan inilah saya tetap berjalan di atas sebuah cita-cita dan angan-angan akan rencana besar yang memang selalu saya hubungkan dengan bagian dari bangunan peradaban Islam.

Untuk apa saya lakukan itu semua? Jawaban yang paling tepat saya ambil dari kedalaman hati saya adalah; “untuk kebahagiaan diri ini”. Yah memang kebahagiaan adalah hal fitri yang di cari semua orang, karena itu Al Qur’an sendiri ketika turun menegaskan bahwa ia turun tidak hendak melawan fitrah ini, karena itu terdapat sebuah ayat yang berbunyi :

ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى

“tidaklah Aku turunkan Al Qur’an ini agar engkau menjadi celaka” (Thaahaa : 2)

Namun pertanyaan selanjutnya adalah, apakah saya dapatkan kebahagiaan itu? Jawabannya adalah “tidak”. Kebahagiaan itu tidak didapatkan dari berbagai macam aktivitas sekalipun kita hubungkan dengan tujuan luhur namun kering dari nilai-nilai spiritual dalam penghayatannya.

Adalah hari ini atau dua hari ini, ketika ikan-ikan saya sudah laku terjual, proyek pembangunan pembenihan ikan di tangerang sudah hampir selesai dan beberapa amanah organisasi telah saya tunaikan maka saya memiliki waktu yang senggang. Hampir seharian bahkan hingga malam tiba saya berada di depan laptop saya, membuat status, mencek status, menanggapi. Aktivitas itu hanya diselingi oleh shalat ketika waktunya tiba.

Hati pun terasa makin kering dengan waktu senggang yang terpakai seperti itu. Sampai pada saat sore menjelang maghrib saya mulai merenungi semua.  Betapa lelahnya hati ini menjalani ini semua. Hati saya merasa bergantung pada hal yang ia sendiri sejatinya bergantung pada saya, lalu mengapa saya terjerembab dalam model lingkaran syaithan yang seperti ini. Astaghfirullahal’azhiim…… Teringatlah saya akan sebuah teori tentang kemerdekaan hati, dimana hati kita ini hanya bergantung kepada Sang Pemilik Hati dan hanya mengikatkan hati ini pada-Nya, Dia-lah Allah ta’alaa.

Azan Maghrib pun berkumandang seolah menunda tetesan air mata yang hendak jatuh, bersegeralah saya berwudhu. Ternyata …. kebahagiaan itu saya temukan pada gemericik air wudhu yang membasuh tubuh saya seolah melepas segala dosa yang telah saya perbuat, kebahagiaan itu semakin bertambah ketika takbiratul ihram digemakan, sejenak saya larut dalam kekhusyu’an bermunajat kepada-Nya, seolah masih ada kebahagiaan yang belum saya rengkuh, lahap saya rasakan ia dalam lantunan wirid dzikr setelah shalat dan juga tilawah Al Qur’an. Dan pada akhirnya saya kembali mengingatkan diri saya bahwa segala sesuatunya sudah diatur oleh-Nya.

Maka kebahagiaan itu didapat ketika hati kita begitu luas dan lapang menghadapi dunia ini, bagaimana keluasan dan kelapangan hati itu terbentuk adalah dari penghayatan nilai-nilai spiritual dan transedental kita terhadap Zat yang kita yakini sebagai Ilah kita.

قد أفلح المؤمنون. الذين هم في صلاتهم خشعون

“Sungguh telah menang orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya”

Saya bukanlah seorang yang baru memahami hal ini, sebagai seorang yang begitu menyelami tarbiyyah dan getol dalam edukasi keislaman tentu hal seperti ini adalah pemahaman dasar dan fundamental yang harus dimiliki. Akan tetapi saya hanyalah satu dari orang yang lalai beberapa saat dari penghayatan nilai-nilai spiritual dalam aktivitas kita.

Artinya hal seperti ini sebagai seorang manusia bisa terjadi pada SAYA, ANDA atau ORANG LAIN yang lebih besar dari kita entah SAAT INI atau NANTI akan terulang lagi. Selamat bermuhasabah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s