Simulasi Ukhuwwah dalam Mukhayyam (continyuity review)

gunung Karang, Banten

Ada 3 cara untuk mengenal dan menilai saudara kita; mengajaknya makan bersama, berpergian jauh bersama dan menginap bersama. Nah dalam acara mukhayyam (camping or hiking – red) kita akan menemukan titik puncak dari teknik tersebut. Mengapa demikian, karena dalam aktivitas tersebut kita akan dihadapi pada sebuah titik ekstrim keadaan yang dapat mempengaruhi hubungan kita. Ketika kita makan, makan pun seadanya dan alakadarnya bahkan terkadang harus survival dengan memanfaatkan sumber makanan di alam, ketika kita bermalam, tidur pun dalam kondisi yang sangat tidak memuaskan entah dari tempatnya, cuacanya dan sebagainya.

Ketika selesai acara Mukhayyam Pandu Keadilan yang diadakan pada 25-28 Februari lalu, saya mencoba untuk menulis review ini, maaf bukan berarti gagap dengan mukhayyam sehingga dituding “ah baru mukhayyam aja norak”, tapi lebih karena pertama, penulis sudah sering mengikuti acara mukhayyam baik yang resmi maupun tidak seperti gunung gede, pangrango, bunder/kawah ratu, cipelang dll, namun ketika itu saya belum banyak berinteraksi dengan internet. Nah ketika kini akses internet sudah semakin mudah maka tak ada salahnya saya mereview sebuah hikmah dan pengalaman yang terulang kembali ketika camping/hiking ke gunung Karang, Banten. Kedua, sebuah hikmah dan nasihat meskipun sudah diketahui bukan berarti tidak perlu diulang, karena hal itu pasti bermanfaat. Persepsi dan keimanan seorang manusia terkadang naik dan turun. Itulah beberapa kali Allah SWT menyebut فذكر “ingatkanlah” dalam Al qur’an Al Karim.

Beberapa Simulasi Ukhuwwah

Banyak sekali simulasi ukhuwwah yang kita dapatkan dalam acara mukhayyam, masing-masing orang mungkin akan berbeda mendapatkannya dan mungkin akan berbeda pula mempersepsikannya, ini diantaranya :

  • Tiap-tiap yang mengikuti mukhayyam memiliki perbekalan yang berbeda baik kualitas dan kuantitasnya laksana perbedaan dalam sebuah kehidupan. Dalam kondisi yang ekstrim kita akan mengoptimalkan perbekalan yang kita miliki untuk kita nikmati, permasalahannya adalah terkadang ada saudara kita yang tidak memiliki cukup perbekalannya, ups jangan mengatakan “salah sendiri” karena dengan demikian sudah menunjukkan keegoisan kita secara pribadi. Terlepas dari minimnya perbekalan yang dibawa saudara kita adalah muhasabah untuk dirinya sendiri namun di sini yang kita pertanyakan adalah diri kita sendiri mampukah kita berbagi.
  • Dalam sebuah perjalanan hiking, masing-masing orang memliki kondisi fisik yang berbeda. Namun kita dituntut dan diharapkan dapat sampai ke tempat tujuan secara berjama’ah, tak ada yang tertinggal dan tak ada yang tersesat, yang lebih berpengalaman memimpin di depan. Sudah merupakan keniscayaan dalam perjalanan hiking berkelompok akan ada yang tertinggal dikarenkana kondisi fisik dan pengalaman mensiasati medan yang minim. Nah orang yang kuat dan terdepan tersebut diharapkan dapat menoleh kebelakang melihat keutuhan sebuah jama’ah untuk menyatukan kembali barisan sehingga masalah-masalah yang dihadapi lebih mudah diketahui.
  • Kondisi ekstrim akan membuat diri kita sensitif dalam menyikapi permasalahan yang ada. Jika tidak peka memanajemen mental, hati dan emosi kita yang akan terjadi adalah lontaran cercaan, kekecewaan, kata-kata mubazir bahkan bisa jadi sumpah serapah. Disinilah sebuah kesabaran diuji, namun ketika kita berhasil mengatur stabilitas emosi dan mental kita, sehingga secara bersama-sama kita dapat mencapai tujuan, maka kegembiraan berjama’ah akan kita rasakan. Kerikil-kerikil dan ghil yang telah terjadi akan kita kubur dengan saling berma’afan dan pemakluman.
  • Ketika perjalanan mukhayyam ada yang menyembunyikan sebotol air aqua, sebutir buah apel atau pir atau sebungkus makanan ringan. Saya sendiri termasuk seorang yang menyembunyikan sebotol air aqua utuh yang tidak saya berikan ketika banyak orang mencari minuman, alasan saya adalah kelompok belum tiba dipuncak sedangkan sudah kehabisan air artinya masih ada lebih dari setengah perjalanan yang harus dilalui, ini berarti anggota kelompok begitu minim pengalaman dalam mengenali kondisi tubuh dan medan dalam mengatasi kondisi alam yang ekstrim sehingga begitu cepat menghabiskan air, sehingga saya memutuskan menyembunyikan air tersebut karena perjalanan masih lebih dari setengahnya. Barulah ketika sampai di puncak air itu saya buka dan saya bagikan untuk menyegarkan kembali tubuh dan siap mengarungi sisa perjalanan berikutnya. Dan ternyata ada anggota lain yang melakukan hal serupa seperti menyembunyikan sebutir buah apel dan pir untuk selanjutnya dibagikan pada setengah perjalanan sisanya, barakallahu lakum jami’an. Mungkin begitulah dalam hidup dan kehidupan jama’ah dakwah ini untuk bisa memahami begitu panjang dan sulitnya perjalanan sehingga tidak terjebak dalam pemanfaatan potensi yang kurang berarti bagi sebuah pencapaian tujuan.

Ini hanyalah sekelumit hikmah yang saya paparkan. Tentu orang lain mampu memetik hikmah yang banyak untuk dibagi pengalamannya secara bersama. Ukhuwwah adalah sebuah keniscayaan dalam eksistensi keimanan. Tak ada kisah heroik keimanan tanpa bumbu ukhuwwah yang kental di dalamnya. Semoga bermanfaat wallahu al muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s