My Name is Khan

Satu lagi film yang mengangkat nuansa religi islam kembali diminati masyarakat di Indonesia khusunya Jakarta. Namun uniknya kali ini film ini dibuat oleh sutradara asing tidak seperti dua film sebelumnya yang merupakan film lokal (Ayat-ayat cinta dan Ketika Cinta Bertasbih).  Film yang berdurasi 2,5 jam ini sepertinya baru diputar di bioskop mahal di jakarta (Plaza Senayan dan Plaza Indonesia).

Film yang dibintangi bintang film kenaamaan Bollywood ini (Shahrukh Khan dan Kajol) memang begitu asyik untuk dinikmati, selain alur cerita yang cukup mengharukan diiringi juga warna komedi yang manis dan romantis.

Bumbu Kental Pluralisme

Film ini memang menggambarkan indahnya akhlak seorang muslim yang begitu jujur dan memiliki keperdulian, cinta dan kasih sayang terhadap orang lain termasuk non muslim, sehingga berbekal inilah alur cerita berakhir pada pengakuan bahwa terorisme bukanlah ekuivalensi dari Islam.

Yah itu memang positif, tapi ada bumbu yang sangat kental terasa dalam film ini manakala sang figur muslim ta’at tersebut menikahi seorang wanita Hindu (musyrik) hanya karena hasrat yg muncul dari suara dan kecantikan, mungkin ditambah lagi karna sikap baik wanita itu yang yaah normatif kok sebagai seorang manusia. Tentu ini bukanlah suatu akhlak seorang muslim yang benar-benar memahami teori akidah dengan benar. Dan inilah sebuah bentuk pluralisme, dan secara statement begitu jelas terungkap dalam film tersebut “manusia itu hanya ada dua : manusia baik dan manusia jahat” sehingga dengan dalih itu pula sang figur muslim menikahi seorang gadis Hindu.

Mengapa bumbu pluralisme ini begitu kental, karena memang dikemas dengan kemasan romantisme yang saaaaangat digandrungi masyarakat. Tidak bermaksud mengatakan serta-merta yang menonton film tersebut akan meniru prilaku sang figur muslim tersebut. Yang jelas proses perang pemikiran berjalan memang cukup lama dan tidak terasa, maka bagi seorang muslim yang peka dengan fenomena ini tentu memiliki kekhawatiran dengan debut film seperti ini.

Bukan hanya pernikahan lintas agama yang ditampilkan di sini, juga ditampilkan sang figur muslim pun ikut bernyanyi di gereja, berdo’a bersama. Persis sekali dengan manifestasi doktrin kaum liberalis yang sedang di sebarkan di masyarakat.

Bagi seorang muslim yang memiliki pemahaman akidah yang kuat dan benar tentu akan kecewa menonton film ini karna sebelumnya mereka melihat review yang cukup menarik mengenai perjalanan hidup seorang muslim India di negeri paman Sam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s